
Setelah misi bersama Ferdi selesai, Huan memutuskan untuk pulang setelah memastikan semuanya aman. Kerinduan siang dan malam tak bisa jauh dari dan juga anak-anak, mengemasi semua barang dan berpamitan pada sang pemilik rumah.
"Aku mau pulang, terima kasih sudah memberiku tumpangan dirumahmu."
"Hah, tidak masalah. Kamu mau ke pesantren?"
Huan mengangguk. "Iya. Aku merasa di sana aman, jadi menitipkan istri dan juga anak-anak."
"Aku sungguh tidak menyangka, ternyata istrimu wanita ninja."
"Bukan ninja, tapi bercadar. Memangnya kenapa? Apa aku tidak pantas untuknya?" tanya Huan penasaran.
"Bukan begitu, Kawan. Aku jadi iri dan mau menikah karena mu, carikan aku satu." Ferdi cengengesan seraya memegang tangan Huan, dia juga ingin mengubah pikirannya dengan cara menikahi wanita yang berasal dari pesantren.
"Boleh saja. Tidak semua orang yang tinggal di pesantren itu sesuai dengan kriteria calon istrimu, jadi tidak boleh kecewa bila tidak menemukan apa yang kamu cari tidaklah sempurna."
"Aku mengerti itu. Aku akan menyusulmu nanti, tapi aku pastikan dulu situasinya benar-benar aman atau tidak."
"Terima kasih Kawan, kamu selalu ada saat aku membutuhkanmu."
"Ya … ya, sekarang pergilah!"
"Tentu."
Di perjalan menuju pesantren, Huan telah menyiapkan banyak hadiah untuk keluarga dan juga pemilik pesantren. Dia sudah sangat merindukan bayi kembarnya, berpisah sebentar saja membuatnya uring-uringan.
Adiba sangat senang melihat suaminya sudah datang menjemput, saling melepaskan rindu dan barulah menemui paman dan bibi. Dengan semangat dia menyuguhkan secangkir teh dan berbincang bersama, menambah ikatan keluarga yang semakin harmonis.
"Paman, aku dan Ratu ingin belajar disini," celetuk Raja.
"Paman melihat minat belajar mereka ada di sini, biarkan saja mereka berdua tinggal bersama kami. Rumah ini pasti sangat sepi, setelah mereka tinggal pasti terasa ramai," jelas kyai Abdullah yang berharap banyak, kedua anaknya yang jarang berkunjung membuat suasana rumahnya tampak sepi dan sunyi.
Huan berpikir beberapa saat, antara menjaga amanah sang kakak atau keinginan dari keponakannya sendiri. Jika Raja dan Ratu ada di pesantren, bagaimana dengan permintaan kakaknya? Kalau membiarkan mereka tinggal, akan sulit nantinya untuk berkunjung setiap saat. Dilema yang dirasakan membuatnya tidak bisa mengambil keputusan, matanya melirik dua kakak beradik yang juga menginginkan tinggal di pesantren.
__ADS_1
"Apa kalian yakin tinggal di sini? Apa sanggup makan seadanya, kalian tidak bisa menentukan menu apa yang dimakan," tanya Huan untuk meyakinkan kedua keponakannya.
Kedua kakak beradik itu menganggukkan kepala, apalagi disini banyak orang. "Yakin Paman, kami ingin bersekolah disini!" pinta Raja.
Adiba sedih dengan pernyataan dari keponakannya, tak sanggup untuk berpisah dari mereka. "Bagaimana dengan Aunty? Tidak setiap hari kami bisa berkunjung kesini, Sayang." Dia membelai wajah Ratu dan Raja dengan lembut.
"Tidak apa-apa, jenguk bila punya kesempatan," sahut Raja.
Huan menghela nafas panjang. "Baiklah, kalian bisa tetap disini. Tapi Paman dan aunty kalian menjenguk sebulan sekali, pekerjaan Paman sangat banyak dan menumpuk."
"Iya, tidak masalah," jawab Raja dan Ratu serempak.
"Biarkan mereka disini, banyak orang yang akan menjaganya dan kalian tidak perlu merasa khawatir. Belajar agama sejak dini itu penting, membentuk akhlak mereka menjadi baik dan juga adab."
"Baiklah, Paman akan memberikan kalian izin. Tapi Paman akan pantau kalian, jadi jangan nakal disini!" ucap Huan.
"Iya Paman."
Setelah percakapan itu, Huan, Adiba, dan kedua bayi kembar mereka masuk kedalam mobil. Sementara Raja dan Ratu melambaikan tangan dengan gembira karena mereka bisa tetap tinggal di sini, melihat mobil hitam yang perlahan menghilang dari pandangan. Tidak ada yang tahu tujuan kedua kakak beradik itu tinggal di pesantren, karena Raja membujuk adiknya untuk belajar disini.
"Ayo, kita masuk!" ajak wanita paruh baya dengan lembut.
"Ayo, Nek."
Sementara di dalam mobil, Adiba menatap suaminya dengan raut wajah yang sedih. Berpisah dari Raja dan Ratu cukup sulit karena sudah menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.
"Kenapa mereka dibiarkan tinggal disana?" lirihnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku tidak bisa memaksakan mereka," sahut Huan yang juga sedih, terus mengemudi dan fokus ke jalanan.
