Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 93


__ADS_3

Di rumah sakit, Adiba merawat Ratu seperti anaknya sendiri, penuh telaten dan cekatan, mengerti apa yang diinginkan oleh gadis kecil itu.


"Ratu, makan sedikit lagi ya … tinggal tiga sendok kecil," bujuk Adiba yang menyuapi gadis kecil itu. 


"Tidak Aunty, aku sudah kenyang." Ratu sedikit mendorong mangkuk yang dipegang oleh Adiba, menggelengkan kepala serta menutup mulutnya. 


"Sayang, tidak boleh menyisakan makanan. Banyak orang diluar sana yang kelaparan, ada yang belum makan selama satu atau dua hari."


Ratu terdiam memikirkan perkataan Adiba, kemudian dia terisak. 


"Eh, mengapa kamu menangis? Apa Aunty salah bicara?"


"Bukan. Aunty persia seperti ibuku, hanya saja ibu sangat cerewet," jelas Ratu yang kemudian tertawa bila mengingat bagaimana ibunya mengomel. 


"Kalau begitu, jadikan Aunty sebagai ibumu. Ayo Sayang, habiskan makanannya!" Adiba menyuapi Ratu yang mulutnya sudah menganga menunggu suapan, dia sangat senang bila membujuk gadis kecil itu untuk makan dan menghabiskannya. "Alhamdulillah, Ratu menghabiskan makanannya, suatu apresiasi yang harus di banggakan. Ingat ya Sayang, jika kita memiliki makanan, ambillah sesuai yang kita butuhkan dan secukupnya. Jangan pernah menyisakan makanan di piring bekas kita ya!" 


"Iya Aunty," jawab Ratu yang bersemangat. 


"Wah … wah, sepertinya ada yang bersemangat kali ini?" ucap seseorang mengalihkan perhatian Adiba dan juga Ratu. 


"Astaghfirullah, aku terkejut. Seharusnya kamu mengetuk pintu atau minimal mengucapkan salam," hardik Adiba menatap suaminya, sedangkan yang di tatap hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal. 


"Mana kak Raja?" Ratu celingukan. 


"Sudah pulang, katanya dia mau memberikan surprise untuk kepulangan Tuan putriku ini." Huan menggendong tubuh keponakannya, dan 


melayangkannya ke udara. 


"Ratu baru saja sembuh." Adiba berusaha menghentikan suaminya, mencemaskan kondisi Ratu. 


"Hah, aku lupa." Huan menghentikan aksinya, mencium pipi Ratu dengan sangat gemas. "Mari kita pulang!" 


"Ayo! Aku sudah tidak sabar main dengan kak Raja."


"Sayang, kamu sudah mengemasi barang-barangnya?" tanya Huan menatap Adiba penuh cinta. 


"Sudah." Adiba tersenyum melihat kedekatan suaminya dan juga Ratu, kedekatan itu hanya akan bertahan sampai Ratu akil baligh. 


Huan menggendong Ratu di pundaknya, mereka tertawa menjadikan pusat perhatian semua orang. Kedekatan keduanya seperti keluarga bahagia, seakan mereka tidak akan terpisahkan. 


Sesampainya di rumah, Ratu berlari masuk ke dalam rumah membuat Adiba ikutan berlari mengejar, takut gadis kecil itu jatuh. 


"Kak Raja … kakak!" pekik Ratu mencari keberadaan kakaknya, berlari ke kamar namun dia tidak menemukannya. 


Ratu menghampiri pamannya dan bertanya mengenai keberadaan sang kakak. "Paman, dimana kak Raja?" 


Huan melirik seseorang yang bersembunyi dan memberikan kode agar segera keluar. "Lihatlah di belakangmu!" titahnya. 


"Kejutan." Raja sangat senang menyambut kepulangan adiknya, memberikan kue brownies coklat yang sedari tadi ada di tangannya.


"Kak, brownies coklat ini untukku?" Kedua mata Ratu berbinar cerah, melihat kue kesukaannya yang ada di tangan kakaknya. 


