Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 95


__ADS_3

Dan disinilah mereka saat ini, Jepang negara yang di sangat ingin di kunjungi oleh Shinta untuk berpergian ke luar negeri untuk pertama kalinya. Sedangkan Ricko sendiri tidak masalah kemanapun mereka akan pergi karena baginya segera menjalankan aksinya jauh lebih penting di bandingkan dengan tempat yang akan mereka kunjungi. Bagi Ricko, Jepang bukanlah negara asing lagi karena pria itu sudah terbiasa melakukan perjalanan bisnis ke berbagai negara.


Setibanya mereka di hotel setelah membersihkan diri dan makan malam maka hal pertama yang di tagih Ricko adalah malam pertamanya yang sudah tertunda lama itu, tanpa rasa canggung atau rasa malu sedikitpun pria itu langsung menariknya kepada sangat istri.


"Ini sudah tujuh hari bukan?, jadi tentu saja aku sudah bisa mendapatkan hakku sebagai seorang suami". Ujarnya datar seolah yang di tagih olehnya adalah hutang saja, bahkan Shinta sampai tidak habis pikir bagaimana bisa seorang pria meminta haknya tapi tanpa ekspresi sedikitpun di wajahnya.


"Aku jauh-jauh kesini untuk menghabiskan waktu ku berlibur dan jalan-jalan sepuasnya tapi yang ada di pikiran mu hanya masalah ranjang saja". Jawab Shinta kesal.


"Kita sudah membicarakan ini sebelumnya bukan?, kamu tidak akan keberatan tentang masalah itu karena memang kamu sudah terbiasa". Ujar Ricko tak mau kalah.


"Dan aku juga sudah pernah bilang kepada mu tuan suami jika aku terbiasa dengan seseorang yang aku cintai bukan dengan orang asing seperti mu". Imbuh Shinta yang juga terlihat jelas jika dia sangat keras kepala.


"Jadi kamu keberatan melayani suamimu sendiri?". Tanya Ricko yang mendekatkan wajahnya di hadapan Shinta.


"Aku sedang datang bulan". Jawab Shinta singkat sambil membuang pandangannya.


"Kamu ingin menipuku lagi?". Tanya Ricko penuh selidik.


"Kali ini aku serius". Ujar Shinta kemudian tanpa canggung ataupun malu wanita itu menarik salah satu tangan suaminya dan menuntunnya ke bagian sensitifnya. "Pegang ini, aku memakai pembalut bukan?". Tanya Shinta kepada Ricko yang raut wajahnya sudah pucat pasi itu namun dia benar merasakan jika di bawah sana ada benda asing yang terasa jelas teraba oleh tangannya.

__ADS_1


Pria itu benar-benar tidak menyangka jika istri tanpa canggung sedikitpun langsung menarik tangannya dan meletakkan di bagian paling sensitif dari dirinya sehingga Ricko semakin yakin jika Shinta benar-benar susah tidak awam lagi akan urusan orang dewasa.


Ricko langsung menarik tangannya dengan kasar bukan kesal karena dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia harapkan dari sangat istri namun yang dia rasakan saat ini lebih kepada rasa kecewa karena yang dia pikirkan tentang istrinya selama ini adalah salah besar. Pria itu masih berharap jika Shinta sedang bersandiwara tentang apa yang dia katakan soal masalah ranjang namun nyatanya dia harus menelan kekecewaan akan hal itu.


Pria itu pergi meninggalkan Shinta di kamar hotel begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun, entah kemana tujuannya karena jangankan Shinta, Ricko sendiri tidak tahu kakinya akan membawa dia kemana malam itu namun yang pasti malam itu Ricko tidak kujung kembali dan Shinta menghabiskan malam pertamanya di Jepang sendirian di kamar hotel tersebut.


"Aku berharap terlalu tinggi sampai aku merasa sakit terlalu dalam saat harus terjatuh seperti ini". Gumam Ricko yang ternyata sedang berada di sebuah bar dengan botol minuman dia tangannya.


Jangan tanya bagaimana akhirnya perjalanan bulan madu itu berakhir karena sudah pasti hambar dan tanpa ada kesan sama sekali dari kedua orang itu karena memang sebenarnya mereka sama-sama tidak menginginkan perjalanan bulan madu itu selain hanya untuk menghindari rencana pesta pernikahan dari nyonya Dewi saja.


Ricko memang membawa Shinta ke tempat manapun yang wanita itu ingin kunjungi namun tidak ada kesan sama sekali yang bisa mereka abadikan kelak sebagai kenangan indah untuk di kenang di kemudian hari apalagi dengan aksi mogok bicara yang di lakukan oleh pasangan suami istri itu.


