Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 107


__ADS_3

Seorang gadis tengah menatap pemandangan di luar yang begitu menyejukkan mata, udara segar dan hembusan angin yang menerpa kerudung dan juga wajahnya. Begitu tenang menikmati waktu yang membosankan, rutinitas yang hanya itu ke itu setiap harinya. 


Seorang gadis cantik yang dulunya berkulit putih, selalu beraktivitas di luar membuat kulitnya kini tampak gelap. Dia bebas dari kekangan sang kakak, dan sekarang malah merasa kesepian. Ya, Ratu merindukan omelan kakaknya, walaupun mereka sering video call tapi tetap tak bisa menghilangkan rasa rindu yang setiap harinya ingin bertemu. Dia merasa bisa hidup tanpa kakaknya, tapi justru pikirannya itu sangat salah. 


"Aku sangat merindukan kak Raja," gumam Ratu seraya menatap hamparan rumput yang ada di depannya, letaknya berada di belakang pesantren. Menghembus nafas kasar kemudian melompat dari atas pohon, sudah sepuluh menit dia berada di atas pohon. 


"Ya Allah … ya Robbi," ucap seseorang yang kaget melihat orang lain hampir menimpanya, memegang dadanya yang masih merasa terkejut. "Kalau mau lompat itu kira-kira dong, kalau aku punya penyakit jantung? Hayo, kamu mau tanggung jawab?" sambungnya seraya bertolak pinggang menatap Ratu yang melompat di hadapannya. 


"Maaf Mei, aku gak sengaja."


"Bohong ya? Segede ini masa gak kelihatan sampai kamu bilang gak sengaja."


"Aku gak bohong, Mei. Oh ya, tumben kamu kesini!" tanya Ratu yang menatap gadis seusianya dengan bingung. 


"Kalau bukan karena terpaksa, aku gak mau datang ke sini."


"Memangnya ada apa?" 


"Nyai minta aku cari kamu, sudah dari tadi aku cari kamu dan ternyata ada di atas pohon menjelma menjadi monyet." 


"Licin banget itu mulut, pengen aku lem pake lem setan sekalian." Ratu segera pergi meninggalkan gadis yang bernama Mei itu sendirian, tidak menggubris panggilan yang di lontarkan oleh temannya. 


Ratu mempercepat langkahnya, menjadi penasaran mengapa tiba-tiba nyai Fatimah mencarinya. Segera dia masuk ke dalam setelah mengucapkan salam, sontak kedua matanya melebar saat melihat kedatangan paman dan bibinya datang berkunjung. Tidak biasanya, karena butuh waktu bagi pasangan suami istri itu datang, minimal tiga sampai empat bulan sekali.  


Ratu berteriak kaget dan memeluk Adiba dengan erat, tak lupa juga memeluk Hanna yang masih berusia tiga tahun. 


"Paman dan aunty datang sangat cepat, biasanya tiga sampai empat bulan sekali untuk datang kemari menjengukku. Apa ada sesuatu?" 


Huan mengangguk dan tersenyum. "Kami ingin membawamu ke kota, mengambil masa liburmu karena Paman dan bibi tahu kalau kamu sangat merindukan kakakmu, Raja."


"Paman dan aunty mu sudah meminta cuti pada nenek selama satu minggu, selama ini kamu berada disini dan pasti sangat bosan karena kakakmu jauh."


"Paman paling mengerti aku. Memang kak Raja menyebalkan, tapi aku merindukan sisi kasih sayangnya yang selalu memperhatikanku." 


"Iya, Nenek juga setuju. Akhir-akhir ini kamu tampak sangat tidak bersemangat, dengan berlibur satu minggu mungkin mengembalikan semangatmu untuk belajar lebih keras karena tahun ini adalah tahun terakhir untuk menentukan kelulusanmu." 


"Iya Nek." 


