
"Tuan mengapa harus menyiksa nona Maira sedangkan dia tidak bersalah dalam hal ini, bukankah dia juga korban sama seperti anda". Ujar Ricko yang terkadang tidak sampai hati melihat Maira selalu di bebani oleh Rian dengan setumpuk pekerjaan yang tidak ada habisnya namun anehnya wanita itu tidak pernah mengeluh sedikitpun.
Usaha Ricko untuk terus berusaha menyadarkan Rian ternyata tidaklah sia-sia karena Rian lambat laun semakin bisa menerima kehadiran Maira secara profesional tanpa menyangkut pautkan masalah pribadi mereka apalagi kinerja Maira juga sangat bagus untuk seorang pemula.
Rian yang harus keluar negeri untuk urusan bisnisnya juga mengajak Maira karena Ricko yang kebetulan harus mengawasi sebuah proyek yang berada di jakarta. Awalnya Rian ragu jika Maira bisa ikut karena seperti yang dia ketahui jika Maira sudah menikah dan belum tentu Dewa mengizinkan istrinya itu untuk ikut namun di luar dugaan ternyata Maira sangat antusias karena di ajak ke luar negeri dimana dia tidak pernah sekalipun pergi ke sana apalagi ini pengalaman pertamanya naik pesawat.
"Oh ya ampun tuan, saya benar-benar di ajak ke luar negeri?". Tanya Maira masih tidak percaya.
"Tentu saja, itupun jika suamimu mengizinkannya". Jawab Rian datar.
"Tentu saja, dia tidak pernah melarang saya melakukan apapun yang saya mau, lagipula ini pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri dan naik pesawat". Jawab Maira polos.
"Suamimu tidak pernah mengajakmu sebelumnya?". Tanya Ricko penasaran, Rian dan Ricko saling tatap karena tidak menyangka di balik penampilan Maira yang modis ini wanita itu bahkan belum pernah pergi ke luar negeri.
"Tidak pernah tuan, padahal ibu mertua selalu mengatakan kepada mas Dewa untuk mengunjungi mereka di Jerman tapi mas Dewa tetap saja tidak mau mengajak saya". Jawab Maira lirih dengan wajah yang tampak sedih.
"Ah, lupakan saja tentang itu, apa saja yang harus saya persiapkan tuan karena saya tidak punya paspor?". Lanjut Maira.
"Kamu tidak perlu memikirkan tentang itu, biar itu menjadi urusan Ricko, siapkan saja baju-bajumu". Ujar Rian.
Maira segera menyiapkan segala keperluannya untuk keluar negeri dengan sangat antusias, dia juga di bantu oleh Tini namun dia teringat akan sesuatu yaitu mengatakan kepada Dewa tentang kepergiannya itu karena walaupun bagaimanapun Dewa tetaplah suami Maira jadi dia kana tetap menghargai suaminya itu.
Entah secara kebetulan atau bagaimana, Dewa sudah dia hari tidak pulang ke rumah sehingga Maira tidak bisa meminta izin secara langsung dia hanya menitipkan pesan kepada Tini jika dia akan ke luar negeri untuk urusan pekerjaannya.
__ADS_1
Maira sudah siap berangkat dengan setelan dress cantik di bawah lutut dan tanpa lengan yang melekat di tubuhnya dan sebuah tas selempang yang dia kenakan dan tidak lupa pula sebuah koper ukuran sedang yang dia dorong di tangannya. Sebenarnya tidak ada yang salah dari penampilan Maira namun wanita itu tidak tahu jika tujuannya bersama Rian adalah negara yang saat ini sedang mengalami musim salju, tentu saja dengan penampilan Maira yang seperti itu wanita itu akan kedinginan ketika sampai di sana.
Sesampainya di bandara, Rian mengamati penampilan Maira. "Apa kamu yakin akan mengenakan pakaian seperti ini?". Tanya Rian.
"Memangnya ada yang salah dengan penampilan saya tuan?". Tanya Maira sambil melirik ke kiri dan ke kanan.
"Tidak ada, ayo sekarang kita berangkat". Jawab Rian tak mau ambil pusing dengan apa yang Maira kenakan karena mungkin saja wanita itu sudah menyiapkan baju tebal di kopernya.
Maira sangat terkejut ketika pesawat yang dia tumpangi ternyata bukanlah pesawat pada umumnya melainkan privat jet milik sang majikan, wanita itu tidak membayangkan jika tuannya itu tenyata memiliki kekayaan sebanyak itu.
