
"Aihs … sudah bertamu tapi tidak tahu malu, jangan habiskan stok makananku," pekik Ferdi yang tidak terima, menelan saliva dengan susah payah di saat makanannya mulai ludes di makan Huan. Saking kesalnya, dia melemparkan bantal yang hampir mengenai makanan dan bisa menumpahkannya. Huan masih sama seperti dulu, mempunyai refleks yang snagat bagus.
Huan tersenyum tanpa bersalah, sambik menunjuk makanan yang sudah ada di tangannya. "Semenjak punya anak, aku sering sekali cepat lapar. Nanti aku akan menggantinya, kamu tenang saja."
"Aku mengenalmu dengan sangat baik." Ferdi tahu, jika Huan pasti melupakannya perkataannya di beberapa menit setelah di ucapkan, yang bahkan bisa di hitung dalam beberapa menit setelah menghabiskan makanan. Jika menyangkut makanan, hal itu sering kali terjadi padanya.
"Kamu yang terbaik, Kawan. Ikhlaskan saja. Apa semua makanan ini halal? Maksudku, aku hanya ingin memastikan."
"Kamu bisa membaca, jangan bertanya padaku." Ferdi memutuskan untuk duduk dan menatap Huan dengan raut wajah yang cemberut. "Dia seperti bencana bagiku," batinnya.
"Ya. Kalau begitu ubah aku menjadi sebuah keberuntungan untukmu," celetuk Huan yang ikut duduk di sebelah temannya, masih memakan makanan dari sang pemilik rumah tanpa bersalah, bahkan tanpa tahu malu malah menunjukkan wajah polosnya.
"Eh, apa? Kamu bisa membaca pikiranku?" tanya Ferdi menatap tajam Huan. "Aku harus hati-hati berbicara di dalam hati," ucapnya di dalam hati.
"Terlihat jelas dari wajahmu."
"Lupakan masalah ini, kita bahas hal yang penting saja."
"Ya, itulah tujuan utamaku."
Mereka merencanakan untuk menyerang bawahan Soni secara diam-diam, tidak tahu berapa banyak jumlah musuh yang akan mereka hadapi nanti. Walau terlihat sulit, tapi tidak ada yang tidak mungkin. Mereka berdua fokus dalam menyusun ulang rencana untuk mematangkannya, mengambil rencana cadangan jika rencana pertama tidak berhasil.
*
Sebelum pergi menghadapi Soni, Huan dan Ferdi menyusun rencana kedua bila terjadi sesuatu di luar dari jangkauan. Mereka sudah sangat siap, dan tentunya tidak ketinggalan adalah berdoa sebagai penentu. Mengatur strategi adalah keahlian keduanya dengna menyatukan ide, mau menyerang seperti apa dan apa kosekuensinya perlu di perhitungkan dengan sangat baik.
"Kamu sudah siap?" Huan menatap Ferdi yang menganggukkan kepala, dia tersenyum kemudian pergi dari tempat itu.
Keduanya bergegas ke bagasi dan melihat dua motor sport berwarna merah dan warna hitam, Huan menganga melihat motor milik temannya yang sangat keren. Pasalnya, dia tidak tahu menahu jika Ferdi memiliki dua motor sport yang keren keluaran terbaru, di desain khusus sesuai permintaan customer. Fantastis, satu kata yang terngiang di dalam pikirannya.
"Apa dua motor yang disana milikmu?"
"Memangnya kamu pikir apa? Terparkir di sana, dan kawasan ini adalah milikku."
"Sangat keren. Motor merah itu terlihat sangat menantang, apa itu boleh aku kendarai?" Mata Huan berbinar cerah, berharap dia dapat mencoba motor sport milik Ferdi. Seketika senyuman di pipinya langsung sirna di saat mendengar jawabannya.
"Tidak. Aku akan mengendarai yang warna merah, kita satu motor saja."
"Hah, itu terdengar aneh. Ada dua, mengapa tidak mengendarai motor masing-masing saja?"
