Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 41


__ADS_3

Dibelahan bumi lainnya, Maira tengah di sambut dengan penuh suka cita oleh ibu mertuanya, nyonya Dewi sangat bahagia ketika putranya menghubunginya dan mengatakan jika mereka akan berkunjung ke Jerman untuk beberapa bulan. Ya, Dewantara membawa Maira pergi ke Jerman sebagai bentuk usahanya menjauhkan Maira dan Rian.


"Sayang, mama sangat merindukan mu". Nyonya Dewi menyambut menantu kesayangannya penuh suka cita.


"Maira juga merindukan mama". Jawab Maira sambil memeluk erat ibu mertuanya karena pelukan ibu mertuanya selalu bisa membuatnya merasa tenang.


Berada di Jerman membuat hati Maira sangat tenang, hari-harinya di habiskan bersama ibu mertuanya dan juga suaminya yang selalu setia menemani Maira kemana saja dan kapan saja. Nyonya Dewi dan tuan Anwar sama sekali tidak mengetahui perihal apa yang terjadi dalam rumah tangga anaknya karena di melihat jika saat ini Maira dan putra semakin harmonis saja, apalagi Dewantara sepertinya sudah mulai mencintai istrinya, hal itu terpancar dari sikap dan cara putranya memperlakukan dan memandang Maira.


Sudah satu bulan Maira berada di jerman dan dia sangat merasa nyaman kecuali ketika Dewa mencoba mendekatinya tentu saja terkait hubungan ranjang mereka, entah mengapa sampai saat ini wanita itu belum bisa menerima Dewantara seutuhnya sebagai suaminya meskipun Dewantara telah memperlakukannya dengan sangat baik.


Jika boleh jujur sampai saat ini Maira masih selalu di bayang-bayangi oleh sosok Rian Mahendra yang telah membuatnya jatuh cinta. Cinta pertama kali yang dia rasakan ternyata bukanlah pelarian saja di saat Dewantara tidak menganggapnya dulu, namun Maira telah memberikan hatinya secara utuh untuk pria tersebut.


Di balik rasa benci karena Rian memanfaatkannya untuk membalas dendam terhadap Dewantara dan juga ketidakjujuran Rian tentang Ayuna, namun Maira tetaplah manusia biasa yang kadang isi hati tidak sejalan dengan pikiran dan logikanya.


Rian sendiri selama satu bulan ini mencari Maira seperti orang giila, dia kehilangan arah saat mengetahui Maira telah meninggalkan Indonesia. Padahal dia selalu bisa menemukan apapun dan siapapun yang dia inginkan selama ini namun entah mengapa mencari Maira sangatlah sulit dia lakukan.


Tuan Dhika sebenarnya bisa dengan mudah menemukan Maira namun dia tidak mau membantu putranya kali ini karena dia mau melihat sebesar apa perjuangan Rian untuk mendapatkan kembali wanita yang di cintainya itu.

__ADS_1


Setiap hari tuan Dhika melihat Rian hanya melamun tanpa melakukan apapun sambil memandang foto-foto Maira namun kali ini ada yang menarik perhatian tuan Dhika dengan benda yang di pegang oleh putranya sehingga dia mendekati Rian yang tengah memandang sebuah kalung liontin yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


"Dari mana kamu mendapatkan liontin ini?". Tanya tuan Dhika sambil merampas dengan paksa liontin tersebut dari tangan Rian.


"Papa mengagetkan ku saja, itu punya Maira pa, kembalikan". Seru Rian.


"Ma-maira?, apa kamu yakin?". Tanya tuan Dhika tidak percaya.


"Iya pa, liontin itu di jatuhkan Maira saat kami berada di Korea, kembalikan pa".


"Tidak". Jawab tuan Dhika tegas sehingga membuat Rian bingung. "Papa akan mencari Maira secepatnya dan dengan liontin ini pasti papa akan menemukannya dengan mudah". Ujar tuan Dhika kemudian agar putranya tidak curiga dengan kecemasan yang jelas tergambar di wajahnya.


