Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 103


__ADS_3

Setelah berdiskusi untuk memilih negara dan rumah sakit terbaik untuk Ricko bersama keluarganya Shinta merasa sedikit lega apalagi kondisi suaminya semakin membaik dan bisa di pastikan jika Ricko akan segera bisa di bawa ke luar negeri bahkan dokter Eric sendiri yang akan menemani mereka dalam perjalanan itu.


Semua kebutuhan yang akan di bawa oleh Shinta juga sudah di siapkan dengan matang oleh keluarga bahkan kedua orang tua kandung Shinta juga telah tiba di jakarta untuk bertemu dengan menantunya sebelum akhirnya Ricko di bawa ke luar negeri untuk perawatan intensif.


Saat ini Shinta tinggal sendirian di rumah sakit karena dia menyuruh semua orang untuk beristirahat di rumah, dia ingin hanya dia saja yang menjaga Ricko dan semua anggota keluarga juga setuju karena mereka tahu jika yang di butuhkan Ricko saat ini hanyalah kehadiran Shinta di sisinya.


"Shin". Tiba-tiba suara yang sangat akrab di telinga mengejutkan Shinta yang sedang menatap langit yang di penuhi dengan bintang di tengah taman rumah sakit itu. Suara yang sudah lama tidak di dengarnya namun dia sangat menghafalnya. Maira malam itu langsung ke rumah sakit bersama suaminya begitu tahu jika Ricko di larikan k rumah sakit untuk melihat keadaan pria itu namun dia meninggalkan suaminya dengan Ricko di ruang rawat untuk mencari keberadaan Shinta.


"Mai". Shinta langsung memastikan jika itu benar sahabatnya yang sudah lama tidak dia lihat.


Maira langsung memeluk Shinta dengan saat erat sambil menangis tersedu-sedu. "Maafkan aku Shin". Ujar Maira lirih.


Shinta juga tidak menolak pelukan itu karena dia juga merasa sangat merindukan Maira. "Aku juga harusnya minta maaf kepada kamu Mai". Jawab Shinta.


Setelah puas berpelukan dan menumpahkan rasa rindu juga air mata akhirnya mereka duduk dan kembali menatap langit. "Kadang hidup sangat susah di tebak ya Mai". Ujar Shinta dengan tatapan kosong.


"Shin, banyak hal yang terjadi terkadang tidak bisa kita mengerti tanpa adanya penjelasan tapi kamu harus tahu satu hal jika mas Rian dan aku tidak ada sangkut pautnya dengan pernikahan kamu dan Ricko". Jelas Maira.


"Aku tahu, Aku saja yang terlalu berpikiran buruk sampai membuat semua ini semakin rumit, aku berpikir dan menyimpulkan semua sendiri tanpa mencari tahu apa ya g sebenarnya terjadi".


"Aku sangat mengenalmu, kita berteman bukan hanya satu dua tahun saja jadi aku bisa mengerti itu, Shin ini". Maira membuka tasnya dan menyerahkan sebuah map kepada Shinta.


"Apa ini?". Tanya Shinta.


"Surat rumah mu dan langsung atas nama kamu, Ricko bilang dia akan menyerahkannya sendiri sebagai hadiah pernikahan kalian cuma sekarang sepertinya tidak mungkin jadi aku menyerahkannya sekarang".

__ADS_1


"Kenapa suratnya ada padamu?". Shinta semakin bingung.


"Karena rumah itu aku yang bantu mencarikannya, Ricko meminta bantuanku karena aku pasti tahu bagaimana rumah impian kamu selama ini, kita kan sudah berteman lama". Jawab Maira lagi. "Shinta, Ricko memang hanya asisten pribadi suamiku tapi bukan berarti dia tidak mampu membeli rumah semewah itu untuk mu, di perusahaan Mahendra semua ide dan strategi Ricko lah yang mengaturnya kamu tahu sendirikan bagaimana cerdasnya suamimu itu bahkan perusahaan Mahendra yang hampir bangkrut saja masih bisa dia selamatkan". Sambung Maira lagi.


Maira kemudian menjelaskan semuanya kepada Shinta tentang sumber kekayaan Ricko dimana pria itu bukan hanya menjadi asisten pribadi Rian, melainkan dia juga pebisnis yang memiliki bisnis dimana-mana. Termasuk hotel dan juga beberapa restoran yang tersebar di beberapa kota besar di indonesia.


Tentu saja dengan kecerdasan yang dimiliki olehnya Ricko mampu menghandle segala sesuatu sendiri apalagi pria itu selama ini tidak pernah di sibukkan dengan urusan percintaan yang membuat waktunya terbuang sia-sia.


"Dia memang sangat cerdas bahkan dia juga cerdas dalam merahasiakan segalanya dari semua orang termasuk perasaan dan penyakitnya". Ujar Shinta sambil menyeka air matanya.


