Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 50


__ADS_3

"Kau mau kemana hah, tidak ada yang gratis, kau harus membayar mahal untuk mendapatkan tanda tanganku di atas surat itu". Ujar Dewantara sambil mendekati tubuh Anna lalu menindihnya.


"Tu-tuan, apa yang anda inginkan". Jawab Anna dengan wajah pucat pasi dan berusaha sebisa mungkin agar tubuh Dewantara tidak menempel pada tubuhnya.


"Aku menginginkan mu, malam ini kau milikku". Ujar Rian kemudian melahap bibir Anna dengan brutal. Anna yang tidak pernah tersentuh oleh pria sebelumnya tentu saja sangat terkejut menerima serang tiba-tiba dari Dewantara itu sehingga membuat dia tidak berdaya menghadapi majikannya itu apalagi tubuh Dewantara yang tetap dan kelar itu bukanlah tandingannya.


Sungguh miris nasib wanita itu demi kesetiaan kepada sang majikan tuan Dhika Mahendra dia harus kehilangan hal yang sangat di jaga olehnya selama ini. Dalam ketidakberdayaannya Anna berusaha sebisa mungkin melepas diri dari Dewantara bahkan sampai berteriak meskipun dia tahu jika tidak akan ada satu orang pun yang mendengarkan dirinya karena selain ruangan itu kedap suara, rumah itu juga hanya di huni olehnya dan Dewantara saja.


"Tuan, Aku mohon lepaskan saya, anda bisa mengambil kembali surat tadi bahkan merobeknya tapi jangan lakukan ini kepada saya". Bujuk Anna di sela-sela aksi sang majikan.


"Aku tidak peduli dengan surat itu, kita bercerai ataupun tidak Aku juga tidak peduli karena yang Aku mau kau menjadi milikku malam ini karena Aku tidak akan membiarkan Rian Mahendra mendapatkan tubuhmu yang masih suci ini Maira , aku ingin melihatnya menangis darah karena melihat wanita yang di cintai telah berhasil Aku bawa ke dalam pelukanku sama seperti Ayuna dulu". Sentak Dewantara.


Deg....


Anna sungguh tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan, selain dia akan di lecehkan oleh majikannya sendiri, pria itu juga menganggap dirinya sebagai orang lain yaitu Maira, haruskah dirinya yang menjadi korban dalam hal ini bahkan di saat dia tidak bisa mendapatkan cintanya yang sejak lama telah dia tunggu.


Bukan hanya fakta jika Dewantara menganggap dirinya sebagai Maira yang Anna ketahui dari ucapan Dewantara tersebut namun juga dia bisa menyimpulkan bahwa pria itu sebenarnya tidaklah mencintai Maira dengan tulus melainkan hanya tidak ingin jika Rian sampai mengalahkan dirinya.

__ADS_1


"Tuan, anda salah orang, saya Tini bukan nona Maira". Ujar Anna lirih dengan air mata mengalir dari sudut matanya.


Namun sayangnya apapun yang di katakan oleh Anna dan sekeras apapun usahanya untuk lepas dari Dewantara nyatanya pria itu sama sekali tidak menggubrisnya. Dewantara melenyapkan satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Anna dengan sangat cepat dan tentu saja dengan sedikit kasar karena Anna terus melakukan perlawanan.


Dua anak manusia itu bak terlahir kembali tanpa sehelai benang pun melekat di tubuh mereka, melihat pemandangan indah di depan matanya membuat hasrat Dewantara sangat menggebu-gebu sehingga setelah puas berkeliaran di atas seluruh tubuh Anna dengan sentuhan bibir, lidah, hidung dan tangannya Dewantara bersiaplah untuk melakukan aksi puncak dimana kenikmatan sudah tergambar jelas di depan sana.


Ya, Anna adalah wanita yang sangat cantik dengan wajah blasteran yang dimilikinya tentu saja juga dengan kulit putih mulusnya itu. Hanya saja selama menjadi pelayan di rumah Dewantara wanita itu menggulung rambut pirang panjangnya sampai tidak terlihat jelas warna rambutnya itu, dia juga menggunakan kacamata tebal dan besar guna menutupi bentuk wajahnya agar tidak terlihat jelas meskipun hal itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan wanita itu.


