
Jangan berpikir jika Dewantara dan Anna sedang sibuk menyiapkan serba-serbi rencana pernikahan mereka meskipun kedua memang sudah sepakat untuk menikah karena Dewa tidak akan menikahi Anna dalam waktu dekat ini dia ingin wanita yang di cintainya itu fokus untuk rencana persalinan terlebih dulu baru kemudian Anna baru boleh memikirkan hal lain termasuk pernikahan.
Dewa tidak ingin Anna stress apalagi sampai kelelahan di masa hamil tuanya itu sehingga dia sangat memanjakan Anna dan tidak membiarkan wanita itu berpikir terlalu keras. Persalinan Anna tinggal menghitung hari saja semua persiapan sudah sangat matang di siapkan oleh Dewantara dan keluarganya termasuk dimana dan dengan siapa akan melakukan persalinan nanti.
Dewa sendiri juga sudah tidak masuk ke kantor lagi karena dia akan selalu berada di dekat Anna selama dua puluh empat jam. Anna benar-benar di jadikan ratu oleh pria itu bahkan pengasuh untuk merawat anak mereka kelak juga sudah ada padahal Anna sudah menolak keras jasa pengasuh karena dia ingin merawat sendiri anaknya namun Dewa tetap bersikeras agar mereka menyewa jasa pengasuh untuk bayi mereka.
Saat kedua orang tuanya bertanya mengapa tidak segera melangsungkan pernikahan sebelum Anna melahirkan maka Dewantara akan menjawab. "Kali ini aku menikah atas keinginan ku dan dengan wanita yang sangat aku cintai jadi sudah sewajarnya aku ingin pesta pernikahan kami di rayakan secara meriah dan aku ingin pengantin wanitaku menjadi pengantin wanita tercantik di dunia sehingga aku akan sabar sampai Anna melahirkan dan aku juga akan setia menunggu proses penyembuhannya sampai Anna benar-benar pulih dan siap untuk pesta pernikahan kami nanti". Ujar Dewantara tegas.
Tentu saja perkataan Dewantara itu tidak bisa terbantahkan lagi dan semua orang juga menyetujuinya karena mereka juga tidak ingin Anna sampai kelelahan dan stress di saat dia sedang fokus pada hari persalinannya yang semakin dekat itu bahkan nyonya Dewi dan tuan Anwar sangat bangga kepada putranya yang telah banyak berubah saat ini cinta Dewantara kepada Anna telah mengubah pria itu semakin Dewantara dan tidak egois lagi.
Anna merasa sangat tersanjung saat mendengar apa yang di ucapkan oleh calon suaminya itu karena dia tidak menyangka jika Dewantara akan mencintai dirinya sedalam itu apalagi Anna sangat mengenal baik sifat asli Dewantara dulu saat dia masih menjadi suami Maira.
Maira sendiri di luar dugaan semua orang telah menyelesaikan study nya lebih cepat dari perkiraan semua orang termasuk Rian, wanita itu rupanya sangat bersemangat pulang ke Indonesia dan ikut menemani Anna menjalani proses persalinannya. Maira juga sudah tidak ingin stress memikirkan study nya lagi karena dia akan fokus untuk segera hamil dan memiliki bayi secepatnya.
"Kamu sudah siap sayang?". Tanya Rian kepada Maira, mereka hari ini berencana kembali ke indonesia dan memberi kejutan kepada Anna dan juga semua orang karena mereka tidak mengatakan jika mereka akan kembali ke indonesia.
"Ya suamiku aku sudah siap, aku sudah tidak sabar bertemu dan memberi kejutan untuk Anna". Jawab Maira penuh semangat.
Sesampainya di Indonesia orang pertama yang akan Maira temui tentu saja adalah Anna, entah mengapa wanita itu seperti sangat terobsesi dengan kehamilan Anna seolah-olah dia tengah menantikan hari kelahiran bayinya sendiri bahkan terkadang membuat suaminya Rian sampai khawatir akan hal itu. Maira juga bahkan tidak memprioritaskan untuk bertemu dengan papanya terlebih dulu hanya demi bertemu dengan Anna.
__ADS_1
Sebenarnya bukan hanya Rian yang merasa jika tingkah berlebihan Maira terhadap kehamilan Anna ini menjadi terlihat sedikit aneh, semua orang juga merasakan hal yang sama namun mereka tidak ingin membuat Maira kecewa dan bersedih karena protes mereka terhadap sikap Maira tersebut terlebih Anna, karena jika Anna yang melarang atau menyarankan agar Maira tidak terlalu berlebihan terhadapnya dan juga kehamilannya maka Maira akan merasa jika Anna tidak lagi membutuhkannya sekarang padahal selama di Swiss Maira lah yang selalu ada untuknya.