"Apa kamu pikir itu mudah? Biaya perawatan plus mereka kesayanganku, tidak akan pernah aku izinkan di pakai oleh orang asing, apalagi modelnya sepertimu yang amat sangat tidak meyakinkan."
Huan mendengus kesal, namun tetap tak ingin sifat gagahnya tertutupi. "Perhitungan sekali."
"Ya … mesti begitu, keuanganku menipis dan harus hidup berhemat. Bukan itu saja, alasan kedua untuk memudahkan kita dalam bergerak, seperti salah satu di antara kita harus menyetir dan bagian belakang harus fokus membidik dengan senjata untuk melumpuhkan musuh. Kamu paham sekarang?" jelas Ferdi panjang lebar langsung mendapat respon anggukan kepala dari Huan.
Dengan terpaksa setuju di bonceng oleh Ferdi, mereka pergi setelah para bawahan sudah berada di markas milik Soni. Melaju dalam kecepatan tinggi, keduanya tampak gagah dengan pakaian dan aksesoris pendukung, seperti kacamata silver yang menjadi penunjang penampilan agar terlihat sempurna dan keren.
Beberapa menit setelah mengukur jalanan menggunakan motor yang berkecepatan hampir sama dengan kecepatan angin, segera mereka mengatur posisi dan memberikan perintah dari dua kelompok yang di bagi menjadi dua. Huan menuju ke arah barat, sedangkan Ferdi ke timur untuk menyergap anak buah Soni dari berbagai penjuru.
Huan sedikit mengangkat tangannya, sebagai kode untuk maju menyerang musuh, dan beberapa orang berjalan lebih dulu dengan menembak orang-orang yang berjaga di sekitar markas, tentunya menggunakan senapan panjang yang sudah di bekali peredam suara. Orang-orang yang sudah terlatih memberikan kepuasan, dan berguna memudahkan pekerjaan.
Sementara di sisi lain, Adiba menjadi gelisah. Perasaannya tidak tenang saat memikirkan keadaan sang suami yang tidak bisa di hubungi, bahkan beberapa kali dia mencobanya tetap saja tidak membuahkan hasil. "Apa terjadi sesuatu?" gumamnya yang sangat takut terjadi sesuatu, kembali menghubungi suaminya tetap tidka bisa tersambung.
Kesunyian di malam itu, hanya terdengar suara jangkrik yang berada di luar, menambah suasana sedikit mencekam. Adiba melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari, melihat kedua anak kembar dan juga kedua keponakanya yang tertidur berdekatan dengannya. Gelisah yang bembelegu setiap saat, terasa sangat tidak enak di rasakan di hati.
"Ya Allah, aku sangat cemas dengan keadaan suamiku. Tolong permudahkan lah setiap kakinya melangkah, beri keselamatan, dan bawa dia kembali dalam keadaan sehat tanpa kurang satu apapun."
__ADS_1
Adiba terus merapalkan doa dan berdzikir untuk keselamatan suaminya, demi ketenangan yang dia dapatkan. Bulir bening yang hinggap di pelupuk mata menjadi saksi mengenai perasaan hati saat ini, menerima setiap ujian yang di berikan Tuhan padanya.
Huan masuk ke dalam markas dengan cara menyelinap agar tidak di ketahui, jalanan yang sudah bersih tidak ada penghalang lagi, sangat mudah di laluinya. Dia dan temannya tidak putus komunikasi, memastikan setiap sisi sudah di taklukkan. Bahkan mereka saling berdebat dan lupa sedang dalam pertarungan demi kebebasan, hingga salah satunya di serang langsung membuat yang lainnya kembali fokus pada tujuan utama, yaitu mencari Soni.
Tersisa satu ruangan yang belum di periksa Huan, baru saja kaki melangkah masuk terdengar suara tepukan tangan, sepertinya musuh tahu gerakannya yang ingin menyerang. Segera dia menoleh, melihat seorang pria yang entah datang darimana.
"Wow, ternyata kamu menyerang
markasku diam-diam. Dasar pengecut!" ucap Soni dengan lantang.
