
Aku sangat terkejut juga shock, mengetahui keadaan mas Angga yang ternyata mengalami musibah, tubuhku bergetar akibat tidak bisa mendengar kabar buruk. Aku berusaha untuk mengendalikan diriku, tetap tidak bisa. Menangis salah satu caraku di saat mendengarkan kabar yang mengejutkan itu, padahal tadinya semula baik-baik saja.
"Mas, pulanglah! Jangan memaksakan diri bekerja di rantau orang. Disana tidak ada yang merawatmu, Mas." Ucapku dengan suara yang serak, tangisanku pecah terkejut mendengar kabar buruk.
"Aku tidak akan pulang Tari, ini perjuanganku untuk menghidupi kalian. Jangan khawatir, beberapa hari lagi aku akan sembuh."
"Tetap saja Mas, aku tidak bisa tenang."
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, jaga dirimu dan anak-anak disana."
Setelah sambungan telepon terputus, air mataku mengalir dengan sendirinya. Jadi inilah firasat yang tak enak itu, tapi mengapa ibu tidak merasakannya, bukankah mas Angga anak kesayangannya.
Sedikit ada kelegaan setelah mendengar suara mas Angga, aku hanya bisa mendoakan nya dari sini semoga dia selamat dan dalam lindungan-Nya.
Aku tidak fokus dalam mengerjakan apapun, pikiranku selalu tertuju pada mas Angga. Ingin sekali aku bertemu dengannya dan melihat kondisi dari suamiku. Keteledoranku hampir saja melupakan keberadaan Raja yang sibuk bermain-main dan hampir saja tertimpa oleh rak pakaian yang terbuat dari plastik. Aku berlari dan menggendong Raja, dia terkejut saat aku melakukannya dengan gerakan cepat, membuatnya menangis histeris.
Tangisan dari Raja memenuhi ruangan, untung saja Ratu tidak terpengaruh dari tangisannya. Aku berusaha keras menenangkannya agar berhenti menangis, tapi tangisannya malah semakin kencang.
__ADS_1
"Duh … berisik banget sih."
Aku melihat Lisa yang sangat terganggu dengan suara Raja, tapi aku tidak peduli.
"Sumbat aja mulutnya pakai kain, berisik banget deh. Kalau begini aku gak bisa buat konten," tutur Lisa menggerutu.
Aku kesal, tapi diam saja. Anakku adalah hal utama yang paling penting, lebih dulu memprioritaskan anak-anak daripada mendengar gerutu unfaedah.
****
Aku sangat bersyukur sudah sampai tepat pada waktunya, menyerahkan pesanan dari Bu Tuti. Ibu-ibu yang ada di sana diam-diam berbisik saat kedatanganku mengantarkan bolu gulung. Pura-pura aku tidak mendengarkan apa yang mereka gosipkan, apalagi kalau bukan kabar menganaiku yang hamil kembali anak ketiga.
"Eh, Tari. Dengar-dengar kamu hamil ya!"
"Iya Bu, Alhamdulillah."
"Pake gak pake pengaman nih sampai kebobolan gitu."
__ADS_1
"Rezeki Bu." Jawabku singkat.
"Anak-anak kamu mana?"
"Aku tinggalkan di rumah Bu, mereka sudah tidur."
"Kasian banget hidupmu, Tari. Anak masih kecil-kecil tapi malah di kasih adik, apa kamu tidak tega dengan mereka yang kurang kasih sayang? Mana ayahnya merantau di luar kota."
Aku tidak menjawab perkataannya melainkan menebarkan senyuman, mereka hanya tahu di luar saja tapi aku sendirilah yang tahu bagaimana keadaanku saat ini.
"Pasti gak pakai KB. Benarkan?"
"Iya Bu."
"Kenapa gak pakai KB? Ini zaman sudah berubah, harusnya kamu merancang kelahiran anak dengan usia yang sedikit jauh, bukan susun paku begitu."
"Rezeki dari Allah Bu, jadi apapun itu aku terima dengan ikhlas." Jawabku yang langsung pergi dari sana setelah terima uang.
__ADS_1