
Huan menatap sepasang suami istri secara bergantian, tidak sulit baginya membujuk mereka untuk bertemu janji demi sang wanita pujaan hatinya. Pertemuan yang di adakan pada lokasi tidak jauh dari pesantren, tidak ada orang disana selain mereka bertiga.
"Apa yang membuatmu ingin bertemu denganku dan juga istriku?" tanya Yusuf to the point.
"Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur dalam permasalahan ini, tapi aku harus turun tangan di saat orang lain menjadi korban ketidakberdayaan."
Yusuf melirik Aisyah sejenak, kemudian kembali menatap Huan dalam kebingungannya.
"Apa sebenarnya maksudmu?"
"Begini, aku harap kalian tidak tersinggung. Ini menyangkut Adiba."
"Adiba? Memangnya kenapa?" tanya Aisyah yang ikut penasaran, nada mendesak tak sabar mendengar perkataan lanjutan dari Huan.
"Maaf karena aku lancang mengetahui semuanya, aku tahu niatmu menikahkan Yusuf dengan Adiba. Aku melihat kalian saling mencintai satu sama lain, bahkan kamu juga wanita yang berhati besar membagi suamimu pada wanita lain. Tapi, pernahkah kalian memikirkan perasaan Adiba? Walau sedetik, semenit, atau satu jam?"
"Apa maksudmu, Huan?" geram Yusuf yang mulai mengepalkan kedua tangannya.
"Kalian saling mencintai, seharusnya kalian tidak egois mengorbankan perasaan Adiba demi mendapatkan keturunan."
"Tapi pernikahan tinggal beberapa hari lagi."
"Ya, masih belum terlambat untuk membatalkannya."
"Tidak. Pernikahan itu akan berlanjut," cetus Aisyah yang sangat menginginkan seorang anak, perasaan seorang istri yang menunggu garis dua selama bertahun-tahun tak pernah kesampaian. Dia sangat sedih karena belum menjadi wanita sempurna untuk suaminya, hatinya sakit setiap kali orang-orang dan bahkan keluarga terdekat menanyakan kapan dia akan hamil.
Huan menatap Aisyah. "Dengan mengorbankan perasaan orang lain? Apa itu tidak termasuk egois? Kalian menginginkan seorang anak, tapi mengapa harus menjadikan orang lain korbannya? Apa kalian tahu bagaimana perasaan Adiba yang sesungguhnya?"
"Jangan bicara omong kosong, aku akan tetap menikahi Adiba."
Huan bertepuk tangan dan tertawa menyeringai. "Kalian pasangan yang sangat kompak, banyak cara untuk mendapatkan seorang anak. Apalagi pernikahan kalian sudah berjalan delapan tahun, apa kalian lupa bagaimana Tuhan bisa melakukannya? Dan kamu Yusuf … apa kamu yakin bisa bersikap adil nantinya?"
"Jangan menceramahi aku mengenai adil atau tidaknya, kamu tidak seharusnya ikut campur. Pernikahan menghitung hari, dan kami tidak akan mundur."
"Baik. Mari kita selesaikan masalah ini dengan kekeluargaan, dan perlu bertanya bagaimana perasaan Adiba."
"Apa alasanmu meminta kami untuk mundur?" tanya Aisyah yang sangat penasaran. "Apa kamu mencintai Adiba?"
__ADS_1
Huan mengangguk. "Ya, aku mencintainya, tapi cintaku tidak akan aku paksakan padanya."
Sepasang suami istri itu terdiam, perkataan dari Huan memang benar. Mereka terlalu egois demi mendapatkan seorang anak, namun pernikahan delapan tahun juga tak ingin di rusak demi kehadiran orang ketiga.
"Bukankah cinta adalah fitrah setiap insan? Kalian saling mencintai, bagaimana dengan Adiba? Setidaknya kalian tanyakan dulu apa yang menjadi keinginannya, perlu dibicarakan sebelum terlambat."
Huan mengucapkan salam dan berlalu pergi dari tempat itu, dia tidak tahu apakah rencananya berhasil atau tidak, namun dia sudah berusaha. "Adiba, aku rela kamu menikah dengan pria lain. Tapi aku harus tahu dulu, apakah pria yang bersamamu benar-benar mencintaimu," batinnya yang mengingat kesedihan dari sang pujaan hati.
Di sepanjang malam, Adiba menghabiskan waktunya dengan sembahyang menghadap sang Khalik, meminta petunjuk di sepertiga malam dengan cara berdoa diiringi air mata sebagai saksi. Dia pasrah, dan menyerahkan semuanya pada sang Penguasa alam semesta, takdir yang tidak dapat diubah mau bagaimanapun berusaha.
****
Ada banyak orang di ruang tamu kyai Abdullah, semua orang yang bersangkutan hadir di sana. Adiba menelan saliva dengan susah payah, seakan tersangkut di tenggorokannya.
