
"Apa ini semua?". Tanya Shinta mengatur napasnya.
"Apa?". Tanya Ricko balik pura-pura tidak mengerti.
"Oh Tuhan, apa yang anda lakukan padaku dan kenapa anda tega menjebak ku hah?". Tanya Shinta lagi.
"Aku tidak mengerti maksudmu".
"Lalu apa ini semua, kenapa rumahku di sulap seperti ini dan ibu mengatakan jika dalam satu minggu Aku akan segera menikah". Ujar Shinta kesal lalu dia menghela napasnya. "Anda tega sekali padaku tuan, aku pikir anda akan membantuku keluar dari masalah tapi nyatanya, sudahlah sekarang bantu aku keluar dari masalah ini". Ancam Shinta kemudian.
"Masalah apa?". Pertanyaan dari Ricko mampu membuat emosi Shinta meledak sehingga dia menarik kerah baju Ricko.
Ricko memasang wajah datar ketika Shinta seolah mengancamnya karena pria itu benar-benar sangat santai menghadapi wanita itu sehingga membuat Shinta melepaskan cengkeraman tangannya di kerah baju Ricko dengan sendirinya. "Maaf tuan". Ujar wanita itu canggung dan berusaha merapikan kembali kerah baju tersebut. Namun tetap saja Ricko tidak memberi respon apapun.
Shinta yang putus asa lalu memasang wajah memelas dan menatap intens wajah Ricko dia berharap pria itu sudi kiranya untuk benar-benar membantunya kali ini namun nyatanya pria itu justru acuh saja dan membuang pandangannya sehingga membuat Shinta menarik wajah Ricko dengan kedua tangannya.
"Tuan lihat wajahku, apa tidak ada rasa kasihan sedikitpun untuk ku dari anda, aku benar-benar tidak bisa menikah dengan mas Rian karena-". Ujar Shinta lirih namun langsung terpotong karena seseorang menarik tangannya dengan sangat kasar.
"Ya Tuhan Shinta, apa yang kamu lakukan hah?". Sentak ibu yang tiba-tiba datang itu.
"Bu-bu aku hanya-". Jawab Shinta terbata-bata.
"Kamu tahu tidak, pernikahanmu yang mendadak ini sudah cukup membuat para tetangga dan seluruh warga kampung kita bergosip dan mengira kamu menikah karena sudah hamil duluan dan itu susah cukup membuat ibu sakit kepala menjawab pertanyaan mereka, dan sekarang kamu melakukan hal memalukan ini bagaimana jika para tetangga melihatnya mereka pasti akan berpikir jika gosip itu benar adanya". Imbuh ibu lagi.
"Tapi bu aku hanya-". Lagi-lagi perkataan Shinta di potong oleh ibu.
"Apa kamu tidak bisa bersabar hanya untuk sebentar lagi, kamu akan menikah dalam minggu ini dan kalian bisa melakukan apapun yang kalian inginkan setelah itu, sungguh memalukan ketika wanita lebih agresif dari pria". Gerutu ibu kemudian menarik paksa putrinya itu.
Shinta benar-benar berusaha mencerna apa yang di katakan oleh ibunya apalagi kata-kata "kalian bisa melakukan apapun yang kalian inginkan" karena itu berarti pria yang akan menikahinya bukanlah Rian melainkan Ricko.
Shinta menatap dengan tatapan penuh tanda tanya ke arah Ricko dan pria itu hanya tersenyum simpul sambil mengedipkan salah satu matanya bahkan membuat Shinta reflek mengedipkan kedua matanya ketika melihat hal itu. Sangat sulit di percaya karena ternyata yang terjadi benar-benar di luar nalar wanita.
Flashback Off...
Begitulah terakhir kali dia bisa berinteraksi tatap mata dan tatap muka dengan Ricko karena setelah itu ibu dan juga bahkan bapaknya sangat membatasi ruang gerak mereka bahkan untuk sekedar bertatap muka saja selain karena alasan tidak ingin terjadi hal tidak di inginkan ibu juga mengatakan jika tidak baik jika calon pengantin wanita dan calon pengantin pria bertemu terlalu sering menjelang pernikahan.
"Keluar dari kandang singa aku justru di dorong masuk ke kandang biaya, benar-benar menyebalkan". Umpat Shinta.
__ADS_1
Namun wanita itu tidak pasrah begitu saja dia harus mencari cara agar bisa berbicara dengan Ricko dan menanyakan apa yang sedang dia rencanakan sebenarnya atau mungkin semua rencana ini adalah perintah dari Rian yang tidak mau rumah tangganya terganggu oleh kehadiran wanita itu.
Karena meskipun dia tidak mau menikah dengan Rian bukan berarti dia mau menikah dengan pria bernama Ricko itu, apalagi jika dia membayangkan bagaimana dingin dan kakinya Ricko bahkan pria selalu saja bicara kasar padanya padahal dia hanya melakukan kesalahan kecil saja.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hari-hqri yang akan Aku lewati bersama pria itu". Ujar Shinta lirih yang meratapi hidupnya.
