Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 104


__ADS_3

Huan menghela nafas mengetahuinya setelah Ratu tak sengaja keceplosan memberitahunya, dia langsung memberikan hukuman pada Raja dengan menjewernya, kemudian tertawa dan langsung memeluk setelah melepaskan jeweran di telinga keponakannya. Kejahilan ini mengingatkannya pada mendiang kakaknya, walaupun tidak sedarah tapi mereka memiliki persamaan.


"Dasar anak nakal," ucapnya sekaligus takjub saat kyai Abdullah menceritakan segalanya mengenai prestasi Raja yang sangat luar biasa, menjadi yang terbaik dari yang terbaik. 


"Aku melakukannya kalau suntuk saja, aku juga butuh suasana baru." 


"Suasana? Padahal Paman meminta kalian tinggal di rumah, tapi malah memilih disini." 


"Disini sangat nyaman, Paman." Raja tak ingin memperlihatkan apa yang dia rasakan, karena selama ini  dirinya sendiri yang tahu apa saja yang sudah dilaluinya.


"Hem. Ternyata berada disini membuatmu melupakan kami," ucap Huan dengan sedih.


"Aku tidak melupakan siapapun," imbuh Raja. 


"Benarkah? Tapi kamu selalu menolak datang ke rumah." 


"Karena itu bukan rumahku." Perkataan itu tak berlanjut sampai ke bibirnya, menahan semua apa yang sudah di lewatkan. Tidak ingin kalau budi itu akan semakin membesar, bagaimana dia akan membayar nantinya? 


"Aku dengar kamu lulus dengan nilai yang terbaik, selamat untukmu." Huan melupakan topik itu dan mengalihkannya, dia melihat kalau Raja merasa tidak nyaman dan juga risih, entah apa sebabnya. Dia kembali memeluk keponakannya dan memberikannya hadiah yang terletak tak jauh dari jangkauan, menyerahkan sebuah paper bag yang berisi beberapa berkas dan surat-surat yang sudah seharusnya diberikan kepada anak remaja itu. "Ini untukmu, dan kelola dengan baik," ucapnya. 


Raja menatap paper bag yang dia sendiri tidak tahu apa isinya, hingga rasa penasaran meronta-ronta tapi dia tidak ingin memiliki balas budi ya nantinya menjadi beban di kemudian hari. "Ini apa, Paman?" 


"Buka saja, kamu pasti tahu apa isinya." 


Raja yang sangat penasaran segera meraih paper dan membukanya, melihat banyaknya lembaran berkas dan juga kunci yang menjadikan beban di paper bag semakin berat. Dia mengedarkan pandangan langsung menatap Huan, tidak mengerti isi dari hadiah yang diberikan oleh pamannya itu. Pamannya sangat jarang sekali memberikannya hadiah, entah mengapa sebabnya juga tidak tahu.


"Kunci dan surat-surat? Mengapa begitu banyak berkas dan juga kunci-kunci?" 


Huan melirik Ratu yang masih berada di sana, membawa kedua keponakannya untuk duduk bersantai terlebih dahulu dan menjelaskan secara perlahan apa isi dari hadiah yang diberikan. 


"Itu hadiah bukan dariku, aku hanya mewakilinya saja." 


"Lalu? Hadiah ini dari siapa?" 


"Ibu dan ayah Ken."

__ADS_1


Sontak hal itu membuat kedua pasang pupil langsung membesar, mereka tidak menyangka kalau orang tua mereka meninggalkan hadiah yang baru diberikan hari ini. Hadiah yang langsung di terima dengan senang hati, tapi dia tidak tahu apa isi dari hadiah itu yang sebenarnya.


"Kenapa baru sekarang Paman memberikan ini kepadaku?" tanya Raja yang berlinang air mata, melihat peninggalan terakhir dari ibu dan juga ayah sambung yang masih memikirkan mereka. 


"Paman hanya ingin menunggu di saat yang tepat untuk memberikan hadiah itu, dan menurut Paman inilah waktu yang tepat." 


Raja membuka benang yang menutupi isi berkas, perlahan melihat dan membacanya dengan seksama. Seakan jantungnya berdebar di saat mengetahui isi dari hadiah itu, yang ternyata adalah warisan yang ditinggalkan oleh keduanya untuk dia dan juga Ratu. 


Kedua matanya terbelalak kaget melihat semua harta kekayaan ayah Ken dan jatuh kepadanya dan juga Ratu, semua usaha properti dan juga usaha ibunya sudah diganti nama atas namanya dan juga sang adik. 


Raja menjadi tidak percaya dengan apa yang diterima, seakan mendapatkan keberuntungan yang besar dan juga memenangkan undian lotre menjadi seorang miliarder di usia yang masih belasan tahun. Semua orang pasti akan sangat bahagia langsung mendapatkan kesuksesan tanpa harus berjuang lebih dulu, tapi Raja bukanlah begitu … dia merasa kalau semua harta benda yang diberikan oleh kedua orang tuanya sangatlah berlebihan. 


Dia menyerahkan paper bag kepada Huan, merasa kalau dia tidak pantas menerima semua kekayaan itu secara brutal. "Aku tidak menginginkan harta sebanyak ini, aku belum sanggup memikulnya seorang diri." 


"Kamu sudah cukup umur untuk menerima hadiah itu, jangan menolak pemberian dari orang tuamu. Apalagi Paman juga mendengar kamu ingin melanjutkan studi di luar negeri."


"Iya Paman, aku ingin melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi lagi di luar negeri." 


