
"Apa yang harus aku lakukan sekarang Ko?". Tanya Rian putus asa setelah menyelesaikan ceritanya kepada Ricko.
"Entahlah tuan, aku masih tidak habis pikir dengan apa yang nona Maira pikirkan, tapi benar seperti yang Shinta katakan jika kalian berdua pura-pura tidak tahu dan tetap menjaga perasaan satu sama lain maka semuanya akan aman dan nona Maira akan menyerah sendiri ketika merasa misinya gagal tanpa harus menyakiti perasaan nona Maira". Ujar Ricko.
"Menurut mu seperti itu?". Tanya Rian lagi dengan tatapan kosong.
"Entahlah tuan, mungkin saja seperti itu". Jawab Ricko tak yakin dengan jawabannya sendiri. "Apa menurut anda Shinta akan memanfaatkan kesempatan ini tuan?". Tanya Ricko kemudian.
"Kesempatan untuk apa?". Tanya Rian bingung dengan pertanyaan Ricko.
"Maafkan aku tuan tapi menurutku mana ada wanita yang bisa menolak pria seperti anda bahkan banyak di luar sana yang ingin memikat anda hanya sekedar menjadi kekasih satu malam mereka". Ujar Ricko.
"Kamu bisa punya pikiran sepicik itu terhadap Shinta?". Tanya Rian tak percaya.
"Emng, bu-bukan seperti itu maksudku tuan". Jawab Ricko terbata-bata, entah apa yang ada di pikiran pria itu sampai dia mengeluarkan kata-kata seperti itu tentang Shinta.
"Ayolah Ko, ini Shinta bukan para wanita itu, Shinta bahkan tidak akan mungkin memanfaatkan keadaan ini jika Maira sudah tiada sekalipun,dia wanita yang memiliki harga diri, hatinya sangat tulus dan dia wanita baik-baik". Ujar Rian sedikit kesal kepada Ricko kemudian dia meninggalkan pria itu sendirian.
Ricko termenung sendirian mengingat bagaimana lika-liku perjalanan cinta Maira dan juga Rian hingga sampai pada pernikahan yang mereka impikan namun semua itu berada di ambang kehancuran saat ini hanya karena mereka tidak bisa memiliki keturunan.
"Tidak mungkin, nona Maira tidak mungkin tega melihat tuan Rian bersama dengan wanita lain". Gumam Ricko membuang jauh-jauh pikiran buruknya tentang Maira.
Semuanya yang sudah mengetahui tentang rencana konyol Maira itu tidak lagi ambil pusing dengan itu semua karena mereka tahu jika Maira hanya sedang mengalami goncangan jiwa yang cukup berat sehingga membuat dia bertindak di luar nalar.
Rian juga menganggap hal itu wajar karena memang kondisi mental Maira memang sedang tidak baik namun tidak dengan Shinta yang dari hari ke hari melihat tingkah Maira semakin aneh saja bahkan dia takut jika sewaktu-waktu Maira akan memaksa dirinya menikah tanpa mau berkompromi lagi.
__ADS_1
Setiap hari bagi Shinta ada saja kejutan yang dilakukan oleh Maira kepadanya bahkan dia takut jika dia yang akhirnya akan mengalami gangguan mental, belum lagi dia juga mulai membayangkan bagaimana jika Rian benar-benar menjadi suaminya kelak, pria yang memiliki seribu pesona yang dapat memikat setiap wanita yang melihatnya.
Seperti hari ini Maira tiba di perusahaan saat waktu makan siang namun wanita itu justru sama sekali tidak membawa makan siang untuk mereka melainkan wanita itu justru ingin mengajak Shinta ke suatu tempat namun tidak mengatakan mereka akan kemana sehingga membuat jantung Shinta berdetak tidak karuan.
"Sebenarnya kita akan kemana Ra?". Tanya Shinta penasaran.
"Duduk saja dengan tenang kita akan makan di luar hari ini". Ujar Maira santai.
Benar saja, ternyata mobil yang membawa kedua wanita cantik itu parkir tepat di depan sebuah restoran dengan begitu Shinta merasa sangat tenang bahkan tidak wanita itu makan dengan sangat lahap siang ini karena siang-siang sebelumnya wanita itu selalu makan dalam keadaan tertekan karena ada Rian bersama mereka.
Selesai makan siang Shinta yang kekenyangan tidak sadar jika mobil yang sedang dia kendarai itu ternyata tidak mengarah kembali ke perusahaan Mahendra dan dia baru menyadari hal tersebut ketika mobil sudah terparkir tepat di depan rumah sakit.
