Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 102


__ADS_3

Dewantara tampak mondar-mandir di depan pintu Unit gawat darurat sebuah rumah sakit yang dimana di dalamnya Ricko sedang melakukan pemeriksaan. Ya, mereka langsung membawa Ricko menuju rumah sakit ketika mendapati Ricko tak sadarkan diri di rumahnya tadi. Pria itu tampak sangat khawatir apalagi tadi ketika dia mencoba mendengar detak jantung Ricko dia sama sekali tidak bisa di dengarkannya dengan jelas.


Shinta sendiri terlihat biasa saja karena dia mengira itu hanya efek karena Ricko terlalu banyak minum saja namun dia tidak menyangka jika pria itu ternyata menegak minuman terlarang padahal menurut cerita Dewantara tadi pria itu sama sekali tidak pernah terlihat menyentuh barang haram itu namun dia bisa memaklumi mungkin karena Ricko sedang stress dengan masalah yang sedang mereka hadapi.


Pintu ruangan itu terbuka dan Dewantara lah orang pertama yang langsung menghambur di pintu itu untuk mendapatkan informasi yang akurat dari sang dokter. "Bagaimana keadaannya dok?". Tanya Dewantara langsung.


Dokter tampak lesu dan menghela napas panjang seolah memberi isyarat jika ada hal serius yang akan dia katakan sehingga membuat Shinta yang tadinya terlihat santai menjadi sedikit khawatir. "Bagaimana bisa dia menyentuh barang haram yang memang sangat di pantang untuknya itu?, untung saja kalian cepat membawa kemari jika tidak maka detak jantung sudah berhenti saat ini". Ujar dokter serius.


Deg....


Seperti ada penekanan di setiap kata yang di ucapkan oleh dokter barusan seolah sang dokter sudah tahu betul riwayat kesehatan dari pasien bernama Ricko itu. "Ma-maksunya?". Tanya Shinta penasaran.


"Apakah anda Shinta?".


"Iya,dokter mengenal saya?". Tanya Shinta penasaran.


"Tidak secara personal tapi tuan Ricko seringkali menceritakan tentang anda, apakah anda tidak tahu tentang riwayat penyakit suami anda nona?". Mendengar ucapan dokter itu Shinta semakin penasaran karena bukannya hanya benar tentang menebak namanya, dokter itu juga tahu jika dirinya adalah istri Ricko belum lagi dokter itu membahas penyakit yang semakin membuat Shinta bingung.


"Pe-penyakit?".

__ADS_1


"Pasti anda belum tahu tapi sekarang anda harus tahu meskipun suami anda pasti akan melarang saya memberitahukan tentang ini kepada siapapun. Tuan Ricko punya penyakit jantung bawaan sejak lahir namun karena dia menjaga pola makan dan hidup sehat selama ini dia masih bertahan sampai sejauh ini namun karena dia mengkonsumsi minuman terlarang itu penyakitnya semakin memburuk karena sepertinya dia rutin mengkonsumsinya beberapa hari ini belum lagi stress dan juga jadwal kontrol yang dia abaikan selama beberapa bulan ini, sehingga tuan Ricko saat ini mengalami kritis dan juga koma". Jelas dokter yang membuat kaki Shinta tiba-tiba lemas seketika.


Tidak ada air mata yang jatuh Shinta masih tidak mampu mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini semua terasa begitu tiba-tiba dan membuat dadanya terasa sesak. Secara kebetulan juga mereka membawa Ricko ke rumah sakit tersebut karena memang rumah sakit itulah yang paling dekat dengan rumah Ricko karena ternyata Ricko memang sudah berlangganan di sana sejak dulu dan dari dokter yang bernama Eric itulah mereka akhirnya tahu jika suaminya memang rutin setiap minggu melakukan pemeriksaan ke rumah sakit.


Bahkan menurut dokter jika Ricko memang sudah beberapa kali di sarankan untuk menjalani donor transplantasi jantung namun pria itu menolak dengan alasan dia hanya akan melakukannya jika di minta oleh wanita yang di cintainya kelak.


Mendengar hal tersebut entah mengapa hati Shinta merasa tercubit karena jangankan menyarankan pengobatan terbaik untuk sang suami dia justru tidak tahu apapun tentang suaminya termasuk tentang perasaan pria itu terhadapnya.