"Ya ampun, ternyata anda sangat kaya raya tuan". Gumamnya yang tidak sengaja terdengar oleh Rian.
"Kenapa?". Tanya Rian penasaran.
"Tidak ada tuan, maaf karena saya meragukan kekayaan anda, hehe". Jawab Maira cengengesan sehingga membuat rian menggelengkan kepalanya.
Rian memandang lekat-lekat wajah cantik Maira, entah apa yang ada di benaknya namun Rian merasa ada hal menarik dalam diri gadis itu yang membuatnya merasa nyaman jika Maira sedang berada di dekatnya dan lebih anehnya lagi Rian justru merasa khawatir jika Maira susah pulang ke rumah suaminya yang jelas-jelas Rian tahu jika pria yang menjadi suami Maira bukanlah pria baik dan setia.
Enam bulan sudah Maira bekerja kepada Rian namun tidak sekalipun Rian melihat Dewantara mengantar atau menjemput Maira ke kantor karena wanita itu selalu mengendarai mobilnya sendiri, bahkan Rian juga tidak pernah mendengarkan Maira sedang mengobrol dengan suaminya itu.
Melihat ponsel Maira yang tergeletak begitu saja di sampingnya, membuat rian penasaran dan ingin melihat bagaimana isi ponsel Maira agar dia tahu bagaimana hubungan antara Maira dan Dewantara sebenarnya.
Rian mengambil ponsel itu secara perlahan dan membukanya, melihat isi pesan dan panggilan namun anehnya di sana tidak ada sama sekali panggilan dari Dewantara atau pesan dari pria itu karena ponsel itu hanya berisikan nomor ponsel empat orang saja yaitu ibu mertua, Tini, Tuan Ricko dan Tuan sombong.
__ADS_1
"Tuan sombong?". Tanya rian bingung, kemudian dia menyadari jika itu adalah nomor ponselnya. "Jadi dia menamai ku dengan tuan sombong, berani sekali dia". Gumam Rian sambil menatap kesal kearah Maira.
"Tapi mana nomor ponsel Dewantara, apa dia sama sekali tidak menyimpannya atau dia bisa menghafalnya sehingga dia tidak perlu menyimpannya?". Rian kembali menatap Maira dengan seribu pertanyaan di benaknya namun untuk terlibat terlalu jauh dalam urusan rumah tangga Maira, Rian juga tidak mau karena selain suami Maira adalah musuhnya, hal itu juga bukan urusannya dan tidak ada hubungannya dengan Rian.
Karena perjalanan mereka akan segera berakhir, Rian kembali meletakkan ponsel Maira pada tempat semula dan segera membangunkan wanita itu. Maira merasa lebih segar setalah tidur sepanjang perjalanan namun dia merasa ada yang aneh dengan kondisi tubuhnya tapi dia berpikir jika hal itu wajar karena baru pertama kalinya dia melakukan perjalanan melalui jalur udara.
"Ayo kita turun". Titah Rian yang langsung turun terlebih dulu lengkap d ngan baju tebalnya.
"Baik tuan". Jawab Maira singkat.
Begitu Maira menginjakkan kaki di negara orang, Maira langsung merasakan hawa dingin yang begitu luar biasa bahkan menusuk sampai ke tulangnya. Maira melihat ke sekelilingnya dan melihat semua orang mengenakan baju tebal dan hanya dia sendiri yang menggunakan pakaian yang sangat santai dan ada hamparan salju dimana-mana.
"Tuan disini musim salju?". Tanya Maira.
"Seperti yang kamu lihat".
"Tuan, kenapa tidak memberitahukan kepadaku?,aku bahkan tidak membawa baju tebal ku satupun".
"Kamu sendiri kenapa tidak bertanya?, ayo cepat mobil kita sudah tiba". Lagi-lagi Rian meninggalkan Maira begitu saja menuju mobil sehingga Maira terpaksa mengikutinya meskipun dia harus menyeret kakinya dengan susah payah, belum lagi tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya.
Melihat Maira kedinginan bahkan sampai membuat bibirnya membiru membuat Rian tidak sampai hati, padahal di dalam mobil yang mereka tumpangi sudah di atur penghangat mobil. "Apa kamu baik-baik saja?". Tanyanya.
"Iya". Jawab Maira kesal tanpa melihat kearah Rian sedikitpun karena dia marah kepada majikannya itu, tapi pertahanan Maira tidaklah bertahan lama karena lambat laun tubuh mungilnya itu secara perlahan tumbang di atas pangkuan Rian.
__ADS_1
"Maira". Seru Rian panik.
...----------------...