Maka timbul lah ide untuk menemui Ricko di tengah malam. ketika semua orang sudah tertidur pulas meskipun hari pernikahan tinggal satu hari lagi namun hal itu belum terlambat di bandingkan penyesalan seumur hidup yang akan dia rasakan setelah menikah nanti.
Shinta diam-diam menyelinap ke kamar Ricko dan Shinta merasa sangat beruntung karena pria itu ternyata tidak mengkunci pintu kamarnya sehingga dia bisa leluasa masuk begitu saja setelah sebelumnya dia memastikan jika kedua orang tuanya sudah tidur dengan nyenyak.
"Bangun". Sentak Shinta dengan volume suara yang tetap dia kendalikan sebaik mungkin agar tidak terjadi keributan.
Ricko menggeliat dan menyibak selimutnya tanpa membuka matanya terlebih dalu sehingga dia tidak sadar jika dia hanya tidur dengan menggunakan celana pendek dan telanjang dada. Shinta melihat itu langsung membulatkan matanya dan sangat ingin berteriak namun dia sadar jika hal itu akan membuat kedua orang tuanya terbangun sehingga wanita itu hanya bisa menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara berisik.
Shinta reflek membalikkan tubuhnya dan begitu juga dengan Ricko yang sudah menyadari jika yang membangunkannya adalah Shinta, pria itu langsung menarik selimutnya dan melilitkan ketubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini di kamarku?". Tanya Ricko.
"A-aku-". Ujar Shinta terbata karena wanita itu merasakan jika derak jantungnya susah untuk di kendalikan.
"Hei, berhenti bercanda sekarang katakan padaku apa rencana anda hah?". Tanya Shinta balik.
"Rencana apa, aku sedang tidur dan kamu mengganggu ku".
"Oh ya ampun, katakan kepadaku kenapa anda merencakan pernikahan konyol ini, pokoknya aku tidak mau tahu pernikahan ini harus di batalkan".
"Oke baiklah". Ujar Ricko acuh kemudian dia kembali membaringkan tubuhnya di kasur.
"Oke, hanya begitu saja respon anda?". Tanya Shinta tak percaya.
"Lalau aku harus bagaimana?, katakan saja apa renacanmu untuk membatalkan pernikahan ini dan aku akan melakukannya".
"Emmh, itu aku tidak tahu, a-apa anda ada rencana?".
"Aku akan pergi besok pagi-pagi sekali dengan begitu kita tidak akan jadi menikah". Ujar Ricko lagi.
"Ba-baiklah, tapi aku boleh bertanya sesuatu?".
__ADS_1
"Apa?".
"Kenapa anda mau membatalkan pernikahan ini begitu saja bukankah anda akan rugi banyak karena semua persiapan pernikahan sudah siap seratus persen,itu pasti menghabiskan banyak uang anda kan?".
"Jadi kamu menyayangkan uangku yang habis sia-sia tapi kamu tidak memikirkan bagaimana nasibmu yang menyedihkan setelah calon pengantin pria meninggalkan mu satu hari sebelum pernikahan, bayangkan bagaimana harga dirimu dan yang terpenting hargi diri kedua orang tuamu yang akan di injak-injak oleh semua orang dan satu lagi pasti tidak akan ada pria yang akan mau melamar mu lagi setelah ini". Ujar Ricko seolah tanpa beban.
Namun apa yang di katakan oleh Ricko mampu membuat Shinta terdiam sejenak dan berpikir keras. "Apa anda sedang mengancamku?. Tanya Shinta penuh selidik.
"Coba katakan kalimat mana yang mengandung pengancaman?".
"Ta-tapi aku tidak mungkin menikah dengan anda tuan".
"Aku juga tidak memaksa".
Shinta tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya dan kedua orang tuanya jika benar pernikahannya itu batal secara tiba-tiba. "Kalau begitu jangan pergi tuan". Ujar Shinta lesu.
"Untuk apa aku disini?".
"Untuk?".
"Aku akan tetap di sini jika kamu memaksa dan mengatakan alasan agar aku tidak pergi". Ujar Ricko licik dan Shinta tahu betul pria itu sengaja melakukannya.
"Anda sudah tahu alasannya jadi Aku tidak perlu mengatakannya lagi".
"Tapi tadi kamu sudah mengusirku jadi Aku akan tetap pergi kecuali kamu memaksaku untuk tetap di sini".
"Oh Tuhan, baiklah tuan Aku mohon jangan pergi tetaplah di sini".
"Baiklah tapi aku harus tahu alasannya".
"Menikahlah denganku tuan".
"Oh ya ampun kamu melamar ku, baiklah karena kamu adalah wanita pertama yang melamar ku jadi Aku akan menerimanya". Imbuh Ricko dengan senyuman licik.
Shinta mengendus kesal karena kelakuan licik atasannya itu, seharusnya dia sudah tahu jika meminta solusi kepada pria itu adalah kesalahan besar karena memang pria itu sangat licik. "Kelihatan seperti Aku yang sangat tergila-gila padanya, dasar pria tidak punya perasaan dan sangat licik, lihat saja nanti ketika Aku sudah menjadi istrimu Aku akan menyiksamu setiap hari". Umpatnya kesal lalu meninggalkan kamar Ricko.
...----------------...
__ADS_1