
Malam harinya Dewa ditemani oleh Maira tentunya mengantarkan papa dan mamanya ke bandara. Entah mengapa Maira terlihat sangat gelisah bahkan kegelisahannya itu dapat di lihat jelas oleh nyonya Dewi namun nyonya Dewi dapat mengerti akan hal itu karena Maira merasa kehilangan karena baru saja dia di tinggalkan oleh ibunya.
"Maira, jaga diri dan suami kamu baik-baik ya sayang, mama titip Dewa". Ujar nyonya Dewi sambil memeluk Maira.
"Iya ma, mama dan papa juga baik-baik di sana ya". Ujar Maira dengan nada suara berat sambil melirik kearah papa mertuanya yang tetap dingin tanpa ekspresi.
Entah mengapa Maira merasa jika papa mertuanya itu tidak menyukai dirinya hal itu dia rasakan karena tuan Anwar nyaris tidak pernah berbicara secara langsung kepada Maira baik itu bertanya atau menyapa Maira terlebih dulu namun bagi Maira tentu saja itu hal yang wajar karena mungkin tuan Anwar merasa jika dirinya tidak pantas untuk menjadi menantu di keluarga mereka.
"Kalian baik-baik ya di sini, mama sama papa menunggu kalian kesana hitung-hitung nanti kalian berbulan madu". Ujar nyonya Dewi lagi.
"Iya ma, pekerjaan Dewa di sini masih sangat banyak jadi untuk sekarang ini kami belum bisa menyusul mama sama papa kesana". Jawab Dewa datar.
"Iya mama mengerti tapi apa salahnya di usahakan dan jaga istri kamu baik-baik".
"Pasti ma". Jawab Dewa singkat.
Nyonya Dewi kemudian melirik Maira dan mendekati Maira agar jarak mereka semakin dekat. "Ingat pesan mama Maira, pikat suamimu dengan baju-baju yang mama siapkan untuk kamu dan tips-tips yang pernah mama sampaikan, jika kamu hamil maka Dewa akan terikat selamanya dengan kamu, kamu mengerti kan?". Bisik nyonya Dewi kepada menantunya lagi.
"I-iya ma, Maira mengerti". Jawab Maira canggung.
Ya, sebelum pergi nyonya Dewi memang memberikan banyak wejangan kepada Maira tentang bagaimana menjadi istri yang baik agar suaminya jatuh cinta kepadanya, bukan hanya urusan ranjang tapi juga semua hal yang di sukai oleh Dewa terutama makanan kesukaan putranya itu dan hal-hal yang sangat di benci oleh Dewa.
__ADS_1
Rupanya nyonya Dewi cukup mengerti jika tidaklah mungkin dengan mudahnya Dewa menerima Maira begitu saja, Maira pasti memerlukan banyak usaha-usaha agar dapat memikat hati putranya itu apalagi selama ini yang nyonya Dewi tahu putranya itu memang sangat sulit terpikat pada seorang gadis.
Nyonya Dewi juga berharap jika kepergiannya dan suaminya itu sedikit memberi kebebasan dan waktu kepada Dewa dan Maira untuk saling mengenal dan saling membutuhkan satu sama lain sehingga membuat mereka bisa saling menerima satu sama lainnya.
"Heem, ma ayo kita berangkat". Ujar tuan Anwar saat melihat istrinya dan menantunya masih betah berbisik-bisik tidak jelas.
"Iya pa, mama sudah siap". Jawab Nyonya Dewi.
"Papa sama mama berangkat dulu, jaga diri kalian baik-baik". Pamit tuan Anwar singkat kemudian dia memeluk putranya sekilas dan melihat kearah Maira tanpa ekspresi apapun sehingga membuat Maira tersenyum kaku.
"Baik pa, kalian juga hati-hati di jalan dan segera kabari Dewa jika sudah tiba nanti". Jawab Dewa.
"Pasti". Jawab tuan Anwar sambil menepuk pundak putra kesayangannya.
"Turunkan ekspektasimu Maira, kamu dan Dewa menikah hanya karena keinginan orang tua kalian". Batin Maira sambil melirik suaminya yang sangat fokus mengemudikan mobil bahkan nyatis tidak pernah dia melirik keberadaan Maira yang berada di sampingnya itu.
