Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Kebanggaan terbesar ibu


__ADS_3

Hari ini aku memutuskan untuk libur, banyaknya pesanan membuat tubuhku lelah kurang istirahat. Aku sangat bersyukur usahaku perlahan berkembang, aku menyisihkan sebagian uang untuk di tabung. Aku enggan untuk beberes rumah, ku alihkan seluruh perhatianku pada Raja dan Ratu. Aku sangat kasihan pada mereka, perhatianku terbagi. 


Aku menggendong Ratu dan bermain dengan Raja dalam suka cita, segera aku keluarkan ponsel dari saku dan menghubungi mas Angga. Aku yang sibuk sedikit membuat komunikasi sedikit renggang, di tambah lagi ponsel suamiku rusak sejak insiden kecelakaan terjadi. Dengan terpaksa aku menghubungi teman suamiku yang bekerja di tempat yang sama, aku berharap suamiku baik-baik saja dan sudah pulih, mendengar kabarnya sudah lebih dari cukup. 


"Halo. Ini saya Tari, istrinya mas Angga." 


"Ooh istrinya, ada apa?"


"Bagaimana kondisi suami saya?"


"Kondisinya sudah membaik dan dia sekarang berada di proyek."


"Apa?" aku sangat terkejut mendengarnya, padahal mas Angga belum pulih tapi sudah masuk kerja. Apa boleh saya bicara sebentar dengan mas Angga?" aku berharap kalau dia berbaik hati meminjamkan sebentar ponselnya. 


"Baiklah." 


Aku bahagia, lama aku terdiam menunggu untuk mendengarkan suara mas Angga, senyuman di wajah sudah tidak sabar mendengarnya. 

__ADS_1


"Iya Tari, ada apa?" 


"Bagaimana keadaanmu, mas?


Akhir-akhir ini aku tidak bisa menghubungimu, aku sibuk membuat usaha kue pesanan pelanggan. 


"Aku sudah baik dan sekarang berada di proyek." 


"Apa mas yakin untuk bekerja? Mas belum sembuh total, jangan memaksakan diri untuk bekerja kasar."


"Iya mas, jaga dirimu baik-baik!" 


"Kamu juga." 


Setelah sambungan telepon terputus, aku melihat ibu dan juga Lisa yang baru saja pulang ke rumah. Terlihat mereka begitu bersemangat menenteng beberapa kantong plastik dan juga paper bag, mereka baru saja habis berbelanja. Aku tidak berkomentar apapun karena tidak ingin merusak suasananya, jelas-jelas sikap berfoya-foya itu hanya akan menghabiskan harta tanpa pemasukan yang tetap. 


Uang yang dimiliki ibu mertuaku yang memiliki sifat royale selalu saja berbelanja, mereka menganggap kalau uang bisa dicari lewat dari Mas Angga yang nantinya akan mengirimkan mereka sejumlah uang, tapi mereka tidak tahu bagaimana perjuangan suamiku. Aku sudah pernah memberitahu mereka mengenai mas Angga yang kecelakaan di proyek, tapi reaksi mereka terlihat santai dan mengatakan akan baik-baik saja. 

__ADS_1


"Kasihan, gak pernah belanja. Lihat nih, aku beli beberapa baju, sepatu high heels, dan juga tas." Tutur Lisa yang memamerkan isi di dalam kresek putih dan paper bag. 


"Siang-siang ini cuacanya selalu panas ya, Ibu gerah. Bikinin Ibu minuman dingin, jus jambu enak tuh." 


Aku tahu ibu mertua tak tertarik dengan permintaannya, menunjukkan gelang emas yang berkilau juga cincin emas di jemari manisnya. 


"Titip aku jus apel!" 


"Aku buatkan, gendong dulu Ratu!" aku langsung memberikan Ratu ke dalam gendongannya, sebenarnya aku cemas tapi aku punya kartu As yang bisa membuatnya tak berkutik. 


Beberapa saat kemudian, aku memberikan dua jus kepada mereka. "Silakan diminum!"


"Ada kabar bagus untukmu."


"kabar apa ya Bu?" tanyaku yang penasaran.


"Lisa dan Rusli anak pak camat akan segera menikah, dia memilih Lisa karena mempunyai kualitas dan kuantitas yang baik, sangat berbeda darimu yang tidak ada kualitas apapun."

__ADS_1


__ADS_2