
Dengan amarah yang memuncak tuan Dhika langsung menuju kamar selain karena Rian telah membuat putri kesayangannya menangis dia juga sudah melakukan sebuah kebodohan dengan menyia-nyiakan kesempatan yang telah susah payah di usahakan oleh than Dhika.
"Apa yang sudah kau lakukan?". Tanya tuan Dhika setengah berteriak.
"Cepat bawa lukisan itu keluar dari kamarku dan bakar segera, aku tidak ingin lukisan itu masih berada di rumah ini". Titah Rian kepada para pelayan tanpa mempedulikan pertanyaan dari sang papa bahkan dia tidak menggubris kehadiran pria paruh baya itu.
"Rian, jawab papa". Sentak tuan Dhika lagi.
Rian memejamkan matanya mencoba sebisa mungkin menahan amarah yang sudah memuncak di dadanya. "Apa yang memang seharusnya Rian lakukan pa". Jawab Rian datar.
"Apa membuat skenario ini dan membuat Maira menangis adalah hal yang seharusnya kamu lakukan hah?, ketika di pergi meninggalkanmu, kamu mencarinya sampai hampir kehilangan kewarasan mu tapi sekarang dia sudah disini mengapa kamu malah melakukan ini?".
"Itu karena ria sudah mengetahui segalanya pa, berhenti bersandiwara di depan Rian karena Rian sudah tahu siapa Maira sebenarnya".
"A-apa maksud kamu?".
"Dia Maira Mahendra, dia putri kecil papa yang setiap hari papa cari sampai detik ini kan dan itu artinya dia-". Rian tidak bisa mengatakan kenyataannya karena mengakui Maira sebagai adiknya sungguh menyakitkan baginya.
Tuan Dhika terkejut mendengarkan perkataan Rian dia tidak menyangka jika perubahan sikap Rian adalah karena putranya itu tahu akan kebenaran tentang Maira. Tuan Dhika tidak bisa menjawab apapun dan hanya bisa menundukkan kepalanya sambil mencerna keadaan yang ada sehingga membuat Rian geram tak kunjung mendapatkan penjelasan apapun.
"Kenapa papa hanya diam, ayo katakan kepadaku yang sebenarnya tentang Maira". Ujar Rian lagi.
__ADS_1
Tuan Dhika memilih membalikkan badannya untuk pergi meninggalkan Rian sendirian karena dia tidak mau mengatakan apapun dulu saat ini karena jujur dia sangat tidak siap membuat Rian kecewa namun Rian dengan sigap menahan langkah papanya dengan menarik lengan tuan Dhika.
"Jangan pergi dulu sebelum papa mengatakan yang sebenarnya pa". Ancam Rian dengan nada bicara yang cukup tinggi.
"Lepaskan papa Rian". Sentak tuan Dhika.
"Tidak akan".
"Rian, lepaskan papa!, apa yang mau kamu dengar hah?, baiklah jika itu mau kamu. Kamu dan Maira tidak punya hubungan darah apapun karena kamu bukan anak kandung papa". Teriak tuan Dhika sehingga membuat Rian terhenyak.
Deg....
Apa yang dikatakan oleh tuan Dhika sungguh di luar nalar rian, dia tidak menyangka jika hal itu yang akan keluar dari mulut sang papa.
"Oh my God pa, kenapa papa baru mengatakannya sekarang, itu artinya perasaan Rian kepada Maira tidak salah sama sekali, huh, ya Tuhan aku memang sangat beruntung". Rian langsung memotong pembicaraan tuan Dhika dan berteriak dengan sangat puas perihal statusnya yang bukan merupakan anak kandung tuan Dhika.
Sungguh ekspresi yang sangat tidak di sangka oleh tuan Dhika sebelumnya dia berpikir jika Rian mengetahui hal yang sebenarnya maka Rian akan merasa kecewa pasalnya Rian sangat menyayanginya dan sangat dekat dengannya sehingga akan membuat Rian berkecil hati akan hal itu.
"Kamu tidak-". Perkataan tuan Dhika langsung terpotong karena Rian spontan menghambur dalam pelukan sang papa.
