Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 22


__ADS_3

"Tunggu". Seru Rian dan dia sudah berhasil masuk ke kamar Maira.


Entah mengapa penampilan berantakan Maira tadi membuat terlihat sangatlah seksi di mata Rian sehingga pria itu kembali berimajinasi yang tidak-tidak di dalam otaknya. Apalagi dengan pipi dan hiding yang memerah bagaikan buah tomat akibat seharian menangis membuat wajah Maira terlihat semakin seksi.


Namun tentu saja tujuan Rian masuk ke kamar Maira bukanlah untuk mewujudkan segala pikiran kotor yang ada di otaknya, tapi dia tidak mau Maira kembali mengunci diri dan menghindari dirinya karena kejadian tadi siang belum lagi Rian juga khawatir jika Maira sakit akibat kebanyakan menangis dan makan tidak teratur.


"Untuk apa anda masuk ke kamar say tuan?". Tanya Maira kemudian langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.


"Aku mau menunggu mu di sini karena aku tidak sanggup berdiri di luar sana, cepat ganti pakaianmu dan kita akan makan malam di luar". Jawab Rian datar kemudian dia duduk tanpa permisi di atas sofa di kamar Maira.


"Tapi saya tidak mau makan dan tidak mau keluar juga, apalagi saya tidak punya baju tebal tuan". Tolak Maira sehalus mungkin agar Rian tidak marah.


"Justru karena kamu tidak punya pakaian musim dingin kita harus membelinya sekarang juga karena besok kita akan mulai jadwal pekerjaan kita yang sangat padat, ini". Rian kemudian melemparkan sebuah jaket tebal miliknya secara sembarang ke arah Maira hingga menutupi seluruh wajahnya.


"Tapi tuan-".


"Maira, aku benci jika harus menunggu lama". Sentak Rian dengan tatapan yang mengintimidasi.


Melihat hal tersebut sontak membuat Maira tidak berkutik lagi, wanita itu langsung bergegas melakukan hal yang di perintahkan oleh atasnya itu. Namun setelah sekian lama berdandan, ada yang aneh dari penampilan Maira yaitu wanita itu menggunakan masker penutup wajahnya, hal tersebut di lakukan karena Maira sangat malu menunjukkan bibir nakalnya di hadapan Rian setelah kejadian tadi.


"Kenapa memakai itu?". Tanya Rian.


"Tidak ada tuan, saya hanya tidak biasa saja dengan udara dingin jadi kalo saya alergi dan bersin-bersin nanti anda tidak akan tertular, karena ada ini". Jawab Maira dan Rian merasa itu jawaban yang sangat konyol.


"Ayo pergi, aku sudah kelaparan karena menunggumu".

__ADS_1


Rian langsung bergegas melangkah terlebih dulu karena dia memang benar-benar susah sangat lapar, sedangkan Maira harus berjalan dengan susah payah karena ukuran baju tebal yang dia gunakan sangatlah besar di tubuh mungilnya sehingga Rian beberapa kali memarahinya karena begitu lambat.


Setelah menyelesaikan makan malam mereka di restoran mewah, Rian kemudian memerintahkan para pengawalnya untuk mengantarkan mereka ke butik untuk berbelanja baju-baju musim dingin untuk Maira, awalnya Maira merasa tidak enak hati karena merepotkan atasannya itu namun setelah nada ancaman dari Rian, wanita itu tidak berkutik lagi.


"Cepat turun, pergilah cari baju yang sesuai dengan ukuran tubuh anak kecilmu itu". Titah Rian dengan nada merendahkan Maira.


"Tuan saya sudah dewasa bukan anak kecil lagi, buktinya saya sudah menikah sedangkan anda saja belum". Jawab Maira tak mau kalah karena ria memang sering kali mengejeknya seperti anak kecil dengan tubuhnya yang mungil itu.


"Benarkah kamu sudah menikah?, tapi kenapa berciuman saja tidak pernah hah?".


"Tuaaan". Seru Maira kesal karena Rian membahas lagi masalah ciuman mereka tadi siang, Maira yang kesal pergi meninggalkan Rian begitu saja di dalam mobil dan masuk ke dalam butik padahal dia sama sekali tidak mengerti bahasa Korea, Rian tertawa lepas melihat tingkah lucu Maira sampai-sampai membuat para pengawalnya saling tatap sama lain karena merasa aneh.


