
Anna saat ini sudah di perbolehkan pulang ke rumah setelah tiga hari beristirahat di rumah sakit, sebenarnya wanita itu sudah di boleh setelah satu hari melahirkan namun Dewa tetap bersikeras agar Anna di rawat selama tiga hari agar proses penyembuhan wanita itu lebih cepat dan langsung bisa di kontrol oleh tenaga medis yang ahli di bidangnya.
Tentu saja keputusan yang di buat oleh Dewa itu selalu bertentangan dengan Shinta dimana wanita itu sangat kesal karena Dewa tidak memperbolehkannya untuk tidur di rumah sakit menemani Anna dan baby Kaisar. Ya, sebenarnya Dewa membuat Anna dan baby Kaisar berada di rumah sakit lebih lama agar mereka cukup istirahat karena jika di rumah sudah pasti nyonya Dewi dan shinta akan terus menganggu waktu istirahat mereka dengan berbagai macam tingkah aneh keduanya.
Sesampainya di rumah Anna sangat tersanjung saat Dewa yang ternyata sudah menyiapkan sebuah perayaan kecil untuk menyambut kepulangan dirinya dan juga banyak Kaisar bahkan kamar yang sudah di rancang dan di siapkan khusus untuk banyak Kaisar juga terlihat sangat indah dan nyaris sempurna.
Rasa syukur yang luar biasa di rasakan oleh Anna karena dia benar-benar di Terima dan di perlakukan dengan sangat baik di tengah keluarga Dewantara bahkan mereka tidak meragukan apalagi ada penolakan dari mereka kepada Anna dan juga putranya itu.
"Harusnya ini semua tidak perlu mas, ini terlalu berlebihan". Ujar Anna kepada Dewa.
"Ini bahkan sangat sederhana untuk menyambut mu dan juga anak serta cucu pertama di keluarga kita sayang". Jawab Dewa penuh kelembutan.
"Terimakasih untuk semuanya mas". Ujar Anna lagi penuh haru.
"Harusnya aku yang berterimakasih kepadamu sayang, terimakasih sudah hadir di hidupku bukan hanya sendiri namun kamu membawa anugerah yang sungguh luar biasa bersamamu". Jawab Dewa kemudian mengecup kening Anna dengan lembut.
Meskipun belum ada ikatan secara resmi di antara mereka berdua Anna dan Dewa sudah seperti pasangan suami istri pada umumnya terutama dalam hal mengurus banyak Kaisar. Dewa selalu siap siaga membantu Anna dalam hal apapun dan berusaha selalu membuat suasana hati Anna tetap terjaga dengan baik apalagi dia sudah tahu banyak bagaimana cara menghadapi dan memberi dukungan kepada ibu yang baru melahirkan agar sang ibu terhindar dari baby blues.
Suasana rumah keluarga Dewantara sekarang sungguh sangat ramai dan selalu di penuhi dengan kebahagiaan. Kehadiran Anna di tengah keluarga mereka di yakini sebagai sebuah anugerah meskipun di awali dengan kesalahan besar dari Dewa namun pria itu sudah sangat menyesalinya namun bisa di katakan jika kesalahan yang di lakukan Dewa terhadap Anna adalah kesalahan terindah dan tidak pernah ingin dia ubah meskipun dia punya kesempatan untuk melakukannya.
__ADS_1
Anna sendiri juga sudah tidak lagi mengingat atau mengungkit masa-masa kelam itu karena walau bagaimanapun saat ini hidupnya sudah sangat sempurna bersama dengan orang-orang yang dia cintai dan tentunya juga sangat mencintainya. Anna dan Dewa ingin membuka lembaran baru dimana hanya ada kebahagiaan tanpa harus mengingat masa sulit dan sakit lagi untuk kedepannya.
Jika di tanya tentang rencana pernikahan mereka maka jawabannya adalah Dewa akan menikahi Anna ketika umur baby Kaisar satu tahun dimana Anna sudah sembuh total dan baby Kaisar juga sudah tidak terlalu kecil meskipun harus di urus oleh pengasuhnya dan Anna serta anggota keluarga yang lain juga menyetujuinya karena Dewa ingin setelah mereka menikah, mereka langsung melakukan perjalanan bulan madu layaknya pengantin baru pada umumnya.
...----------------...
