
Satu bulan sudah pernikahan Maira dan Dewantara dan selama satu bulan itu pula tidak ada komunikasi apalagi interaksi yang berarti di antara mereka. Maira masih saja rutin menyiapkan makanan untuk suaminya dan suaminya juga masih saja rutin tidak pernah menyentuh makanan itu.
Selama satu bulan itu pula Maira sangat jarang bertemu dengan Dewa yang selalu pulang larut malam dan pergi pagi-pagi buta. Namun yang sangat menarik dari itu semua adalah dimana Maira dan Dewa tidak pernah berkomunikasi melalui ponsel mereka masing-masing karena baik Maira maupun Dewa tidak saling bertukar nomor ponsel mereka masing-masing.
Maira sebenarnya bukan sedih dengan perlakuan Dewa kepadanya karena dia juga sama sekali tidak mencintai pria itu namun bayang-bayang perceraian yang berada di depan sana yang cukup menjadi beban pikirannya apalagi di usianya yang masih sangat muda dan keadaannya yang tidak memiliki siapapun di dunia ini membuat dia takut untuk menghadapi perceraian tersebut.
Belum lagi jika dia bercerai dari seorang Dewantara tentu saja dia kanan menjadi buah bibir banyak orang dan sudah di pastikan jika tidak ada lagi pria yang akan sudi menikahinya lagi selain merasa saingannya terlalu berat yaitu pengusaha sukses dan kaya raya, pria lain juga akan menilai jika Maira tidaklah becus menjadi istri yang baik.
Namun apapun yang terjadi di dalam rumah tangganya Maira tetaplah fokus pada pendidikannya karena jika benar dia harus merelakan rumah tangganya suatu saat nanti setidaknya dia sudah menyelesaikan kuliahnya dan bekerja untuk memenuhi segala kebutuhannya selama dia hidup sendirian di dunia ini nantinya.
Maira yang sudah lelah seharian mengikuti mata kuliahnya seharian di kampus hari itu sangat di kejutkan dengan kehadiran Dewa yang sudah berada di rumah padahal hari itu masih sore. Bukan sosok Dewa yang di lihat berada di rumah melainkan mobil milik Dewa yang sudah terparkir rapi di dalam garasi.
"Mas Dewa sudah pulang?, aneh selaki biasanya dia pulang saat aku sudah tertidur pulas". Gumam Maira kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Maira sama sekali tidak melihat keberadaan Dewa di dalam rumah sehingga dia memutuskan untuk menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat setelah seharian tenaganya terkuras di kampus.
Namun baru saja dia ingin membaringkan tubuhnya di atas kasur, pintu kamarnya tiba-tiba di ketika dari luar sehingga dengan terpaksa dia harus menyeret langkahnya kembali menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
Tok, tok, tok...
"Bersiaplah, kita akan menghadiri sebuah pesta malam ini". Ujar Dewa datar. Maira sangat terkejut ketika yang mendatangi kamarnya ternyata adalah Dewa dengan wajah datar itu.
__ADS_1
"Ba-baiklah mas". Ujar Maira canggung. Maira sama sekali tidak bertanya pesta apakah yang akan mereka hadiri karena Dewa langsung meninggalkan kamarnya begitu mengatakan hal tersebut.
Maira segera masuk kembali ke kamarnya sambil menepuk-nepuk pipinya berharap jika saat ini dia sedang tidak bermimpi karena untuk pertama kalinya dia dan suaminya akan pergi bersama ke sebuah pesta.
"Ternyata aku tidak sedang bermimpi, oh ya ampun apa ini awal pertanda baik untuk hubunganku dan mas Dewa". Ujar maira antusias.
Maka bisa di bayangkan betapa bersemangatnya Maira untuk berdandan secantik mungkin malam ini, dia ingin terlihat cantik dan mempesona agar tidak membuat suaminya malu untuk membawanya apalagi ini adalah kali pertama dia akan di ajak ke tempat umum dan banyak orang yang hadir di sana oleh Dewa.
Maira mengobrak-abrik seluruh isi lemarinya mencari baju yang terbaik padahal semua baju yang di sediakan oleh ibu mertuanya adalah baju-baju yang sangat bagus dan bermerk namun sangking bahagianya gadis itu akan menghabiskan malam bersama suaminya dia merasa ada saja yang kurang dari penampilannya.
