
Setiap hari aku mendengar ocehan ibu yang tidak pernah puas dengan apa yang aku lakukan, dia mencoba untuk menjadi pemilik rumah sedangkan aku menjadi pembantunya.
"Ibu itu kenapa? Dari tadi ngomel aja, dan apa yang aku kerjakan tidak pernah benar di mata Ibu."
"Oh, sudah berani kamu mempertanyakan Ibu. Jangan kualat kamu Tari, kalau Angga masih memberimu nafkah ya terima saja."
"Heh, terima?" aku tersenyum jengah, kesalahan anak yang selalu Ibu benarkan membuat emosiku keluar. "Aku benci pengkhianatan Bu, itu sudah ada di dalam daftarku bahkan sebelum aku menikah dengan mas Angga."
"Alah, biarin aja Angga selingkuh tapi dia gak lupa tanggung jawabnya mengirimkanmu uang. Lagipula Angga jauh dan tentu hasrat biologisnya inginkan di salurkan, sedangkan kamu …."
Aku menatap mata ibu yang menatapku dari atas sampai bawah, bingung mengapa ibu seperti itu.
"Apa ada yang salah Bu?"
__ADS_1
"Apa kamu gak ngaca ya? Atau perlu Ibu belikan kaca besar biar kamu bisa bercermin? Lihat tuh penampilan mu, dari ujung rambut sampai ujung kaki tidak ada yang menarik. Malahan Ibu bangga, kalau Angga mendapatkan wanita lebih cantik."
Rasa sakit di hati yang terpendam ditambah perkataan ibu yang tidak pernah disaring membuat emosi, ingin keluar segera aku menahannya agar jangan sampai aku kelewatan batas, dan bisa di cap sebagai wanita durhaka yang tega menyakiti wanita paruh baya di hadapanku.
Aku mencoba menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan melakukan itu sebanyak tiga kali, beruntung emosiku mereda jika berbicara dengan ibu selalu saja membuat emosiku terpancing.
"Diam berarti itu benar, kamu mengakui kalau dirimu itu jelek, tidak menarik dan juga kucel, harusnya sebagai istri itu bisa menjaga penampilan luar dan dalam. Lihhat bodymu sendiri yang seperti gentong, perbanyak bersyukur mendapatkan putraku yang masih memikirkan kalian dan menafkahkna kalian walau jumlahnya sudah berkurang!"
"Jika mas Angga diam saja, itu artinya dia tidak menyanggah perselingkuhan. Terserah Ibu mau mengejekku atau apa, karena semua itu sudah tidak tampan lagi. Kebih baik aku menata hidupku agar lebih baik untuk ke jaminan hidup anak-anakku, mengandalkan dia sama saja aku mengharapkan danau di tengah gurun pasir."
****
Prank!
__ADS_1
aku yang sangat terkejut berlari untuk menghampiri asal suara aku pikir itu ulah dari raja yang sangat aktif aktifnya bergerak berlari kesana kemari tapi ternyata aku melihat ibu yang sangat kesal menatap ponselnya yang sudah berderai di atas lantai.
"Ada apa Bu?"
"Ibu sudah sering menghubungi Lisa Tapi tidak pernah diangkat, Ibu kirim pesan juga tidak pernah dia balas. Ibu kan pengen dia itu transfer sejumlah uang, secara dia adalah menantu pak camat yang tajir melintir."
"Berpikir positif saja Bu,nmungkin saja banyak kesibukan."
"Sesibuk-sibuk apapun masalah Lisa, sampai lupa dia memberi transfer uang bulanan ke Ibu. Dan Angga juga tidak mengirimkan Ibu uang, mana uang Ibu sudah habis."
"Secepat itu?"
"Gak perlu menginterogasi Ibu, suka-suka ibu lah mau menggunakan uang itu untuk apa, yang terpenting tidak merugikan orang lain."
__ADS_1
Ibu percaya diri sekali kalau anaknya itu mengirimkan aku uangz padahal aku menghidupi nya menggunakan uang hasil dari usahaku yang ternyata perlahan banyak diminati.