
Seorang pria berjalan menuju jendela yang terbuka, merasakam semilir angin malam yang begitu menusuk sampai ke tulang. Rasa dingin tak di hiraukan, bila hari ini tugasnya sudah selesai mengantarkan adiknya menikah dengan menjadi wali. Raja sudah mencari keberadaan ayahnya tanpa sepengetahuan semua orang, dia hanya ingin pria itu datang ke pernikahan adiknya dengan menjadi wali nikah, tapi tak bisa menemukan di mana keberadaan ayah kandungnya yang seperti hilang di telan bumi.
Pemandangan di luar yang begitu tenang dan juga damai, dia termenung dikala mengingat proses ijab qobul adiknya membuatnya sedih bahagia. Dia terharu dan meneteskan air mata, pernikahan sekaligus menyelesaikan tanggungannya sebagai seorang kakak. Dia berharap kalau Bara bisa menjaga adiknya dengan sangat baik, bahkan harus lebih baik darinya.
Permata yang selama ini dia jaga dengan baik, menyerahkannya pada pria asing cukuplah berat. Rasa yang bercampur aduk menjadi satu tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, selain berdoa kepada sang Pencipta seluruh alam semesta.
Menghela nafas dalam, dan memutuskan untuk menutup jendela karena sudah tidak tahan dengan rasa sejuk menyentuh kulit hingga terasa ke tulang. Kedua kaki mengarahkannya menuju tempat tidur berukuran besar, hal yang harus dia sukuri dari jerih payah ibu Tari dan juga ayah Kenzi.
Tubuhnya berbaring di atas tempat tidur, dengan kedua tangan di jadikan bantalan, sambil pandangan mengarah ke atas. Sekarang tinggal dia yang belum menikah, tapi tidak tertarik untuk menikah di usia yang masih muda.
*
Raja bersiap-siap dengan kemeja putih dan jas berwarna hitam, juga dasi berwarna senada dengan jas yang membedakan corak bergaris-garis keabuan. Rambut yang sudah di sisir rapi, sambil bercermin melihat penampilannya yang sudah sempurna, tak lupa untuk memakai parfum sebagai pelengkap, yang pasti parfum non alkohol.
"Hari ini aku sarapan di luar," kata Raja menatap semua orang yang berada di meja makan.
"Sepertinya kamu terburu-buru."
"Benar Paman. Bara sudah menikahi adikku, jadi untuk sementara pekerjaannya aku yang akan mengurus."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, jika ada masalah segera kabari paman ya!"
"Iya Paman. Semuanya … aku pergi, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
*
Raja yang memutuskan sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan di sisi lain Bara sibuk menghitung hari-hari tamu bulanan istrinya.
Bara mendelik kesal saat melihat kalender yang masih tersisa dua hari lagi, padahal dia sudah tidak sabar dan setiap malam harus menahan hasrat dan juga gairahnya sebagai seorang pria normal.
Bara berbalik dan tersenyum. "Apa sudah selesai?"
Ratu menatap suaminya dengan jengah, pasalnya dalam hari ini sudah hampir sepuluh kali suaminya bertanya hal yang sama. "Belum Mas, masih ada dua hari lagi."
Mata yang penuh harap langsung berubah murung, sambil meletakkan kalender. "Kenapa lama sekali," keluhnya.
"Namanya tamu bulanan, ya gak bisa di kendalikan. Kecuali itu kran yang bisa di stop!" Ratu menggelengkan kepalanya, melihat suaminya bersikap.
__ADS_1
"Oh iya, aku ingin bertanya mengenai anak."
"Apa?" sahut Ratu yang menghentikan aksinya yang ingin mengambil pakaian di dalam lemari.
"Jangan Kb!"
"Lah, kok malah di larang Mas."
"Iya, pokoknya Mas melarangmu kb. Mas berencana untuk punya anak lima," tutur Bara menunjukkan kelima jarinya, sedangkan kedua mata Ratu berkedut tak percaya.
"Aku tidak mau."
"Tenang saja, Dek. Mas sudah perhitungkan segalanya, menyiapkan semua kebutuhan dan juga fasilitas seperti baby sitter dan juga pembantu."
Ratu yang tak ingin melawan hanya mengangguk pasrah. "Terserah Mas saja, juga harus menerima akibatnya nanti."
"Iya, Mas janji."
__ADS_1