
"Hai, lama tidak bertemu. Kamu semakin keren dengan gaya seperti ini," ucap pria itu yang langsung duduk tanpa di persilahkan, sengaja mengangkat kedua kakinya di atas meja kerja milik Huan.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku ada disini?" tanya Huan yang terkejut, sekaligus takut kalau pria itu punya rencana buruk untuk keluarga kecilnya.
Huan menatap pria itu yang sedang memetik korek api, menghisap sebatang rokok, kemudian menghembuskan asapnya ke samping. Dia tersenyum yang terlihat menyeramkan, seorang pria yang di pipinya ada bekas sayatan.
"Bukankah sudah aku bilang, kemanapun kamu bersembunyi … aku pasti bisa menemukanmu."
"Sudahlah, aku tidak ingin berurusan denganmu lagi. Pergilah dari sini dan jangan ganggu aku!"
Pria itu langsung menurunkan kedua kakinya dari atas meja kerja, kemudian berdiri sambil menatap Huan dari ujung rambut sampai keujung kaki yang dibalut dengan sepatu kantoran yang mengkilat. "Sudahlah, setelan ini tidak cocok denganmu."
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Huan lantang.
Pria itu menyeringai. "Kamu sudah tahu jelas apa kemauanku."
"Dengar, aku tidak akan kembali ke dunia gangster lagi. Jadi, kamu hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia saja."
Pria itu mengeraskan rahangnya, membuang rokok yang masih tersisa setengah ke lantai dan menginjaknya. "Kamu yang harus mendengarkan aku, Huan. Bukankah sudah aku peringatkan dulu, sekali kamu masuk dalam dunia gelap … maka kamu tidak akan bisa keluar. Sudah cukup selama ini kamu bersembunyi," ucap pria yang bernama Soni, sambil mencengkram kerah leher Huan.
Ya, selama ini Huan lari untuk menghindari Soni. Dia bahkan menyelinap masuk ke apartemen Ken saat itu, bukan karena rindu melainkan menghindari teman satu timnya.
"Aku dengar kamu punya keluarga kecil yang bahagia ya," sindir Soni.
Deg
Seakan jantung Huan berhenti seketika, hal yang paling ditakuti sepanjang mata tertutup.
"Jangan gugup begitu. Aku tidak akan menyakiti istri dan juga anak-anakmu," ucap Soni yang tertawa menyeramkan. "Ingat! Kamu harus bergabung lagi ke dalam tim, atau keluarga kecilmu dalam bahaya, terutama bayi kembarmu."
Huan segera menatap kepergian Soni yang menghilang di balik layar, seketika tubuhnya terasa lemah bahkan kaki tak sanggup menopang tubuhnya. Sebelah tangannya menggenggam sudut meja kerja, mata menatap lurus ke bawah di penuhi rasa khawatir berlebihan bagai momok menakutkan.
"Apa yang harus aku lakukan? Soni tidak pernah main-main dengan ancamannya. Rumah kak Ken sudah tidak aman lagi, kemana aku harus membawa mereka?" monolognya di hantui rasa ketakutan.
Selama bekerja Huan tidak fokus, karena fokusnya ada di tempat lain yang memikirkan nasib keluarga kecilnya.
"Ya Tuhanku, mengapa ujian ini malah semakin sulit?" batinnya sambil mengusap wajah dengan kasar.
__ADS_1
Fokus Huan kembali terpecah saat ponselnya berdering, dan ternyata itu orang suruhannya.
"Ada apa?"
"Tuan, maafkan kami yang kehilangan jejak Raja dan Ratu."
Brak
Masalah satu belum terpecahkan, masalah berikutnya telah menanti. Dia memukul meja dengan sangat keras, dan melupakan rasa sakitnya.
"Bagaimana bisa?"
"Kami di halangi oleh sekelompok pria, kami kalah banyak. Maafkan kami yang lalai menjaga mereka."
"Aku tidak membutuhkan kata-kata maaf, segera kalian cari sampai ketemu atau bersiap-siap menerima konsekuensinya."
"Baik tuan, laksanakan."
Setelah sambungan telepon terputus, Huan menjadi uring-uringan dan tidak bisa fokus pada pekerjaan kantor yang menumpuk. Dia langsung memanggil asistennya untuk menyelesaikan permasalahan di kantor selama dia tidak ada.
*
Sementara di tempat lain, Raja dan Ratu tengah menghabiskan waktu bersama ayah kandung mereka. Angga tidak percaya bahwa semudah itu membawa kedua anaknya, apalagi tidak ada keamanan. Hanya saja, dia tidak tahu kalau di bantu oleh anak buah Soni, yang tentunya sudah mendapatkan informasi dari segi manapun.
