Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 31


__ADS_3

Setibanya di perusahaan Rian langsung menuju ruangannya karena sesuai dengan permintaannya ketiga karyawan tersebut sudah berada di ruangannya dan tidak lupa Maira yang harus selalu berada di sampingnya bahkan sepanjang perjalanan menuju ruangannya Rian menggenggam erat tangan Maira tanpa peduli tatapan para karyawannya yang penuh tanda tanya.


Maira yang merasa risih selalu mencoba melepaskan genggaman tersebut namun tangan mungil Maira tidaklah sanggup untuk melawan tangan besar Rian yang menggenggam tangannya dengan sangat erat itu.


"Ko, apa mereka sudah berada di dalam?". Tanya Rian kepada Ricko saat melihat pria itu keluar dari ruangannya.


"Sudah tuan, tapi saya sarankan kontrol emosi anda tuan". Jawab Ricko namun Rian tidak menggubrisnya dan langsung menarik Maira bersamanya. Ricko hanya bisa menghela napas kasar dengan tingkah kekanak-kanakan majikannya itu, Ricko hafal betul jika Rian memang seperti itu jika sedang jatuh cinta.


"Hukuman apa yang pantas atau yang ingin kamu berikan untuk mereka Maira?". Tanya Rian kepada Maira ketika mereka berdiri tepat di hadapan ketiga wanita tersebut yang berdiri sambil menundukkan wajah mereka yang pucat pasi tersebut.


"Tuan, jangan perpanjang lagi masalah ini karena mungkin mereka punya alasan melakukan hal itu dan saya yakin setelah hari ini mereka tidak akan berani mengulangi kesalahan seperti ini lagi". Jawab Maira datar.


Rian menatap tajam ke arah Maira ketika mendengar jawaban Maira yang sangat tidak memuaskan hatinya, di saat dia berusaha membelanya di depan para wanita yang berniat mencelakai Maira, wanita itu justru ingin memaafkan mereka begitu saja.


"Kalian bertiga keluar dari sini sampai aku memanggil kalian lagi". Ucap Rian tegas.


Setelah ketiga orang wanita tersebut pergi, Maira ingin meninggalkan Rian begitu saja tanpa mau menjelaskan apapun kepada pria itu namun Rian menahannya. "Kenapa kamu melakukan hal ini Maira?". Sentak Rian.


Maira menghempaskan tangan Rian dan berkata "Karena saya tidak berhak mendapatkan pembelaan seperti ini tuan". Sentak Maira.


"Kamu pantas sayang, sangat pantas karena kamu adalah-".

__ADS_1


"Adalah apa?, karena saya simpanan anda?, karena saya istri orang dan kita menjalin hubungan tanpa status ini dan ingin anda tunjukkan di depan semua orang sehingga membuat saya malu karena di rendahkan oleh semua orang, tuan bukan anda yang akan menanggung semua ini tapi saya, saya akan di cap sebagai wanita rendahan yang mencampakkan suami saya hanya untuk berselingkuh dengan atasan saya sendiri. Semakin anda menunjukkan kepada semua orang maka semakin saya akan di pandang rendah oleh mereka". Sentak Maira meluapkan amarahnya terpendamnya.


"Maira, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi". Ujar Rian lirih.


"Lalu apa tuan?, apa anda akan menentang seluruh dunia hanya demi wanita seperti saya, tidakkah hati anda ragu jika saya bisa mengkhianati suami saya sendiri saya juga mengkhianati anda suatu saat nanti".


Rian terdiam mendengar pertanyaan Maira tersebut, dia tidak dapat berkata apapun karena dia sendiri masih merasa trauma akan pengkhianatan Ayuna di masa lalu. Melihat Rian hanya diam saja sambil menunduk Maira memutuskan untuk meninggalkan Rian begitu saja karena semakin dia berada di dekat Rian semakin hatinya terluka, entah mengapa wanita itu menjadi sangat sensitif akhir-akhir ini.


Ricko yang mengetahui jika sedang terjadi hal yang tidak beres dengan Maira dan Rian langsung menawarkan diri untuk mengantarkan Maira kemanapun wanita itu ingin pergi karena jika di lihat dari raut wajahnya, emosi Maira sedang tidak stabil sehingga ricko tidak ingin Maira menyetir sendirian.