Huan menatap dalam mata Raja, memegang bahu anak remaja itu untuk mencari pembenaran di dalam mata yang langsung tersorot. "Kamu menghindari Paman sebab sudah punya anak? Dan beranggapan kami akan membagi kasih sayang secara tidak adil, begitu?" 


Seakan waktu berhenti beberapa saat dan tidak menyangka kalau Huan mengetahui apa yang ada di pikiran Raja, dan alasan itu pula yang membuatnya remaja itu untuk pulang ke rumah dan lebih nyaman tinggal di pesantren. Dengan bersusah payah dia menutupi segalanya, tapi tetap saja terbongkar dengan cara seperti ini. 


"Tidak ada kaitannya dengan itu," jawab Raja sedikit berbohong. 


"Kalau begitu terimalah semua itu dan anggap sebagai bebanmu, Paman sudah tidak sanggup mengerjakan pekerjaan sekaligus. Kekayaan dari kak Ken harus kamu kelola dengan sangat baik, pasti ayah dan ibumu di sana pasti sangat menyukai ini. Setelah ini kamu tidak perlu lagi sekolah ke luar negeri karena Paman sudah mengaturnya universitas di kota, dan juga asisten Paman akan mengajarimu semua seluk-beluk dari perusahaan. Kamu bisa menghubungi di setiap mengalami kesusahan, nomor kontaknya ada di berkas itu kamu tinggal menyalin dan menghubunginya nanti," terang Huan panjang lebar. 


Selama 10 tahun, Raja mengalami beban pikiran dan beranggapan harus memulai untuk membalas budi semua perlakuan baik dan juga gaya hidup yang selalu diperhatikan dari pamannya. Namun itu tidak terjadi. 


"Bagaimana kalau semua ini hanya membuat usaha milik ayah Ken bangkrut?" Raja menjadi bimbang dan juga dilema, entah dia harus pergi studi ke luar negeri atau melanjutkan usaha yang di bangun dari keringat ayah ken dan juga ibunya.  


"Paman mempercayaimu, kamu anak yang sangat pintar dan pasti bisa mengatasinya. Jika ada kesalahan, maka Paman akan berdiri di depanmu dan membantu kesulitanmu." Huan mencoba untuk menjelaskan dan memberikan pengertian kepada keponakannya, di usianya sekarang membutuhkan waktu berkumpul bersama keluarga dan membiarkan anak muda maju dalam memajukan perusahaan. "Toko roti akan di kelola oleh Ratu setelah cukup umur, itu akan di bantu kelola oleh bibi Adiba." 


Ratu yang terdiam itu menjadi sangat terkejut, bila dirinya juga mengambil bagian setelah lulus dari pesantren. Huan tahu jika nilai dari keponakan perempuannya itu kebalikan dari Raja, nilainya yang selalu pas-pasan seperti tingkahnya. 


"Aku tidak ingin mengurus toko roti." 

__ADS_1


"Memangnya setelah lulus kamu mau melanjutkan kuliah?" tanya Huan penasaran, menatap Ratu dengan serius, begitupun dengan Raja yang menunggu-nunggu jawaban dari adiknya. 


"Karena aku memutuskan untuk menikah saja." 


Pletak


Raja langsung menjitak adiknya tanpa berbasa-basi, dia sangat kesal jika sang adik tak punya gambaran hidup di masa depan. 


"Auh, sakit Kak." Ratu menatap kakaknya kesal, takut bila jitakan itu bisa membuatnya gegar otak. 


"Lagian kamu gak punya gambaran masa depan, langsung mau nikah." 


"Aku nikah bukan tanpa sebab," jawab Ratu tak mau kalah berdebat. 


"Apa?" tanya Huan penasaran mengapa keponakan bungsunya bisa berpikiran pendek. 


"Aku capek sekolah terus, belajar ini belajar itu, menghafal ini dan itu. Aku bosan … dan ingin menikah saja." 


"Dasar anak kecil, Paman tidak akan memberimu izin untuk menikah dini. Kamu kira menikah itu enak? Ada juga pasang surut dan gelombang yang menghantam rumah tangga, jangan asal ambil keputusan untuk menikah gara-gara capek belajar." Sekarang petuah dari Huan keluar, dengan menunjukkan taringnya. 


"Lalu? Aku harus apa? Nilaiku selalu pas-pasan dan menjadi tiga terakhir setiap kali pembagian nilai ujian. Harusnya Paman dan Kakak mengerti apa yang sebenarnya aku inginkan." 


Huan dan Raja saling memandang beberapa saat, kemudian menatap objek yang sangat menarik. 


"Kakak sudah menyuruhmu belajar, bahkan sampai sekarang. Selalu saja jawabannya sudah membaca," omel Raja yang juga tidak terima dengan perkataan Ratu. 


"Memangnya siapa yang mau menikah denganmu? Apa sudah punya calon suami?" kikik Huan yang memutuskan untuk masuk kedalam, pikiran dangkal daei keponakan bungsunya membuatnya merasa terhibur. "Kamu simpan semua itu," ucapnya memperingatkan Raja untuk menyembunyikan berkas-berkas dan juga kunci. 


Raja menatap adiknya dengan dingin, permintaan dangkal yang terinspirasi entah dari mana. "Kamu bercanda 'kan? Tidak serius." 


"Aku berkata jujur, memangnya kenapa?"


"Heh, menikah katamu. Tapi calon saja kamu tidak ada," sindir Raja. 


"Jangan pikirkan itu, aku akan berdoa di sepertiga malam agar jodohku datang lebih cepat," jelas Ratu dengan penuh percaya diri, sedangkan Raja menganggapnya hal sepele yang nantinya pasti akan berubah. 

__ADS_1


__ADS_2