"Ya kamu benar, bahkan mas Rian juga merasa sangat bersalah karena selama ini dia tidak mengetahui apapun tentang penyakit Ricko". Ucap Maira yang juga tidak habis pikir dengan personal Ricko yang sangat susah di tebak.


"Bagaimana mungkin dia menanggung semuanya sendirian?".


"Tapi aku ragu pada diriku sendiri, apa aku sanggup untuk menghadapi semua ini".


"Kamu bisa Shin, aku yakin itu". Tegas Maira.


Kedua sahabat itu akhirnya berbincang-bincang tentang masa lalu mereka untuk melupakan sedikit kesedihan yang sedang di hadapi oleh Shinta bahkan Maira juga memberitahu Shinta tentang kehamilan baby kembarnya, tentu saja hal itu juga menjadi salah satu penghibur hati Shinta saat ini sampai akhirnya Rian menghampiri mereka dan mengajak Maira pulang karena walau bagaimanapun Maira harus sangat menjaga kondisi tubuhnya di masa kehamilannya itu.


......................


Matahari menampakkan dirinya dengan pasti pagi itu sehingga membuat Shinta menggeliatkan tubuhnya yang terasa sedikit kamu karena di tidur di kursi tepat di samping ranjang suaminya. Shinta sama sekali tidak beranjak dari sana padahal ruang rawat Ricko tersedia fasilitas lengkap termasuk ranjang khusus untuk yang bermalam di sana.


Shinta sangat tidak sabar menunggu hari itu karena dia akan berangkat ke luar negeri untuk mendapatkan pengobatan terbaik untuk suaminya. Shinta langsung menuju kamar mandi dan bersiap-siap dia benar-benar terlihat sangat antusias bahkan sarapannya dia habiskan selama waktu sekejap.

__ADS_1


Semua keluarganya juga sudah berkumpul untuk mengantarkan kepergian mereka termasuk Maira dan juga Rian. Ricko juga terlihat sangat terharu ketika mereka semua berkumpul di sana meskipun pria itu masih belum mengeluarkan sepatah katapun sejak kemarin.


Mereka juga turut mengantarkan Shinta, Ricko dan juga dokter erik sampai ke bandara dimana perjalanan itu menggunakan private jet mengingat kondisi Ricko yang memang butuh pesawat khusus untuk kenyamanannya.


Shinta berpamitan dengan seluruh keluarganya dan juga kedua sahabatnya. Anna adalah sahabat Shinta yang merasa sangat sedih karena resepsi pernikahannya hanya tinggal dia bulan lagi namun Shinta harus pergi ke luar negeri dan itu artinya Shinta kemungkinan besar tidak akan bisa menghadiri perta pernikahannya nanti.


"Sudahlah An, hapus air matamu itu, baby Kai saja tidak menangis seperti mu". Ujar Shinta menggoda Annabelle.


"Jaga dirimu baik-baik, apa pesta pernikahanku di tunda saja sampai kalian kembali dari luar negeri?". Tanya Anna.


"Jaga ucapanmu jangan sampai mas Dewa mendengarnya, kamu tahu dia akan sangat marah mendengar hal itu. An, aku janji aku pasti akan menghadiri pesta pernikahanmu karena aku yakin mas Ricko pasti akan sembuh dan kami akan segera kembali ke indonesia". Jawab Shinta kemudian memeluk erat Anna yang sedang menggendong baby Kai itu.


"Jaga dirimu Mai dan juga calon anak-anakku di dalam sini". Ujar Shinta kemudian memeluk erat Maira.


"Kamu juga, kami akan selalu menunggu kamu di sini dan jangan lupa untuk mengabari kami setiap hari ya". Ucap Maira yang di balas anggukan oleh Shinta.


Perjalanan menuju luar negeri saat ini sangatlah membuat Shinta bersedih karena dia ke. luar negeri kali bukanlah untuk bersenang-senang melainkan berjuang untuk kesembuhan suaminya. Namun beruntung Shinta tidak sendirian karena ada dokter Eric yang setia menemani.


Dokter Eric sendiri ternyata adalah pengelola sebuah rumah sakit yang di bangun oleh Ricko beberapa tahun lalu dimana rumah sakit itu khusus melayani pasien dengan penyakit jantung bahkan ada program khusus untuk pasien-pasien kurang mampu karena itulah dokter Eric sangat mendedikasikan dirinya kepada Ricko yang bisa di katakan adalah atasannya itu.


...----------------...


Maaf ya man teman jika beberapa episode ini emang fokusnya ke babang Ricko dan dedek Shinta karena kisah Maira dan Rian udah ada bayangan happy endingnya 🙏🥰


Untuk kisah cinta Anna dan Dewantara juga akan lanjut di novel ini aja, smoga gak bosan dan dukung otor terus 🫰

__ADS_1


__ADS_2