Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 108


__ADS_3

Lembur semalaman membuat Raja kurang beristirahat, memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa sakit di kepala. Melirik jam di dinding, dan tak lama terdengar suara adzan yang ada di ponselnya. Segera dia gerakkan tubuhnya dan memaksa untuk menjalankan kewajiban setiap umat muslim, melangkahkan kaki untuk mengambil air wudhu. 


Sajadah di bentang menghadap kiblat, Raja menjadi fokus untuk menyelesaikan sembahyang fardhu yang wajib dikerjakan, berdosa bila meninggalkannya apalagi dalam keadaan sadar. 


Selesai sholat, tak lupa menadahkan kedua tangan mendoakan kedua orang tua dan juga ayah sambungnya, mau menerima dan memberikannya juga Ratu kasih sayang yang berlimpah tanpa ada perbedaan anak kandung atau anak sambung. Tatapan teduh, mata yang berkaca-kaca tak bisa menyembunyikan perasaannya pada Allah subhanallah ta'ala. Mencurahkan seluruh keluhannya, berharap menemukan jalan yang lurus. 


Tiba-tiba Bara terbangun sebab tenggorokannya terasa kering, dia langsung beringsut dari sofa ran menuangkan air dari teko ke dalam gelas. Tak sengaja dia melihat Raja yang menjalankan perintah langsung dari sang Pencipta alam semesta, membuatnya tertegun karena selama ini ibadahnya bila sempat dan ada waktu.  


"Orang seperti apa dia? Jika terlalu baik, semua orang bisa memanfaatkannya," batin Bara tanpa melepaskan pandangannya, dia malu saat melihat hal yang sudah lama dia tinggalkan, kesombongan dan keangkuhan membuat sifat baiknya tertutupi oleh lumpur. 


Raja tersenyum setelah selesai melipat sajadah, dan menghampiri asistennya. "Ternyata kamu sudah bangun," ucapnya yang tidak ingin meminta asistennya untuk sholat. Karena apa? Alasannya cuma satu, membiarkan seseorang sholat untuk dirinya sendiri, tanpa harus memaksanya dan takut bila orang lain itu tersinggung. 


"Iya, baru saja." Bara melirik jam di tangannya. "Sebaiknya aku pulang dan beristirahat sebentar, setelah itu kembali lagi ke kantor." 


"Ide yang bagus, pergilah!" jawab Raja tak ingin menahan pria itu, menatap kepergian asistennya yang menghilang di balik pintu. 


Raja duduk di sofa dan termenung memikirkan adiknya, seharusnya dia sudah menemui Ratu, akibat terjadi sedikit masalah di kantor membuatnya dengan berat hati menyelesaikan tanggung jawab, lalu bagaimana dengan keinginannya ingin bertemu sang adik? 


Raja mencoba untuk menghubungi Ratu, dia tahu dan hafal kalau adiknya sudah selesai sholat subuh. Berulang kali dia mencoba menghubungi tapi tidak di angkat, hal itu membuatnya hampir putus asa. 


"Apa Ratu sedang marah denganku?" lirihnya yang di dalamnya terdapat rasa takut dan khawatir, terus berusaha menghubungi tetap tidak tersambung. Ingin menelepon Huan dan bertanya mengenai adik nakalnya itu, tapi dia tak ingin merepotkan pamannya. 


["Kamu marah sama kakak?"] 


Raja mencoba untuk menghubungi adiknya lewat pesan singkat di aplikasi hijau, berharap adiknya cepat memberi respon. Menghela nafas kasar kemudian meletakkan ponselnya ke atas meja, memutuskan untuk beristirahat dan memikirkan ini nanti. 


Sementara Ratu cekikikan berhasil mengerjai kakaknya, tidak tega … tapi dia terpaksa untuk memberikan kejutan nanti. "Maaf kak, ini adalah bagian dari rencanaku," ucapnya di dalam hati. 


