
Kedua pria itu membuatku sedikit pusing, masalah terdengar oleh tetangga membuatku malu. Kuedarkan pandangan menyeluruh, menatap semua orang yang sudah berkumpul seperti membagikan sembako. Masalah akan semakin bertambah besar jika kedua pria itu bersitegang dan tentunya sangat tidak baik untukku dan juga anak-anak.
"Kita bicarakan ini di dalam saja." Aku berjalan lebih dulu.
Saat masuk ke dalam rumah, Ratih yang mengerti membawa kedua anakku bermain ke dalam kamar. Aku menatap dua orang terutama mas Angga, aku tidak tahu hal apa yang membuatnya datang kemari.
"Apa tujuanmu, Mas?" aku mulai paham kalau mas Angga ingin membawaku rujuk, setelah dia menjatuhkan talak pada Siska.
Mas Angga ingin meraih tanganku, tapi aku segera menariknya tak ingin adanya kontak fisik. "Terus terang saja Mas."
"Begini, aku ingin kita rujuk lagi demi anak-anak."
Hatiku geli dia mengatakan alasannya, Chen yang terdiam tak ingin ikut campur dulu.
"Kamu yakin itu alasannya?" tanyaku yang ingin sekali tertawa.
"Aku serius Tari, aku ingin kita rujuk demi Raja dan Ratu."
"Apa Siska membuangmu Mas?"
__ADS_1
"Apa?"
"Siska membuangmu dan kamu ingin kita rujuk. Maaf Mas, rujuk bukan pilihan yang tepat, dan segera tandatangani surat perceraian itu!" ucapku yang ingin menyelesaikan hubungan yang sudah lama tidak sehat.
"Pasti karena laki-laki itu kan, kamu gak mau rujuk." Angga menunjuk Chen dengan tatapan kemarahan.
"Jangan menyalahkan orang, Mas sendiri yang mencari perkara dan memberikan alasan pembenaran dari perselingkuhanmu."
Aku terkejut saat mas Angga bertepuk tangan, dia terlihat kecewa pada perkataanku yang tidak ingin rujuk padanya. Memangnya siapa wanita yang mau dengan pria yang mengkhianati dan mengalami tekanan batin? Hanya wanita terpilih yang bisa bertahan, tapi aku bukanlah wanita itu.
Aku berjalan masuk ke dalam kamar, mengambil map yang berisi surat perceraian yang sudah aku persiapkan. Aku sangat tersiksa jika masih bersama pria seegois mas Angga dan mengakhiri apa yang pernah aku mulai.
Angga sangat kesal dan juga tidak bisa menahan amarahnya, atas dorongan Tari dia menandatangani surat itu dan membebaskan istri sempurnanya.
"Bagus, kenapa tidak dari dulu saja. Kalau begini statusku sudah jelas, aku berdoa supaya mas Angga mendapatkan jodoh terbaik."
Kepergian Angga membuat senyuman kecil di wajah Chen tanpa di sadari oleh Tari, diam-diam dia mengirimkan pesan pada bawahannya agar menjaga keluarga wanita yang pernah menyelamatkan nyawanya.
"Maaf, tidak seharusnya kamu melihat ini."
__ADS_1
"Tidak apa-apa."
Terlihat raut wajah takut pada Tari, dia sangat yakin kalau mantan suaminya itu pasti datang lagi dan mengancamnya berbagai alasan.
"Aku pergi dulu!"
"Baiklah."
"Jalankan mobilnya!" titah Chen
"Baik Tuan."
Chen datang ke Indonesia bukan karena urusan bisnis, melainkan ingin bertemu dengan Tari yang dulu pernah menyelamatkan nyawanya. Pencariannya dulu pernah terhenti di saat mengetahui sang malaikat penolong sudah menikah, selalu memantau kehidupan Tari dan dia juga punya peranan penting memajukan usaha roti milik wanita itu.
"Jangan sampai Tari tahu mengenai semuanya!" ucap Chen yang bicara lewat telepon.
"Baik Tuan."
"Dasar pria bodoh, meninggalkan berlian demi batu kerikil." Umpat Chen mengingat Angga yang terlalu di tekan nafsu, padahal dulu dia sudah merelakan Tari pada pria itu.
__ADS_1