Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 45


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu dimana tiga anak manusia yang saling berhubungan satu sama lain yaitu Rian, Maira dan juga Dewantara semua berada dalam fase sulit di hidup mereka masing-masing dan dalam porsi mereka masing-masing.


Rian yang terpuruk akibat rasa cintanya terhadap Maira yang ternyata adiknya sendiri yang sudah bertahun-tahun dia cari. Maira dengan rasa trauma yang di alaminya akibat perbuatan kasar sang suami dan Dewantara yang baru saja sadar dari komanya akibat berbagai hantaman keras yang dia terima dari tuan Dhika belum lagi jika dia memikirkan tentang ancaman tuan Dhika yang akan segera mengirimkan surat cerai kepadanya.


Tuan Dhika sendiri juga mengalami fase yang juga tidak mudah dimana rasa rindu yang sudah bertahun-tahun dia pendam terhadap putri kandungnya harus dia pendam kembali meskipun dia sudah menemukan Maira karena dia harus menjaga perasaan putra kesayangannya dan juga memberi ruang bagi Maira agar dapat menerimanya sebagai ayah kandungnya.


Masa sulit Maira sedikit terobati karena dia tidak sendirian saat ini melainkan ada Tini yang setia menemaninya saat dia berada di rumah ibunya. Tini yang sengaja di utus oleh tuan Dhika sebagai pengawal pribadi putri tersebut sempat syok melihat kondisi tubuh dan wajah Maira yang di penuhi oleh luka-luka tersebut bahkan dia sangat mengutuk perbuatan Dewantara yang menurutnya sangat keji itu.


Tini atau yang lebih jelasnya adalah Anna sangat benci pada perbuatan kekerasan yang di lakukan oleh seorang pria terhadap wanita, pasalnya dia memiliki trauma tersendiri akibat perbuatan sangat ayah dulu terhadap ibunya. Sejak kecil memori ingatannya hanya di isi oleh perbuatan-perbuatan kasar sang ayah.


Anna juga sangat menyesal ketika membiarkan Dewantara membawa Maira pergi ke Jerman bahkan sampai membantu pria itu agar Rian tidak bisa menemukan Maira namun nyatanya pria yang telah dia bantu tidak lebih dari seorang pengecut.


"Hei, kamu ini kenapa Tin, selama berada di sini tatapanmu itu membuat aku takut saja". Ujar Maira yang melihat Tini yang selalu menatapmya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Saya hanya tidak habis pikir nona, bagaimana bisa seorang pria bisa melakukan hal sekeji ini kepada wanita yang selalu di sebut sebagai wanita yang mereka cintai". Jawab Tini lirih dan mata berkaca-kaca.


"Kamu kenapa?". Tanya Maira penasaran melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Tini pasalnya wanita itu selalu berwajah datar dan tidak pernah terlihat sedih.

__ADS_1


"Ayahku juga melakukan hal yang sama kepada ibuku dan aku adalah saksi hidup yang melihat perbuatan kejam ayahku terhadap ibuku namun sayangnya aku tidak bisa melakukan apapun hingga ibuku tewas ditangan ayahku sendiri dan beliau harus menerima hukumannya. Sekarang aku juga tidak bisa melakukan apapun saat anda di perlakukan dengan kasar oleh tuan Dewantara".


"Tin, dengarkan aku, ibumu pasti mengerti posisimu saat itu dan dia juga tidak akan menyalahkanmu, begitu juga dengan aku, aku sama sekali tidak menyalahkanmu dan ini semua bukan tanggungjawabmu sehingga kamu tidak perlu merasa bersalah seperti ini, kamu tahu dengan adanya kamu bersamaku di sini saja setidaknya aku sudah merasa sangat bahagia karena jika mas Dewa sampai mencariku kesini setidaknya ada kamu yang menjagaku". Ujar Maira penuh kelembutan agar Tini merasa tenang.