Di pagi hari yang indah, sinar mentari perlahan muncul ke atas menyinari dunia yang terpantul cahayanya menjadi siang. Tidak ada mendung, cuacanya akan di perkirakan sebagian berawan. Seseorang yang menunggu hal ini mulai menghitung waktu dan berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sebenarnya dia malas untuk mandi, karena takut airnya dingin. Baru teringat bila ada air panas juga untuk mandi yang membuat tubuhnya menjadi rileks dan pikiran tenang. 


Setelah beberapa menit, Ratu keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah rapi. Tidak memakai pakaian yang sudah lusuh, tapi pakaian baru yang di belikan oleh auntynya. Memang dia tidak terlalu melihat penampilan, tapi pakaian baru yang di beli sekitar sepuluh set sudah lebih daripada cukup. 


"Wah … wah, keponakan aunty sangat cantik sekali. Mau kemana?" Puji Adiba di awal kalimat, menatap gadis remaja itu dan menghampirinya. 

__ADS_1


"Mau ke kantor kak Raja, katanya semalam lembur jadi aku mau menemuinya pagi ini," jawab Ratu bersemangat, dia menyukai pakaian yang di pakainya, pilihan aunty Adiba memang yang terbaik seperti pilihan ibunya sendiri. "Gamis dan kerudungnya bagus Aunty, sesuai dan enak dipakai." 


Adiba tersenyum dan membingkai wajah Ratu menggunakan kedua tangannya. "Syukur Alhamdulillah kamu menyukainya, Aunty jadi ikutan senang." 


"Oh iya Aunty, jangan kasih tahu kak Raja kalau aku datang ke kantornya," pinta Ratu memohon. 


"Lho memangnya kenapa?"


"Namanya kejutan, Aunty." 


"Iya iya, kalau kamu pergi minta antar sama supir, dia tahu dimana kantor kakakmu, semangat!" 


"Iya nanti aku pergi dulu," ucap Ratu saya mencium punggung tangan tiba-tiba. "Assalamualaikum," sambungnya yang kemudian melambaikan tangan berlari menjauh, pergi menuju mobil untuk membawanya ke kantor.


"Ke mana Ratu pergi pagi-pagi ini?" tanya Huan yang berdiri di belakang istrinya, hal itu membuat Adiba wanita terkejut. 


"Mengagetkan aku saja," gerutunya sembari mengusap dada untuk mengontrol rasa terkejut yang baru saja dia alami.


"Dia mau menemui Raja di kantor."


"Benarkah?" Huan langsung berpikir ada hal yang dia lewatkan, kedua matanya membulat besar saat baru mengingat sesuatu. "Raja baru saja menghubungiku dan mengatakan dalam perjalanan pulang," ujarnya sambil memasang raut wajah yang polos. 


Adiba menepuk keningnya, tanpa berpikir panjang langsung mengejar keponakannya yang ternyata sudah pergi. Dia segera mencoba untuk menghubungi lewat telepon tapi tidak di angkat. 


"Sudahlah, dia akan pulang kalau tidak melihat kakaknya ada di sana. kamu tidak perlu khawatir!" 


"Aku tetap mencemaskan."


"Daripada kamu begini, lebih baik siapkan baju kantor untukku. Apa sarapan sudah tersaji di atas meja? Pastikan pelayan mengerjakan pekerjaan mereka dengan benar, supaya tidak makan gaji buta," terang Huan panjang lebar membuat mulut Adiba berkedut, yang untungnya di tutupi oleh kain penghalang di wajahnya. Dia menghela nafas dan kemudian masuk kedalam rumah, berharap Ratu berselisih dengan kakaknya di perjalanan. 


Ratu meminta izin pada HRD terlebih dahulu untuk menemui kakaknya, namun wanita itu malah mempersulitnya dengan terus mempertanyakan sudah membuat kamu janji atau tidak.


"Aku datang ke sini untuk memberikan kejutan kepada kakakku, kalau membuat temu janji sama saja itu bohong, bukan surprise namanya." Ratu protes dan sangat kesal, menatap wanita itu dengan tajam.