"Bi, ini sebenarnya ada apa?" tanya Adiba yang melihat banyaknya orang, berbisik di saat mereka berada di dapur.
Wanita paruh baya itu tersenyum dan mendekap tubuh Adiba. "Doakan ini akan berhasil."
"Tolong jelaskan padaku, Bi."
"Ini menyangkut pernikahanmu dengan Yusuf, kamu dengarkan saja apa keputusan mereka."
"Maaf, dimana kamar mandinya?" tanyaku datang diwaktu yang salah, dua orang wanita berbeda usia itu langsung berhenti berbisik.
"Di sebelah sana." Tunjuk wanita bercadar dengan lembut.
Aku tersenyum dan mengangguk, membawa Ratu ke kamar mandi sedangkan Raja masih berdiri menatap Adiba.
"Ibu, ayo!" rengek Ratu yang terus menarik pakaianku, dengan terpaksa aku meninggalkan Raja bersama mereka.
Adiba tersenyum dan berjongkok menatap anak laki-laki yang masih tertegun melihatnya. "Siapa namamu?" tanyanya lembut.
"Raja. Mengapa pakaian Aunty serba hitam? Apa tidak panas?"
Adiba tersenyum merasa terhibur. "Kebetulan hari ini aku memakai warna hitam, di lemari masih ada warna lainnya, dan pakaiannya tidak panas karena aku sudah terbiasa."
"Kata paman Huan, kamu adalah Aunty ku." Ceplos Raja membuat Adiba mengerutkan kening, wanita paruh baya di sebelah Adiba menawarkan berbagai macam cemilan agar anak laki-laki itu tidak membongkar terlebih dahulu.
__ADS_1
Adiba menatap kepergian bibi dan anak laki-laki itu. "Apa maksudnya?"
Wanita yang tersisa di depan hanya Aisyah, merasa tak enak dia pun berjalan ke dapur dan ikut bergabung membantu yang lainnya menyiapkan hidangan.
Setelah beberapa menit dan hidangan sudah tersedia, kyai Abdullah memanggil semua orang dan membicarakan mengenai masalah Adiba. Semua orang ikut mendengarkan, tanpa terkecuali sedikitpun. Yang berbicara hanya pihak laki-laki, dan pihak wanita bila diperlukan.
Perdebatan, persitengang, dan berbeda pemikiran menjadi satu. Namun, keputusan tetap berada di tangan Adiba. Wanita itu terdiam setelah menyimak apa yang terjadi, dia sangat terkejut bila ini mengenai pemutusan perjodohan dengan Yusuf, dan Huan menjadi pengganti.
"A-apa semua ini?"
"Ya, Adiba. Nak Yusuf dan istrinya Aisyah ingin menanyakan sesuatu, dan kaku harus menjawabnya tanpa paksaan, tekanan, atau budi apapun. Ini menyangkut masa depan daei kehidupanmu, jadi jawablah sejujur-jujurnya yang berasal di dalam hati."
"Baik Paman."
"Adiba, kamu tahu niatku ingin menikahkan mu dengan suamiku. Aku dan abi tidak akan memaksamu, apa kamu bersedia menerima perjodohan ini dan menikahi suamiku?"
Adiba tak menjawab, dia terdiam menundukkan kepala. "Aku tidak tahu," ujarnya.
"Katakan saya, Sayang," bujuk bibinya.
"Maafkan aku Aisyah …."
Aisyah dan yang lainnya sudah mengerti apa yang di inginkan Adiba, Huan berharap bila dia yang menjadi pengganti Yusuf bisa di terima.
"Apa itu artinya kamu menerima pinangan dari nak Huan?" tanya kyai yang menatap serius keponakannya.
"Aku pasrahkan saja pada Paman, bila dia jodohku … aku akan menerimanya."
Aisyah menggenggam tangan suaminya, keinginannya terpaksa ditunda karena tak mau menjadi egois. Yusuf membalasnya sebagai tanda untuk menguatkan hati.
"Bi," lirih Aisyah yang menatap suaminya nanar.
"Umi sudah benar, kita akan berusaha lebih keras lagi, tapi tidak dengan menghadirkan orang lain di dalam rumah tangga kita," bisik Yusuf untuk menguatkan istrinya.
"Iya Bi."
"Aku juga yatim piatu, tapi kakakku menjadi keluarga satu-satunya, walaupun kami tidak memiliki ikatan darah. Aku membawa keluarga untuk melamar Adiba," tutur Huan yang sudah mendesak.
__ADS_1
Ken kesal dengan Huan yang seharusnya adalah dialognya.
Situasi yang mencekam perlahan mencair dan hangat, mereka tertawa dan menerima pernikahan yang akan di gantikan oleh Huan. Tentu saja misinya telah berhasil untuk mendapatkan Adiba, tanpa peduli bagaimana masa lalu dari wanita itu.