Baru saja Ratu memikirkan kakaknya, nasib berpihak padanya dengan mengirimkan paman dan juga aunty datang ke pesantren untuk menjemput. Dengan penuh semangat dia membawa beberapa helai baju, tapi aunty Adiba memintanya untuk tidak membawa apa-apa. 


Bukan apa-apa, Adiba sangat prihatin dengan baju yang sudah mulai lusuh milik Ratu. Itu mengingatkannya akan semasa dia belajar dulu di pesantren, dia berjanji akan memberikan pakaian baru dan layak untuk keponakannya itu yang langsung ditulis disetujui oleh suaminya. 


"Aku tidak memerlukan baju baru, ini sudah cukup." Ratu diajarkan untuk hidup lebih sederhana, walaupun Kakak nya sudah menjadi CEO yang dia sendiri tidak tahu apa artinya dari singkatan itu, intinya dia tidak mau mengganti pakaiannya sampai benar-benar tak layak di pakai. 


"Jangan begitu, sama saja kamu membuat aunty kecewa. Anggap sebagai hadiah untukmu dari Aunty," tutur Adiba menjelaskannya, berharap Ratu mau membeli beberapa pasang set pakaian serta kerudung dan juga kaos kaki. 


Ratu yang tidak tegaan akhirnya mengangguk setuju, mengambil sisi baiknya dengan berpikir positif. "Terserah Aunty saja, aku ikut apapun itu." 

__ADS_1


Tidak ada acara mengemasi barang, semua kebutuhan Ratu akan disediakan saat mereka sampai ke kota. Beberapa menit kemudian, dia berpamitan pada nyai Fatimah, sedih rasanya meninggalkan wanita paruh baya yang sudah dianggap sebagai nenek. Sedangkan Huan melirik jam serta menatap keponakannya yang masih berpelukan perpisahan. 


"Ayolah sedikit!" titah Huan yang sudah jengkel dengan keponakannya yang dramatis. 


"Lima menit lagi, Paman." Ratu memeluk tubuh wanita paruh baya yang mulai renta dengan lembut, merasakan kehangatan dan juga kenyamanan. "Jaga diri Nenek selama aku pergi. Jangan lupa minum obatnya tepat pada waktunya, jangan lupa telepon aku setiap hari." Dan masih banyak lagi perkataannya, jika ditulis pasti memenuhi selembar kertas HVS. 


Adiba menepuk keningnya melihat perpisahan Ratu dan bibinya, bagai dua orang yang menempel, sangat sulit bila berpisah. "Ayo, kita harus pergi!" 


"Iya Aunty," pekik Ratu yang kembali memberikan nasehatnya, membuat nyai Fatimah tersenyum saat mendapatkan perhatian lebih dari cucu tanpa ikatan darah. 


"Pergilah!"


"Jadi Nenek mengusirku?" 


"Dasar konyol, kamu mengatakan salam perpisahan atau sedang berpidato? Cepatlah sedikit kalau kamu ingin pulang, atau bisa tinggal disini saja," kecam Huan yang emosinya mulai terpancing. 


Dengan raut wajah tanpa berdosa dan bersalah, Ratu masuk ke dalam mobil. Seoasang suami istri berpamitan pada pemilik pesantren, baru saja mereka duduk dan mobil mulai berjalan, tiba-tiba mereka terkejut mendengar teriakan Ratu yang heboh. 


Ratu nekat menjulurkan sebagian tubuhnya dan melambaikan kedua tangannya pada nyai Fatimah. "Aku akan mengabari Nenek ketika sampai, jangan lupa makan tiga kali sehari," teriaknya membuat telinga Huan dan Adiba berdengung mendengar suara cempreng dengan nada tidak beraturan. 


"Kamu turun saja, tidak perlu ikut!" kecam Huan yang sudah kesal dengan keponakannya satu itu, mulai berpikir mengapa Raja dan Ratu sangat berbeda bagai bumi dan langit. Perbedaan yang cukup signifikan, itulah sifat seseorang walau satu jalan lahir tapi pemikiran mereka pasti berbeda. 


