
Hari berganti dengan sangat cepat, tak terasa sudah tiga tahun berjalan. Seorang gadis tersenyum sumringah dikala dia keluar dari pesantren, kebahagiaan yang dirasakan sangat luar biasa setelah perjuangannya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Ratu lulus dengan nilai pas-pasan, walaupun dia memerlukan waktu tiga tahun karena gagal sebanyak dua kali.
"Akhirnya aku lulus," pekik Ratu yang bersorak gembira, sudah tidak ada lagi cap siswa abadi lagi. Harusnya dia lulus tiga tahun sebelumnya, tapi apa boleh buat? Otaknya memang tidak bisa mencerna pelajaran dan butuh waktu yang sangat lama. "Nah, begini baru oke."
Ratu tidak perlu cemas mendengarkan omelan dari kakaknya karena tidak lulus, sudah sangat bosan dia mendengarkan perkataan dari orang lain. Bakatnya hanya dua, yaitu makan banyak tetap kurus dan ada bakat di bidang seni seperti melukis. Tak heran kalau tubuhnya sekarang sedikit padat berisi, kulit sawo matangnya dulu kini kembali putih sebab aunty memberikannya skincare dan perawatan kulit secara menyeluruh.
Ratu sangat bahagia, tapi juga sedih saat dia harus berpisah pada pemilik pesantren yang sudah dianggap sebagai kakek dan juga neneknya. Banyak kenangan yang tercipta disini, dan semuanya sudah di anggap keluarga.
"Selamat atas kelulusanmu," ucap kyai Abdullah yang memberikan Ratu hadiah. "Ini dari Kakek dan juga nenek, pakai selalu."
Ratu mengambil hadiah itu dan membukanya, kedua matanya berbinar cerah saat melihat mukenah dan juga beberapa alat lukis yang menjadi minatnya. Dia tersenyum mendapatkan hadiah yang di anggap istimewa, dan mengucapkan terimakasih.
"Bagaimana Kakek dan Nenek tahu kalau aku suka melukis?"
"Nenekmu tidak sengaja melihatnya, kamu suka melukis bila waktu senggang."
Ratu tersenyum sambil memeluk wanita tua dengan penuh kasih sayang. "Nenek yang terbaik."
Wanita tua itu tersenyum seraya melepaskan pelukan, matanya mulai mengeluarkan cairan bening yang terasa asin. Tidak kuasa kalau hari ini adalah perpisahan mereka, namun harus menerima kenyataannya. "Kalau sudah sampai ke kota, kabari Nenek dan kakekmu biar kami tidak khawatir."
Ratu juga meneteskan air matanya, dan melambaikan tangan saat masuk ke dalam mobil yang menjemputnya sesuai permintaannya sendiri. Gagal dua kali membuatnya sedikit down, tapi tetap ceria jika berhadapan dengan orang lain. Dia juga meminta agar paman, aunty, dan kakaknya tidak boleh datang ke pesantren. Dia sendirilah yang akan ke kota dengan jemputan dari sopir milik paman Huan.
Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya ponselnya bergetar dan berdering. Kesal dengan semua itu akhirnya dia menjadikan mode silent agar tak mengganggu perjalanannya, tidak peduli jika di tempat lain sangat kesal pastinya.
"Eh Pak, kita singgah dulu ke toko roti," pinta Ratu yang merindukan roti yang rasanya mirip dengan buatan ibunya, karena Adiba dan Ratih bekerjasama agar tidak mengurangi maupun melebihkan rasa dari adonan, sesuai dengan resep.
Ratu mengambil kue-kue kesukaannya, dan membelinya dua kantong plastik yang berukuran besar. "Ini uangnya!" ucapnya memberikan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Gak perlu bayar, simpan saja uangnya!" ucap Ratih yang memberikan bahasa isyarat lewat mata agar tidak mengambil uang yang diserahkan oleh Ratu.
"Gak apa-apa Bi, biar modalnya berputar."
"Simpan saja uangmu! Roti sebanyak itu sanggup kamu habiskan?" tanya Ratih, dia menatap gadis yang dulunya sangat cantik dan imut tumbuh menjadi gadis yang remaja menuju dewasa.
"Mau aku bagikan ke anak jalanan arah pulang."
