
Setibanya mereka di mansion Rian, mereka langsung di sambut oleh papanya Rian yang menatap aneh karena putranya menggendong seorang wanita yang tidak sadarkan diri dan membawanya ke dalam mansion. Namun sang papa tersenyum simpul dari kejauhan melihat hal tersebut.
"Ko, apa kamu sudah menghubungi dokter?". Tanya tuan besar Dhika Mahendra kepada asisten pribadi putranya karena jika di lihat dari kepanikan di wajah Rian pasti telah terjadi hal buruk kepada wanita yang di gendong putranya itu.
Jika ada yang merasa aneh kenapa tuan Dhika tidak menanyakan siapa dan apa tujuan Rian membawa seorang wanita ke mansion nya maka tuan Dhika sudah tahu jawabannya, Pria paruh baya yang masih sangat tampan di usia senjanya itu sangat mengerti dan mengenal Rian, dia tahu jika wanita yang sudah berani di bawa oleh Rian ke mansion nya pastilah dia adalah seorang wanita yang sangat spesial bagi putranya itu.
"Saya akan menghubungi dokter sekarang juga tuan besar". Jawab Ricko kemudian pria itu segera mengambil ponsel di sakunya.
Rian sendiri terus berjalan membawa Maira sampai ke dalam kamarnya dan membaringkan wanita cantik itu di atas ranjang. "Maira bertahanlah, sebentar lagi dokter akan segera tiba". Ujar Rian lembut.
Melihat interaksi putranya dengan wanita bernama Maira tersebut membuat tuan Dhika tersenyum simpul lagi, dia benar-benar tidak habis pikir akhirnya ada seorang wanita yang bisa meluluhkan hati putra kesayangannya itu. Melihat wajah teduh nan cantik Maira juga membuat Dhika juga ikut tenang, pantas saja jika putra sampai jatuh cinta kepada wanita itu pikirnya.
"Cantik". Ucap Dhika menggoda putranya.
"Pa, ini bukan saatnya becanda". Jawab Rian kesal.
"Papa serius nak".
"Pa". Seru Rian lagi agar papanya berhenti menggodanya di saat yang tidak tepat.
"Baiklah papa pergi dulu tapi jika dia sudah sadar papa ingin berkenalan dengannya". Ujar Dhika kemudian meninggalkan Rian dan Maira berdua karena dia tahu jika putranya itu hanya membutuhkan waktu berdua saja bersama wanita yang di cintainya itu.
Tidak perlu menunggu lama, dokter pribadi keluarga Mahendra tiba di kediaman mereka, setelah melakukan pemeriksaan terhadap Maira dokter tersebut juga meresepkan beberapa macam obat-obatan dan juga menyuntikkan vitamin untuk menunjang kembali kondisi tubuh Maira.
__ADS_1
"Nona Maira tidak apa-apa, dia hanya kelelahan dan kekurangan cairan saja, setelah beliau makan dan minum obat kondisinya akan segera membaik, untuk sekarang biarkan dia istirahat saja". Ujar dokter.
"Terimakasih banyak dokter". Jawab Rian karena hanya dia dan dokter saja yang ada di kamar tersebut sedangkan Ricko sudah di perintahkan untuk pulang karena dia tidak mau ada yang mengganggu waktu istirahat Maira.
"Sama-sama tuan, kalau begitu saya permisi dulu". Ujar dokter lagi.
Rian segera memanggil salah satu pelayan wanita yang berada di mansion nya untuk membersihkan tubuh Maira dan menggantikan pakaiannya. Namun berhubung Maira tidak memiliki pakaian ganti maka Rian menyerahkan baju kemejanya untuk di pakaikan kepada Maira.
"Bersihkan tubuhnya dengan sangat hati-hati jangan sampai mengganggu tidurnya". Titah Rian kepada pelayannya. "Dan ini, pakaikan saja baju ini untuknya". Rian menyerahkan kemejanya yang berwarna hitam kepada pelayan itu.
"Baik tuan". Jawab pelayan sambil menundukkan kepalanya.
