Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 23


__ADS_3

Sesampainya di hotel Maira, menghempaskan tubuhnya di atau ranjang dengan perasaan kesal karena perdebatan yang tiada akhir dengan Rian hari ini, namun seketika wajahnya kembali memerah kala mengingat ciuman pertamanya tadi.


Maira mengelus bibir mungilnya yang sudah tidak suci lagi itu sembari tersenyum tipis.


"Ternyata begini rasanya ciuman, aku sudah menikah tapi anehnya aku tidak pernah berciuman sebelumnya, hehe". Gumam Maira sambil tersipu malu.


"Menikaaaah". Seru Maira baru menyadari jika dia sama sekali tidak melihat ponselnya seharian penuh. Maira segera mencari keberadaan ponselnya namun dia tidak menemukannya sama sekali sampai dia harus berpikir keras dimana dia meletakkannya.


"Ya ampun, bagaimana ini, aku belum memberi kabar kepada Tini tentang keadaanku dan aku juga tidak tahu apakah mas Dewa sudah tahu jika aku pergi ke Korea untuk beberapa hari". Gumam Maira gelisah.


Setelah berusaha membongkar seluruh isi tasnya, Maira kemudian baru menyadari bahwa ponselnya bisa saja terjatuh di pesawat tadi karena selama perjalanan dia tertidur tanpa menyentuh ponselnya. Maira bergegas keluar menuju kamar Rian karena dengan terpaksa dia harus meminta bantuan Rian untuk menemukan ponselnya.


Sementara itu di kamar sebelah, Rian tengah tersenyum melihat berbagai macam foto Maira dalam berbagai ekspresi dan gaya yang berada di dalam ponsel milik Maira, ya ponsel Maira ternyata berada pada Rian saat tadi Maira pingsan dan ponsel tersebut jatuh tanpa sengaja. Harus dia akui jika Maira memang wanita yang sangat cantik dan menawan padahal dandanan wanita itu sangatlah sederhana dan tidak berlebihan.


Namun entah setan apa yang mempengaruhi Rian sehingga pria itu memindahkan beberapa foto Maira yang menurutnya sangat cantik di matanya ke dalam ponsel miliknya, mungkin jika Maira atau orang lain mengetahui hal tersebut mereka akan mengira jika Rian sudah gila.


Ting, ting, ting...


Bel kamar Rian berbunyi menandakan jika ada seseorang di luar sana, ingin sekali Rian mengabaikan orang yang berkunjung ke kamarnya di malam seluruh itu namun dia baru menyadari jika mungkin saja itu Maira yang sedang gelisah mencari ponselnya. Rian segera menyelesaikan aksinya memindahkan foto-foto Maira sebelum akhirnya dia membukakan pintu kamarnya.


"Tuan". Seru Maira begitu pintu itu terbuka.


"Maira jaga sikapmu jangan berteriak di sini". Gerutu Maira.


"Tuan, tolong bantu saya, ponsel saya hilang entah dimana, tuan tolong perintahkan para pengawal anda untuk mencarikannya karena mungkin saja ponsel saya jatuh di-". Ucapan Maira terhenti saat melihat Rian masuk ke kamarnya begitu saja tanpa mempedulikan semua keluhannya.


"Tu-tuan". Seru Maira lagi yang berniat mengikuti langkah Rian namun dia ragu untuk masuk kesana apalagi itu adalah kamar pria yang sudah di beri ciuman pertamanya.


"Tuan, tolong bantu saya, tuan jawab saya, tuan saya masuk ya". Seru Maira namun Rian tetap tidak merespon apapun sehingga Maira yang tidak sabaran itu langsung masuk ke kamar atasannya itu.


"Tuan". Panggil Maira lagi.


"Bisa tidak kalau tidak menyusahkan dan memanggilku berulang kali seperti itu, kamu tahu suaramu itu sangat mengganggu ketenanganku". Ujar Rian datar yang muncul tiba-tiba dari belakang Maira sehingga wanita itu terkejut. Ponsel Maira saat ini sudah ada di dalam saku celananya.

__ADS_1


"Tuan, bisa tidak jangan mengagetkan saya". Sentak Maira kesal. "Tuan tolong bantu saya menemukan ponsel saya". Bujuk Maira dengan wajah memelas.


Bagi Rian di situlah keunikan Maira, wanita itu bisa mengubah ekspresi wajahnya dan juga suasana hatinya dalam seketika.


"Kamu selalu saja menyusahkan orang lain".


"Tidak tuan, saya hanya menyusahkan anda saja, orang lain tidak". Jawab Maira polos.


"Baiklah aku akan membantumu lagi kali ini tapi tentu saja ini tidak gratis".


