
Aku hanya terdiam dengan keputusan dari mas Angga yang begitu mendadak, tidak aku sangka baru saja aku percaya padanya dan mulai memuji dirinya, tapi sekarang aku sudah di niatkan untuk pergi meninggalkan aku dan anak-anak. Aku menangis dengan nasib yang tidak beruntung, perencanaan kepergian suamiku hanya akan mempersulit kehidupan setelahnya.
Aku menghela nafas yang seakan tersendat, mengelus perutku dengan sangat lembut. Tidak akan ada orang yang mengerti maupun merangkul ku, selain diriku sendiri. Segera aku menyeka air mata, menangis bukanlah solusinya, aku percaya kalau Tuhan masih bersama ku.
Pintu kamar terbuka membuatku mengalihkan perhatian, tatapanku langsung tertuju pada mas Angga yang menatapku dengan raut wajah sedihnya.
"Tari, Mas terpaksa melakukan ini demi kehidupan dan masa depan kalian. Mas janji akan segera kembali setelah mengumpulkan uang yang sangat banyak." Ucapnya meyakinkan aku.
Air mataku kembali berderai, tak kuasa menahan tangisan. "Mas, bagaimana aku bisa berjuang sendiri di sini? Mas tahu sendiri bagaimana ibu dan Lisa, juga anak-anak masih kecil, dumi tambah lagi aku sedang hamil dan beberapa bulan lagi akan melahirkan."
Tidak bisa di pungkiri kalau aku masih membutuhkan suamiku di saat persalinan nanti.
Mas Angga tersenyum sambil membelai rambutku, dia berusaha meyakinkan aku yang membuat hati kecilku meronta. Tidak tahu apa yang akan terjadi, karena ini hanya sebuat firasat.
__ADS_1
"Mas akan minta ibu dan Lisa untuk menjaga kalian, mereka akan membantumu."
"Aku tidak yakin Mas."
"Tapi Mas harus pergi merantau jauh." Kutatap mata serius mas Angga yang kembali melanjutkan perkataannya. "Setiap hari aku akan berusaha menghubungimu, karena himpitan ekonomi membuat kita rendah di mata orang lain, kalau kita banyak uang? Semua orang pasti mendekat dan mengatakan saudara. Mas gak apa-apa, asal kalian bahagia nantinya. Oh ya, apabila terjadi bencana atau kamu tidak sanggup merawat anak-anak … tolong jangan mengemis dan menadahkan tangan pada orang lain. Kalau kamu tidak sanggup sampai aku kembali nanti, titipkan saja anak-anak ke panti asuhan."
Aku hanya tercengang dengan ucapan mas Angga, apa maksudnya mengatakan itu? Mengapa tiba-tiba dia berpesan seperti tidak akan kembali.
Bulir cairan bening semakin terpupuk di pelupuk mata, hatiku sekarang sulit mencerna perkataan itu.
"Apa yang berusaha Mas ucapkan? Apa Mas tidak akan kembali?" ucapku meninggikan suara satu oktaf, aku masih shock di tambah dengan ucapan mas Angga yang sangat aneh terdengar, seperti kode yang ingin dia sampaikan tidak akan pernah kembali.
"Doakan saja pekerjaan Mas nantinya lancar dan bisa mengirimkan uang setiap bulannya, aku tidak tega membiarkanmu bekerja di dapur dalam kondisi hamil, belum lagi mengurus rumah dan juga semua orang. Aku sadar selama ini menelantarkanmu dan anak-anak, aku akan menebusnya dengan memberikan kehidupan yang layak untuk kalian."
__ADS_1
Aku semakin terisak tapi tidak berdaya, berupaya untuk menerima semua keputusan mendadak dari mas Angga. Bukan cuma aku yang menentang kepergiannya, melainkan ibu dan juga Lisa tidak menginginkan suamiku oergi merantau.
"Aku baru pulang merantau, tapi Mas malah ingin merantau. Memangnya Mas mau kerja apa?"
"Apa saja, baik pekerjaan kasar maupun halus Mas pasti menerimanya."
"Ya sudah kalau itu memang keputusanmu, ibu tidak bisa melarang maupun mencegahmu, toh percuma."
Ku lihat mas Angga juga berat hati meninggalkan kami, tapi dia sudah berubah dan mengubah mindset kehidupan.
"Iya Bu."
"Jangan lupa kirim Ibu uang bulanan banyak, jangan istrimu aja yang di kasih uang."
__ADS_1
Bisa-bisanya ibu menyindirku sinis, aku tidak memperdulikan karena saat ini pikiranku tertuju pada mas Angga.