Sama seperti tuan Dhika, para pelayan juga tahu jika wanita yang sedang bersama tuan mereka itu adalah wanita yang sangat spesial begitu juga dengan pelayan wanita yang di perintahkan untuk membersihkan tubuh Maira itu, sehingga dia sangat berhati-hati dalam memperlakukan Maira.
Malam itu Rian menjaga Maira sepanjang malam dan tidur di samping Maira tanpa mau pergi kemanapun walau sebentar saja bahkan sang papa yang mengajaknya untuk berbincang-bincang tentang Maira juga di acuhkan begitu saja.
Rian menatap wajah cantik Maira dan mengutuk perbuatan tiga karyawatinya sudah sangat keterlaluan terhadap Maira. "Cepat sembuh sayang, aku akan pastikan mereka tidak akan bekerja lagi di perusahaan ku dan juga perusahaan manapun di seluruh Indonesia ini". Rian kemudian mengecup kening Maira dengan sangat lembut.
Rian meraih ponselnya dan menuliskan sebuah pesan untuk Ricko karena dia tidak mau mengganggu Maira yang sedang beristirahat itu. "Besok pastikan tiga orang itu sudah berada di ruangan ku sebelum aku datang ke kantor". Begitulah isi pesan yang di kirimkan oleh Rian kepada asisten pribadinya Ricko.
Sepanjang malam Rian memeluk pinggang Maira dengan sangat posesif seolah dia sangat takut jika Maira pergi darinya. Dia juga mematikan ponsel Maira agar ponsel yang sejak tadi berdering itu tidak mengganggu waktu istirahat Maira.
"Kamu milikku Maira dan akan selalu menjadi milikku". Batin Rian memejamkan matanya dan ikut hanyut di alam mimpi bersama wanita pujaannya itu.
__ADS_1
Sementara itu di rumahnya Dewantara sangat gelisah karena Maira tidak kunjung pulang ke rumah padahal akhir-akhir ini dia sudah rutin pulang sebelum jam makan malam untuk dapat makan malam bersama dengan Maira.
"Hubungi dia terus Tin". Perintah Dewa kepada Tini.
"Baik tuan, tapi sekarang ponsel nona Maira sudah tidak dapat di hubungi lagi". Jawab Tini.
"Apa, bagaimana bisa?". Tanya Dewa kesal.
"Sa-saya juga tidak tahu tuan". Jawab Tini ragu.
"Apa kamu punya nomor ponsel teman-temannya?, cepat hubungi mereka satu per satu".
"Saya tidak punya nomor ponsel teman-temannya nona Maira tuan".
"Perusahaan tempat dia bekerja?". Tanya Dewantara lagi dan Tini hanya menggeleng lemah.
"Oh, shiit Maira dimana kamu berada?". Cuma Dewa khawatir.
Jika Maira dan Rian tidur dengan nyenyak sepanjang malam itu, maka Dewantara sama sekali tidak dapat memejamkan matanya karena khawatir akan kondisi sang istri, dia ingin mencari namun sayangnya dia tidak tahu harus mencari Maira dimana karena dia sama sekali tidak tahu menahu apapun tentang Maira.
Dewantara bahkan juga tidak tahu Maira bekerja dimana dan siapa saja teman-teman istrinya itu. Dewantara mengutuk sikap acuhnya terhadap Maira selama ini sehingga ketika Maira tidak pulang seperti ini dia tidak tahh harus mencarinya kemana.
"Ini semua salahku, aku bahkan tidak tahu dimana dan kemana saja istriku seharian dan di perusahaan apa dia bekerja". Umpat Dewa kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Mulai saat ini aku berjanji aku akan lebih memperhatikan kamu Maira, aku juga akan mencari tahu dimana kamu bekerja dan akan mengantarkan dan menjemput kamu bekerja setiap harinya". Sambung Dewa lagi.
Ya, entah apa yang sedang merasuki Dewantara, namun yang pasti dia mulai peduli akan keberadaan Maira sebagai istrinya, sebenarnya dia diam-diam memang memperhatikan tingkah Maira saat dia berada di rumah namun rasa egonya mendorong pria itu untuk tidak menunjukkan rasa pedulinya terhadap Maira selama ini.