Baru sebentar Maira masuk ke dalam butik tersebut tapi wanita itu sudah keluar kembali dengan wajah memulainya beda dengan saat dia masuk tadi.


"Tuan!". Panggil Maira memelas.


"Maukah anda menemani saya masuk ke dalam?". Tanya Maira kemudian.


"Tidak, bukankah kamu kesal padaku tadi".


"Mana berani saya kesal kepada Anda, ayo tuan temani saya sebentar saja". Bujuk Maira lagi.


"Memangnya kenapa?". Tanya Rian pura-pura tidak tahu sebenarnya pria itu tahu mengapa Maira tidak berani masuk sendirian ke dalam sana.


Maira ragu mengatakannya karena merasa malu dengan Rian dan para pengawalnya. yang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi itu. Maira mendekatkan wajahnya ke telinganya Rian untuk membisikkan sesuatu namun Rian langsung menghindar untuk menggoda Maira.

__ADS_1


"Hei apa yang kamu lakukan, kamu mau mencium ku ya?". Tanyanya sambil menutupi wajahnya.


"Tuaan, berhentilah menggodaku, aku tidak mengerti bahasa mereka dan aku juga tidak punya uang dan juga kartu kredit ku tidak mungkin bisa digunakan untuk berbelanja di sini". Seru Maira dengan nada kesal.


Mendengar ocehan Maira bukan hanya para pengawal yang tertawa lepas, tanpa di sadari Rian juga tertawa terbahak-bahak bahkan kembali menjadi sorotan bagi para pengawal.


"Kalian puas sekali menertawakan ku, ayo pulang saja aku tidak mau belanja lagi". Ujar Maira kesal yang kembali masuk ke dalam mobil sambil membanting keras pintu mobil sehingga membuat Rian dan para pengawal terdiam.


"Ya sudah aku aman menemanimu jika kamu memang memaksaku, ayo". Rian menarik tangan Maira sehingga Maira harus mengikutinya walaupun wanita itu memberontak tidak mau ikut.


Jika banyak wanita berbelanja dengan wajah yang sangat antusias dan bahagia maka tidak dengan Maira, wanita itu terus memasang wajah kesalnya di hadapan Rian apalagi karena pria itu seperti menang mengerjai dirinya. Rian menyuruh Maira mencoba semua baju-baju yang akan mereka beli satu persatu dan jika Rian tidak menyukainya maka Maira harus mencoba yang lain lagi, padahal baju-baju itu Maira yang akan mengenakannya namun entah mengapa baju-baju tersebut harus mengikuti selera berpakaian dari Rian.


Apalagi bukan hanya beberapa pasang pakaian musim dingin yang mereka beli, pakaian-pakaian itu mencapai puluhan pasang bahkan Maira sampai menolaknya beberapa kali karena merasa tidak enak hati karena jika di lihat dari butiknya yang sangat mewah tentu saja harga baju-baju di sana sangatlah mahal-mahal.


"Tuan terimakasih sudah membelikan saya baju sebanyak ini padahal anda tidak perlu membelinya sebanyak ini". Ujar Maira dengan wajah memelas.


"Kita masih lama di sini, jadi tidak mungkin kamu menggunakan baju yang sama selama kita di sini". Jawab Rian.


"Tapi tuan-".


"Sudah diam saja, ayo sekarang kita pulang dan tidak perlu merasa tidak enak hati begitu karena itu semua tidak gratis".


"Tidak gratis?".


"Ini". Rian menyerahkan struk belanjaan di tangan Maira. "Jika di rupiahkan totalnya menjadi tiga ratus lima puluh juta, bekerja keraslah untuk membayar itu semua". Ujar Rian kemudian meninggalkan Maira begitu saja tanpa membantu wanita itu yang sangat kerepotan dengan belanjaan yang penuh di kedua tangannya.

__ADS_1


"Tiga ratus lima puluh juta?, Tuaaan". Seru Maira tidak terima. Dia tidak bisa membayangkan berapa tahun dia harus bekerja kepada Rian untuk membayar jumlah yang tersebut karena selama sudah bekerja Maira memang sudah tidak lagi menggunakan uang suaminya untuk memenuhi segala kebutuhannya.


...----------------...


__ADS_2