Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 93


__ADS_3

Hari yang di nanti oleh banyak orang namun di benci oleh Shinta pun tiba, wanita itu terlihat cantik sempurna dengan gaun pengantinnya, wanita itu bahkan mengutuk dirinya sendiri yang kagum akan pantulan dirinya di dalam cermin karena dia tampak seperti pengantin wanita yang sangat berbahagia dengan pernikahannya.


"Bencana di hidupmu baru saja di mulai Shinta". Gumamnya pada dirinya sendiri.


Acara pernikahan itu berjalan dengan lancar dan khidmat tanpa kendala apapun seperti yang di harapkan oleh semua orang kecuali Shinta. Semua tersenyum bahagia ketika pasangan pengantin baru itu telah di nyatakan sah sebagai suami istri baik secara agama maupun secara hukum negara.


Bukan hanya kedua orang tua kandung Shinta yang menghadiri acara penting itu, orang tuanya angkat wanita itu juga ternyata ikut serta lengkap dengan Anna, Dewantara dan juga baby Kai. Mereka semua juga terlihat sangat bahagia karena mengira jika Shinta dan Ricko menikah atas dasar cinta karena walau bagaimanapun Shinta tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada mereka semua.


Jangan tanya bagaimana hebohnya nyonya Dewi dengan pernikahan mendadak dari putri angkatnya itu karena Shinta pasti tidak akan lepas dari kemarahan nyonya Dewi namun wanita paruh baya itu tetap sangat mendukung pernikahan tersebut apalagi setelah dia tahu tentang rencana konyol Maira.


Bahkan nyono Dewi sudah merencanakan pesta pernikahan di jakarta untuk Shinta karena dia juga ingin ikut andil dalam merayakan hari kebahagiaan putinua itu.


"Selamat Shinta, aku tidak menyangka jika kamu akan menikah lebih dulu dari pada aku". Ujar Anna dengan senyum kebahagiaan di wajahnya.


"Emmh, aku juga sama sekali tidak menyangka akan seperti ini". Jawab Shinta canggung.


"Kamu berhutang penjelasan kepadaku bagaimana bisa kalian menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi tanpa memberitahukan kami, padahal jika saja kamu jujur kepada kami terutama Maira pasti hal itu tidak akan terjadi". Ujar Anna lagi yang sedih mengingat kejadian di rumah sakit tempo hari.


"Entahlah An, aku juga bingung dengan semua situasi ini". Jawab Shinta lirih.


Wanita itu juga merasa bersalah karena sudah menyebabkan kekacauan di antara Maira dan suaminya apalagi setelah mendengar cerita Anna tentang baku hantam yang terjadi antara Rian dengan Dewantara bahkan sampai mengancam nyawa suami dari sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sudahlah, lupakan dulu semua masalah itu dan nikmati hari bahagiamu bersama suamimu". Timpal Anna lagi.


Acara hari itupun berlanjut dengan sangat meriah karena karena meskipun Ricko tidak mengundang banyak teman atau kerabatnya namun ibu dan bapak mertuanya mengundang sangat banyak tamu terutama seluruh warga kampung bahkan terkesan perta pernikahan itu seperti pesta rakyat saja.


Ibu dan bapak Shinta merasa sangat bangga anaknya menikah dengan pria kaya dan juga tampan tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk pamer kepada semua orang yang pernah meremehkan putri mereka yang tak kunjung menikah itu.


Shinta sangat mengutuk sikap kedua orang tuanya itu apalagi hal itu terlihat sangat membuat Ricko kelihatan sangat bangga dan angkuh seolah dia merasa jika dia sangat di harapkan di keluarga Shinta dan Shinta sangat benci melihat wajah angkuh pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.


Beda dengan pasangan yang menikah tanpa rasa cintanya lainnya, Shinta dan Ricko tidak mengalami drama berebut atau berdebat masalah tempat tidur karena Shinta sama sekali tidak melarang pria yang menjadi suaminya itu untuk tidur di ranjang yang sama dengannya.


Shinta seolah ingin memberi kesan nakal atau seolah dia bukanlah wanita yang awam akan pria sehingga dia berharap hal itu membuat Ricko tidak penasaran dan bahkan jijik dengan dirinya sehingga dia bisa membangun pertahanannya sendiri tanpa harus melakukan drama apapun.