Sementara itu di rumah sakit pasangan suami istrinya, Rian dan Maira saat ini sedang duduk di hadapan seorang dokter kandungan dengan wajah tegang dimana mereka menunggu hasil pemeriksaan yang akan sangat berpengaruh pada masa depan rumah tangganya.
"Bagaimana hasilnya dokter?". Tanya Maira tak sabaran saat dokter kandungan di hadapannya sejak tadi hanya diam dan belum mengatakan apapun kepadanya.
"Emmh, dari hasil pemeriksaan yang saya pegang ini baik anda maupun tuan Rian tidak ada masalah kesehatan apapun, semuanya sangat bagus termasuk pemeriksaan pada sel ****** tuan Rian, kualitasnya sangat baik dan bagus untuk membuahi sel telur anda nona Maira". Jawab dokter serius.
"Iya nona, sangat dini untuk usia pernikahan anda dan tuan Rian jika kalian sudah mengkhawatirkan tentang kehamilan, mungkin Tuhan belum memberikan kalian keturunan agara kalian menikmati masa-masa indahnya pernikahan sebelum akhirnya kalian akan direpotkan dengan mengurus baby" Jawab dokter lagi.
"Hal itu sama tidak masalah bagi dokter, kami malah sudah tidak sabar untuk segera mendapatkan baby, jika memang tidak ada masalah apapun pada kami lalu kenapa sampai sekarang saya belum juga hamil?". Tanya maira lagi.
"Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kesuburan pasangan suami istri, stress yang berlebihan juga sangat tidak baik untuk pasangan yang sedang melakukan program hamil, jadi hindari stress berlebihan. Tapi kita juga harus melihat bagaimana kondisi rahim anda jadi mari nona, silahkan naik ke tempat tidur supaya kita bisa melihat kondisi rahim anda secara langsung dengan USG". Dokter kemudian mempersilahkan maira untuk naik ke tempat tidur.
Maira mematuhi perintah sangat dokter untuk naik ke tempat tidur, di atas tempat tidur Maira harap-harap cemas saat dokter menggerak-gerakkan transducer di atas perutnya. Maira masih setia menunggu dokter mengatakan sesuatu namun raut wajah dokter yang seorang wanita paruh baya itu tiba-tiba berubah drastis membuat Maira yakin jika ada hal tidak baik yang akan dokter sampaikan kepadanya.
__ADS_1
Maira memejamkan matanya mencoba berpikir positif jika tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padanya karena selama ini dia tidak mengalami masalah yang menyangkut alat reproduksinya. Maira menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan karena ini memang yang dia inginkan, dia ingin tahu di mana keyakinan masalah dan mencari solusinya agar semua masalah itu terpecahkan tanpa harus menerka-nerka lagi.
"Tenang Maira semua akan baik-baik saja, yakinlah". Batin Maira menyemangati dirinya sendiri.
"Bagaimana dokter?". Pertanyaan itu justru terlontar dari mulut rian yang sejak tadi memperhatikan layar monitor USG namun dia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya.
Dokter yang sejak tadi masih setia memandang monitor di hadapannya sedikit terkejut dengan pertanyaan Rian tersebut sehingga dia menjadi agak sedikit canggung harus menjelaskan kondisi Maira yang sebenarnya. Begitu juga dengan Maira dia juga terkejut saat Rian tiba-tiba menyumbangkan suaranya karena sejak tadi pria itu hanya diam seribu bahasa.
"Ada sedikit masalah di rahim nona Maira tuan". Jawab dokter lemah.
"Ma-masalah apa dokter?". Tanya Maira ragu dengan air mata yang sudah membasahi pelupuk matanya.
"Terjadi penyumbatan di saluran tuba anda dimana saluran itu tempat untuk sel ****** dan sel telur harusnya bertemu dan kemudian membuah namun pada kasus anda hal itu tidak dapat terjadi. Setiap wanita punya dua saluran tuba, di kiri dan kanan namun sayangnya kedua saluran yang anda miliki tersumbat oleh sebab itu anda sulit untuk hamil". Jelas dokter.
Deg, Deg, Deg....
Detak jantung Maira dan Rian tiba-tiba berpacu dengan sangat cepat, rasa sesak yang luar biasa mereka rasakan bahkan sampai membuat mereka kesulitan untuk menghirup oksigen terutama Maira yang merasa jika dunianya sedang runtuh tepat di hadapannya bahkan air mata yang sejak tadi coba di bendung tumpah begitu saja.
...----------------...
__ADS_1