"Boleh. Khusus untuk adikku tersayang," jawab Raja yang sangat menyayangi adiknya, kembali teringat pesan sang ibu untuk menjaga adiknya jika ibunya tidak ada. 


"Wow, aku bisa memakan semuanya." Ratu sangat bersemangat untuk menghabiskannya seorang diri.


"Ratu lupa apa yang Aunty katakan? Jangan berlebihan, Sayang." 


"Ini harinya, biarkan saja. Aku yakin kalau Ratu tidak akan menghabiskannya," ujar Huan yang penuh percaya diri, dia tidak tahu bagaimana kecintaan gadis kecil itu yang sangat menyukai brownies full coklat.


"Paman tidak mengenal Ratu, jangan memberinya izin."


"Memangnya kenapa?" 


"Dia akan menghabiskan semuanya, terus bisa membuatnya sakit gigi." 

__ADS_1


Adiba menggelengkan kepala melihat kedua pria yang berbeda jenis kelamin saling mengutarakan pendapat, tak ingin ikut di dalamnya, dia memutuskan untuk mengajak Ratu beristirahat ke kamar. 


Pertikaian itu akhirnya berhenti saat mendengar bel berbunyi, mereka mengalihkan perhatian dan menatap siapa yang datang. 


"Aku seperti mengenal pria itu, tapi siapa?" Huan mencoba untuk mengingatnya, namun dia mendengar celetuk Raja. 


"Ayah?" 


"Eh, kamu kenal dengan mereka?" tanya Huan yang penasaran. 


"Ibu pernah memperkenalkannya padaku dan juga Ratu, dan mengatakan kalau pria itu ayahku." 


"Masuk ke kamarmu sekarang juga!" titah Huan pada Raja. 


"Baik Paman." Raja yang mengerti itupun mematuhi perintah Huan, dia tidak percaya pada ayah kandungnya sendiri dan sudah punya pemikiran sendiri mengenai ayahnya yang meninggalkan ibunya saat dia masih balita. 


Huan sekarang mengerti, diam-diam tersenyum devil mengingat informasi yang sudah didapatkan. Dia berjalan dengan penuh kharisma, langsung berubah seratus delapan puluh derajat jika berhadapan dengan musuh. 


"Apa kita saling mengenal? Siapa kalian?" tanya Huan dengan raut wajahnya dingin, menatap keduanya secara bergantian. "Security … security!" panggilnya yang berteriak mengejutkan dua orang yang datang bertamu tanpa tahu malu. 


"Iya Tuan," jawab dua orang security yang berpakaian serba hitam. 


Huan berjalan menghampiri dua orang bawahannya, dan langsung memberikan masing-masing tamparan yang begitu keras. Dua orang itu memegang pipi mereka yang terasa berdenyut, panas, dan perih. Sedangkan Angga dan ibunya terkejut melihat kekejaman Huan yang ternyata menakuti mereka.


"Siapa pemuda ini? Dia terlihat kejam," batin Weni yang nyalinya mulai menciut. 


"Tahu apa kesalahan kalian berdua?" Huan menatap dua security dengan tajam, sementara yang di tatap menundukkan kepala mereka. 


 


"Telah membiarkan mereka masuk, Tuan." 


"Hem, mengapa kalian membiarkan dua gembel ini masuk ke rumah?" 


"Siapa bosnya?" tanya Huan yang terus bersuara lantang. 


"Anda Tuan." 


"Kali ini aku memaafkan kalian, jangan ulangi jika tak ingin aku buat kalian dipecat. Seret dua gembel itu menjauh dari rumah ini, mataku sakit melihatnya!" titah Huan yang hendak berlalu pergi, bahkan Weni dan anaknya belum mengatakan maksud mereka datang tapi malah mendapatkan penghinaan. 


Kedua security memaksa Angga dan ibunya untuk keluar, tapi mereka tetap keukeuh. 