Shinta yang sama sekali tidak merasa bersalah dan Ricko yang merasa jika dirinya benar juga tidak ingin memulai percakapan di antara mereka apalagi untuk minta maaf, lagi dan lagi mereka hanya berkomunikasi jika ada hal. yang sangat penting saja tanpa mau berbasa-basi.


Sedangkan di mansion Mahendra keadaan masih saja mencekam seperti sebelumnya dimana Rian dan tuan Dhika masih saja mengabaikan Maira meskipun wanita itu setiap harinya berusaha mencari simpati kedua pria yang amat di cintainya itu.


Maira melakukan berbagai cara untuk mendapatkan maaf dari kedua pria itu, mulai dari memasak setiap hari bahkan sampai rutin mengantarkan makan siang untuk suami dan papanya itu namun sayangnya tetap saja para pria itu memiliki hari yang sangat keras sehingga mereka tidak mempedulikan keberadaan Maira sedikitpun.


Rian yang sudah berangsur-angsur pulih juga sering lembur di kantor namun pria itu tidak pernah mengatakan apalagi meminta izin kepada Maira bahkan dia juga tidak peduli ketika dia pulang dan melihat Maira yang sudah tertidur di ruang tamu karena menunggu dirinya pulang tanpa mah repot-repot mengangkat tubuh Maira ke dalam kamar.

__ADS_1


Hancur hati Maira ketika melihat sikap kedua pria yang di cintainya itu berubah total kepadanya padahal dulu di sangat di ratu kan oleh keduanya bahkan mereka tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Maira walau hanya sedikitpun namun sekarang sikap merekalah yang sangat menyakiti wanita itu.


Sampai pada titik lelah Maira akhirnya tumbang juga saat dia mengantarkan makan siang untuk suami dan papanya, wanita itu tiba-tiba tidak sadarkan di lobi perusahaannya sendiri sehingga memaksa Rian untuk melihat kondisi istrinya itu meskipun awalnya Rian mengira jika itu hanya akal-akalan Maira saja.


Namun melihat wajah istrinya terlihat sangat pucat membuat Rian sangat khawatir bahkan sepanjang perjalanan ke rumah sakit Rian terus mengutuk perbuatannya dan juga meminta maaf kepada sang istri karena sikapnya membuat Maira sampai jatuh sakit semua itu tentu saja karena Maira kelelahan dan juga stress akibat di abaikan olehnya setiap saat apalagi akhir-akhir ini Rian memang lebih sering menghabiskan waktunya di kantor karena Ricko sedang mengambil cuti, jikapun pria itu ada di rumah maka tempat yang sering di tempati adalah ruang kerjanya tanpa mempedulikan Maira sama sekali.


"Sayang maafkan aku, tidak seharusnya aku menghukum mu seberat ini dengan kondisi mental kamu yang belum stabil". Ujar Rian berulang kali dengan wajah panik dan air mata yang jatuh dari sudut matanya.


Ya, Rian memang selalu mengacuhkan Maira selama ini namun itu semua dia lakukan hanya untuk membuat Maira benar-benar sadar jika dirinya berharga dan supaya Maira juga lebih menghargai Rian tanpa perlu selalu memprioritaskan kehadiran anak di antara mereka. Rian juga mau melihat sejauh mana istrinya itu mau berjuang untuk memperbaiki hubungan mereka namun dia juga tidak menyadari jika aksinya itu sudah melampaui batas.


Setibanya di rumah sakit Maira langsung di periksa oleh dokter yang sudah terlebih dahulu di hubungi oleh Rian sehingga dia akan di tangani dengan sangat baik.


" Bagaimana kondisi istri saya dokter?". Tanya Rian panik.


"Semuanya baik-baik saja tuan hanya saja seharusnya anda tidak membiarkan nona Maira menjalani aktivitas berat yang akan membuatnya kelelahan apalagi sampai stress berlebihan pada kondisinya yang sedang seperti ini". Jelas dokter.


"Iya anda benar dokter, akhir-akhir ini memang banyak beban pikiran yang di alami oleh Maira". Imbuh Rian lesu.


"Saya harap setelah ini anda akan lebih memperhatikan kondisi fisik dan mental nona Maira tuan karena tidak mudah bagi seorang wanita untuk menjalani fase baru di kehidupan mereka sebagai seorang wanita". Tirah dokter lagi dan Rian hanya mengangguk lesu namun dia merasa ada yang aneh dari penjelasan dokter tadi.

__ADS_1


"Apa terjadi sesuatu yang serius pada istriku dokter?". Tanya Rian penasaran akan sesuatu yang mungkin sedang terjadi kepada istrinya itu.


...----------------...


__ADS_2