Benar saja setelah mendengarkan ucapan Maira Anna merasa sedikit lega karena setidaknya Maira tidak menyalahkannya dirinya.


"Jika tuan Dhika sudah memerintahkan saya menjaga anda itu berarti tuan Dewantara sama sekali tidak akan bisa menyentuh anda nona Maira". Batin Anna.


Anna menatap Maira penuh kagum, pantas saja jika Rian Mahendra sangat menggilai wanita yang saat ini berada di hadapannya bagaiamana tidak Maira memiliki hati yang sangat bersih dan baik dia bahkan tidak pernah marah dan menaruh curiga kepada siapapun yang ada di sekitarnya termasuk dirinya.


Bahkan tuan Dhika yang sudah mengetahui jika Maira sudah memiliki suami saja sangat melindungi wanita yang di cintai oleh putranya tersebut sehingga bisa di simpulkan jika tuan Dhika sangat merestui hubungan yang terjalin antara Rian dan Maira, hal tersebut pula menandakan jika untuk kedua kalinya dia harus menelan pil pahit dalam percintaannya dimana Rian Mahendra bisa di pastikan tidak dapat di miliki walau bagaimanapun caranya.


Wanita cantik itu justru tengah berencana untuk memberi pelajaran kepada pria yang bernama Dewantara agar pria itu merasa menyesal telah bermain api dengan seorang wanita.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti anda lagi nona dan akan ku pastikan jika Dewantara akan sangat menyesali perbuatannya". Batin Anna.


Sementara itu Dewantara yang masih berada di rumah sakit Jerman selalu berusaha untuk lari dari rumah sakit dan langsung pulang ke Indonesia untuk menemui Maira dan memohon maaf kepada istrinya sekaligus memohon agar Maira tidak melayangkan gugatan cerai terhadapnya.

__ADS_1


Pria itu bahkan rela melakukan apa saja asalkan Maira tidak meminta cerai darinya karena obsesinya untuk memiliki Maira sudah sangat besar bahkan dia lupa dengan ancaman yang berikan oleh tuan Dhika untuk tidak menemui Maira lagi untuk selamanya.


"Ayo makan, biar kamu bisa minum obat". Ujar nyonya Dewi ketus karena masih kesal dengan perbuatan anaknya terhadap menantu kesayangan namun statusnya sebagai ibu Dewantara memaksanya untuk tetap merawat putranya itu.


"Dewa cuma mau Maira ma, Dewa mau pergi dari sini secepatnya". Tolak Dewantara.


"Kalau begitu silahkan pergi, pergi saja dengan kakimu yang belum bisa menopang berat badanmu ini lalu serahkan nyawamu kepada tuan Dhika agar hidupmu cepat berakhir". Dewantara hanya diam mendengar ucapan ibunya yang memang benar adanya karena saat ini kondisinya masih sangat lemah.


"Dengarkan mama Dewa, kamu harus menceraikan Maira karena pria seperti dirimu tidak pantas untuk wanita sebaik Maira". Sambung nyonya Dewi lagi, tuan Anwar yang juga berada di kamar perawatan Dewantara hanya diam tanpa ekspresi apapun.


"Ma, Dewa tidak bisa, Dewa mencintai Maira dan Dewa tetap akan memperjuangkan Maira dengan cara apapun". Jawab Dewa dengan nada tegas.


"Jika itu maumu maka mama dan papa akan menyiapkan pemakaman dan juga batu nisan untukmu". Ujar nyonya Dewi sembari membanting pring yang di pegang kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Dewantara terkejut dengan reaksi ibunya yang selama ini sangat menyanyangi itu namun kali ini beliau justru tidak mendukungnya sehingga dia melirik kearah papanya yang tampak tenang membaca majalah bisnis di tangannya.


"Katakan saja kamu ingin di makamkan dimana boy". Ucap tuan Anwar tanpa meliril kearah Dewa sedikitpun.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2