Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 98


__ADS_3

Dengan terpaksa Angga kembali pulang dengan tangan kosong, dia memutuskan untuk tidak merebut kebahagiaan kedua anaknya dan ingin mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Namun takdir kembali mempermainkannya saat melihat mantan istri keduanya bergandengan tangan dengan mesrah dengan seorang pria tampan dan juga terlihat kaya raya. 


"Eh, ada Mas mantan." Siska sengaja memanasi mantan suaminya dengan menggandeng calon suaminya yang baru. 


Angga tak menggubris dan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. 


"Gimana Mas? Dapat karma 'kan?" ledek Siska membuat Angga mengepalkan tangannya, berhasil memancing rasa amarah dan kebencian pada wanita yang sudah menghancurkan kehidupannya. 


"Apa yang ingin kamu buktikan sekarang, hah?" 


Siska tersenyum sambil bergelayut manja pada calon suaminya, melihat penampilan Angga dari atas sampai kebawah dan tersenyum menyeringai, memandang rendah akan nasib dari mantan suaminya. "Kasihan banget kamu ya Mas, penampilan seperti gembel di kolong jembatan," cibir nya. 


"Diam kamu! Ini semua karena ulahmu, andai saja waktu itu aku tidak tergoda dengan janda pirang sepertimu." 


"Gak usah berteriak Mas, sama-sama mau kok nyalahin aku aja, gak adil. Siapa suruh kamu mengkhianati istrimu." Siska tidak peduli, yang terpenting sekarang kehidupannya sedikit membaik menjadi simpanan dari calon suami kaya. "Ayo Sayang, kita pergi dari sini! Bau deketan sama gembel," ujarnya dengan sengaja menutup hidung, menarik kekasihnya menjauh dari sana. 


Siska sangat bahagia dengan kehidupannya sekarang, bisa memamerkan kekasih baru pada mantan suami yang hanya menumpang hidup bagai benalu padanya. "Suami kere, menyesal aku menyerahkan semuanya pada mas Angga," gumamnya di dalam hati. 


Siska menertawakan nasib dan karma yang meminta mantan suaminya, namun dia lupa dengan karma yang belum menghampirinya. 


"Sayang, aku mau dibelikan kalung emas. Masa kita pacaran kamu gak pernah kasih aku hadiah sih," rengek Siska dengan mode manjanya. 


Pria itu terdiam beberapa saat. "Kamu tenang aja Sayang, nanti malam aku akan berikan satu set perhiasan emas yang mahal, asal … kamu memuaskan gairah ki di ranjang."


"Ahh, itu mah gampang." Siska tersenyum membayangkan memakai satu set perhiasan, dengan begini kehidupannya semakin berubah. 


Momen romantis keduanya terpecah saat seorang wanita yang sedang hamil tua menyiram wajah Siska dengan air got, memakinya habis-habisan. 


"Dasar wanita gatal kami, rasakan ini." Walaupun wanita itu sedang hamil tua, tak membuat kekuatannya melemah, dia semakin kuat atas kekuatan seorang istri yang di sakiti. Wanita itu mengambil potongan kulit durian dan memukul di bagian mana saja mengenai pelakor. 


"Aarghh … Mas Fadli, bantu aku! Bawa istri kamu pergi," pekik Siska yang sengsara, tubuhnya yang mulai tergores dengan kulit durian. 


"Itu akibatnya suka goda laki orang, untung aku tidak memukulmu dengan tongkat berduri." 


Pria yang disebutkan namanya menjadi bingung mau memihak siapa, hingga akhirnya dia memutuskan membela Siska sebagai simpanannya. 

__ADS_1


"Dasar laki-laki mata keranjang, istri lagi hamil tua malah selingkuh," pekik wanita itu seraya menarik lengan suaminya. "Secepatnya aku urus perceraian kita. Semua aset adalah milikku, dan bahkan namanya masih tertera namaku. Kembalilah ke setelan pabrik, dasar lelaki kere," ucapnya mendorong suaminya, kemudian menatap pelakor dengan tajam penuh amarah sambil menunjuk wajah Siska. "Dan kamu pelakor, silahkan ambil lelaki kere ini," sambungnya seraya berlalu pergi. 


Siska masih kesakitan dengan kulit durian yang menggores kulitnya, namun tidak menghentikan sang kekasih karena tahu kalau Fadli ternyata pria kere, bukan menjadi siapa-siapa tanpa istrinya. 


"Sial banget, baru aja dapat pacar kaya." Siska langsung mencegat taksi menuju rumah sakit, ingin sekali membawa perkara ke kantor polisi, tapi dia tidak akan bisa melawan sekalipun sebab tidak punya kuasa. 


Ya, kedua pengkhianat itu mendapatkan jatah masing-masing, bahkan lebih buruk dari mereka bayangkan. Memetik dari apa yang di tuai, berharap mendapatkan seberkas cahaya di hati mereka.


*


Adiba kebingungan melihat kedatangan suami, Raja, dan Ratu. Dia mengerutkan kening melihat anak kecil itu pulang dengan sangat terlambat. 


"Kalian dari mana saja?" tanya Adiba yang menatap ketiganya dengan tatapan menyelidik seperti detektif. 


Huan mengalihkan perhatian setelah memberikan kode pada istrinya, tentu saja takut Raja dan Ratu menjadi mengingat momen tadi. 


