
Berhari-hari sudah Maira mendiamkan suaminya, dia bahkan terkesan menghindar dari Rian sehingga membuat Rian kewalahan menghadapi sikap kekanak-kanakan Maira itu. Tuan Dhika juga bingung melihat anak dan menantunya itu karena tidak biasanya mereka saling diam bahkan cenderung tidak saling bicara. Rian memang berusaha sebisa mungkin untuk tetap berkomunikasi dengan istrinya namun Maira selalu mengacuhkannya.
"Kalian ada masalah?". Tanya tuan Dhika penasaran dengan perubahan sikap Maira.
"Biasa pa, hanya masalah kecil". Bohong Rian, pria itu tidak mau sampai tuan Dhika tahu apa yang sebenarnya terjadi karena dia tidak ingin menambah beban pada papanya itu.
"Jangan sepelekan masalah kecil karena lama-lama itu bisa menjadi besar jadi selesaikan sebelum terlambat". Ujar tuan Dhika.
"Baik pa". Jawab Rian patuh.
Rian memeluk istrinya dari belakang saat mereka sedang tidur, ya entah mengapa selama beberapa hari ini Maira selalu tidur dengan membelakangi suaminya. "Apa salahku?". Bisik rian di telinga Maira lirih.
Maira tidak menjawab apapun, wanita itu hanya diam seribu bahasa namun air matanya tidak dapat di bendung nya. "Tidakkah kamu merindukan ku dan ingin memeluk ku seperti setiap saat kamu lakukan?". Tanya Rian lagi.
Melihat istrinya tidak memberi respon apapun Rian membalikkan tubuh Maira dan mengecup kening istrinya itu. "Tidak ada salah dari ini semua sayang, aku ada di sini untuk mu, katakan apapun yang kamu inginkan dan aku akan selalu berusaha memenuhinya". Ujar Rian lembut.
"Sayang kita akan lakukan apapun yang dokter katakan untuk kesehatan mu, aku janji akan selalu menemanimu dalam keadaan apapun, apakah kamu ragu akan hal itu?". Sambung Rian lagi.
Tangis Maira langsung pecah yang mendengar semua perkataan suaminya itu. Wanita itu memeluk erat suaminya dan menangis sejadi-jadinya meluapkan semua rasa kecewa yang dia rasakan di dalam hatinya selama ini karena dia merasa dia bukanlah istrinya dan wanita yang sempurna karena tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya.
__ADS_1
Rian membiarkan hal itu terjadi agar Maira bisa menumpahkan segala emosi dan rasa kecewa yang ada di dadanya dan dia berharap jika setelah ini istrinya itu bisa berpikir jernih dan tidak lagi menyalahkan takdir apalagi menyerah begitu saja dengan semua keadaan yang ada karena menurutnya setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya.
"Maafkan aku mas". Ujar Maira lirih ketika dirinya sudah sedikit lebih tenang.
"Tidak ada yang salah sayang hanya saja sikap kamu menghadapi ini semua yang keliru". Jawab Rian.
"Aku tahu, tapi aku benar-benar tidak siap dengan ini semua". Ujar Maira lirih.
"Dengarkan Aku". Ujar Rian sambil menatap mata istrinya intens. "Dokter sudah bilang bukan, kita bisa melakukan banyak hal untuk mencari solusi untuk masalah yang sedang kita hadapi saat ini, lagi pula kamu sendiri yang bilang ke aku jika tidak akan ada yang berubah di antara kita apapun yang terjadi". Tegas Rian meyakinkan Maira.
"Iya mas kamu benar, kita akan lakukan semua yang di sarankan oleh dokter kepada kita dan kita akan baik-baik saja selama kita bersama". Maira kembali memeluk suaminya dengan erat.
Jika di tanya apa tuan Dhika dan para sabahat Maira mengetahui kondisi Maira yang sebenarnya maka jawabannya adalah mereka awalnya tidak tahu menahu akan hal tersebut namun lambat laun Maira merasa jika dia perlu mengatakan kepada papanya dan juga sahabat-sahabatnya tentang kondisinya karena walau bagaimanapun Maira akan sangat membutuhkan dukungan dari mereka semua.