Shinta menghela napas panjang setiap kali di mendengar kejutan demi kejutan dari mulut dokter yang sepertinya sangat mengenal sosoknya itu. Dokter Eric memang sudah seperti sahabat baik dari suaminya sehingga Ricko menceritakan banyak hal tentang Shinta kepada beliau.


"Dok, katakan apa yang terbaik untuk mas Ricko saat ini?". Tanya Shinta lirih. Wanita itu tampak sangat tegar meskipun sesekali suaranya terdengar bergetar seperti menahan tangis.


"Apa kita bisa segera melakukannya?". Saat ini Shinta dan Eric hanya berbicara empat mata di dalam ruangan dokter itu karena permintaan Shinta, wanita itu tidak mau keluarganya khawatir akan kondisi suaminya.


"Pertama-tama kita harus membuat tuan Ricko sadar dari komanya dan setelah itu membawa tuan Ricko ke luar negeri untuk melakukan operasi besar itu adalah keputusan terbaik menurut saya".


"Apa hal itu mungkin dengan kondisi mas Ricko saat ini?".


"Seperti yang saya katakan tadi nona, dia harus bangun dari komanya untuk melewati masa kritis dan itu semua hanya bisa menunggu mukjizat dari Tuhan". Jawab dokter pasrah seolah pikirannya juga sudah buntu.

__ADS_1


Shinta lagi-lagi menarik napasnya dalam-dalam, hal yang tidak bisa dia bayangkan jika dia harus kehilangan Ricko sebelum meminta maaf secara langsung kepada suaminya. "Bolehkah saya menemui suami saya dok?". Tanyanya kemudian.


"Tentu saja, temui lah dia dan beri dia semangat agar dia bisa sadar dan melewati masa kritisnya nona karena saya yakin hanya anda yang bisa melakukan hal tersebut".


Shinta melangkah perlahan menuju ranjang pembaringan sangat suaminya dimana dari kejauhan sudah jelas terlihat jika ada begitu banyak alat yang terpasang di tubuh pria itu. Dada Shinta semakin sesak rasanya apalagi ketika dia mengingat bagaimana pertemuan terakhir mereka saat itu.


Duduk di samping ranjang itu Shinta tampak sangat takut menyentuh suaminya sendiri padahal dia sangat ingin melakukannya.


Hanya diam dan duduk tanpa melakukan apapun selain menatap wajah pucat suaminya bahkan sudah di lakukan Shinta hampir setengah jam lamanya. Sampai akhirnya dia memberanikan dia untuk mengeluarkan suaranya. "Kamu tidur dengan sangat nyenyak disini mas sedangkan aku seperti seorang terdakwa yang merasa sangat bersalah kepadamu". Ujar wanita itu lirih.


"Mas, kenapa kamu lakukan semua ini sampai membuat aku merasa sangat bersalah seperti ini?. Tidak bisakah kamu bangun mas agar rasa bersalah ini sedikit berkurang". Tanya Shinta kepada suaminya lagi.


Shinta kemudian mengulurkan tangannya untuk menyentuh dan membelai rambut sangat suami, lalu turun ke wajah dan akhirnya dia menggenggam tangan Ricko. Shinta menjatuhkan wajahnya dia atas tangan ini dan langsung menangis sejadi-jadinya, air matanya tumpah tanpa permisi bahkan sampai mengalir deras di tangan Ricko, wanita itu rupanya benar-benar menumpahkan air mata yang sudah sejak tadi di tahan di depan semua orang.


Tangan Ricko langsung memberi respon saat Shinta menangis, secara perlahan tangan itu langsung bergerak dan Shinta merasa sangat terkejut. "Ma-mas". Ujar Shinta lirih kemudian dia melihat mata suaminya yang mulai bergerak.


Shinta langsung menghapus air matanya dan tersenyum lebar agar Ricko tidak melihatnya menangis dan benar saja pria itu membuka matanya secara perlahan. "Mas, kamu sudah sadar?". Ricko yang terlihat sangat lemah hanya mengisyaratkan jawabannya dengan matanya.


"Mas, aku mohon lakukan yang terbaik untuk tetap bertahan dan aku juga akan melakukan yang terbaik untuk membuat kamu sembuh, kita akan berjuang bersama-sama kali ini mas". Bisik Shinta mendekat ke wajah Ricko dan lagi-lagi pria itu mengisyaratkan dengan matanya jika dia akan baik-baik saja.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2