"Ya sudah. Kita makan dulu yuk!" ajak Adiba membawa anak-anak ke meja makan, berjalan dengan perlahan mengingat dirinya setelah melahirkan anak kembar.  


"Udah, gak usah. Aku bisa mengambil makanan sendiri." Tolak Huan yang tidak ingin membuat istrinya kecapean, dia mengerti bila menjaga dua anak kembar sangatlah melelahkan. "Zayn dan Zayden sudah tidur?" 


"Oh." Huan mengangguk paham, kemudian menyuapi mulutnya. Saat kunyahan pertama, dia mengingat perkataan Soni. Tentu saja dia berpikir bagaimana caranya untuk menyelamatkan keluarga kecilnya dari pria yang menginginkannya kembali ke dunia kelam atau pilihan kedua bisa kehilangan orang-orang yang sangat dia cintai. "Soni pasti tidak akan tinggal diam, sebaiknya aku memindahkan mereka ke pesantren. Yah, sepertinya tempat itu aman untuk sementara waktu." 


"Kenapa melamun? Makanannya tidak enak?" 


"Eh … tidak kok, aku hanya memikirkan sedikit pekerjaan kantor." Kebohongan membuat hatinya semakin merasa bersalah, tapi dia takut bila mengungkap identitas aslinya di masa lalu malah mempengaruhi kehidupan di masa depan. 


"Ini waktunya makan, nanti saja memikirkan pekerjaan." 


Langsung terlintas sebuah ide, tentu saja memberikan alasan logis mengenai kepergiannya nanti. "Aku lupa katakan, bahwa dua hari lagi aku bekerja di luar negeri."


"A-apa? Mendadak sekali." Adiba terkejut dengan pernyataan dari suaminya, perhatian dan kasih sayang dari Huan membuatnya mulai terbiasa, tidak bisa berjauhan lama. 


"Mau bagaimana lagi, pekerjaan ini tidak bisa aku tinggalkan. Apa kamu tidak masalah jika aku tinggalkan selama seminggu sampai dua minggu kedepan?" Huan berusaha untuk meyakinkan istrinya, berharap keinginannya itu segera terwujud. 


Adiba sedih, tapi dia tidak ingin bersikap egois. "Baiklah, aku mengizinkanmu pergi, tapi beri aku kabar setiap harinya."

__ADS_1


"Iya, janji." Huan tersenyum. 


"Ingin sekali aku berada di sisi mereka, tapi takdir malah membuatku terus bermain dalam zona gelap. Maafkan aku Adiba, aku belum bisa mengungkapkan mengenai seluruh watakku," batinnya. 


*


Adiba melambaikan tangan sambil menatap mobil yang semakin menjauh dari pandangan, tak terasa air matanya menetes dan langsung di seka. Rasa sedih di tinggalkan oleh suaminya, andai saja kedua anak kembarnya sudah besar, pasti dia akan mengikuti kemanapun suaminya tinggal. 


Setelah terlihat samar dan perlahan menghilang, Adiba berjalan masuk ke dalam rumah sederhana milik kyai Abdullah selaku pendiri pesantren dan paling penting adalah pamannya. 


"Gak perlu bersedih, Huan pergi untuk bekerja. Di sini ada paman dan juga Bibimu," titur wanita paruh baya yang menghibur keponakannya, dia sangat senang jika Adiba dan anak-anak datang untuk menginap di rumahnya. Bisa menghabiskan waktu bersama si kembar dan kedua anak kecil. Rumah sederhana merindukan tangisan bayi, kedua anaknya hanya sesekali mengunjungi bila ada hari raya idul fitri, dan itu pun bisa dihitung jari setelah pernikahan kedua anak kandungnya. 


Adiba mengangguk dan melangkah masuk ke dalam rumah, suasana disana menjadi ceria saat melihat tingkah laku menggemaskan dari Raja dan Ratu. 


"Aunty … aunty," panggil Ratu berlari dan memeluk dua tungkai kaki milik Adiba. 


"Iya Sayang, ada apa?" 


"Aku menyukai tempat ini, tapi lebih seru lagi jika ada makanan dan tempat bermainnya," lanjut Ratu. 


"Makanan disini sangat sederhana, apa Ratu sanggup nanti?" goda Adiba.


"Apapun demi makanan," sahut Raja membuat semua orang tertawa. 


Raja dan Ratu di bawa berkeliling pesantren, di pandu oleh kyai Abdullah. Kedua anak itu menurut dan diam bila mendengar semua yang di jelaskan. 


"Kek, apa mereka tidak mengeluh dengan makanan yang tidak mereka sukai?" tanya Raja, kehidupan mewah yang dia rasakan tak tahu bagaimana menjadi orang miskin dan merakyat. 


Kyai Abdullah tersenyum. "Di sini semua orang di sama ratakan, tidak ada si kaya maupun di pesantren. Kedua mata bocah kecil itu berbinar cerah, seperti dua ekor kelinci yang sangat imut. 


"Kami ingin mencoba sekolah disini, sepertinya sangat menyenangkan."


"Kalian boleh sekolah di sini, tapi Kakek harus memberitahukan ini kepada paman Huan." 


Kedua anak itu bersorak riang, mereka ingin pindah sekolah swasta ke pesantren."

__ADS_1


"Kenapa jantungku berdegup lebih cepat? Apa terjadi sesuatu?" gumam Adiba memegang dadanya, merasakan sesuatu yang mengganjal. 


__ADS_2