Namun walaupun Maira merasa sedikit kecewa dia tetap berpikir positif setidaknya dengan mereka langsung kembali ke rumah Maira bisa menjalankan misinya untuk memakai baju-baju haram yang telah di sedia oleh mama mertuanya di dalam lemarinya, meskipun membayangkannya saja sudah membuat Maira geli tapi bahkan sampai membuat bulu kuduk nya berdiri, Maira tetap harus melakukan hal tersebut demi keutuhan rumah tangganya bersama Dewa.
Turun dari mobil Dewa langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya bahkan tanpa berkata sepatah katapun kepada Maira, seolah istrinya tersebut tidak berada di sampingnya. Maira hanya bisa menatap punggung suaminya yang semakin menjauh itu dengan menghela kan napasnya.
"Tenang Maira, ini baru permulaan kamu pasti bisa, ingat cinta bisa tumbuh dengan seiring berjalannya waktu dan kebersamaan kalian". Ujarnya kepada dirinya sendiri sambil melirik tubuhnya yang menurut dirinya sendiri sama sekali tidak menarik itu.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak menarik". Gumamnya lemah.
Maira kemudian turun dari mobil dan segera menyusul suaminya, dia sudah tidak sabar menjalankan semua tips yang telah di berikan oleh mama mertuanya. Dengan penuh semangat dan senyum yang menghiasi wajahnya karena membayangkan apa yang terjadi jika Dewa melihat dia mengenakan lingerie di hadapan suaminya nanti.
Namun ketika baru saja dia hendak membuka pintu kamarnya, pintu tersebut ternyata sudah terbuka terlebih dahulu dan menampakkan tubuh Dewa lengkap dengan sebuah koper besar di tangannya sehingga membuat Maira bingung dengan keadaan itu.
"Ma-mas kamu mau kemana?". Tanya Maira.
"Bukan aku yang akan pergi tapi kamu". Jawab Dewa singkat sambil mengeluarkan koper tersebut dan menyerahkannya kepada Maira.
Deg...
Maira sangat terkejut mendengar apa yang di katakan oleh suaminya tadi karena apa yang dia takutkan ternyata terjadi juga dimana Dewa akan mengusirnya dari rumah tersebut begitu kedua mertuanya sudah tidak berada lagi di rumah tersebut, namun yang tidak di sangka oleh Maira adalah ternyata secepat itu Dewa akan mengusir dirinya bahkan tidak menunggu hari esok tiba.
Padahal Dewa pernah mengatakan jika dia tidak akan menceraikan Maira kecuali Maira yang meminta berpisah terlebih dulu tapi yang terjadi saat ini malah sebaliknya, apa mungkin Dewa berubah pikiran secepat itu atau mungkin dia hanya membohongi Maira saat itu, bahkan Maira sama sekali belum menjalankan misinya untuk membuat suaminya itu terpikat oleh pesonanya.
"Ta-tapi mas, aku harus kemana?, aku-". Perkataan Maira langsung terpotong saat Dewa menarik tangannya sambil berkata.
"Ayo, ikut saja denganku". Ujar Dewa dengan nada suara datar. Mau tidak mau Maira yang di tarik tangannya oleh Dewa harus mengikuti langkah pria yang menjadi suaminya itu dengan sejuta ketakutan akan bagaimana nasibnya sekarang setelah Dewa mengusirnya dari rumah.
Maira memang punya rumah sendiri peninggalan ibunya namun jika dia kembali ke rumahnya bahkan baru hitungan hari dia menikah, pasti para tetangganya akan bertanya-tanya perihal apa yang terjadi di dalam rumah tangga Maira dan Dewa karena para tetangga Maira mengetahui pernikahannya dengan Dewa karena ketika Maira berpamitan dan menitipkan rumahnya kepada tetangganya itu nyonya Dewi menjelaskan jika Maira akan di nikahkan dengan putranya.
__ADS_1
"Bu, ma, Maira harus bagaimana sekarang?". Batin Maira gelisah
...----------------...