"Nona Maira, anda mau kemana?, biar saya antarkan saja". Ujar ricko menghadang langkah Maira.


"Tidak perlu tuan Ricko, saya bisa sendiri, terimakasih". ajaran Maira singkat kemudian melanjutkan lagi langkahnya.


Maira menuju mobilnya dan langsung membelah jalanan dengan mobil yang dia kendarainya dengan cukup kencang itu, rumahnya adalah tujuannya saat ini, karena di sana tidak akan ada yang mengganggunya karena suasana rumahnya yang sepi dan hanya ada Tini seorang, pelayan sekaligus sahabatnya itu.


Namun betapa terkejutnya Maira ketika dia masuk ke dalam rumah langsung di sambut oleh suaminya, Dewantara.


"Maira, kamu sudah pulang, kemana saja semalaman ini, aku menghubungi beberapa kali tapi tidak ada jawaban". Ujar Dewa panik.


"Ma-mas, kamu masih di rumah?". Tanya Maira bingung karena biasanya jam segini Dewa sudah pergi ke kantor.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku kerja sedangkan aku tidak tahu dimana keberadaan mu". Jawaban Dewa lagi-lagi membuat Maira sangat terkejut. "Apa kamu baik-baik saja Maira?". Tanya Dewa lagi.


"Aku tidak apa-apa mas, tadi malam aku-". Perkataan Maira terpotong karena Dewantara yang tiba-tiba langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Syukurlah Maira, aku sangat mengkhawatirkan mu bahkan aku tidak bisa tidur semalaman ini, mulai sekarang kemanapun kamu pergi beritahu aku atau minta aku untuk mengantarkan mu kemana saja". Ujar Dewa dengan sangat lembut sehingga membuat rasa bersalah Maira semakin membesar. Dewa tidak peduli lagi tentang alasan Maira yang tidak pulang tadi malam karena melihat Maira dalam keadaan baik-baik saja sudah cukup membuatnya bahagia.


Inilah untuk pertama kalinya Dewantara memeluk Maira secara langsung dan untuk pertama kalinya juga Dewantara mengkhawatirkan keberadaan Maira. Hati Maira merasa sangat bersalah apalagi ketika dia mengetahui jika suaminya itu tidak tidur semalaman hanya untuk menunggunya pulang sedangkan dia tidur nyenyak di dalam pelukan pria lain.


Setelah sekian lama, Dewantara melepaskan pelukannya dan tersenyum kearah Maira sambil membelai wajah istrinya itu. "Kamu sudah sarapan?". Tanya Dewa kemudian.


"Su-sudah mas". Jawab Maira canggung, jujur Maira sangat tidak terbiasa dengan sikap lembut dan perhatian Dewa kepadanya meskipun pria itu adalah suaminya karena selama ini mereka tinggal di rumah yang sama namun di dunia yang berbeda.


"Ayo, ikut aku". Ujar Dewa sambil menarik tangan Maira namun Maira tidak mengikuti langkah Dewa begitu saja.


"Mau kemana mas?". Tanya Maira.


"Temani aku beristirahat sebentar saja, sejak tadi malam aku tidak bisa tidur". Bujuk Dewa dengan wajah tampak lesu, sepertinya dia tidak berbohong jika semalaman dia memang tidak tidur walau sebentar saja.


Karena kasihan melihat kondisi suaminya Maira mengikuti kemauan Dewa. Maira di minta oleh Dewa berbaring tepat di sampingnya namun anehnya pria itu terus menggenggam tangan Maira tanpa melepaskannya sedikitpun padahal dia sudah tertidur pulas seolah-olah dia sangat takut jika Maira pergi lagi darinya.


"Kamu suamiku mas, tapi anehnya aku malah canggung tidur di ranjang yang sama denganmu dan aku malah nyaman ketika tidur di pelukan pria lain, maafkan aku. Jika saja dari dulu kamu bersikap seperti ini mungkin tidak akan ada dia di antara kita". Batin Maira sambil menghapus air matanya yang tidak terasa jatuh seketika.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2