
Benar saja, ketika tuan Dhika sudah beraksi ikut andil dalam pencarian Maira, maka tidak butuh waktu lama untuk beliau menemukan keberadaan Maira. Tentu hal itu membuat hati pria paruh baya itu sangat lega karena dia sangat khawatir pada nasib sangat putri tercinta.
"Apa kau yakin jika Maira berada di sana?". Tanya tuan Dhika memastikan kepada asisten pribadi keluarganya yaitu Ricko. Ya, selama ini Ricko memang tidak pernah mau membantu rian untuk mencari Maira karena memang dia tidak mau terlibat lebih jauh dalam urusan antara rian dan Maira apalagi tidak ada perintah langsung dari tuan Dhika, namun begitu tuan Dhika menyuruhnya memimpin dalam misi pencarian Maira maka pria itu akan segera melakukannya tanpa bisa membantah apalagi menolak.
"Saya yakin tuan, mereka berada di Jerman selama satu bulan belakangan ini bersama kedua orang tua tuan Dewantara". Jawab Ricko yakin.
"Kalau begitu aku akan berangkat sekarang juga, siapkan segala sesuatunya dan pastikan jika Dewantara tidak mengetahui kedatangan kita kesana". Titah Tuan Dhika.
"Baik tuan, dua puluh menit dari sekarang segala sesuatunya sudah siap dan anda sudah bisa berangkat. Oh ya tuan, apa anda tidak akan mengajak tuan Rian bersama anda?".
Mendengar pertanyaan Ricko membuat tuan Dhika terdiam sejenak dan memikirkan sesuatu, beliau merasa jika belum saatnya Rian tahu akan keberadaan Maira sampai dia sendiri memastikan jika Maira baik-baik saja. "Tidak perlu Ko, aku sendiri yang akan memastikan jika Maira baik-baik saja karena aku takut jika Rian tidak bisa mengendalikan emosinya nanti jika bertu dengan Dewantara". Ujarnya kemudian.
Ricko hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju karena dia juga merasa jika sebaiknya Rian tidak ikut ke Jerman dan akan memperumit permasalahan apalagi Maira masih sangat membenci pria itu akibat kesalahpahaman yang terjadi dia antara mereka.
Ricko sendiri juga tidak tahu menahu perihal Maira yang kemungkinan besar adalah putri kandung majikannya itu, yang di tahu jika tuan Dhika ikut turut serta mencari Maira semata-mata hanyalah karena dia tidak tega melihat putranya Rian yang sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi sejak dia kehilangan Maira.
Sedangkan Rian sendiri sudah mengetahui semuanya termasuk keberangkatan papanya ke Jerman karena dia mendengar semua perbincangan papanya tadi namun dia sendiri sama sekali tidak mau ikut walaupun sebenarnya dia sangat penasaran dan sangat merindukan Maira tapi dia butuh waktu untuk berdamai dengan keadaan dimana dia harus menerima Maira sebagai adiknya bukan wanita yang di cintainya lagi.
Ingin sekali dia pergi sejauh mungkin dan lari dari kenyataan yang ada agar dia tidak lagi bertemu apalagi menatap wajah Maira secara langsung namun jika dia melakukan hal tersebut tentu saja akan sangat membuat papanya kecewa akan sikapnya itu apalagi menemukan Maira adalah sesuatu yang sangat di damba-dambakan oleh papanya selama bertahun-tahun lamanya sehingga dia tidak mau membuat mimpi indah papanya itu berantakan hanya karena sikapnya yang kekanak-kanakan.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, Dewantara sendiri selalu mencoba untuk menahan diri dan sabar menghadapi Maira yang terus menolaknya, jujur seandainya saja dia bisa ingin sekali dia memaksa istrinya itu tanpa memikirkan apapun namun sayangnya mereka sedang berada di Jerman dan satu rumah dengan kedua orang tuanya sehingga mau tidak mau Dewantara harus bersikap sebaik mungkin di hadapan semua orang.