"Terimakasih pa, akhirnya aku bisa mendapatkan cintaku. Jujur Rian kecewa karena Rian bukanlah anak kandung papa tapi hubungan darah tidak akan mengubah apapun di antara kita, setidaknya Rian sekarang adalah calon menantu papa, bukankah itu lebih seru". Ujar Rian penuh rasa harus dan memeluk tubuh tuan Dhika dengan sangat erat.
__ADS_1
Taun Dhika juga merasa terharu mendengarkan perkataan Rian, dia tidak menyangka jika putra yang dia besarkan sendirian tanpa kasih sayang seorang ibu itu bisa memiliki pemikiran yang sangat dewasa bahkan dia tidak bertanya akan asal usulnya karena menurutnya tuan Dhika adalah dunianya dan dia sudah cukup bahagia dengan dunianya itu apalagi sekarang ini tambah dengan kehadiran Maira di sisinya.
"Calon menantu macam apa kamu ini hah, belum menikah sudah membuat putriku menangis berkali-kali". Ujar tuan Dhika saat dia tersadar jika Rian telah menyakiti Maira lagi sambil memukul perut sixpack Rian dengan cukup keras sampai membuat Rian meringis kesakitan.
"Ampun calon papa mertua, aku akan memohon maaf dan berjanji kepada putri papa untuk membuatnya bahagia". Jawab Rian sambil berlari menghindari pukulan tuan Dhika berikutnya kemudian dia pergi untuk menyusul Maira ke rumahnya.
Rian melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup cepat karena tidak sabar untuk menyusul Maira, senyuman tidak pernah lepas dari wajah tampan pria itu membayangkan bagaimana pertemuannya nanti bersama sangat pujaan hati setelah semua keraguan di hatinya hilang seketika ketika mengetahui jika tidak ada hubungan darah anatar dirinya dengan Maira.
Maira sendiri sudah berada di kamarnya tentu saja dengan pikiran yang menumpuk di kepalanya dan air mata yang terus mengalir aneh memang karena bersama Rian, Maira mudah sekali mengeluarkan air matanya padahal dulu dia mengalami hal yang juga tidak mudah di hidupnya namun air matanya tidak pernah membasahi pipi mulusnya itu.
Mulai dari kehidupan yang tanpa di dampingi oleh kedua orang tua dan harus tumbuh besar di panti asuhan hingga kehidupan rumah tangganya yang sangat jauh dari kata harmonis dimana dia di khianati bahkan sampai mendapatkan perlakuan kasar dari sang suami namun hanya Rian lah pria yang mampu membuat Maira tidak mudah mengendalikan emosinya.
Anna atau jelas tepatnya Tini sendiri sedang tidak berada di rumah karena setelah mengantarkan Maira ke rumahnya dia segera menuju rumah majikannya yang lain yaitu rumah Dewantara dimana pria itu menghubunginya dan menanyakan keberadaannya dan juga keberadaan Maira.
Pria itu sudah sembuh dari sakit yang di alaminya dan akan segera kembali ke indonesia untuk mencari Maira sehingga Anna harus kembali tinggal di rumah Dewantara agar pria itu tidak curiga akan hubungannya yang cukup dekat dengan Maira apalagi tuan Dhika masih memerintahkan dirinya untuk mengawasi Dewantara sampai urusan perceraian antara Maira deng pria itu selesai.
Di tengah kondisi hati dan pikirannya yang sedang tidak baik, Maira sangat kesal saat mendengar pintu rumahnya di ketika dari luar, dia mengutuk Anna habis-habisan karena mengira jika wanita itu yang kembali ke rumahnya karena ada barangnya yang ketinggalan sehingga Maira membuka pintu rumahnya tanpa melihat terlebih dulu siapa yang bertamu malam itu.
"Tin, untung saja kamu adalah sahabatku, jika tidak akan ku siram kamu dengan air karena mengganggu ku dengan suara ketukan pintu itu". Gerutu Maira menuju pintu utama rumahnya.
Namun ketika dia melihat jika sang tamu bukanlah Anna melainkan sosok pria yang sangat di kenalnya membuat Maira sangat terkejut bahkan sampai membuat wajahnya pucat karena tidak percaya dengan seseorang yang berdiri di ambang pintu rumahnya itu apalagi senyum di wajahmu sangat pri yang sulit di artikan olehnya.
__ADS_1
"Ka-kamu". Ujar Maira terbata-bata dengan memundurkan langkahnya.
...----------------...