Ratu cengengesan dan menarik tubuhnya, duduk dengan diam dan patuh, tidak lagi seperti gadis remaja yang sedang terkena cacingan. 


"Good girl."


Adiba tersenyum melihat pemandangan itu, meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya agar tidak membangunkan Ratu yang kelelahan, apalagi dia melihat bagaimana sang suami ingin membangunkan keponakannya itu. "Biarkan saja dia tertidur." 


"Jadi kita singgah di toko pakaian syar'i?" tanya Huan yang menjadi sopir pribadi untuk istrinya. 


"Jadi, aku melihat semua pakaian Ratu sudah lusuh dan juga ada beberapa yang tidak layak dipakai. Itu mengingatkanku saat mondok dulu, hidup di awal kesederhanaan akan terus terbawa ke masa yang akan depan bahkan setelah memiliki harta yang cukup." 


"Aku heran, padahal kita sudah mengirimkan uang setiap bulannya, tapi dia tidak membelinya pakaian baru. Membelinya sangat jarang, hanya sekali setahun saat lebaran idul Fitri." 


"Iya, sebagai wali kita harus memperhatikan kebutuhannya juga." 


Tak lama mobil berhenti di sebuah toko yang menjual khusus pakaian syar'i wanita, Adiba segera membangunkan Ratu dan membawa gadis itu ikut bersamanya, sedangkan Huan memilih menunggu di mobil sambil memainkan ponsel. 


Ratu sangat terpukau dengan toko pakaian yang berisi pakaian wanita syar'i lengkap, sudah lama dia tidak menikmati momen ini. Adiba memberikan hak kepada Ratu untuk memilih pakaian sesuai keinginannya, namun dia tetap menjadi mentor dan mencocokkannya dengan si pemakai. 


Adiba meminta bantuan pelayan untuk memperlihatkan pakaian syar'i yang lebih mahal, dan Ratu bertugas untuk memilih. 


Setengah jam mereka berada di dalam toko itu, keluar dengan perasaan bahagia membawa beberapa paper bag di tangan dan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari pandangan. 


"Sudah selesai?" tanya Huan yang melihat banyak paper bag yang di letakkan di sebelah Ratu. 


Adiba tertawa kecil. "Sudah. Ayo pulang!" 

__ADS_1


Huan tidak masalah seberapa banyak yang di ambil oleh istri dan juga keponakannya, bahkan bila perlu memborong satu toko tanpa takut tidak bisa membayarnya. Dia hanya kesal menunggu selama setengah jam, hampir lumutan menunggunya. 


Kemudian dia kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah yang memakan waktu beberapa menit, setelah dia sempat mengirimkan pesan singkat kepada Raja mengenai keberadaan Ratu yang sebentar lagi sampai ke rumah. 


Sesampainya di rumah, Ratu mengedarkan seluruh pandangannya menyeluruh tanpa ada yang terlewatkan. Dia tersenyum dan juga senang melihat rumah yang dulunya ditempati bersama mendiang ayah dan juga ibunya, begitu banyak kenangan indah yang terukir di sana. Tpi dia lebih memutuskan sepuluh tahun berada di pesantren agar melupakan semua kenangan manis yang terasa pahit bila mengingatnya sekarang. 


"Semoga aku kuat," lirihnya seraya melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam rumah. 


Perjalanan yang begitu melelahkan membuat Ratu langsung tidur di kamarnya. Dia mengucapkan salam dan melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar yang sudah lama tidak dia tempati, dekorasi yang masih sama seperti yang dulu tidak ada yang berubah sedikitpun. Dia sangat berterima kasih kepada paman dan juga aunty nya yang menghargainya sebagai keponakan, tidak mengubah ataupun merusak apapun. 


