
Diantar menggunakan mobil mewah menjadi buah bibir orang-orang yang melihatnya, pasalnya tidak ada yang pernah melihat mobil mewah masuk ke dalam komplek dan untungnya jalanan memadai dan bukan lorong yang sempit.
Aku menunjukkan rumahku pada Chen yang begitu tertarik mengetahui tentang aku, aku pun mulai merasa nyaman, tujuh puluh lima persen membahas pekerjaan masing-masing dan selebihnya ke hal pribadi.
Chen terkejut saat tahu nasibku yanh begitu malang, perceraian yang belum resmi itu membuat hubunganku menggantung, janda bukan dan istri juga bukan. Dia berempati padaku, namun aku selalu berusaha tersenyum dengan nasib dan juga jalan takdir yang telah di tentukan.
"Itu rumahku." Aku menunjuk rumah yang menurutku sudah jauh lebih nyaman, Chen meminta sang supir untuk menuju lokasinya.
Sontak hal itu membuat semua orang heboh, apalagi para tetangga bergosip setelah terkejut saat melihat aku turun dari mobil mewah. Semua mata memandangku, tapi juga mata mereka menatap Chen yang juga ikutan turun.
"Terima kasih sudah mengantarku, maaf sudah merepotkan mu." Ucapku yang sedikit membungkukkan tubuh.
"Tidak merepotkan sama sekali."
Aku tersenyum, Chen yang segera pergi itu malah menahan langkahnya saat seseorang berbicara buruk.
__ADS_1
"Oh, jadi ini kelakuanmu di belakangku. Pantas saja kamu mau cerai, rupanya mau cari terong baru."
Aku mengalihkan perhatian menatap seorang pria yang berjalan menghampiri, terkejut dengan kehadiran mas Angga yang membawa ransel besar.
"Mas Angga?" aku menyerngitkan dahi, berpikir mengapa pria itu tiba-tiba datang ke sini.
Angga menatap Chen seperti mengajaknya berduel, namun dia hanya setinggi bahu pria Taiwan itu. Rasa sakit di hati melihat Tari jalan bersama pria yang lebih tampan dan bahkan tajir melintir, niat yang ingin rujuk namun langsung tertampar keadaan. Hatinya sakit melihat Tari bersama pria lain, dia yang sudah di campakkan Siska tak ingin terulang lagi pada Tari.
"Berani sekali kamu jalan dengan istri saya."
"Ya, jauhi istri saya kalau kamu tidak ingin terjadinya masalah." Ancam Angga yang sudah kehilangan akal, dia tidak tahu kalau Chen bukanlah orang sembarangan.
"Kamu lupa Mas? Kamu sudah menjatuhkan talak padaku, itu artinya aku sudah bebas darimu."
"Aku mengucapkannya hanya sekali, itu berarti kamu harus rujuk padaku demi anak-anak kita."
__ADS_1
"Gak, aku gak mau rujuk sama kamu. Hidup aku selalu menderita, dan saatnya aku bahagia tanpa kamu Mas."
"Jangan mentingin diri sendiri, aku bermaksud baik untuk mengajakmu rujuk. Apa yang di pikirkan orang-orang nanti, jika kamu sudah punya pria idaman lain." Tutur Angga seraya melirik Chen.
"Gak akan Mas, tandatangani surat perceraian itu dan urusan kita selesai. Aku menghibahkan kepada Siska, semoga pernikahan kalian lancar dan lancar."
"Aku sudah talak dia. Dan kamu … sebaiknya pergi dari sini!" Angga mengusir Chen.
"Tidak ada hakmu mengusir temanku, silahkan mau lakukan apa. Tetap aku tidak akan kembali lagi."
"Baik, kalau itu mau mu. Aku buat pernikahan kita gantung!"
"Dan aku akan membantunya." Sela Chen yang tersenyum lembut, memperlihatkan kedua oesung pipinya. "Tidak mau cara halus, maka aku akan memaksamu menandatangani surat it."
"Aku tidak akan memberikan, status adanya."
__ADS_1
"Kamu memilih jalan kasar, pilihan yang sangat bijak." Chen menyunggingkan senyuman tipis, itu tandanya dia akan membalas perbuatan itu.