Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 86


__ADS_3

Rencana pernikahan Anna dan Dewantara akan di gelar tidak lama lagi, tiga bulan lagi pasangan yang telah di karunai seorang putra itu akan mengikat janji suci di hadapan semua orang, maka secara otomatis segala persiapan pernikahan mewah itu telah di siapkan sedini mungkin karena bukan hanya acara pernikahan yang akan di gelar namun juga acara ulang tahun pertama banyak Kaisar sehingga pastilah acara itu akan di gelar secara besar-besaran.


Shinta juga ikut di repot kan dengan berbagai macam persiapan pernikahan itu dan itu membuatnya sangat bahagia karena mungkin dengan cara itu dia bisa lepas dari jeratan maira namun yang terjadi di luar ekspektasi Shinta karena Maira seolah benar-benar menjeratnya dan tidak ingin melepaskannya dirinya tentu saja dengan usaha yang sama setiap harinya yaitu mendekatkan wanita itu dengan suaminya Rian. Bahkan Shinta sekarang tidak di izinkan oleh maira untuk berangkat dan pulang kantor sendiri melainkan dia harus selalu satu mobil dengan Rian.


Semua rencana Maira itu sama sekali tidak di ketahuilah oleh orang lain kecuali Shinta fans Rian karena jika Anna atau tuan Dhika pasti tidak akan menyangka jika Maira akan melakukan hal sekonyol itu. Shinta sebenarnya ingin menceritakan semuanya kepada Anna agar Anna memberikannya solusi atau bahkan sekedar agar bebannya sedikit berkurang namun dia tidak tega merusak kebahagiaan wanita yang sebentar lagi akan menikah itu.


Belum lagi Shinta juga tidak tega melihat kerepotan Anna yang mengurus banyak Kaisar sehingga dia tidak mau menambah beban pikiran kepada sahabatnya itu karena selam ini Anna sudah cukup merasakan penderitaan dengan masalahnya sendiri.


Buugrh...


Suara setumpuk berkas yang sengaja di banting tepat di hadapannya itu mampu membuat Shinta sangat terkejut apalagi wanita itu sedang melamun sejak tadi. Siapa lagi pelakunya jika bukan Ricko, pria itu memang kerap kali membuat suasana hati Shinta memburuk karena tingkahnya yang sok disiplin dan juga irit bicara itu.


"Apa yang anda lakukan tuan, hampir saja jantung ku terlepas dari tempatnya akibat ulah anda". Protes Shinta kepada pria tanpa ekspresi di hadapannya itu.


"Harusnya aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan di jam kerja padahal sejak tadi aku sudah memanggilmu". Jawab Ricko datar.


"Oh ya ampun, apa anda tidak bisa bersikap lebih lembut, masalahku sedang banyak jadi wajar jika aku melamun". Gerutu Shinta lagi, ya wanita itu memang tidak pernah takut untuk berdebat dengan siapapun termasuk Ricko, pria yang sangat di segani di perusahaan Mahendra.


"Dan perusahaan ini tidak membayar mu untuk melamun dan membawa masalah pribadimu kesini jadi kerjakan semua berkas-berkas ini atau kita akan lembur lagi malam ini". Bantar Ricko tak mau kalah.


"Benarkah?, kalau begitu aku akan melamun lagi dan kita akan lembur malam ini, bagaimana?". Tanya Shinta antusias.


"Apa seperti ini caramu agar bisa berduaan denganku?". Tanya Ricko angkuh.

__ADS_1


"Hei, jangan terlalu percaya diri dulu tuan, aku butuh waktu untuk melamun dan aku juga tidak ingin pulang cepat malam ini makanya aku suka dengan ide lembur mu tadi".


"Terserah kamu saja yang jelas pakai waktu bekerja mu untuk menyelesaikan tugas-tugas mu jangan membuang waktu untuk hal yang tidak penting". Ujar Ricko acuh kemudian membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan meja Shinta.


"Dasar pria tidak punya perasaan, kasar dan bermuka datar dia bahkan tidak punya empati sedikitpun dengan masalah ku bahkan hanya untuk sekedar memberikanku waktu luang". Gerutu Shinta pada dirinya sendiri.


"Kamu mengatakan sesuatu?". Tanya Ricko yang bisa mendengar jelas celotehan Shinta tadi.


"Tidak ada aku hanya sedang bernyanyi, apa bernyanyi juga tidak boleh di perusahaan ini?". Tanya Shinta kesal dan Ricko pun pergi tidak mau menanggapi wanita yang menurutnya aneh itu lagi.