"Masyaallah, kamu jadi anak yang berhati dermawan. Bibi boleh memelukmu?" tanya Ratih yang ingin melepaskan rasa rindu pada Tari, almarhumah ibu Ratu. Dia meneteskan air mata di kala mendekap tubuh seorang gadis di hadapannya, segera menyeka air mata dan melepaskannya pelukan itu.
"Bibi menangis?"
"Tidak, kemasukan debu saja," jawab Ratih yang berbohong. "Kamu tumbuh menjadi anak yang cantik, sama seperti ibumu."
"Tapi ibuku tidak gendut," sahut Ratu yang tertawa, tidak ingin menangis bila ada orang yang menyinggung soal ibunya. "Aku pulang dulu, pasti semua orang sedang menungguku di rumah."
"Baiklah, hati-hati di jalan."
"Iya Bi."
Ratu keluar dari toko roti dan berjalan dengan tanpa beban, karena kecerobohannya membuat dua kantong plastik berwarna putih itu hampir jatuh. "Hampir saja," gumamnya seraya melanjutkan langkah kakinya, tapi langkahnya berhenti saat merasa ada yang menahannya. Dia menoleh, dan melihat seorang pria yang sudah tiga tahun lamanya tidak bertemu.
__ADS_1
Kedua pupil mata pria itu melebar, tatkala melihat seorang gadis di hadapannya sangat mirip seseorang.
"Bara?"
Bara tertegun mendengar suara yang familiar, itu suara Ratu. Perkenalan singkat beberapa hari masih membekas sampai sekarang, namun dia terkejut saat melihat gadis yang sama tapi penampilan sangat berbeda. "Ratu?" ucapnya mencoba untuk meyakinkan dirinya, dia tidak yakin.
Ratu yang dikenal Bara adalah gadis kurus, berkulit sawo matang, sedangkan di hadapannya gadis dengan tubuh yang berisi, juga berkulit putih.
"Apa benar kamu Ratu?"
"Iya, ini aku … Ratu, adiknya kak Raja."
Bara menghela nafas, tersenyum tatkala melihat gadis itu yang membuatnya pangling.
Ratu mengeluarkan brownies coklat dan memberikannya pada Bara, dia berpamitan karena sudah sangat terlambat untuk pulang ke rumah.
"Itu sebagai hadiah dariku, makanlah!" ucap Ratu seraya melambaikan tangannya, dan memerintah pak supir untuk membawanya pulang.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah, Ratu menyempatkan dirinya untuk singgah ke jalanan yang dipenuhi anak-anak kurang beruntung. Sifat yang ditanamkan oleh ayah Ken berhasil dilakukan sampai saat ini, berbagi pada sesama.
Ratu yang tengah asik membagikan kue, dia lupa pada semua orang yang menunggu kedatangannya. Terutama Raja yang sangat kesal, puluhan kali menghubungi adiknya tapi tidak di angkat.
"Dia menguji kesabaranku," gumam Raja yang sudah kesal menunggu lama, melirik jam di dinding dan beruntung kalau hari ini adalah hari libur bekerja.
"Seharusnya Ratu sudah sampai ke sini dua jam yang lalu," celetuk Huan yang mendapatkan pesan singkat dari supirnya mengenai ratu yang sudah berangkat dari pesantren.
"Raja. Coba telpon dia sekali lagi, mungkin diangkat."
"Sudah puluhan kali, tetap dia tidak mengangkatnya, Paman. Kemana anak itu?" geram Raja yang kesal dengan adiknya.
Terdengar suara klakson mobil, mereka keluar dari rumah dan menyambut kedatangan Ratu sesuai dengan namanya.
Ratu keluar dengan raut wajah sumringah, tanpa merasa bersalah sedikitpun semakin membuat Raja kesal. Baru saja gadis itu hendak memeluk Adiba, Raja lebih dulu menarik telinga adiknya.
"Auh, sakit Kak. Baru saja pulang masa di sambut jeweran telinga," keluh Ratu yang meringis.
Pletak
Raja menjitak kepala adiknya. "Untuk apa kamu punya ponsel? Sudah puluhan kali aku menghubungimu tapi gak ada respon."
"Ya maaf, buktinya aku sudah ada di depan kalian. Ayo masuk!" ajaknya yang sangat lelah.
