Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Aku harus tetap hidup


__ADS_3

Aku berdebat dengan ibu mertuaku, hingga berakhir pada pertengkaran adu mulut. Aku mengungkit segalanya yang aku ketahui, mulai dari ibu yang selalu bergosip menceritakan aku yang padahal itu semua tidak benar. Biarlah bagaimana pandangan ibu padaku, semuanya sudah jelas dan kana hati. 


Diam aku salah, karena ibu semakin semena-mena menghina dan menginjak-injak harga diriku. Hingga aku memutuskan untuk melawan perkataannya, aku tidak peduli dicap sebagai menantu kurang ajar. Tapi inilah faktanya, jika diam sakit jika membalas pun sulit, tapi aku tetap melakukannya demi harga diri yang aku junjung tinggi. 


Ibu dengan sengaja melempar benda yang ada di jangkauannya ke arahku, aku segera menghindar agar tidak mengenai tubuhku. Hal itu berhasil membuat kedua anakku menangis karena suara yang berisik mengganggu tidur mereka. Aku tidak ingin mengambil resiko jika ibu melampiaskan kemarahannya kepada kedua anakku, aku buru-buru berlari masuk ke dalam kamar dan menenangkan kedua anakku. 

__ADS_1


Aku menutup pintu dan menguncinya dari dalam, tidak peduli seberapa kuat Ibu menendang pintu kamarku dan mencaci maki dengan berteriak keras sampai terdengar oleh tetangga di sebelah rumah. Aku hanya bisa menangis menanggung semua beban ini seorang diri, aku pikir suamiku menjadi penolong di saat aku membutuhkannya tapi itu hanya sementara dan berubah semenjak dia merantau keluar kota. 


Aku sangat lelah hidup seperti ini di bawah tekanan semua orang membuatku tidak bisa leluasa menikmati kehidupan. Aku memutuskan semua langkah yang akan aku ambil, dan tetap mengajukan gugatan perceraian di pengadilan agama, aku tidak bisa menunggu sampai pria itu mengucapkan kata. 


Setelah satu jam lamanya, akhirnya ibu berhenti berteriak. Aku merasa aman dan hendak keluar dari kamar karena mengingat kedua anakku belum makan apapun. Sebagai ibu, aku tidak tega membiarkan mereka kelaparan dan menerima resiko apapun. Dan benar saja di saat aku keluar dari kamar, ibu datang membawa sapu hendak memukulku, tapi tak sengaja malah mengenai perut bagian bawah hingga aku merasakan kesakitan yang sangat luar biasa. 

__ADS_1


Kekacauan rumah terjadi karena kedatangan mas Angga, aku segera dilarikan ke rumah sakit oleh beberapa tetangga yang mendengar jeritanku yang meminta tolong. Ibu mertuaku tidak ingin ikut menemani, dia merasa tidak bersalah dan tidak ada masalah apapun mengenai itu. Tapi pikiranku tertuju kepada Raja dan Ratu, bagaimana nasib mereka setelah aku tinggal pergi menuju ke rumah sakit. 


"Bertahanlah Sayang, kamu dan calon anak kita pasti selamat." Ucapnya yang begitu panik. 


Sekilas aku tersenyum dengan perkataannya, tetapi kata sayang itu bukan tertuju padaku saja melainkan pada wanita lain. Segera aku menepis kasar tangannya, aku menggunakan kedua tanganku untuk memegang perut yang terasa seperti terbakar. Aku terus mengerang sakit dan meminta suster untuk menyelamatkan nyawa anakku, tambahkan belum aku ketahui jenis kelaminnya." 

__ADS_1


"Selamatkan anakku … selamatkan anakku!" lirihku yang menggoyangkan tangan suster, sambil menahan rasa sakit yang tak tertahankan. Aku menangis ketakutan, takut kematian akan menghampiriku. Aku yang tidak mempunyai siapa-siapa dan memikirkan nasib kedua anakku yang masih kecil. 


"Aku harus tetap hidup demi anakku! Tuhan … tolong jangan ambil nyawaku sekarang." Batinku yang berdoa, memejamkan mata saat sudah berada di ruang ICU. 


__ADS_2