__ADS_1


"Jika tidak mempunyai temu janji, anda tidak bisa menemuinya!" 


"Hai … aku ini adiknya kak Raja hormati aku sedikit saja!" 


"Banyak yang seperti anda, mengatakan kalau sanak familynya dan lain sebagainya. Tapi maaf, saya tidak bisa membantu, jika anda belum membuat janji."


"Tapi aku adik kandungnya, satu ibu dan satu ayah." Ratu sangat kesal dengan wanita itu, dia melihat situasi yang sedang berpihak padanya menerobos masuk ke dalam kantor dan menerka-nerka di mana keberadaan kakaknya, tanpa peduli teriakan dari wanita yang bekerja sebagai HRD dan dua security yang juga ikut meramaikan pengejaran. Suasana pagi yang semua tenang, tapi hal itu malah bertolak belakang dengan yang terjadi terjadi. Kehebohan satu kantor, yang membuat beberapa orang yang baru saja masuk ikut melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Ratu terus berlari tanpa menatap ke belakang, dia takut sekaligus kesal kepada orang-orang yang mengejarnya karena tujuannya bukan untuk mengeluarkan keringat melainkan bertemu dengan kakaknya. Sebenarnya dia hanya ingin memberikan kejutan saja, tapi malah dia yang terjebak dikejutkan dengan situasi seperti ini … sungguh memalukan.


Seorang pria yang mengenakan jas berwarna abu-abu baru saja masuk ke dalam kantor, tapi dia penasaran mengapa begitu heboh dan dia bertanya kepada salah satu karyawan di sana, hingga tuntaskan rasa penasaran di hatinya ada juga di dalam pikiran.


Bara segera berlari untuk mencari dan mencabut akar permasalahan dari seorang gadis yang menyelonong masuk ke dalam kantor, geram dan juga kesal yang di rasa karena keamanan di kantor ini kurang memuaskan sampai orang lain bisa masuk dengan sembarangan.


Baru saja Bara berlari mencari akar permasalahannya, tiba-tiba menjadi sangat terkejut saat seseorang menabrak dadanya yang bidang hampir saja dia terjerembab, beruntung punya keseimbangan yang sangat bagus hingga tak jatuh, itu pasti menjadi gosip para karyawan. 


"Berhenti disana!" tegas Bara yang menghentikan larian gadis itu. 


Rasa ada orang yang menghentikannya Ratu langsung menoleh, tatapan keduanya saling bertemu. "Ada apa?" tanyanya dengan polos, sekaligus celingukan melihat orang-orang yang tadi mengejarnya. 


Bara menjentikkan jarinya ke udara agar dia menjadi pusat perhatian. "Aku sedang berbicara padamu, bukan pada tembok."


"Kalau begitu bicara saja pada tembok. Aku pergi dulu!" Baru saja Ratu hendak melangkahkan kakinya, tapi ditahan saat tangannya dicengkram oleh seseorang melihat siapa pelaku dan ternyata pria yang baru saja tak sengaja ditabrak. "Lepaskan aku!" pekiknya. "Mau bertemu kak Raja susahnya minta ampun," gumamnya di dalam hati, sangat menyayangkan kejadian ini. 


"Tidak. Mengapa kamu ada disini?" 


"Aku mencari kakakku." 


"Apa kamu mata-mata dari perusahaan lain?" ucap Bara yang menatap gadis itu intens dan menyelidik. 


"Iya, aku agen FBI," jawab Ratu asal, kemudian dia memutarkan tubuhnya dan menyikut perut pria itu dengan keras, dan berhasil kabur. Beruntung dulu dia mengikuti seni beladiri di pesantren walau hanya di pelajarinya setengah saja, karena tak berminat di bagian itu. 


"Siapa gadis itu?" racau Bara yang memegang perutnya, menatap kepergian gadis yang menyikut perutnya keluar dari kantor. 

__ADS_1


__ADS_2