Shinta menghempaskan punggungnya di kursi sangking kesalnya dengan pria bernama Ricko itu yang tidak pernah punya rasa empati sedikitpun kepada dirinya di tambah lagi dengan masalah demi masalah yang di hadapi oleh sahabat-sahabatnya seolah dia juga yang harus menyelesaikannya sendiri.


"Mereka yang menikah lalu kenapa aku yang harus stress seperti ini". Gerutu Shinta lagi.


"Oh Tuhan aku harus kemana dan harus mengadu kepada siapa?". Seru Shinta kesal bahkan sampai menitikkan air matanya.


Shinta sebenarnya secara diam-diam sudah mencari-cari rumah yang cocok untuknya karena dia ingin segera pindah dari mansion Maira. Shinta yakin jika dia sudah memiliki rumah maka Maira tidak akan biasa memaksa dirinya untuk tetap tinggal di mansion nya namun nasib malang seolah sedang menghantui hidupnya, beberapa rumah yang sudah dia lihat tidak ada yang cocok dengan dirinya baik itu letak, bentuk atau bahkan harganya yang terlalu mahal.


Benar saja, Shinta yang terlalu lelah dengan semua masalah yang sedang dia hadapi itu bukannya menyelesaikan semua berkas-berkas yang di serahkan oleh Ricko tadi, wanita itu justru tertidur pulas di atas mejanya karena kelelahan setelah puas menangis sendirian sejak tadi.


Wanita itu baru terbangun ketika Maira masuk ke dalam ruangannya dan membangunkannya untuk makan siang, ya seperti biasanya Maira akan selalu membawa makan siang sehat untuk dirinya dan juga Rian ke kantor dan mereka akan makan bersama.


"Shin, kamu tertidur?". Tanya Maira.

__ADS_1


"Oh ya ampun, aku tertidur ya, sudah jam berapa ini?". Tanya Shinta balik.


"Ini sudah jam makan siang, ayo kita ke ruang mas Rian". Ajak Maira.


"Duluan saja Ra, aku mau ke kamar mandi dulu nanti aku akan menyusul". Jawab Shinta.


"Aku akan menunggu di sini, cepatlah ke kamar mandi". Ujar Maira yang sangat posesif kepada sahabatnya itu, Maira bahkan ingin memastikan jika Shinta akan makan siang bersama dia dan suaminya.


Shinta sangat jengah mendengar jawaban Maira dan semua sikap posesif sahabatnya itu namun dia tidak ingin melukai hati Maira sehingga dia hanya bisa menurut saja tanpa ingin berdebat apalagi dia juga takut jal itu akan berpengaruh pada kesehatan mental Maira yang belum stabil sepenuhnya.


Saat makan siang berlangsung Maira kembali menunjukkan sikap acuhnya kepada Rian dan memaksa Shinta untuk melayani Rian seperti menaruhkan nasi ke dalam piring suaminya, wanita itu berdalih agar kelak jika Shinta sudah memiliki suami dia akan terbiasa melayani suaminya sebagai seorang istri.


Hal tersebut mungkin sudah biasa bagi Shinta dan juga Rian yang sudah tahu tentang rencana Maira namun bagi Ricko yang kebetulan hari ini ikut makan siang bersama mereka terkesan sedikit aneh karena sikap Maira itu terkesan sedikit berlebihan namun pria itu tidak berani bertanya atau mengomentari tentang sikap dari istri majikan sekaligus sahabatnya nitip karena pria itu memang tidak pernah mau ikut campur tentang permasalahan pribadi Rian dan Maira.


Namun Rian menyadari jika tatapan aneh asisten pribadinya itu seolah mengisyaratkan sejuta tanya dengan sikap istrinya sehingga dia memutuskan untuk menceritakan semua kepada Ricko mungkin pria itu bisa memberikannya solusi apalgi selam ini Ricko memang selalu bisa di andalkan untuk menangani setiap masalah yang di hadapi oleh Rian.


"Semua yang kamu lihat tadi memang bukan hal yang wajar Ko". Ujar Rian ketika mereka tinggal berdua saja di ruangan tersebut.


"Maaf tuan, maksud anda apa?". Tanya Ricko penasaran.


"Hah, Maira, istriku sendiri yang sangat aku cintai berencana menikahkan aku dengan sahabatnya sendiri Shinta". Ujar Rian datar.


Deg....

__ADS_1


Wajah Ricko pucat mendengarkan perkataan majikannya yang benar-benar di luar nalar itu. Dia tidak menyangka jika ada wanita jaman sekarang yang ingin suaminya sendiri menikah dengan wanita lain yang bahkan sahabatnya sendiri apalagi pria itu juga menjadi salah satu saksi perjuangan cinta Rian dan Maira yang tidaklah mudah.


__ADS_2