"Apa kamu yakin kita akan tidur bersama di sini malam ini?". Tanya Ricko penasaran.


Ricko cukup terkejut dengan apa yang dia dengar barusan karena biasanya hal itu umumnya keluar dari mulut para pria saja. "Woo, sepertinya kamu sangat berpengalaman?". Tanya Ricko lagi.


"Tidak perlu pengalaman tentang hal itu karena itu adalah sesuatu yang alami dan akan terjadi begitu saja jadi jangan terlalu di pikirkan". Timpal Shinta lagi.


"Jadi begitu, baiklah jika begitu bebanku untuk berdebat masalah tempat tidur". Ujar Ricko kemudian sepasang suami istri itu akhirnya tidur di tempat tidur yang sama meskipun mereka tidak bersentuhan sama sekali.


Sepanjang malam itu jika boleh jujur baik Ricko maupun Shinta tidaklah bisa tidur dengan nyenyak entah apa yang ada di pikiran keduanya namun yang jelas banyak pertanyaan yang ada di benak mereka yang belum juga terpecahkan terutama di kepala Shinta, wanita itu masih tidak bisa bersahabat dengan keadaan dimana dia sudah menjadi seorang istri seperti yang dia impikan namun dengan pria yang sama sekali tidak pernah di bayangkan sebelumnya.

__ADS_1


Kenapa dan bagaimana bisa?, itulah yang ada di benak Shinta saat ini, bagaimana bisa pria yang sangat dia benci dan juga sangat membencinya itu berada satu ranjang dengannya saat ini, mungkinkah pria itu melakukan ini semua karena perintah dari atasannya Rian Mahendra demi untuk mempertahankan rumah tangganya.


Shinta tidak menyangka jika uang bisa membeli segalanya bahkan harga diri seseorang, buktinya Ricko mau menikahinya tentu saja dengan iming-iming uang yang tak sedikit dari atasannya pikir Shinta. Belum lagi dia juga tidak habis pikir dengan pasangan suami istri Rian dan Maira yang sangat dia sayangi dengan tulus itu namun tega merusak masa depannya terutama dengan menikahkan Ricko dengannya.


"Kalian benar-benar tidak telah mengubur semua impianku". Gumam Shinta dalam hati.


Sedangkan Ricko sendiri juga sibuk dengan pikirannya sendiri, pria itu tidak menyangka jika wanita yang dia anggap lugu selama ini ternyata benar-benar tidak merasa risih ketika berada satu ranjang dengannya. Pria itu tidak bisa membayangkan jika wanita sekelas Shinta ternyata tidak awam lagi dengan urusan ranjang.


Namun Ricko tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Shinta begitu saja dia ingin menguji kebenaran dari ucapan Shinta tadi sehingga dia sengaja memeluk Shinta yang membelakanginya itu dari belakang dan berbisik di telinga wanita itu.


"Jika kekasihmu saja bisa mendapatkan mu di atas ranjang maka aku sebagai suami mu juga punya hak yang sama bukan?". Goda Ricko berharap Shinta akan memberi respon seperti yang di harapkan.


Shinta menghela napas mendengar perkataan Ricko. "Tentu saja tuan suami, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan tapi sayangnya bukan malam ini karena aku sedang datang bulan jadi bersabarlah setidaknya satu minggu ke depan sampai masa periode datang bulanku berakhir". Jawab Shinta kesal namun tidak terlihat risih dengan tangan Ricko yang bersarang di pinggangnya.


Deg....


Ricko cukup terkejut dengan perkataan dan reaksi Shinta itu bukan karena istrinya itu sedang datang bulan namun karena Shinta benar-benar tidak canggung dengan ucapannya tadi namun dia sebisa mungkin menutupi kecanggungan itu.


"Oh ya ampun, aku benar-benar tidak beruntung". Ujar Ricko.


"Bersabarlah tuan suami kita masih punya malam-malam lainnya untuk di habiskan bersama". Shinta kemudian menarik selimutnya dan masuk ke alam mimpi tapi tidak dengan Ricko yang masih susah mencerna keadaan yang sedang terjadi saat ini.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2