Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 59


__ADS_3

"Ini rumahmu?". Tanya Maira kepada Anna ketika mereka telah tiba di sebuah rumah sederhana namun sangat terlihat nyaman Anna pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Ayo Nona silahkan masuk". Anna mempersilahkan Maira untuk masuk ke rumahnya.


"Sudah ku katakan jangan panggil aku dengan sebutan Nona lagi, aku ini temanmu bukan majikanmu lagi". Titah Maira tegas dan Anna hanya tersenyum tipis.


Mereka berdua akhirnya bercengkerama dengan penuh suka cita terutama tentang kehamilan Annabelle karena Maira memang sangat merasa bahagia dengan kehamilan wanita itu bahkan dia sampai membayangkan bagaimana jika suatu saat nanti dia hamil seketika raut wajahnya berubah sedih kala bayangan akan kehamilan muncul di benaknya karena hal itu mustahil terjadi setelah pernikahannya dan Rian batal dan nyaris tidak mungkin jika dia bisa menikah dengan pria lain di hidupnya.


"Kamu kenapa?". Tanya Anna penasaran dengan sikap Maira yang tiba-tiba berubah dan Maira hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan sambil menghela napas panjang.


"Katakan padaku dimana tuan Rian saat ini dan bagaimana hubungan kalian, apa kalian akan segera menikah?". Tanya Anna penasaran dengan kehidupan Maira dan juga pria yang pernah sangat di inginkannya itu.


Maira memejamkan matanya dan membayangkan wajah tampan pria yang sangat di cintainya itu. Betapa Maira sangat merindukan Rian dengan segala tingkah laku aneh namun penuh cinta dari pria itu kepada dirinya setelah itu Maira pun mulai menceritakan semua hal yang terjadi di antara dirinya dengan Rian hingga alasan kenapa sampai saat ini mereka terpisah dan rencana pernikahan mereka yang batal.


Anna mendengarkan semuanya dengan seksama, wanita yang tengah mengandung itu seharusnya merasa bahagia dengan kabar perpisahan dan batalnya pernikahan Rian dan Maira karena dengan begitu dirinya masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Rian atau setidaknya tidak akan ada wanita yang bisa mendapatkan Rian baik itu Maira ataupun dirinya namun Anna justru merasa sedih dan iba akan nasib percintaan Maira dan juga Rian.


Entah cinta yang ada di hatinya untuk pria itu telah memudar atau bahkan hatinya telah mati rasa setelah banyaknya kejadian yang di alami olehnya selama ini namun yang jelas berita tentang batalnya pernikahan Maira dan Rian sungguh membuat perasaannya tidak nyaman.


"Maira, bukankah semua itu masa lalu dan harusnya kita melupakannya dan melanjutkan masa depan yang indah di depan mata". Ujar Anna yang seolah memberikan nasehat bijak kepada Maira.


"Entahlah An, aku takut jika bayang-bayang masa lalu itu akan terus menghantui kehidupan kami di masa depan nantinya". Jawab Maira datar, terlihat jelas di mata Anna jika Maira mencoba menyembunyikan air matanya yang tergenang di sudut mata indahnya itu.

__ADS_1


"Baiklah jika seperti itu menurut pendapatmu, lalu apakah kamu bisa hidup tanpanya?, ya setidaknya melanjutkan hidupmu dengan normal kembali dan jatuh cinta atau bahkan menikah dengan pria lain". Tanya Anna penasaran dan Maira hanya diam seribu bahasa karena sangat mustahil baginya untuk kembali melanjutkan hidupnya dengan normal seperti sedia kala.


"Aku tahh jawabannya tanpa kamu harus menjawabnya. Maira, bukankah hidup dengannya dan sama-sama mencoba melupakan masa lalu itu jauh lebih mudah di bandingkan kamu harus hidup tanpanya namun rasanya jiwamu seperti mati rasa?". Tanya Anna bijak lagi. Entah dari mana semua kata bijak yang keluar dari mulutnya itu karena nyatanya dia sendiri tidak pernah bisa berdamai dengan masa lalunya sendiri.