"Untuk apa kita kesini?". Tanya Shinta terkejut.
"Tenang saja, ada sedikit keperluan, ayo kita turun". Akan Maira dengan senyum yang sulit di artikan.
"Mas tolong ke rumah sakit sekarang juga, aku tidak tahu mengapa Maira membawaku kesini tapi yang pasti aku sangat takut saat ini". Itulah sebuah pesan yang Shinta tulis dan kirimkan kepada Rian namun sayangnya pria itu sama sekali tidak meresponnya.
Shinta juga mencari-cari kesempatan untuk menghubungi Rian secara langsung namun lagi-lagi pria itu tidak meresponnya sama sekali dan hal itu sempat membuat Shinta putus asa. Shinta mengulur-ulur waktu dengan mengatakan kepada Maira dia ingin ke kamar mandi dulu sembari mencari ide alternatif lainnya.
"Perutku mulas sekali seperti karena aku kebanyakan makan Ra, jadi aku harus ke toilet dulu ya". Ujar Shinta.
"Baiklah, jangan lama-lama ya, aku akan menunggu di sini". Jawab Maira sehingga Shinta langsung menganggukkan kepala dan melesat pergi meninggalkan Maira.
"Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang". Gumam Shinta kemudian kembali mencoba menghubungi Rian namun lagi-lagi dia gagal untuk menghubungi pria itu sehingga dia punya ide untuk menghubungi Ricko sang asisten yang selalu menempel di dekat Rian.
__ADS_1
Beruntung, Ricko langsung merespon panggilan shinta tersebut sehingga Shinta langsung meminta Rian untuk segera menuju rumah sakit karena dia membutuhkan bantuan. Tanpa pikir panjang lagi Rian langsung mengajak Ricko untuk menemaninya menuju rumah sakit karena jika benar seperti apa yang Shinta dan dia pikirkan tentang tujuan Maira membawa Shinta ke rumah sakit maka Maira benar-benar harus di hentikan kali ini.
Maira yang sudah tidak sabar menunggu Shinta yang terlalu lama di toilet akhirnya memilih menyusul sahabatnya itu. "Shin, apa sudah siap?". Seru Maira sambil mengetuk pintu toilet.
"Hah, ya Ra, sebentar lagi ya". Jawab Shinta.
Shinta akhirnya harus keluar dengan wajah pasrah nya karena dia sudah tidak punya harapan lagi untuk menghindari Maira. Mereka kemudian langsung menuju ke sebuah ruang dan benar saja seperti yang di tebak oleh Shinta jika dokter yang mereka kunjungi adalah dokter kandungan.
"Selamat siang nona Maira, lama tidak berjumpa dengan anda". Sapa sang dokter ramah.
"Siang dokter". Jawab Maira.
"Bagaimana, ada yang bisa saya bantu?, saya sangat bahagia ketika Anda menghubungi saya tadi malam karena ternyata anda kembali semangat untuk memulai program hamil anda kembali". Ujar dokter lagi dan hal itu membuat Shinta juba turut bahagia karena mungkin semua pikiran buruknya tentang Maira ternyata selama ini salah besar.
"Oh tidak dokter, saya sudah tidak mau lagi menjalani serangkaian program hamil yang selalu membuat saya kecewa itu, saya kesini untuk menemani sabahat saya memeriksakan dan mempersiapkan dirinya sebagai calon seorang ibu".
Deg....
"Ra, apa yang kamu katakan aku bahkan belum punya kekasih untuk apa aku melakukan semua ini?". Sentak Shinta tidak terima baru saja dia berpikir jika Maira tidak sepicik itu namun sekarang Maira justru menunjukkan sifat aslinya.
"Shin, apa salahnya mempersiapkan sejak dini, kamu tidak mau kan seperti aku yang tidak tahu bagaimana kondisi kesehatanku sendiri dan itu menjadi sebuah penyesalan sampai sekarang". Bujuk Maira.
"Itu urusan priabadiku Ra, kamu sudah terlalu dalam masuk ke dalam tanah pribadi aku". Ujar Shinta kemudian langsung keluar meninggalkan ruangan itu begitu saja bahkan wanita itu membanying pintu dengan sangat keras untuk melampiaskan kekesalannya itu.
Burgh.....
__ADS_1
Bahkan Maira dan dokter kandungan itu sampai terkejut dengan kerasnya suara bantingan pintu itu namun Maira langsung bergegas mengejar Shinta untuk menghentikan langkah sahabatnya itu.