Huan terdiam bukan sembarang diam, tentu saja sedang menghitung penyerangan seperti apa yang sesuai untuk Soni. Di sini dia mencoba untuk mengikuti alur, mengikuti permainan dari mantan satu timnya.
"Aku tidak peduli mau di sebut apa, kamu selalu saja menganggu ketenanganku. Berusaha mengusik keluarga kecilku yang bahagia, dengan semua rasa dengki yang ada pada dirimu."
Soni memasukkan tangannya di saku celana, berjalan mendekat tanpa takut melihat pistol yang kapan saja pelurunya bisa menembus di bagian jantung.
"Sekeras apapun kamu berusaha, tetap saja tidak bisa keluar dari tim yang sudah lama terbentuk. Tidak ada seorangpun yang boleh keluar, tapi kamu dan Ferdi melakukan pelanggaran. Kamu bahkan melihat bagaimana nasib Mike sebelumnya, ingin melepasakan diri dari tim tapi keputusan keliru malah membawanya pada jurang kematian." Soni tertawa menyeramkan, membuat siapa saja bergidik ngeri bila mendengarnya. "Aku masih mentolerir semua sikapmu dan juga Ferdi karena kalian termasuk bagian inti yang terbaik. Segera kembali bergabung menjadi satu tim, atau kalian memilih kematian," kecamnya yang mengancam.
"Kematian bukan berada di tanganmu, jangan menganggap dirimu Tuhan yang tahu kapan ajal seseorang tiada."
Soni menyeringai tipis, melirik senjata yang ada di tangan Huan dan penampilan dari mantan timnya itu sangat matang. "Mau berduel? Kita selesaikan secara jantan, kau dan aku. Sudah lama aku ingin menghajarmu dengan tangan kosong."
Huan terdiam beberapa saat karena berpikir, dia juga punya dendam yang harus di tuntaskan, sebelum dendam itu menjadi sebuah penyakit nantinya. "Aku terima tantanganmu."
Keduanya saling menatap satu sama lain, kontak mata yang tajam penuh ranjau mematikan. Soni lebih dulu melayangkan serangannya, beruntung Huan cepat menangkis dan membalas serangan untuk membalikkan keadaan.
"Wuhh … lumayan, aku butuh pemanasan." Soni mendorong dinding mulut menggunakan lidahnya, terasa kalau mulutnya seperti terkena obat anestesi.
"Benar, itu baru permulaannya. Bersiaplah menerima seranganku," ucap Huan seraya melompat dan menendang Soni dengan gerakan memutar, namun gerakannya masih di ingat oleh lawan.
Di sisi lain, Ferdi berhasil membunuh anak buah Soni. Tapi, baru saja melangkah maju, dia berhadapan pada asisten pria itu yang juga terkenal pada seni tarungnya yang mumpuni.
"Jangan buang tenagamu dengan melawanku, menyingkirlah!" kata Ferdi lantang.
"Kamu memang hebat, tapi mengalahkan banyak orang pasti membuatmu kelelahan. Aku yakin bisa mengalahkanmu lewat celah itu," sahut pria yang menjadi asisten atau tangan kanan Soni.
Ferdi membuang ludah ke samping seraya menyeringai. "Ayo kita buktikan!"
"Hem, pasti."
Keduanya saling menyerang satu sama lainnya, sedangkan di dalam juga melakukan hal yang sama. Pertarungan yang memang terlihat seimbang, tapi masih bisa melihat siapa pemenangnya.
"Aku tidak akan kembali ke dunia gelap itu lagi, jangan pernah menyeretku dan juga keluarga kecilku. Kalau kamu tetap nekad? Jangan salahkan aku yang memperlihatkanmu sisi kejamku yang sebenarnya."
Bugh
Soni terkapar di lantai, melihat kepergian dari Huan yang menghilang di balik pintu.
Akhirnya kemenangan berhasil di raih oleh Huan dan Ferdi, mereka menjadi satu tim yang sangat handal.
Menuju pulang ke rumah milik temannya, Huan di perbolehkan untuk mencoba motor sport itu sedangkan Ferdi duduk di bagian belakang.
