
Aku tersenyum melihat anak-anak yang berlarian di atas kapal pesiar, pengalaman pertama kami sekaligus salah satu keinginanku. Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan, sengaja aku lingkarkan tangan di lengan Ken dan menatapnya dengan senyuman manis yang pernah aku tunjukkan.
"Kali ini kamu terlihat romantis, ada apa?"
"Benar. Aku sangat menyukai liburan kita, kamu dan anak-anak juga adikmu beserta istrinya kita berlibur bersama untuk pertama kalinya. Berlayar di atas kapal pesiar adalah salah satu keinginanku, terima kasih secara tidak langsung kamu mengabulkan keinginanku."
"Suatu kebetulan yang sangat pas, kita akan menghabiskan waktu selama tiga hari kedepan."
Aku yang tersenyum mulai mengerutkan kening, raut wajah Ken tiba-tiba berubah. "Ada apa?"
"Aku merasa hal besar akan terjadi, tapi tidak tahu apa itu."
"Maksudmu firasat?" tanyaku yang mencoba untuk menebak.
"Iya, firasat yang menggangguku."
"Sudahlah, mungkin kamu capek bekerja. Jangan pikir apapun, sekarang nikmati keindahan hamparan lautan ini."
"Kamu benar sekali," jawab Ken yang tersenyum.
"Kak Ken dan Kakak ipar, apa kalian akan berdiri disana terus? Ayo kita nikmati ini, ayolah!" teriak Huan dari kejauhan melambaikan tangannya ke udara.
"Kami akan kesana!" balas Ken yang berteriak. "Ayo!" ajaknya dan aku pun mengangguk.
Aku duduk dan di ikuti Adiba di sebelahku, wanita cantik yang mengenakan cadar membuat aku merasa minder bila berada di dekatnya.
"Bagaimana dengan liburannya, apa kamu merasa nyaman" tanyaku yang mencoba membuka topik pembicaraan agar suasana tidak hening.
"Aku sangat senang dan juga bahagia, ini kali pertama aku naik kapal pesiar. Biasanya aku menaiki sampan atau perahu kecil saat berada tinggal di kampung, bila hendak ingin ke pasar harus menyeberangi sungai."
Aku tersenyum mendengar jawaban penuh semangat dari Adiba. "Aku senang bila kamu bahagia."
"Sepertinya kamu menghindariku," tanya Adiba yang membuatku tersenyum kikuk.
"Bukan menghindar, tapi aku minder dengan penampilanmu yang serba tertutup."
"Apa ini terlihat aneh?"
Aku langsung menggelengkan kepala, takut dia salah mengerti apa yang aku katakan barusan. "Bukan itu, aku mengagumi wanita yang menutup dirinya dengan sempurna, di tambah lagi cadar yang sunnah."
"Tidak perlu merasa begitu, aku juga sama sepertimu."
"Sejak kapan kamu memakai cadar?"
"Semenjak aku berada di pesantren milik Paman Abdullah."
__ADS_1
"Huan sangat beruntung mendapatkan istri sholehah sepertimu," pujiku membuatnya tersipu malu, tampak terlihat di matanya.
"Kamu juga."
Aku mengobrol dengan Adiba, kami saling mengenal dan membagi pengalaman yang menyenangkan sambil melihat ke arah depan. Aku sangat bahagia bila mengenal dik iparku, ternyata kami banyak kesamaan.
"Adiba," panggilku membuatnya menoleh.
"Ya."
"Apa aku boleh melihat wajahmu? Maaf jika permintaanku ini terdengar lancang," tuturku yang penasaran seperti apa rupanya.
"Jangan sungkan. Ayo ikut aku!"
Aku pun mengikutinya masuk ke dalam ruangan, rasa penasaran ini tak bisa aku hilangkan. Aku melihat Adiba yang celingukan kiri dan kanan, kemudian dia melepaskan cadarnya. Aku tercengang melihat wajahnya yang teduh dan anggun, wajah cantik juga keibuan terlukis di hadapanku, sungguh beruntung bila adanya kehadiran seorang anak, pasti anak itu akan mendapatkan kasih sayang yang berlimpah.
Adiba kembali memakai cadarnya dan kamipun keluar, menghidangkan makanan untuk para suami dan juga anak-anak.
Menikmati indahnya hamparan lautan berwarna biru, sangat menyejukkan pandangan.
"Ibu, aku ngantuk," ucap Ratu yang berlari duduk di pangkuanku.
Tari tersenyum dan mengkeloni Ratu, membelai dengan lembut penuh kasih sayang. Aku menyanyikan lagu pengantar tidur, Adiba tersenyum dan mendengarkan suara sumbangku. Tak butuh waktu lama, perlahan mata anak bungsunya menutup.
Anak-anak sudah tidur di kamar yang tersedia di kapal pesiar, sementara Tari, Ken, Huan, dan Adiba menghabiskan waktu mereka di luar.
"Berbeda bagaimana?" tanya Tari yang mengerutkan kening, jawaban yang juga ditunggu oleh Ken.
"Sayang, kamu melihat apa yang aku lihat 'kan?" Huan menatap Adiba untuk meyakinkan apa yang di lihatnya.
"Tidak, mereka terlihat biasa saja."
"Mungkin kamu kelelahan, sebaiknya kalian beristirahat saja." Ken menepuk pelan lengan adiknya dan tersenyum.