"Kamu tidak bisa melakukan ini, aku ayah kandung Raja dan Ratu. Aku kesini ingin mengambil anak-anakku!" pekik Angga menghentikan langkah Huan. 


Huan mengepal tangannya, rahang yang mengeras, serta telinganya memerah bila mendengar kalimat yang membuatnya marah. Dia mengundurkan niat dan berbalik menghampiri Angga, menatap mantan suami dari kakak iparnya yang seakan mendapatkan permainan baru. 


"Lepaskan mereka!" perintah Huan dengan santai, memasukkan tangannya di saku celana sambil menatap dua orang yang dipandang rendah juga menjijikkan seperti sampah. "Katakan apa yang ingin kamu katakan!" Dengan sengaja memberikan Angga waktu untuk mengeluarkan perkataan yang menjadi dongeng untuknya. "Ini sepertinya sangat menarik," batinnya tanpa disadari siapapun tersenyum devil. 


"Aku tahu, jika Tari dan suaminya telah meninggal dunia, dan aku datang ke sini untuk mengambil hak asuh mereka. Aku ayah kandung mereka, dan akan merawat dan menjaga mereka."


"Baiklah. Aa yang kamu miliki untuk menghidupi mereka? Tentu saja aku butuh jaminan."


"Aku memang pengangguran, tapi Tari punya toko roti. Aku akan menghidupi anak-anak dengan usahanya itu, aku akan mengambil alih semua usaha yang Tari miliki," terang Angga yang menggebu-gebu. 


"Lalu?"


"Intinya aku ingin mengambil hak asuh mereka dan membawa kasus ini ke pengadilan." Angga begitu percaya diri, sampai-sampai Huan tersenyum menyeringai seperti hiburan di masa senggang. "Aku serius tapi mengapa kamu malah tertawa?" 


"Apa itu saja yang ingin kamu sampaikan?" 


"Ya, aku ingin hakku." 


Huan melirik salah satu security untuk mengunci pintu utama, agar istri dan kedua keponakannya tidak melihat kekejamannya. Dia hanya ingin menunjukkan kasih sayang, tanpa perlu memperlihatkan sisi kejam yang selama ini selalu melekat di dalam dirinya. 


Bugh

__ADS_1


Huan langsung memukul perut Angga karena puncak kemarahannya sudah di luar batas, pria yang tanpa tahu malu datang secara tiba-tiba untuk meminta hak dan juga ingin mengambil hak asuh kedua keponakan yang sangat dia sayangi, apalagi mendiang dari kakaknya telah berpesan agar menjaga Raja dan Ratu untuk tidak diserahkan kepada ayah kandung dan juga nenek yang serakah akan harta. 


"Kenapa kamu malah memukulku? Aku bisa melaporkanmu ke polisi," ancam Angga yang berusaha bangkit, pukulan Huan sangatlah keras seperti seseorang yang terlatih. 


"Silahkan, aku tidak takut. Sepertinya kamu tidak mengenalku, apa perlu aku mengenalkan diri?" 


Angga terdiam sedangkan Weni tidak bisa melakukan apapun untuk membantu anaknya. 


"Di luar negeri aku terkenal sangat kejam, bahkan pandang bulu. Seribu kali pun kamu laporkan aku ke polisi, dengan mudahnya aku bisa keluar dan membuatmu yang mendekam di penjara sampai membusuk." Ancaman dari Huan tak main-main, kehidupannya yang keras membuat jiwanya sangat keras bahkan pernah menjadi mantan gangster selama beberapa tahun yang tidak ada yang mengetahuinya termasuk Ken. 


"Kami datang untuk membawa cucu-cucuku," celetuk Weni yang membela diri. 


"Hei nenek peot, kamu kira aku ini bodoh? Yang tidak tahu maksud kalian datang? Pergi atau aku akan memperlihatkan sisi kejamku."


"Kamu siapa, hah? Mereka anak-anakku, dan aku berhak sebagai ayahnya." 


