Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 79


__ADS_3

Emosiku memuncak dikala melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan jam sembilan malam, aku terus mondar-mandir menunggu kedatangan suamiku yang tak kunjung sampai ke rumah. Aku mencoba untuk menghubungi Ken, namun panggilanku tetap di abaikan olehnya. Muncul firasat buruk mengenai perselingkuhan dan pengkhianatan, pikiran itu tiba-tiba saja muncul di ingatan. 


"Apa dia bersama Mona dan melupakan janjinya yang ingin menjelaskan ini?" 


"Siapa bilang aku melupakannya," jawab seseorang yang suaranya sangat familiar terdengar. 


Aku yang di landa kecemasan, tersenyum saat melihat keberadaan Ken yang berada di depan pintu. Aku memeluknya sangat erat, takut kejadian dimasa lalu kembali menghantuiku. 


Ken membalas pelukanku dan bertahan beberapa detik, dia menatap mataku dalam sambil memegang kedua pundakku, membungkukkan badannya untuk menyamakan tinggi. "Dengar Honey! Aku masih mencintaimu dan akan tetap setia padamu sampai mati." 


Aku mencoba mencari kebohongan di matanya tapi tak menemukan apa yang aku cari, tersenyum dan luluh dengan perkataannya menyejukkan hatiku yang memanas. "Tapi, bagaimana posisi kalian terlihat sangat intim?" 


"Itu karena dia hanya membetulkan dasi ku, aku sudah menolaknya tapi dia tetap memaksa, dan kebetulan kamu masuk." 


Aku memasang wajah cemberut. "Tapi kamu mengusirku," ketusku padanya. 


Ken terkekeh melihatku begitu, dia menarik hidungku dengan gemas. "Aku tidak ingin memperlihatkan pertengkaran atau pertengkaran pada orang lain, biarkan mereka beranggapan kalau hubungan kita tetap romantis." 


Aku manggut-manggut mendengarkan penjelasannya, sedikit malu karena sudah menuduhnya berselingkuh. "Aku seorang wanita dan juga seorang istri, siapa yang tidak salah paham melihat posisi kalian yang begitu." 


Ken mencium pipiku beberapa kali, aku kesal dan menghapusnya. "Semakin kamu menghapusnya, semakin banyak aku menciummu!" kecam nya membuatku langsung patuh. "Aku senang kamu cemburu, cemburu tanda cinta." 


"Karena aku mencintaimu." 


"Aku tahu, percaya padaku! Aku tidak akan pernah mengkhianatimu, bahkan memikirkan wanita lain tidak akan pernah terbesit di dalam pikiranku." 


Aku menghela nafas lega, kejelasan yang membuat kesalahpahaman langsung usai. "Aku percaya padamu, tapi tidak dengan wanita itu." 


"Hem, begini saja … kamu ikut denganku setiap pergi ke kantor, kapan saja kamu merasa tidak nyaman. Bagaimana? Kamu suka ideku?" 


"Bagaimana dengan tanggapan orang lain, mereka berpikir kalau aku istri yang posesif." 


"Kenyataannya begitu, selama hamil kamu menjadi lebih agresif dan posesif."


"Ken." 


"Tapi aku menyukainya, merasa kalau aku di perlukan dan diberikan perhatian."

__ADS_1


Aku tersenyum dan kembali memeluknya dengan erat, berpikir semuanya berakhir seperti di masa lalu.  


"Aku sedih melihatmu masih trauma dengan masa lalu," ujar Ken. 


"Luka itu cukup dalam, bahkan sampai sekarang masih ada puing-puingnya." 


"Aku memahaminya, jangan mengkhawatirkan sesuatu yang membuatmu stress demi anak kita, apa kamu tidak kasihan pada putri kecil kita?" 


"Maaf," kata ku menyesal. 


"Aku akan mengambil cuti tiga hari, dan juga meminta cuti di sekolah anak-anak. Kamu membutuhkan ketenangan dan kedamaian, kita akan pergi kemanapun yang kamu mau." 


Ken benar, aku memang membutuhkan jalan-jalan untuk refreshing otak ku agar tetap waras. "Bagaimana dengan kantormu?"


"Tidak akan ada yang berani memecatku, aku bosnya." 


"Baiklah." Aku teringat pada mantan suami dan mantan mertuaku yang datang berkunjung di toko roti, aku lupa memberitahukan suamiku. "Oh ya, aku lupa memberitahukan satu hal padamu." 


"Apa?" 


"Mantan suami dan mantan ibu mertua datang ke toko roti menemuiku," kataku. 


"Mereka ingin bertemu dengan Ratu dan Raja, maaf baru memberitahumu sekarang." 