Huan mengangguk dan kemudian berlalu pergi, namun dia kembali menoleh setelah beberapa langkah menatap wajah Ken dan juga Tari sekali lagi.
"Mengapa aku merasa mereka sangat berbeda?" batin Huan yang langsung melanjutkan langkahnya. "Mungkin hanya perasaanku saja."
****
Satu minggu kemudian
Seorang pria menatap di luar jendela dengan pandangan kosong, kehilangan dari separuh kehidupannya saat mengenang hari itu. Air matanya berlinang bila mengingat kejadian seminggu yang lalu, entah mengapa dia tidak bisa menyelamatkan nyawa kakak dan kakak iparnya.
Huan yang terkenal bertingkah konyol dan humoris perlahan sikapnya berubah dingin, bahkan pada istrinya sendiri. Liburan di kapal pesiar menjadi momen terakhirnya bersama sang kakak, pria yang telah di anggap seperti keluarga tanpa terikat darah.
__ADS_1
"Kenapa kak? Kenapa kamu pergi meninggalkan aku?" lirih Huan yang segera menyeka air matanya, dia tidak tahan dengan apa yang terjadi.
Pintu terbuka membuatnya tersadar, tahu jika itu adaah istrinya. "Apa mereka sudah tidur?" tanya Huan yang menoleh, matanya masih menunjukkan kesedihan mendalam.
"Sudah. Raja kelelahan setelah dia menangis tadi, dan Ratu terus mengigau memanggil ibunya." Adiba juga tak kuasa menahan tangisnya, liburan pertama dan terakhir bersama Ken dan juga Tari, walaupun baru mengenal, tapi dia merasa sudah mengenal lama. "Apa sudah ada kabar dari tim sar?"
"Belum, mereka semua tidak becus mencari keberadaan kakak dan kakak ipar."
Adiba berjalan mendekati suaminya, memeluk tubuh pria yang begitu rapuh saat ini. Tidak banyak yang bisa dia bantu selain doa, berharap Ken dan Tari di temukan.
Ya, saat Ken dan Tari berada di luar sementara yang lainnya di dalam. Tiba-tiba cuaca menjadi buruk, angin badai dan petir, ditambah gelombang air laut menambah suasana semakin mencekam.
Ken membangunkan semua orang, terutama pengantin baru. Dia berlari menuju kemudi dan mencoba untuk menaklukkan situasi, di tambah ada kerusakkan di kapal yang lupa dia periksa secara detail. Kesalahan dan juga kecerobohan membuat nyawa semua orang terancam, Ken sangat panik meminta istrinya untuk memberikan jaket pelampung pada semua orang.
Kapal yang sudah tidak bisa di selamatkan membuat mereka harus bertahan di dalam genangan air laut yang bergelombang, sebisa mungkin Ken menyelamatkan kedua anaknya dan juga istrinya yang sedang hamil.
Sedangkan Huan menyelamatkan istrinya, berusaha mendekati sang kakak dan membantu anak-anak.
"Huan, aku titip Raja dan Ratu. Aku harus mencari Tari!" ucap Ken yang sangat panik juga cemas.
"Biar aku saja," tawar Huan.
"Tidak. Kamu jaga istrimu dan juga anak-anak, aku akan menyelamatkan Tari!"
Cuaca yang semakin tidak kondusif, hujan deras yang mengguyur semakin menambah suasana tegang tak bisa di katakan lagi. Huan dan Adiba sangat cemas, namun terpaksa menjaga Raja dan Ratu yang menangis tanpa henti saat ibu mereka tidak muncul ke permukaan.
"Kenapa mereka belum muncul juga?" tanya Adiba yang salah satu tangannya memeluk Ratu dan sebelahnya lagi memeluk suaminya.
Huan diam saja, juga sama khawatirnya dengan sang istri. Mencoba untuk menenangkan Raja yang terus menangis, mengira dia akan mati di hamparan lautan yang cuacanya sangat buruk.
"Mereka pasti akan kembali."
Perkataan yang terus-menerus terngiang di telinga Huan, namun sampai sekarang tidak menemukan keberadaan Ken dan juga Tari. Beruntung mereka masih di berikan kesempatan untuk hidup, dua hari terombang-ambing di lautan dan di temukan oleh nelayan.
Huan meminta tim sar dan menyewa orang-orang untuk mencari kakak dan kakak iparnya, kemudian mengingat perkataan dan clue yang di berikan oleh kakaknya sebagai sinyal. "Apa ini yang dimaksudnya untuk menjaga Raja dan Ratu?" lirihnya.
"Apa?" tanya Adiba penasaran.
"Malam pertama kita, dia menyeretku dan mengatakan kalau ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Kak Ken memintaku untuk menjaga anak-anak dengan sepenuh hati."
"A-apa?"
Huan semakin kalut dengan pikirannya, menyalahkan dirinya yang tidak bisa menyelamatkan Ken. "Adiba … Adiba," panggilnya yang sangat sedih.
"Iya, aku masih disini."
__ADS_1
Huan memeluk istrinya dengan erat. "Bagaimana kalau kakak dan kakak ipar tidak ditemukan? Bagaimana kalau clue itu sebagai tanda? Aku sangat takut." Tangis Huan pecah tak sanggup bila menompang beban itu sendiri.