"Ayah yang hanya dibutakan oleh harta, kalian menginginkan uang bukan? Maka akan aku berikan." Huan memberikan kode salah satu pelayan disana. 


Pelayan itu mengangguk dan dalam beberapa menit membawa sekoper uang, langsung menyerahkannya pada dua orang itu. 


"Ini untuk kalian, ambil dan pergilah. Jangan pernah menunjukkan wajah kalian lagi bila bertemu denganku," ucap Huan. 


Ibu dan anak itu sangat terkejut melihat sekoper uang yang ada di depan mata, kali pertama dan seumur hidup melihat pemandangan itu yang sangat luar biasa. Hampir saja mereka tergiur, tetapi keuntungan yang didapatkan jika mengambil hak asuh anak-anak lebih banyak, daripada sekoper uang dengan terpaksa mereka menolak. 


"Uang tidaklah lebih berharga dari kedua cucuku, aku menolak dengan keras. Simpan saja uangmu itu, aku tidak memerlukannya!" jawab Weni. 


"Dasar wanita tua materialistis.  Seharusnya di usiamu sekarang lebih banyak beribadah, dan juga mengaji, memperbanyak amal. Apa kalian aku ini bodoh?"


"Jangan menghina ibuku," geram Angga yang mengepalkan kedua tangannya. 


"Aku mengatakan fakta. Dipikiran kalian hanya ada uang, uang, dan uang. beruntung kakak iparku berpisah dari keluarga benalu dan parasit seperti kalian."


"Jaga ucapanmu anak muda!" pekik Weni yang kehabisan kesabaran, dia sangat marah melihat sikap Huan yang lebih buruk daripada Ken. "Kami kesini datang secara baik-baik untuk mengambil hak asuh Raja dan Ratu." 


"Tidak akan aku berikan, aku sudah berjanji pada mereka." 


"Tapi aku ayahnya." 


"Memang. Kalian hanya menghabiskan waktuku saja, pergilah dengan membawa uang ini atau tangan hampa? Aku hanya menawarkannya sekali, tidak ada kesempatan kedua." 


Weni mulai berpikir keras dan masih tetap serakah, tidak ingin mengambil uang yang diberikan Huan. "Aku hanya ingin cucuku!" 


"Pilihan yang bijak, dengan begitu kesempatan kalian hangus. Sampai jumpa ke pengadilan!" Huan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa memikirkan teriakan Angga dan Weni yang di usir oleh security, mengabaikan sumpah serapah yang di keluarkan di mulut ibu dan anak itu. 


"Keluarga toxic," batin Huan seraya mengembalikan raut wajahnya ceria dan humoris. 


"Kenapa di luar sangat berisik?" tanya Adiba yang membuat Huan terkejut.


"Sayang, kamu mengejutkan aku."


"Siapa di luar?" tanya Adiba penasaran dan ingin memeriksanya, secepatnya Huan membawa istrinya menjauh dari pintu utama.


"Bukan siapa-siapa, tadi ada dua gembel yang masuk ke rumah. Aku sudah memberikan mereka sumbangan, tapi masih tidak tahu malu meminta lebih."


"Benarkah? Adiba mengerutkan keningnya.


"Hem. Bahkan aku memberi mereka sekoper uang," jawabnya dengan santai membuat Adiba diam mematung tak percaya apa yang baru saja di dengarnya.


"Be-berapa tadi?"


"Sekoper uang?"


"Masyaallah, aku bahkan belum pernah melihat uang sebanyak itu."


"Dan sekarang kamu akan melihatnya lebih daripada itu, sekoper hanya kecil bagiku," ujar Huan yang terkekeh melihat ekspresi Adiba. "Maafkan aku, kak Ken," batinnya yang menoleh sekilas ke atas. Huan yang selalu meminjam uang kakaknya, sebenarnya dia hanya tak ingin memakai uangnya yang lebih banyak dari kekayaan Ken sendiri.

__ADS_1


__ADS_2