"Katakan dulu, kemana kamu pergi sebelum kesini!" tanya Huan yang sama kesalnya dengan Raja.
"Aku tadi singgah ke toko roti dan membagikannya ke anak-anak jalanan, sebagai rasa syukur akhirnya aku bisa lulus juga. Yah, nilaiku pas-pasan, tapi setidaknya ada kemajuan dari dua tahun lalu."
Adiba membawa semua orang masuk ke dalam rumah, meminta bantuan pelayan untuk menyajikan cemilan dan makanan lainnya di atas meja.
"Aku berdoa agar kamu lulus waktu itu, tapi kamu menjadi santriwati abadi."
__ADS_1
"Mulut Paman pedas juga, aku tersinggung."
Pletak
Raja kembali menjitak adiknya. "Apa itu cara berbicara dengan orang tang lebih tua darimu?"
"Auh, Kak. Aku hanya bercanda, kamu selalu serius." Ratu sangat kesal dengan sikap kakaknya yang semena-mena.
"Wow, Kak Ratu tambah putih dan glowing." Puji Zayn yang di anggukkan kepala setuju oleh Zayden.
Ratu tersipu malu, dia tidak tahan mendengarkan pujian itu. "The power of skincare," selorohnya.
"Tapi Kakak terlihat gemuk," celetuk Hanna langsung menghempaskan khayalan Ratu yang langsung tersenyum kecut.
"Bukan gemuk, itu namanya berisi." Adiba meralat perkataan Hanna.
"Iya Umi."
"Mengobrol tidak akan membuat perut kenyang, makanlah cemilannya!"
Semua orang mematuhi perkataan Adiba, mereka menghabiskan waktu bersama saat cuti bekerja dan cuti sekolah bagi anak-anak.
*
Adiba mengembalikan hak milik Ratu, dia hanya menjalankan usaha milik almarhumah Tari, kakak iparnya. Sekarang Ratu berusia 19 tahun, yang itu berarti sudah bisa mengemban rasa tanggung jawab untuk mengelola toko roti yang telah berdiri selama belasan tahun.
Ratu tidak setuju menjalankan bisnis roti milik almarhumah ibunya, dia ingin mengembangkan bakatnya menjadi seorang seniman. Ya, dia menyukai seni terutama melukis. Dia masih berpikir keras karena tidak menginginkan bekerja di toko roti, dia punya pilihan sendiri yaitu di bidang seni.
Raja menemui adiknya dan berbicara empat mata, bermaksud agar sang adik menerima takdir yang sudah di tetapkan padanya, yaitu menjalankan usaha milik ayah ken dan ibu mereka.
Ratu menghampiri kakaknya, dia sedih mengapa tidak bisa memilih jalan hidupnya sendiri. "Aku tidak tertarik menjalankan bisnis ibu, aku tidak mau."
"Itu harus Ratu, suka ataupun tidak, kamu harus menjalankan bisnis itu."
Perdebatan tiada henti membuat Ratu memutuskan untuk memikirkannya terlebih dulu, mau dia menolak atau tidak hasilnya akan tetap sama.
Dikala semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, Ratu memilih untuk pergi ke taman untuk menenangkan dirinya agar menerima takdir dan melupakan bakatnya.
"Andai saja aku bisa memilih, aku ingin membuka galeri bukan toko roti," racau nya seraya duduk di kursi taman dan mengeluarkan alat lukis yang diberikan oleh nyai Fatimah yang selama ini di panggil nenek.
Ratu melukis pemandangan yang terbentang di hadapannya, menuangkan seluruh perasaan lewat lukisan. Dia tersenyum saat melihat anak-anak kira-kira berusia dua sampai empat tahun yang bermain dengan penuh tawa, merekam dan mengabadikannya di atas kanvas.
"Lukisan yang sangat indah," ucap seseorang mengalihkan perhatian Ratu.
"Terima kasih."
"Perkenalkan, namaku Fahri." Pria itu mengulurkan tangannya dan tersenyum, memperlihatkan lesung pipi yang mengingatkan Ratu pada ayah sambungnya yang juga memiliki lesung pipi.
Ratu menyatukan kedua tangannya tak ingin bersentuhan. "Ratu."
__ADS_1