Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 28


__ADS_3

Setelah makan malam, Rian kemudian memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang karena aktivitasnya yang padat di luar ruangan membuat pria itu sangat kelelahan dan tempat tidur adalah obat yang paling tepat untuknya saat ini.


Namun entah mengapa perasaannya tiba-tiba merasa gelisah apalagi sejak tadi siang Maira tidak lagi memberikan kabar apapun untuknya padahal biasanya Maira selalu mengatakan jika dia sudah tiba di rumahnya. Rian kemudian meraih ponselnya yang terletak di atas makasih dan menghubungi Maira tapi sudah beberapa kali dia menghubungi wanita itu, Maira sama sekali tidak menjawab panggilan telepon darinya.


Rian mencoba menenangkan pikirannya kandang berpikir positif mungkin saja Maira sedang makan malam bersama Dewantara atau sedang berada di kamar mandi sehingga pria itu menunggu lima belas menit kemudian untuk menghubungi Maira lagi namun hasilnya tetap nihil.


Satu jam sudah rian melakukan hal yang sama namun Maira tetap tidak menjawab telepon darinya sehingga pria itu langsung melacak keberadaan Maira melalui ponselnya karena tanpa Maira ketahui rian memang sudah melakukannya sejak lama.


"Shiit". Umpat rian ketika mendapat kenyataan jika ponsel Maira masih berada di area perusahaannya.


Rian segera menghubungi Ricko agar segera menjemputnya, Ricko yang baru saja beristirahat juga tentu saja sangat mengutuk perintah Rian yang secara tiba-tiba dan tidak kenal waktu itu.


"Ada apa tuan, kenapa malam-malam seperti ini menghubungiku untuk menjemput anda, memangnya kita akan kemana?". Tanya Ricko cukup kesal.


"Kita akan ke perusahaan sekarang juga". Jawab Rian panik.


"Memangnya ada apa di sana?". Tanya Ricko penasaran.


"Maira".


"Maira?".


"Ya Maira, dia tidak menghubungi ku sejak tadi siang dan dia juga tidak mengangkat panggilan ku sampai saat ini".


"Lalu?".


"Aku memasang pelacak di ponselnya dan posisinya masih berada di perusahaan".

__ADS_1


"Tuan, bisa saja Maira melupakan ponselnya dan tertinggal di perusahaan". Ujar Ricko jengah.


"Bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya, majikan mobilnya sekarang juga Ko, perasaanku tidak enak". Titah Rian tegas.


Meskipun kesal namun Ricko tetap harus mengikuti perintah majikannya itu karena jika Rian sudah mempunyai keinginan maka keinginannya itu harus tercapai.


"Anda mengkhawatirkan istri orang sampai seperti ini tuan, apa anda sadar apa yang sedang anda lakukan ini". Batin Ricko yang tidak habis pikir melihat kepanikan majikannya itu.


Tak butuh waktu lama, mobil yang di tumpangi oleh Rian dan Ricko susah tiba di perusahaan yang sudah tampak sepi itu, enam petugas keamanan langsung menghampiri mobil meraka karena meraka tahu jika yang datang adalah majikan meraka.


"Selamat malam tuan". Sapa mereka ramah.


"Bukan semua pintu dan kalian ikut dengan kami". Titah Rian tegas.


"Memangnya ada apa tuan?". Tanya salah satu dari mereka bingung.


"Tapi tuan di dalam sudah tidak ada siapa-siapa lagi, perusahaan ini sudah kosong dan-". Ucapan salah satu petugas keamanan itu terpotong saat melihat rian sudah berdiri sambil menatap mereka dengan tatapan mematikan.


"Ikut denganku atau undur kan diri dari perusahaan ku". Ujar Rian saat dia menghentikan langkahnya dan mengancam para petugas keamanan.


Rian kembali melanjutkan langkahnya sembari menyuruh para petugas keamanan untuk berpencar namun rian melarangnya karena itu akan sia-sia dan menyita waktu yang sangat lama mengingat bangunan perusahaan tersebut sangatlah luar dan besar.


"Kita hanya perlu ke ruang pengawasan karena di sana ada kamera pemantau dan kita bisa melihat setiap sudut ruangan di perusahaan ini". Ujar Ricko dan mereka semua menuju ruang pengawasan.