Maira menatap Anna dengan tatapan yang sulit di artikan namun seolah membenarkan apa ayng di katakan oleh wanita hamil itu. "Kamu benar An, harusnya aku berpikir seperti itu". Jawab Maira antusias lalu langsung memeluk Anna.


"Lalu apakah aku harus mencari atau menemuinya sekarang juga?". Tanya Maira kemudian.


"Hei, tidak perlu tergesa-gesa seperti itu, kamu tahu cinta akan menemukan tempat dia pulang dengan caranya sendiri kamu hanya perlu menyakinkan dirimu jika masa lalu itu tidak ada apa-apa yang di bandingkan dengan besarnya rasa cintamu kepada tuan Rian". Jawab Anna.


"Oh ya ampun, dari dulu kamu memang selalu bisa membuatku tenang An, itu sebabnya akau sangat kehilangan dirimu saat kamu menghilang begitu saja tanpa memberikan kabar kepadaku. Baiklah kamu susah mengetahui segalanya tentang kehidupanku selama ini sekarang giliran dirimu yang harus menceritakan semua tentangmu kepadaku". Titah Maira.


"Ayo cepat ceritakan kepadaku, kamu ini sangat curang bagaimana bisa kamu menikah tapi aku tidak tahu". Cibir Maira sambil berkeliling melihat-lihat keadaan rumah Anna karena dia sungguh penasaran dengan sosok lelaki yang telah menikahi Anna sehingga dia mencoba mencari figuran pria itu yang mungkin saja ada di pajang oleh Anna di sana.


"Hei, kenapa kamu hanya diam saja, ayo cepat ceritakan semuanya kepadaku, siapa suamimu dan dimana dia sekarang, apa dia sedang bekerja?". Tanya Maira lagi tidak sabaran.


"A-aku tidak pernah menikah dan tidak punya suami Maira". Ujar Anna dengan suara terbata-bata.


Deg....


Maira sungguh sangat terkejut dengan ucapan Anna barusan namun dia mencoba memahami mungkin hal yang wajar bagi wanita itu apalagi dia sedang berada di negara bebas seperti saat ini untuk memiliki anak tanpa memiliki ikatan pernikahan.

__ADS_1


"Ba-baiklah, itu bukan masalah An, lalu dimana kekasihmu itu saat ini apa kalian juga tidak tinggal bersama?".


"Aku juga tidak memiliki kekasih".


"A-apa?, lalu?, jangan katakan jika-". Maira tidak sanggup meneruskan perkataannya ketika dia melihat kesedihan yang mendalam yang terlihat jelas di mata sahabatnya itu karena dia sangat takut jika apa yang ada di benaknya benar terjadi kepada Anna.


Anna menyeka air matanya dan menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Ya, aku hamil tanpa suami dan juga tanpa kekasih Maira, pria itu telah merenggut segalanya dariku tanpa memperdulikan bagaimana sakit yang aku rasakan". Ujar Anna sambil terisak.


Maira langsung memeluk Anna dengan erat mencoba menjadi tempat bagi wanita hamil itu untuk berbagi kesedihan. Maira sekarang mengerti mengapa Anna tiba-tiba pergi begitu saja tanpa kabar berita bahkan hidup menyendiri di luar negeri.


Setelah beberapa saat memeluk Anna dan menenangkan wanita itu Maira kemudian kembali menatap wajah Anna dengan intens. "Siapa dia, dimana dia sekarang?". Tanya Maira dan Anna hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa dia tidak mengakui dan tidak mau bertanggungjawab atas kehamilan mu?".


"Bukan seperti itu tapi aku tidak yakin jika dia bisa menjadi ayah yang baik untuk anakku Maira, aku adalah anak dari keluarga broken home dimana ayahku yang sama sekali tidak bertanggungjawab kepada akan dan ibuku jadi aku tidak mau anakku juga mengalami hal yang sama di hidupnya". Jelas Anna panjang lebar dan Maira langsung bisa memahami keadaan yang di alami oleh Anna.


"Apa dia tahu jika kamu sedang mengandung anaknya?". Tanya Maira lagi dan Anna lagi-lagi menggelengkan kepalanya. "Apa aku boleh tahu siapa pria itu An?". Tanya Maira ragu-ragu dan Anna langsung menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.


.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2