Setelah mendapatkan baju yang menurutnya akan menunjang penampilannya malam ini, gadis itu segera berdandan dengan memoles wajahnya menggunakan make up senatural mungkin sesuai dengan usianya saat ini sehingga membuat kecantikannya semakin terpancar.
Maira turun saat pelayan datang ke kamarnya dan mengatakan jika Dewa sudah menunggunya untuk segera berangkat. Para pelayan yang melihat Maira turun dari tangga tersebut pangling dengan penampilan Maira malam itu, gadis itu tampak sangat berbeda dari hari biasanya, cantik dan elegant sangat cocok memang jika menjadi istri seorang Dewantara namun sayangnya Dewantara sendiri sama sekali tidak melirik kearahnya dan berjalan begitu saja mendahului langkah Maira.
Saat Maira hendak turun dari mobil tiba-tiba tangannya di tarik oleh Dewa namun pria itu tetap tidak menatap istrinya itu.
"Maira, berperanlah sebaiknya mungkin sebagai istriku, karena di dalam sana banyak kolega bisnisku dan aku tidak mau mereka curiga tentang bagaimana sebenarnya hubungan kita". Ujar pria itu dingin.
Deg....
Maira lemas saat mendengar ucapan dari Dewa tersebut.
__ADS_1
"Berperan?, aku tidak perlu berperan karena aku memang istri kamu mas". Batin Maira sambil menelan salivanya dengan susah payah karena sesak yang dia rasakan di dadanya.
"Baik mas". Jawab Maira singkat kemudian dia segera turun dari mobil, Maira sudah tidak peduli dan tidak mau berharap apapun lagi kepada Dewa sekarang ini karena pada dasarnya Dewa memang tidak pernah menganggapnya sebagai istrinya.
"Anggap saja aku di bayar untuk melakukan pekerjaan ini, menjadi istri pura-puranya dan aku bisa mendapatkan uang untuk menyelesaikan kuliahku serta menikmati semua fasilitas apapun yang aku inginkan, tapi lihat saja nanti mas kamu pasti akan jatuh cinta kepadaku". Batin Maira sambil menyeka air matanya.
Maira dan Dewa melangkah ke sebuah restoran mewah dengan saling bergandengan tangan, tampak mesra layaknya pasangan pengantin baru yang saling mencintai dan tidak lupa pula senyuman yang terus menghiasi wajah keduanya. Dewa juga memperkenalkan Maira kepada para kolega bisnis sebagai istrinya namun hal itu tidak lagi membuat Maira tersanjung, justru gadis itu merasa membenci Dewa yang menipu banyak orang dengan topeng kebahagiaannya itu.
"Hai Dewa, aku sejak tadi mencari mu ternyata kamu di sini". Ujar seorang wanita cantik yang tiba-tiba datang dan langsung mencium pipi kiri dan kanan Dewa bahkan memeluk pria itu dengan mesranya. Kehadiran Maira yang berada di samping Dewa pun sama sekali tidak tampak oleh wanita itu.
"Heem". Respon dingin dari Dewa sambil melepaskan pelukan wanita cantik itu.
"Kamu tidak merindukanku?". Tanya gadis itu lagi dengan wajah kesalnya.
"Heem, mas aku haus". Ujar Maira melihat dua sejoli yang berada di hadapannya seolah tidak mengindahkan kehadirannya di sana.
Wanita itu langsung melihat kearah Maira. "Apakah ini istrimu?". Tanya wanita itu dan Dewa hanya menganggukkan kepalanya. Spontan saja wanita cantik itu memeluk Maira. "Hai, senang bertemu denganmu, aku Ayuna".
"Senang bertemu denganmu, aku sangat penasaran denganmu sejak aku mendengar kabar jika Dewa sudah menikah, kamu tahu dia sangat curang menikah tanpa mengundangku". Sambung wanita itu lagi.
Maira melihat wanita cantik dan anggun yang berada di hadapannya itu dengan tatapan penuh Tanya, kemudian tanpa sengaja dia melirik kearah Dewa yang terus menatap wanita bernama Ayuna itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
"Ternyata ini alasanmu tidak menginginkanku dan juga pernikahan kita mas". Batin Maira yang seolah sudah tahu kemana arah permasalahan rumah tangganya saat ini.
...----------------...