Di ruangan tersebut juga ada petugas yang berjaga sehingga rian kemudian memerintahkan mereka untuk memutar kamera pemantau di setiap sudut ruangan seharian ini. Namun hal itu juga membutuhkan waktu lama sehingga rian berinisiatif untuk menuju ruang kerja Maira dan mencari keberadaan ponsel Maira, benar saja ponsel dan tas Maira masih berada di atas meja kerja wanita itu .


"Maira kamu dimana?". Teriak Rian yang semakin khawatir karena waktu sudah menunjukkan tengah malam dan dia tidak bisa membayangkan jika hal buruk terjadi kepada wanita itu.

__ADS_1


Rian berlarian kesana kemari untuk mencari keberadaan Maira meskipun dia tahu hal itu sia-sai namun menunggu petugas di ruang pengawasan mendapatkan petunjuk tentang keberadaan Maira saja tanpa berbuat apa-apa juga tidak akan membuatnya merasa tenang.


Sementara itu di dalam gudang Maira menangis ketakutan karena sekelilingnya semua gelap dan dia tidak dapat melihat apapun di sana, suara dan tenaganya juga sudah habis untuk berteriak meminta tolong namun sayangnya dia tidak tahu kalau ruangan tersebut kedap suara sehingga sekeras apapun dia berteriak tidak akan ada ya g bisa mendengarkan suaranya.


"Tuan Rian, tolong bantu saya". Seru Maira sekuat tenaga.


"Tuan, anda dimana, saya sangat ketakutan, hiks, hiks, hiks". Maira menangis sejadi-jadinya.


Selain tenaganya terkuras Maira juga merasa jika oksigen yang masuk ke paru-parunya kian sulit hal itu karena ruang tersebut sangat kedap udara dan tidak ada ventilasi di sana, belum lagi debu-debu yang sangat mengganggunya dan juga Maira yang sudah mengalami dehidrasi sehingga Maira jatuh dan tak sadarkan diri lagi.


Sampai akhirnya kekhawatiran rian terjawab sudah ketika pihak petugas di ruang pengawasan melihat jika Maira terakhir kali terlihat di bawa oleh beberapa orang wanita menuju gudang yang sama sekali tidak pernah di lewati oleh siapapun, Rian, Ricko dan semua petugas keamanan menuju ke gudang tersebut. Ricko bahkan tidak percaya jika Rian punya feeling yang sangat kuat terhadap Maira apalagi ketika wanita itu sedang dalam bahaya.


"Cepat buka". Seru Rian karena sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana keadaan Maira.


Dan ketika pintu terbuka maka yang muncul pertama adalah tangan Maira, wanita itu terkulai lemah dan sudah tidak sadarkan diri lagi.


"Maira". Seru Rian menghampiri Maira dan langsung memeluk wanita itu. Meskipun dalam keadaan panik Rian langsung menggendong Maira dan membawanya secara keluar dari gudang tersebut. "Maira, aku di sini, kamu tidak usah takut lagi ya". Ujarnya lembut kepada wanita yang tentu saja tidak dapat mendengarkan apa yang dia katakan.


"Ricko ayo cepat". Rian mengajak Ricko bersamanya untuk segera memberikan pertolongan pertama kepada Maira.


"Kita ke rumah sakit tuan?". Tanya Ricko ketika mereka sudah di dalam mobil.


"Tidak, kita ke mansion ku, panggilkan dokter ke sana saja". Jawab Rian.


Rian terus mengusap wajah Maira sepanjang perjalanan dan tidak lupa dia terus mengecup kening Maira dengan penuh kasih sayang dan berkata. "Maira, kamu harus baik-baik saja karena aku sudah berada di sini untuk menyelamatkan dan melindungi mu selalu".


"Aku yakin sekarang jika anda benar-benar sudah jatuh cinta tuan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tuan Dewantara mengetahui apa yang sedang terjadi kepada Anda, aku khawatir tuan Dewantara akan memanfaatkan nona Maira sebagai kelemahan anda nantinya". Batin Ricko sambil memantau Rian dan Maira di kursi belakang namun tetap fokus pada jalanan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2