"Oh ya ampun, saya baru saja mempunyai hutang tiga ratus lima puluh rupiah karena ulah anda membelikan saya baju-baju yang tidak penting itu dan sekarang anda meminta imbalan lagi dariku". Gerutu Maira kesal.


"Terserah saja jika kamu tidak menyetujuinya". Ucap Rian sambil berlalu begitu saja meninggalkan Maira.


"Baiklah tuan, saya akan melakukan apa saja untuk anda". Ujar Maira sambil mengejar langkah Rian.


"Benarkah?". Tanya Rian nakal sambil melangkah mendekati Maira sehingga wanita itu mundur beberapa langkah. "Sepenting itukah ponsel itu bagi mu?. Tanya Rian lagi.


"Tentu saja tuan, aku harus menghubungi suamiku untuk memberikannya kabar tentang ku". Jawab Maira.


Mendengar Maira mengatakan kata "suamiku", entah mengapa dia merasa tidak suka ketika Maira untuk pertama kalinya menyebut dan mengakui Dewantara sebagai suaminya, padahal dia sudah bahagia karena berpikir jika benar Maira tidak pernah di sentuh sama sekali oleh Dewantara dan di dalam ponsel Maira juga tidak terdapat nomor ponsel Dewantara apalagi foto-foto kebersamaan mereka berdua.


Rian membalikkan tubuhnya agar tidak menatap wajah Maira lagi kemudian dia menyerahkan ponsel Maira yang ada di sakunya.


"Ponselmu terjatuh di bandara tadi". Ujar Rian datar.


"Terimakasih tuan, anda memang selalu bisa di andalkan". Ujar Maira sambil berlarian menuju kamarnya.


Melihat ekspresi bahagia Maira mendapatkan ponselnya kembali membuat suasana hati Rian semakin tidak karuan, pria itu bahkan membanting pintu kamarnya dengan sangat keras.


"Dewantara, aku benci kau". Seru Rian.


Maira segera memeriksa ponselnya dan benar saja jika banyak panggilan masuk dari Tini pelayan setianya itu. Tanpa pikir panjang wanita itu segera menghubungi Tini.

__ADS_1


"Nona Maira, bagaimana keadaan anda?, dimana anda sekarang, apa sudah sampai di luar negeri?". Pertanyaan bertubi-tubi dari Tini sehingga Maira bingung harus menjawabnya.


"Tin, aku baik-baik saja dan sekarang aku sudah berada di Korea". Jawab maira.


"Korea?, ya ampun nona, saya saat ingin ke Korea dan bertemu para aktor-aktor tampan di sana". Begitu mendengar Korea Tini justru lupa akan pesan dari Dewantara kepadanya tadi untuk memberitahukan jika Maira sudah bisa di hubungi.


Sekian lama Maira dan Tini berbincang-bincang tentang Korea dan segala hal yang terjadi pada dirinya hari ini Maira kemudian teringat akan sosok suaminya, apakah Dewa sama sekali tidak mencari atau menanyakan keberadaannya.


"Tin, apa mas Dewa tidak pulang lagi hari ini?". Tanya Maira lirih.


"Ya Tuhan non, tuan Dewa tadi sangat mengkhawatirkan keadaan nona Maira dan dia menyuruh saya menghubungi anda setiap saat, non tunggu sebentar ya saya mau mencari tuan dulu karena tuan mau bicara langsung dengan nona Maira". Seru Tini sambil berlarian menuju ruang kerja Dewa namun dia tidak mematikan sambungan telepon itu.


Hati Maira menghangat karena ternyata suaminya sempat menanyakan bahkan mengkhawatirkan keadaannya, dia pikir jika Dewa tidak peduli kemanapun dia pergi.


"Maira". Panggil Dewa yang sudah beberapa kali memanggilnya di seberang sana namun tidak di jawab oleh wanita yang sedang melamun itu.


"I-iya mas".


"Kamu dimana?".


"A-aku di Korea mas, maaf kemarin aku tidak-".


"Kamu baik-baik saja?".


"I-iya mas".


"Syukurlah Maira, aku takut jika kamu kenapa-kenapa karena mama pasti akan marah besar kepadaku".


Deg...


Hati Maira yang sempat menghangat tadi kembali merasakan perih kala suaminya ternyata hanya takut kepada kemarahan ibu mertuanya saja.


"Baiklah Maira, jaga dirimu baik-baik dan sering-sering beri kabar kepada Tini". Ucap Dewantara lagi tanpa menanyakan dimana Maira, kapan istrinya itu pulang dan bersama siapa saja dia berada di sana. Dewantara juga memutuskan sambungan telepon itu begitu saja dan menyerah ponsel kepada Tini.

__ADS_1


"Aku bukan siapa-siapa bagi kamu mas". Gumam Maira kemudian memejamkan matanya.


...----------------...


__ADS_2