Dewantara berambisi untuk membuat Maira mengandung anaknya dengan cara apapun sehingga dia setiap hari berusaha mendekati Maira. Namun seperti kata orang jika sabar selalu ada batasnya begitu juga dengan rasa sabar yang dimiliki oleh seorang pria seperti Dewantara, malam ini saat kedua orang tuanya pergi menghadiri sebuah pesta makan malam bersama kolega bisnis mereka, Dewantara akan memaksa Maira untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri dengan atau tanpa persetujuan Maira sekalipun.
"Dewa, apa kamu yakin jika kalian tidak ikut kami saja ke pesta makan malam itu?". Tanya Nyonya Dewi kepada putranya.
"Tidak ma, Dewa ingin di rumah saja menghabiskan waktu bersama Maira". Jawab Dewa.
"Baiklah kalau begitu, jaga Maira baik-baik ya". Titah nyonya Dewi kemudian.
Bukan hanya kepergian kedua orang tuanya yang di nantikan oleh Dewantara, para pelayan yang bekerja di rumah tersebut juga di perintahkan oleh Dewa untuk pergi berbelanja ke pusat kota dan mereka di larang untuk pulang ke rumah sebelum jam sebelas malam.
" Sayang, ayo makan dulu". Ujar Dewa sambil membawakan makanan kedalam kamar mereka.
Maira tersenyum karena tersentuh dengan perlakuan manis suaminya itu, bahkan di saat dia terus menolak keberadaan Dewa di sisinya namun suaminya itu justru sangat perhatian kepadanya saat dia sedang kurang sehat seperti saat ini.
"Terimakasih mas, harusnya kamu tidak perlu membawakan makanan kemari, aku masih sanggup turun untuk makan malam". Jawab Maira lembut.
"Tidak akan ku biarkan istriku yang cantik ini kelelahan saat dia sedang sakit seperti ini". Jawab dengan senyuman nyang sulit di artikan.
__ADS_1
Maira dan Dewantara kemudian makan malam bersama dengan penuh canda tawa. Sampai pada saatnya Dewantara mendekati Maira yang sedang duduk di bibir ranjang dengan tatapan yang sulit di artikan. Maira sering melihat suaminya itu mendekati dirinya sebelumnya namun entah mengapa kali ini tatapan Dewantara kepadanya membuat dia sedikit tegang.
"Ayo sayang, malam ini kita habiskan untuk bersenang-senang, aku sudah menunggu cukup lama untuk melakukan ini". Ujar Dewantara dengan tegas.
"Ma-mas, aku-".
"Ssst, Maira, aku sudah tahu jawabannya dan aku tidak peduli akan hal itu, aku sudah cukup bersabar selama ini dan itu tidak mau ada penolakan lagi". Ujar Dewantara dengan rahang yang mengeras dan tatapan yang sangat tajam.
Dia mulai menindih Maira secara paksa dan terus berusaha untuk mencumbu Maira namun wanita itu terus meronta-ronta sambil berteriak meminta pertolongan sehingga aksinya itu sangat sulit untuk terlaksanakan. Sepertinya titik kesabaran Dewantara benar-benar sudah habis sehingga dia menampar pipi Maira dengan sangat keras bahkan wanita itu mengeluarkan darah di sudut bibirnya.
Plak....
"Berhenti menguji kesabaranku Maira karena aku sudah muak dengan semua sikapmu yang terus menolak ku dan hentikan teriakan dan tangisanmu itu karena tidak ada satu orang pun yang akan menolong mu kali ini". Sentak Dewantara.
"Hiks, hiks, hiks, mas aku mohon jangan lakukan ini kepadaku". Pintar Maira dengan suara lirih.
"Kenapa hah?, aku suamimu Maira dan aku berhak atas dirimu, apa karena kau masih mencintai pria itu sehingga hanya dia yang kau izinkan untuk menyentuh tubuhmu ini?, ingat baik-baik, hanya aku yang bisa memiliki mu dan akan ku buat kau segera mengandung anakku sehingga tidak ada lagi yang bisa membuat mu jauh dariku". Ujar Dewantara lagi sambil merobek baju piyama yang di kenakan Maira dengan kasar sehingga tampak jelas buah dada Maira yang hanya berbalut bra saja dan hal itu tentu saja membuat hasrat Dewantara sangat menggebu-gebu, dia sudah tidak sabar untuk menerkam Maira habis-habisan.
...----------------...
__ADS_1