Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Rayuan Siska


__ADS_3

Akhirnya kata yang ingin aku dengarkan dari mulut mas Angga keluar juga, hatiku merasa sakit bila pernikahan harus berakhir karena orang ketiga, bahkan aku tidak menyangka ini bisa terjadi padaku seperti mimpi buruk yang menjadi momok menakutkan. 


Aku rela dan ikhlas bila dia mengucapkan talak, puncak kemarahanku saat mas Angga membela ibunya yang bersalah. Berbakti pada ibu tidak masalah, tapi yang jadi masalahnya adalah tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan juga ayah yang lalai. 


Aku menyeka air mataku agar tidak dianggap mengharapkan kembalinya suamiku di dalam pelukanku, kematian dari calon anakku di sebabkan ibu mertuaku sendiri. Cukup sulit untuk ku memaafkan mereka, selalu saja aku di tuntut sabar dan juga tabah padahal hati kecilku memberontak. 


Aku lihat mas Angga yang keluar dari kamar dan menenteng tas sandangnya, tapi hatiku geli saat dia terus celingukan padaku. Hah, pasti dia berharap kalau aku menahannya untuk pergi dari rumah, hatiku yang sakit ini tega melakukannya. 


"Kenapa jalannya lama sekali? Apa perlu aku bantu menyeret tas sandang itu keluar?" tekanku sambil melipat kedua tangan ku menatapnya tajam tak berperasaan.


"Aku tidak akan pergi!" jawab mas Angga yang melempar tasnya ke bawah, untuk sekarang ini sangat sulit mendapatkan tempat tinggal secara gratis. 


"Lho kenapa? Kamu lupa atau pura-pura lupa, hah?" 


"Aku ingin hak harta gono-gini." 


Tawaku tersembur kan di kala mas Angga dengan penuh percaya diri meminta haknya, aku bertepuk tangan dan sesekali memegang perut yang terasa di gelitik. 


"Lawak … lawak, hak apa yang kamu bicarakan Mas? Apa?" aku menantangnya dan berdiri menghampiri, cinta yang dulu terpancar lewat mata menyisakan kebencian dan rasa sakit di dalamnya. 

__ADS_1


"Rumah ini harus di bagi dua!" 


"Kamu lupa apa pikun? Toh, rumah ini juga sudah ada sebelum kita menikah dan atas namaku sendiri."


"Oke, aku akan membawa perkara ini saat kita sidang." Ancam mas Angga membutaku tertawa menyeramkan. 


"Aku tidak takut." Aku sudah berani melawan ketidakadilan adilan yang terjadi, biarlah aku hidup bersama kedua anakku yang terpenting hidup tanpa beban maupun tekanan batin. 


Mas Angga melayangkan tangannya hendak menampar pipiku yang mungkin menyinggung perasaannya, aku segera mencekal tangannya dan menatap matanya dalam juga intens. "Aku Tari, tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi padaku dan juga anak-anak. Kamu tidak ada hak menamparku, Mas." Aku menghempaskan tangannya kasar, meraih tas yang tergeletak di lantai dan meletakkannya ke kursi teras rumah. Aku menggerakkan kedua tanganku mempersilahkannya untuk segera pergi dari kediamanku, namun dia berusaha memanjangkan permasalahan dan tak lupa memainkan peran protagonis yang tersakiti untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang. 


"Lebih baik aku hidup bertiga dengan anak-anak, daripada makan hati punya suami seperti kamu!"


Aku menatapnya jengah dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan menutup pintu, menata hati yang terluka agar sembuh dengan cepat. 


Angga melangkah pergi dari rumah Tari, namun di hatinya tidak rela pergi dari sana. Sekarang dia tidak punya tempat tinggal maupun uang, gajinya sudah di berikan pada Siska yang selalu iming-imingnya dengan servis yang hot jeletot. 


"Aku harus kemana? Gajian masih lama, ahh … pusing." Angga mengumpat kesal, sepanjang perjalanan selalu saja mengeluh dan hatinya di hantui dendam pada istri yang sebentar lagi menjadi mantan istri. "Lihat saja, mau jadi apa dia tanpa ada aku? Paling juga usaha kuenya bangkrut." Monolognya yang terus memberikan pandangan buruk tanpa tahu nasib orang itu ke depannya. 


 

__ADS_1


Ponsel berdering menghentikan dirinya yang terus bicara di sepanjang perjalanan, bahkan orang-orang yang berselisih dengannya mengiranya orang gila. Angga semakin terbebani saat melihat dari namanya saja, siapa lagi kalau bukan Siska, wanita pelampiasan hasratnya selama di rantau orang. 


"Mas, kamu kenapa belum ke sini? Aku rindu … kamu gak rindu sama goyang kesetrum listrik dari aku?" 


"Aku gak mau bahas itu sekarang, aku lagi pusing." 


"Loh, pusing kenapa mas?" 


"Ya pusing … ibu aku ada di penjara dan aku juga baru talak istriku."


"Pasti semua ada jalannya, tapi bagus juga kalau kamu talak istrimu yang kucel itu, setidaknya kita bisa lebih leluasa menggapai surga dunia bersama."


"Kamu apaan sih, orang lagi pusing malah di goda terus. Kalau kamu begini kan aku pengen memakanmu, sayang." 


"Aww … kesini dong cepetan, aku buat kamu melupakan semua masalahmu, mas." 


"Oke, aku kesana." 


Angga buru-buru memutuskan telepon untuk mencegat kendaraan umum yang lewat, rayuan Siska membuatnya lupa masih punya ibu yang sekarang mendekam di penjara.

__ADS_1


__ADS_2