"Apa tanggapanmu?" 


"Aku memberikan mereka izin, seburuk apapun mereka tetaplah ayah dan nenek dari kedua anakku." 


Ken menghela nafas dan mengeluarkannya secara perlahan. "Jangan sampai mereka memanfaatkanmu lewat anak-anak." 


"Aku tahu, tapi sepertinya mereka sudah berubah." 


"Bisa iya bisa juga tidak, beritahu aku bila dia menghubungimu dan ingin bertemu anak-anak! Aku tidak ingin kalian sampai kenapa-kenapa, aku tidak mempercayai mereka." 


"Baiklah." 


Malam yang begitu panjang, melewatkannya dengan keromantisan setelah kesalahpahaman selesai. Aku melayaninya dengan sangat baik, memberikan pelayanan terbaik dengan memuaskan hasratnya. Kami saling melewatkan malam panjang nan romantis berdua, bernaung dalam irama yang beraturan hingga mengeluarkan suara yang semakin memacu hasrat dan gelora. Puncak kenikmatan yang dirasakan sungguh menggetarkan tubuh, rasa kepuasan setelah menjadi wanita liar jika berhadapan dengan suamiku. 

__ADS_1


****


Huan menghela nafas sambil menatap ke arah samping, dia tidak fokus dalam menyimak pelajaran yang disampaikan oleh ustadz, dan hal itu menjadikannya pusat perhatian teman sebangkunya. 


Pria yang duduk di sebelah Huan dengan sengaja menyenggol siku. "Huan, kamu melamun?" bisiknya. 


"Eh, tidak." 


"Kalau begitu, ulang apa yang disampaikan ustadz!" 


Huan yang tidak menyimak tentu saja tidak tahu apa yang disampaikan oleh ustadz, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya cengengesan karena ketahuan melamun. 


"Apa yang kamu lamunkan?" 


"Bukan apa-apa," balas Huan yang juga berbisik. 


Setelah pelajaran selesai, Huan memutuskan untuk pergi ke tempat yang biasa dia kunjungi. Menyendiri dan mulai bangkit dengan cara melupakan cinta pandangan pertamanya. Dari kejauhan, tak sengaja dia melihat Yusuf yang berjalan keluar dari pesantren, rasa penasaran yang tinggi memutuskannya mengikuti kemana pria itu pergi. 


Kedua pupil mata Huan membesar di kala melihat seorang wanita yang mengenakan pakaian syar'i dan berniqab mencium punggung tangan Yusuf yang juga membalasnya dengan pelukan. Dia terus mengintip di balik semak, melihat apa yang sebenarnya terjadi. 


"Umi kok bisa sampai di sini?" 


"Umi kangen sama Abi, sudah beberapa bulan tidak pulang ke rumah." 


"Umi "kan tahu sendiri, kalau Abi disini mengajar sambil membicarakan pernikahan Abi dengan Adiba. Itu 'kan yang Umi mau?" 


"Iya Bi. Bagaimana kalau kita masuk dan bertemu dengan kyai Abdullah dan istrinya? Pasti mereka senang dengan kedatangan Umi." 


"Titip salam aja sama mereka, Bi. Umi gak mau kalau sampai Adiba melihat kedatangan Umi kesini, dan membuatnya cemburu." 


Yusuf tersenyum. "Adiba menerima perjodohan ini kok, Umi gak perlu khawatir."


"Tapi Abi janji, harus bersikap adil sama Umi dan juga Adiba." 


"Iya kesayangan Abi," jawab Yusuf yang mencubit gemas kedua pipi istri pertamanya. 


Di balik semak yang dipenuhi serangga, Huan menahan dirinya agar tidak ketahuan. Dia begitu terkejut dengan fakta baru, mengenai Adiba yang ternyata menjadi istri kedua Yusuf. 

__ADS_1


"Apa Adiba mencintai Yusuf? Dia menerima perjodohan ini karena tekanan dan paksaan? Kalau itu benar, kasihan sekali calon ibu dari anak-anakku yang terjebak. Sebaiknya aku harus memastikan bila Adiba bahagia dengan perjodohan ini, tapi mengapa istri Yusuf memberikan izin poligami? Apa motif mereka? Sepertinya Yusuf dan istrinya saling mencintai." Huan terus berpikir di dalam hatinya, dia yang berencana untuk melupakan cinta pertamanya, namun harus memastikan bila Adiba menikah tanpa paksaan dari pihak manapun. 


Huan juga mengumpati para kawanan serangga yang menggigit kulitnya, ingin sekali lari dari sana. Tapi, situasinya tidak mendukung, terpaksa mengorbankan kulit putihnya digigit serangga. 


__ADS_2