"Sebelum bertemu dengan Kak Raja lebih baik aku tidur, nanti malam juga aku bisa bertemu dengannya," pikir Ratu yang langsung menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur yang sangat empuk, berbeda dengan kasur yang ditempati di pesantren yang terbuat dari bahan kapas.


Saat makan malam tiba, Ratu yang sudah siap-siap dan sudah melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam yaitu shalat magrib. Dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar, menuruni beberapa anak tangga menghampiri keluarganya yang sudah menunggu di meja makan. 


Ratu celingukan mencari keberadaan sang kakak yang tidak dapat terlihat, menarik kursi dan duduk di sebelah Zaydan. "Dimana kak Raja?" tanyanya sambil menatap Adiba dan Huan secara bergantian.


"Maafkan Paman yang terlambat mengatakannya, kakakmu malam ini tidak pulang ke rumah, dia lembur dan pasti pulang besok pagi." 


Ratu hanya mengangguk dan ber 'oh' ria saja, karena urusan perut adalah hal yang terpenting dari segalanya. Butuh waktu beberapa menit hingga ritual makan itu selesai, Ratu yang masih merindukan tempat itu memutuskan untuk berkeliling. Langkahnya terhenti saat berada di kolam renang, sontak kedua matanya berbinar cerah matahari yang mulai meninggi, saat melihat air seperti mermaid. Dia tidak menyadari kapan kolam renang itu dibuat, tapi hal itu tidak penting lagi karena sekarang waktunya adalah berenang. 


"Yuhu … air, aku datang." Ratu langsung menceburkan dirinya setelah berganti pakaian, mana mungkin dia mengenakan gamis, yang ada gamis itu terangkat dan mengambang ke permukaan air, jalan satu-satunya memakai celana olahraga atau celana training.


Dengan gaya batu yang mengambang terlihat menyakitkan mata, tapi bagi Ratu yang jarang bahkan tidak pernah mandi di kolam renang selama beberapa tahun membuatnya begitu rindu. Di pesantren dia sering mandi air sungai, tapi rasa keduanya sangat berbeda. 


"Masyaallah, segar sekali airnya," ucap Ratu berdecak kagum, tidak punya keahlian dalam berenang, hanya menggunakan gaya favoritnya seperti mengambang di permukaan menikmati sengatan matahari yang semakin membuat kulitnya sawo matang. 


"Ya ampun, di cariin ternyata kamu di sini." 


Suara yang sangat familiar, Ratu langsung menoleh ke sumber suara dan menatap wajah Adiba. "Ada apa Aunty?" tanyanya yang naik ke permukaan. 


"Ini masih siang, cuacanya sedang sangat cerah."


"Aunty tenang saja, aku akan putih dan cantik dengan mudah tahun depan, kalau sekarang aku tidak mood."


Baru sampai saja membuat Adiba menggelengkan kepala, bagaimana tinggal selama seminggu? Mungkin dia akan merasa terhibur dengan tingkah laku dan kekonyolan dari keponakannya. 


"Aunty mau apa?" tanya Ratu yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Adiba, membuat wanita itu berteriak kaget sampai menarik perhatian. 


"Nanti saja berenangnya, tunggu pamanmu pergi bekerja."


Ratu paham dan mengerti, melapisi baju gamisnya dan tidak peduli dengan basah. Dengan secepat kilat, dia berlari menuju kamar, tapi sial saat tubuhnya yang basah meneteskan air di lantai menjadi bumerang untuk nya sendiri.


Sontak Adiba menutup matanya sepersekian detik, melihat Ratu yang terpeleset. Belum sempat dia datang membantu, gadis ceroboh itu sudah masuk ke dalam kamarnya. 


"Huh, malunya." Ratu menutupi matanya menahan malu, saat beberapa pelayan di rumah tak sengaja melihat momen terpelesetnya. Kemudian dia menatap foto kakaknya, dan berniat untuk memberikan kejutan dengan datang ke kantor. 


"Aku akan datang ke sana," gumamnya tersenyum jahil.

__ADS_1


__ADS_2