
Aku tersenyum saat melihat anakku ya lahap memakan brownies buatanku, aku sangat bersyukur karena dia berhenti menangis dan makan lahap seperti ayahnya. Di balik ini semua ternyata ada hikmahnya, aku ingin mengasah kemampuanku di bidang membuat berbagai macam kue dan juga roti. Ide yang diberikan dan juga dukungan dari mas Angga membuat aku bersemangat, namun hal itu malah dicibir oleh ibu mertuaku dan juga Lisa.
"Percuma saja kamu berusaha, hari gini jualan kue dari warung ke warung, gak bakalan laku."
Aku dan mas Angga diam saja, menganggap perkataan ibu hanya angin lewat. Aku mengantarkan suamiku sampai ke depan pintu, kucium tangannya dan mendoakan setiap langkah kakinya.
"Gak yakin aku sama usaha Mba." Sambung Lisa.
"Semuanya dengan niat dan juga usaha, dan terakhir doa." Aku berlalu pergi meninggalkan tempat itu, menemui kedua anakku dan menikmati brownies buatanku bersama-sama.
Ternyata brownies buatanku sangat lezat, pantas saja suamiku dan juga Raja makan dengan lahap. Aku mulai berpikir mengenai tabungan anak-anak ingin aku pakai sebagian untuk dijadikan modal usaha, tapi aku tidak bisa memikirkan di satu arah, karena pendidikan itu sangatlah penting demi masa depan yang cerah.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya mas Angga pulang ke rumah. Aku segera menyambutnya dengan senyuman hangat, dan tak lupa memberikannya secangkir teh.
"Bagaimana hasilnya Mas?" tanya aku setelah dia duduk di kursi teras.
__ADS_1
"Aku sudah menitipkan ke warung-warung dan mereka sangat suka dengan sampel yang aku kasih, bahkan ibu Retno, dan ibu Dini memesan ingin memesan brownies coklat masing-masing dua loyang dan ingin menjemputnya besok." Terang mas Angga seraya menyerahkan tiga lembar uang berwarna merah kepadaku sebagai uang muka, untuk membeli bahan yang diperlukan.
Wajah ku sumringah mendengar kabar baik itu, kuambil uang tiga ratus ribu yang dijadikan sebagai uang muka untuk membeli bahan. "Alhamdulillah, rezeki anak-anak Mas." Aku mengelus perutku yang masih rata, dan mengharap usaha berjalan dengan lancar.
****
Aku udah mas Angga mau membagi tugas, dia menjaga anak-anak sedangkan aku membuat brownies pesanan dari bu Retno dan bu Dini. Aku membuatnya dengan penuh semangat, berharap usahaku ini terbayarkan demi mencukupi ekonomi yang semakin sulit.
"Tari … Tari."
"Iya Bu ada apa?"
"Kenapa rumah masih belum kamu bereskan? Makan makanan di atas meja juga tidak kamu hidangkan."
"Aku sudah masak kok Bu, makanannya ada di lemari." Aku melangkahkan kaki menuju dapur dan membuka lemari makanan, kukeluarkan dan ku sajikan di atas meja.
__ADS_1
Aku memperhatikan wajah ibu yang sepertinya tidak menyukai masakanku, tentu saja aku mengerti karena dia ingin memakan masakan olahan daging.
"Maaf Bu, hanya ini yang bisa saya masak."
"Kamu kan tahu kalau Ibu tidak suka makan sayur yang kamu buat itu, memangnya kamu pikir Ibu ini kambing? setiap hari harus makan sayur."
Aku menahan geli di hati mendengar ucapan dari ibu. "Tapi sayur menyehatkan Bu, tidak harus melulu makan daging."
"Ahh, lebih baik Ibu pesan makanan di luar saja. Melihat masakanmu membuat Ibu tidak selera makan!"
"Terserah Ibu saja, pilih mana yang nyaman."
"Cepat kamu bersihkan rumah ini yang sudah seperti kapal pecah, juga bereskan kamar ibu."
"Bukannya aku tidak mau, tapi sekarang ada Lisa yang juga menempati kamar itu, aku tidak sempat mengerjakannya."
__ADS_1