"Tapi Suamiku, kamu bisa menghentikan mereka."
"Itu pilihan mereka, kalau mereka bosan dan minta tinggal bersama kita, secepatnya kita akan menjemput mereka. Untuk saat ini kita biarkan mereka tinggal disana, lagi pula mereka tidak akan kekurangan kasih sayang."
__ADS_1
"Benar. Tapi aku merasa kalau sebenarnya mereka takut cinta kita terbagi dengan si kembar?" pikir Adiba merasa ada yang mengganjal.
"Bagaimana mereka bisa berpikir begitu? Kita menyayangi mereka sana seperti Zayn dan Zayden, mungkin hanya perasaanmu saja."
Adiba terdiam dan mengarahkan pandangannya ke luar jendela, sesekali melirik kedua anak kembarnya yang tertidur.
Sesampainya di rumah, Adiba tersenyum saat melihat kedua bayinya yang tidur di atas tempat tidur, perjalanan yang melelahkan membuatnya ikut tertidur di sana.
Huan masuk kedalam kamar dan ikut tersenyum melihat pemandangan indah, pemandangan yang bisa melepaskan rasa lelah. Dia bahagia punya keluarga kecil yang harmonis, berharap hubungan itu sampai ajal menjemputnya.
Huan keluar dari kamar dan menutupi pintu secara perlahan, takut menimbulkan suara yang bisa membangunkan istri dan juga anak-anaknya. Dia berjalan melewati beberapa ruangan, hingga langkahnya terhenti saat berada di kamar milik mendiang kakak dan kakak iparnya. Rasa rindu yang mendera tak bisa tertahankan lagi, kedua kaki menuntunnya untuk masuk dan ingin merasakan keberadaan sang kakak di kamar itu.
"Lebih dari setahun kamu meninggalkanku, Kak. Kamar ini masih sama sebab aku tak memberikan siapapun izin untuk memindahkan barang-barang yang ada disini," gumamnya dengan mata yang berkaca-kaca, melangkah lebih jauh menuju meja kerja sang kakak dan duduk di kursi yang selalu diduduki kakaknya.
Huan meraih foto yang dibingkai sangat indah hasil buah tangan kakak iparnya, foto yang berukuran 5r yang terpajang menjadi penghias dan rasa penghilang letih sang kakak. Jarinya tak bisa ditahan untuk tidak mengelus foto keluarga milik kakaknya, senyuman empat orang juga membuatnya tersenyum. "Kalian terlihat sangat bahagia, Kak." Dia terus berbicara dengan foto itu dan terus menatap satu objek yaitu gambar kakaknya, Kenzi.
"Aku tidak tahu alasan Raja dan Ratu untuk tinggal jauh dariku, tapi aku akan tetap mengawasi mereka dengan meletakkan orang suruhan disana. Kakak dan kakak ipar tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah melupakan semua yang sudah aku katakan. Aku akan menjalankan bisnis kalian berdua, setelah kedua keponakanku itu cukup umur, barulah aku memberikan usaha itu pada mereka dan termasuk perusahaan milik kak Ken."
****
"Ibu … aku merindukanmu, dan juga ayah Ken. Aku berjanji pada kalian untuk menjaga Ratu dengan sangat baik, dan tidak akan membiarkannya berbuat kesalahan. Kalian tidak perlu cemas disana, aku dan adikku akan hidup dengan baik," ucap Raja yang menatap foto keluarga mereka, air matanya jatuh memikirkan nasibnya yang menjadi anak piatu, di tinggalkan dan di tuntut untuk lebih dewasa.
Raja tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, mencurahkan seluruh perasaannya di kala sendiri di dalam kamarnya. Kehilangan ibu dan ayah sambung yang sangat dia cintai tak pernah terbayangkan olehnya, rindu akan pelukan dan cinta kasih mereka. Walaupun Huan dan Adiba telah memberikan dia dan adiknya kasih sayang, tapi itu rasanya berbeda, tidak ada yang bisa menggantikan posisi di hati mereka.
"Ibu … mengapa kamu pergi sangat cepat? Mengapa kalian pergi dan tidak membawa kami saja? Andai kita masih bersama, pasti aku dan Ratu tidak mengalami nasib kehilangan seperti ini. Ibu dan ayah sangat tega, kalian pergi membawa adik yang masih ada di perut ibu, tapi tidak membawa kami ikut bersama kalian."
Raja tak kuasa menahan kesedihannya, di tinggalkan oleh ibu seakan dunia ikut runtuh. Memang banyak orang yang memberikan mereka kasih sayang, tapi rasanya masih sangat berbeda dari kasih sayang seorang ibu yang tidak bisa tergantikan.
Suara ketukan pintu membuat Raja mengalihkan perhatian, dengan cepat dia menyembunyikan foto itu dan menghapus air mata.
"Kak, ayo kita keluar!" ajak Ratu dengan semangat, menarik tangan kakaknya dan tak sengaja melihat mata sembab. "Eh, apa Kakak tadi menangis?"
"Tadi kakak bersih-bersih kamar, kena debu masuk ke mata."
__ADS_1
"Oh, ayo!" Ratu menarik tangan kakaknya dan berlari tanpa beban.