"Lakukan apa dan bagaimana caranya agar Maira segera di temukan karena aku khawatir dengan keadaannya apalagi dia bersama Dewantara, cari mereka meskipun harus keliling dunia sekalipun karena kali ini aku tidak mau kecewa lagi". Ujar tuan Dhika dengan tegas lewat sambungan telepon dengan seseorang yang tentu saja orang kepercayaan.


Rian sendiri merasakan ada hal aneh yang terjadi dengan papanya yang semula bahkan tidak mau membantunya mencari dimana keberadaan Maira namun tiba-tiba pria paruh baya itu sangat bersemangat untuk segera menemukan Maira.


Rian tidak tinggal diam saja, dia segera mencari keberadaan tuan Dhika yang di yakini berada di ruang kerjanya itu untuk mendapatkan penjelasan apa sebenarnya yang membuat papanya itu sangat panik dan khawatir akan keberadaan Maira.

__ADS_1


Namun saat hendak masuk ke ruang kerja papanya, Rian melihat tuan Dhika menangis di depan foto almarhumah sang istri tercinta yang terpajang dengan ukuran yang sangat besar di dalam ruang tersebut sehingga Rian menghentikan langkahnya dan memberikan waktu kepada papanya untuk berbincang dengan figura tersebut karena memang hal itu sering di lakukan oleh taun Dhika saat beliau merindukan sang istri.


"Mirna, aku akan segera menemukannya. Bodohnya aku yang sempat ragu saat pertama melihat senyum dan matanya yang sangat mirip denganmu". Ujar tuan Dhika yang membuat kening Rian berkerut mendengarkannya.


Setelah diam sejenak dan menghapus air mata yang menetap di pipinya, tuan Dhika kembali menatap foto tersebut sambil tersenyum. "Setidaknya aku lega karena aku sudah mengetahui jika dia masih hidup, aku berjanji aku akan segera menemukannya dan akan menjaganya dengan sangat baik. Tidak akan ku biarkan siapapun menyakiti putri kita".


"Kamu tahu sayang, putri kita sangat cantik sama seperti mu dan dia sekarang sudah dewasa. Namanya juga sama seperti nama yang kamu berikan saat dia baru lahir ke dunia ini, Maira Mahendra, ya putri kita bernama Maira, kamu pasti senang mendengarnya bukan. Liontin ini tidak mungkin salah karena ini adalah liontin yang di pesan khusus oleh ibuku untuk mu, aku yakin sekali jika dia adalah Maira kita". Sambung tuang Dhika lagi sambil memandang liontin ditangannya.


Deg....


Kaki Rian seketika terasa lemas saat mendengar apa yang di ucapkan oleh papanya, dimana maira adalah putri dari papanya dan itu berarti Maira adalah adiknya sendiri. Rian bahkan tidak dapat berpikir lagi bagaimana bisa di jatuh cinta pada adiknya sendiri.


Rian tahu betul bagaimana kisah hilangnya Maira adik kecilnya sejak Maira masih bayi, selain saat itu Rian sudah berumur 8 tahun, tuan Dhika juga sering menceritakan jika ada seseorang yang menculik adiknya sehingga membuat mamanya nyonya Mirna syok dan meninggal dunia.


Rian sendiri tidak tahu dan tidak kenal dengan sosok mamanya nyonya Mirna karena papanya mengatakan jika sejak kecil Rian masuk asrama sehingga Rian tidak banyak tahu bagaimana hubungan yang terjalin antara dirinya dengan nyonya Mirna. Cerita demi cerita dari papanya lah yang menjadi memori yang terekam jelas sejak saat ini tentang bagaimana sosok mama dan adik perempuannya yang sangat berarti bagi tuan Dhika.


Bahkan Rian juga sempat bertekad menemukan adiknya untuk melengkapi kebahagiaan papanya setelah kehilangan mamanya untuk selama-lamanya namun sayangnya Rian tidak berhasil menemukan petunjuk apapun bahkan tuan Dhika sendiri saja tidak bisa menemukan Maira sampai saat ini.

__ADS_1


"Apa lagi ini Tuhan, haruskah aku menerima kenyataan jika aku dan Maira adalah adik kakak, lalu bagaimana dengan cinta kami?, apakah cinta ini salah atau aku yang salah jatuh cinta kepada adikku sendiri?". Batin Rian.


...----------------...


__ADS_2