Maka apa yang di kehendaki oleh Dewantara benar terjadi, tidak peduli dengan teriakan dan rintihan Maira yang memintanya berhenti atau dengan susahnya jalan yang harus di lalui oleh juniornya untuk melakukan penyatuan dengan Anna, hal itu nyatanya tetaplah terjadi dan seiring dengan hal itu pula Anna kehilangan hal yang sangat dia jaga dan dia banggakan selama ini.


Sakit, hanya itu yang bisa di rasakan oleh Anna saat ini selain batinnya yang sakit karena perlakuan Dewantara, kini fisiknya juga merasakan sakit luar biasa di bagian intinya ketika Dewantara memaksa untuk menerobos dirinya dengan benda tumpul milik pria itu.


"Arhhg". Suara dari bibir Dewantara itu adalah sebuah pertanda jika dia telah mencapai kenikmatan dan kepuasannya.


Sepanjang malam itu Dewantara tidur dengan nyenyak karena perjalanan indah yang telah di lalui bersama Anna, sedangkan sendiri Anna menangisi nasib buruknya sehingga dia terlelap di samping Dewantara karena merasa kelelahan.


Sebenarnya dia ingin sesegera mungkin pergi dari kamar itu namun nyatanya dia tidak sanggup apalagi dengan rasa sakit yang sulit di gambarkan di bagian intinya itu membuatnya susah berjalan.

__ADS_1


Namun tenyata keputusan Anna tidak segera pergi dari kamar tersebut adalah sebuah kesalahan besar karena beberapa jam kemudian nyatanya Dewantara kembali menyerang dirinya, maka bisa di bayangkan bagaimana kondisi Anna saat itu jangankan untuk melawan bahkan untuk menangis saja dia sudah tidak mampu lagi.


"Tuan saya mohon sadarlah dan hentikan semua ini karena saya bukan nona Maira, saya Tini tuan". Ucapan itulah yang terakhir kali di ucapkan oleh Anna sebelum akhirnya dia pingsan setelah kesekian kalinya Dewantara menuntaskan hasratnya kepada dirinya.


Anna tidak sadarkan diri namun Dewantara lah yang akhirnya sadar jika wanita yang telah berkali-kali di gagahi itu ternyata bukanlah istrinya Maira, namun pelayannya bernama Tini.


Wajah Dewantara pucat pasi saat menelisik dengan teliti wajah yang saat ini berada tepat di hadapannya itu, wajah cantik sama sekali tidak asing di matanya itu adalah Tini. Pandangan Dewantara menyusuri seluruh tubuh indah milik Anna dan melihat berapa kejam perbuatan terhadap Anna semalam ini.


Banyak sekali bekas kepemilikan yang bertebaran hampir di seluruh tubuh Anna, bukan berwarna merah namun warna dominan yang terlihat adalah merah keunguan yang menunjukkan bahwa begitu buasnya dia menyerang tubuh Anna bahkan sampai berkali-kali itu.


Dewantara mengutuk perbuatannya terhadap Anna, sungguh dia tidak tega melihat kondisi Anna apalagi saat ini wanita itu sampai tidak sadarkan diri sehingga dia langsung menghubungi dokter pribadinya untuk memeriksa kondisi sang pelayan meskipun saat ini pukul masih menunjukkan jam enam pagi.


"Shiit, apa yang sudah aku lakukan pada wanita ini, oh Tuhan apa salahnya sampai dia yang jadi korban atas kebodohanku ini". Umpat Dewantara sambil berpakaian karena dia sedang menunggu kedatangan dokter, Dewantara juga tidak lupa menutupi seluruh tubuh Anna dengan selimut sampai batas leher.


Namun pemandangan yang kembali membuat hati Dewantara teriris adalah adanya bercak darah di atas sprei miliknya yang menandakan jika wanita yang telah dia gagahi semalam itu masih suci dan belum tersentuh sebelum namun sayangnya dia telah merusak hal itu karena kebodohan yang dia lakukan.


"Tini, maafkan aku, meskipun aku tahu jika tidak akan ada yang bisa ku lakukan untuk menebus kesalahanku". Ujar Dewantara lagi sambil membelai rambut Anna.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2