Tuan Dhika adalah orang pertama yang di katakan oleh Maira akan kondisinya, bisa di bayangkan betapa pria paruh baya itu sangat terpukul mendengar apa yang di katakan oleh Maira namun di satu sisi dia tidak ingin menunjukkan rasa sedihnya di hadapan putrinya itu karena dia tidak ingin Maira semakin sedih dan terpuruk akan kondisinya itu.
"Papa akan datangkan dokter dari belahan dunia manapun asalkan mereka bisa menyembuhkan kamu sayang, kamu tenang saja selama ada papa di sini". Ujar tuan Dhika lembut kepada putrinya itu.
Mendengar hal itu tentu saja semangat Maira menjadi naik berkali-kali lipat. Begitu juga saat di menceritakan perihal keadaannya kepada para sahabatnya Shinta dan Anna, mereka sangat mendukung Maira untuk terus melakukan yang terbaik untuk bisa memiliki keturunan seperti yang dia impikan selama ini apalagi dengan semua kekuasaan dan kekayaan yang di miliki Maira tentu saja hal itu tidaklah mustahil baginya.
__ADS_1
"Semangat Ra, aku yakin kamu pasti bisa memiliki baby yang super cute sama seperti baby Kaisar ku ini". Celetuk Shinta mencairkan suasana yang mengharu biru tadi.
"Kaisar anakku bukan anakmu". Bantah Anna, wanita itu juga mencoba mencairkan ketegangan yang terjadi di dalam kamarnya itu saat Maira berkunjung dan menceritakan semua hal yang dia alami.
"Sama saja lagi pula saat dia masih dalam kandungan banyak sekali orang yang repotkan terutama aku jadi dia juga anakku, aku yang selalu menyiapkan makanan yang di inginkan oleh mommy nya dan selalu kena amukan dari daddy nya, sungguh menyedihkan hidupku ini di anak tirikan di rumah ini". Saut Shinta.
"Kamu berlebihan sekali, padahal kamu juga sering merepotkan kami". Celetuk Anna.
"Hei, aku juga sangat di repotkan olehnya mereka bahkan saat kami berada di Swiss akulah yang selalu menjaga mereka jadi dia juga anakku". Ujar Maira tak mau kalah.
"Kalian berdua benar-benar tidak punya rasa iba sama sekali kepadaku, kalian berdua masih bisa hamil dan punya anak lagi karena kalian sudah punya pasangan jadi biarkan saja Kaisar menjadi anakku, aku bahkan tidak punya kekasih bagaimana mungkin aku bisa memiliki anak". Ucap Shinta lirih.
"Kamu ini selalu saja menyangkut pautkan kekasih, pasangan atau suami sehingga membuat hidupmu seolah sangat menyedihkan, kamu pikir hidup tanpa pasangan akan membuatmu berhenti bernapas". Bantah Anna lagi.
"Hehe, tidak juga sih tapi begitulah kira-kira kesepian yang aku rasakan apalagi saat melihat kalian bersama dengan pasangan kalian dan aku hanya sendirian, Kaisar sayang kamu juga bisa merasakan apa yang aunty rasakan kan nak?". Tanya Shinta kepada Kaisar yang sejak tadi hanya memejamkan matanya.
"Jangan rusak pikiran anakku dengan drama bodohmu itu" Celetuk Maira.
Begitulah kegiatan sahabat itu selalu menghabiskan waktu mereka baik dalam suka maupun duka, mereka selalu saling menguatkan satu sama lain bahkan mereka akan selalu ada untuk satu sama lain dalam keadaan apapun sehingga Maira tidak akan ragu menceritakan apapun kepada Shinta dan Anna karena mereka akan selalu memiliki solusi untuk setiap masalah yang sedang dia hadapi.
__ADS_1
...----------------...