Seketika perasaannya berubah saat merasakan sepasang tangan memeluk pinggangnya, langsung menoleh dan menepis tangan itu.
"Hoi, kamu gay?"
"Enak aja ngatain orang gay, aku pria normal."
__ADS_1
"Lalu? Mengapa kamu berusaha dekat denganku?" Selidik Huan.
"Bau parfummu sangat wangi, apa mereknya? Aku akan memakainya juga."
"Kenapa kamu terlihat aneh? Sebaiknya kita ke psikiater."
"Gak. Apa kamu pikir aku ini gila?"
Perdebatan tiada akhir akhirnya berhenti saat merasakan sudah capek dan lelah.
Sesampainya di rumah milik Ferdi, Huan memutuskan untuk membersihkan tubuhnya yang di percikkan oleh darah musuh, kemudian memakai pakaian ganti dan langsung beristirahat. Namun sebelum itu, dia mengaktifkan kembali ponselnya. Huan terkejut melihat banyak panggilan tidak di jawabnya, apalagi tertera nama istrinya tersayang.
"Oh ya ampun, ternyata dia menghubungiku sebanyak ini? Habislah aku, pasti dia sekarang berpikiran macam-macam denganku." Ingin sekali Huan kembali menghubungi istrinya, namun jam yang hampir menunjukkan subuh hari melah memundurkan niatnya dengan perlahan. "Aku tidak tega membangunkannya sekarang, besok pagi saja."
*
Di pagi hari yang indah, Raja dan Ratu memuntuskan untuk berkeliling pesantren setelah mereka selesai sarapan dan juga membersihkan diri. Bergegas melihat bagaimana para ustadz dan ustadzah mengajar di setiap kelas. Keinginan keduanya begitu kuat dan tertarik memperlajari ilmu agama.
"Paman lihat, sepertinya Raja dan Ratu menyukai suasana di sini," ucap kyai Abdullah yang duduk bersila dan menyeruput teh.
"Aku juga meraskaan begitu Paman."
"Kalau begitu, biarkan mereka tetap tinggal di sini. Paman dan bibi akan menjaga mereka dengan sangat baik, semenjak kedatangan kalian, rumah ini terasa lebih hidup dari kesunyian dan rasa sepi."
Adiba terdiam karena tidak bisa memutuskannya secara langsung. "Aku harus membicarakannya dulu pada suamiku, Paman. Setelah itu akan aku beri kabar bagaimana keputusannya," jawabnya. Dia merasa terbantu dan terhindar dari baby blues yang bisa menyerang ibu setelah melahirkan, berkat dukungan dari keluarga terutama suaminya yang berperan menjadi bagian penting.
"Kami akan sangat senang dengan keberadaan mereka. Apa Huan sudah menghubungimu?" tanya Nyai Fatimah.
"Belum Bi," jawabnya jujur, kemudian ponselnya berdering dan melihat siapa yang menghubunginya. Segera di angkat oleh Adiba dan tersenyum lega saat mendengar suara suaminya yang ternyata dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa."
"Syukur Alhamdulillah, aku sudah menghubungimu sepanjang malam tapi ponselnya tidak aktif."
"Oh, itu karena aku lupa untuk mencharger ponselku. Maafkan aku ya!"
"Tidak perlu meminta maaf begitu."
"Hem. Aku ingin lihat bagaimana keadaan Zayn dan Zayden? Juga kedua keponakanku."
"Mereka baik."
"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya."
"Hem. Kapan kamu datang kesini dan menjemput kami?"
"Sabarlah sebentar, aku pasti kesana dan aku usahakan cepat."
"Baiklah. Aku menunggumu di sini."
"Hem, jaga dirimu dan anak-anak."
Setelah sambungan telepon selesai, Adiba malah mendapat cubita di pinggangnya dan pelakunya adalah sang bibi.
"Itu suamimu, tidak pantas memanggil aku dan kamu. Panggil dia dengan sebutan panggilan sayang dan lain sebagainya! Bibi tidak ingin mendengar ini lagi nanti."
"Eh … iya Bi."
__ADS_1