"Ayah … Ayah," pekik Ratu yang menarik tangan Angga.
"Iya Nak, ada apa?"
"Apa paman Huan tahu kalau kami pergi bersama Ayah?" tanya Ratu dengan polosnya, walaupun mereka hanya sekali bertemu, tapi dia merasakan kalau salah satu orang tuanya masih ada.
Angga gugup untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi dia segera memulihkan ekspresinya. "Ya, Ayah sudah mengatakannya pada paman kalian."
Raja dan Ratu tersenyum, kemudian mereka kembali bermain. Namun belum beberapa saat, sekelompok orang berpakaian hitam datang mengerubungi tempat itu. Angga ternganga seakan tak percaya, dia tahu siapa bos dari para pria berbaju hitam.
"Oh tidak, pria itu tahu kalau aku membawa anak-anak," batin Angga cemas memikirkan nasibnya.
Raja dan Ratu lari dan bersembunyi di belakang ayah mereka, mereka ketakutan melihat banyak pria dewasa mengenakan seragam hitam yang sama. Tapi itu tidak berlangsung lama, saat melihat kedatangan Huan.
__ADS_1
"Berani sekali kamu membawa kedua keponakanku pergi tanpa izin," ucapnya yang membelah para pria berseragam hitam, membuka kacamata hitam dan memperlihatkan mata indah tapi tajam.
Angga takut, tapi dia bisa menutupi rasa takutnya. "Memangnya kamu siapa? Aku ayah kandung mereka, dan aku lebih berhak setelah ibunya meninggal. Apa hubunganmu dengan Raja dan Ratu? Bahkan kamu tidak punya hubungan darah. Aku ayahnya, dan aku berhak atas kedua anakku."
Huan mengeraskan rahang menahan emosi, memikirkan tindakan Angga yang masih keras kepala. Andai saja ayah kandung dari Raja dan Ratuyang menyayangi mereka tanpa syarat, mungkin dia akan melepaskan beserta harta yang dimiliki oleh mendiang kakak iparnya, namun malah terjadi sebaliknya keserakahan yang membuat darahnya mendidih.
"Apa hubungan darah itu penting sekarang? Untuk apa hubungan darah itu terjalin jika kamu ingin menguasai harta dari mendiang kakak iparku? Apa kamu terkejut kalau aku mengetahui rencanamu?"
"Bagaimana dia tahu?" pikir Angga yang berharap cemas.
"Diam itu berarti benar."
"Tidak bisa, mereka adalah anak-anakku, dan aku adalah ayahnya."
Huan tidak perduli dan membujuk keponakannya, bagaimanapun juga dia tidak akan menyerahkan Raja dan Ratu kepada ayah kandungnya, karena dianggap telah menyia-nyiakan.
"Aunty Adiba dan adik kembar kalian sudah menunggu di rumah, ayo kita pulang!"
"Apa kalian ingin pergi ke sana? Pamanmu sudah punya anak, kalian tidak akan dipedulikan lagi, lebih baik ikut dengan ayah saja, di rumah ada nenek dan juga bibi Lisa."
Kedua anak kecil itu bingung, karena apa yang dikatakan oleh ayah mereka adalah benar. Perhatian dari paman Huan dan juga aunty Adiba terbagi, dan lebih condong kepada si kembar.
"Lebih baik Paman mengurus Zayn dan Zaydan saja," ucap Ratu dengan raut wajah yang sedih.
Huan menjadi khawatir, tidak ingin kalau sampai raja dan ratu diatur oleh ayah kandung mereka. "Kami sangat menyayangi kalian dengan sepenuh hati, tidak membedakan siapapun. Jadi, ayo kita pulang! Apa kalian ingin ibu kalian sedih? Apalagi Ayah Ken juga menitipkan kalian kepadaku."
Angga juga tidak ingin melewatkan kesempatan itu, dia langsung berjongkok menyamakan tingginya membingkai wajah ratu dan memegang pundak raja. "Tidak Sayang, jangan dengarkan kata-katanya. Ikut bersama ayah," bujuknya.
Dua anak kecil itu menjadi bingung mau ikut siapa, tapi mereka sudah sangat nyaman tinggal bersama Huan. Hingga akhirnya Raja berucap kepada ayahnya. "Maafkan kami Ayah, harus memilih Paman Huan."
"Tapi aku Ayah kalian, dia hanya orang asing yang ingin memisahkan kita."
"Aku tidak akan memisahkanmu dengan mereka, tapi hak asih akan tetap bersamaku."
Angga tak bisa melakukan apapun, dari segi kekuatan jelas saja pria itu yang menang.
"Ayo kita pulang, aunty Adiba sudah menunggu di rumah." Ajak Huan membawa kedua peternakannya pergi dari tempat itu.
__ADS_1