"An, aku datang. Oh ya ampun bayiku ini semakin besar saja, pasti kamu sangat merepotkan mommy mu ya nak". Ujar Maira gemas dengan perut Anna dan langsung mengelus-elus sayang perut buncit tersebut.
"Maira, kamu sudah pulang?". Tanya Anna heran karena biasanya Maira akan memberitahukan tentang kepulangannya.
"Tentu saja aku akan pulang, bagaimana bisa aku tidak bertemu dengan anakku ini saat pertama kali dia melihat dunia ini".
"Oh ya ampun, kamu pasti sangat kerepotan harus pulang pergi dari Indonesia ke Swiss".
"Tidak usah khawatir, aku tidak akan kembali lagi ke Swiss karena urusan perkuliahan ku di sana sudah selsai dan aku bisa fokus untuk segera punya baby sama seperti dirimu".
Anna tersenyum simpul menanggapi perkataan Maira karena wanita itu selalu saja membahas tentang kehamilan di saat pasangan pengantin baru lainnya di usia pernikahan yang masih seumur jagung seperti Maira justru masih memikirkan tentang bulan madu.
Kepanikan justru terjadi pada tiga wanita yang sangat ingin Dewantara kirim sejauh mungkin dari bumi ini bila perlu ke luar angkasa sekaligus. Siapa lagi mereka jika bukan nyonya Dewi, Maira dan juga Shinta dimana ketiga wanita itu melakukan kehebohan sendiri yang sebenarnya tidak membantu atau bermanfaat sama sekali.
Maira dan Shinta ingin sekali menemani Anna masuk ke ruang bersalin namun Dewantara menolak keras sehingga terjadi perdebatan di antara mereka. Sebenarnya nyonya Dewi juga ingin ikut masuk namun karena dia takut darah sehingga dia memilih untuk mendirikan saja dari pada dia pingsan di dalam ruang bersalin nanti.
Dewantara ingin hanya dia saja yang menemani Anna namun Anna sendiri tidak mau karena dia merasa sangat malu pada pria itu apalagi dia akan menjalani persalinan normal yang artinya pria itu akan melihat segalanya secara langsung. Anna takut jika Dewantara justru merasa risih dan jijik kepadanya nanti.
__ADS_1
Maka bisa di bayangkan bagaimana hebohnya perdebatan di depan ruang bersalin sampai membuat dokter yang menangani Anna harus turun tangan langsung.
"Yang menemani cukup satu orang saja dan itu ayah si bayi, karena biasanya proses persalinan akan berjalan cepat jika ada dorongan langsung dari sang ayah". Ujar dokter wanita paruh baya itu tegas dan tak terbantahkan.
"Sungguh tidak adil, itu pasti karena dokter itu di bayar oleh mas Dewa padahal aku sangat ingin masuk dan melihat proses persalinan agar nanti kalau aku sudah hamil aku bisa mempersiapkan diriku untuk persalinan nanti". Bisik Maira kepada Shinta saat dokter dan Dewantara telah berlalu menuju kamar bersalin.
"Hei kamu mengkhawatirkan tentang hal yang tidak penting itu?, tenang saja setidaknya kamu akan segera merasakan hamil dan melahirkan sebentar lagi karena kamu sudah memiliki suami, yang perlu di kasihani di sini adalah aku jangankan suami pacar atau pria yang mau mendekati ku saja tidak ada sampai sekarang dan itu semua karena pria yang bernama Dewantara, hah aku sangat membencinya". Gerutu Shinta kesal kepada Maira yang terus sibuk memikirkan tentang kehamilan bahkan dia sudah bosan karena sahabatnya itu selalu membahas tentang hamil setiap harinya.
"Ya ampun dia sensitif sekali". Ujar Maira mengejar langkah Shinta.
Di dalam ruang bersalin, Anna yang sedang menahan rasa sakit yang luar biasanya hanya bisa menatap Dewantara dengan tatapan pasrah karena dia tidak tahu harus menolaknya dengan cara apa lagi. Dewantara yang mengerti akan arti tatapan Anna langsung menghampiri wanita yang di cintainya itu lalu kemudian mengecup kening Anna yang sudah di basahi dengan keringat itu.
"Semangat sayang, apapun yang terjadi tetaplah berjuang dan bertahan karena aku menantikan dan akan selalu menemanimu di sini, kamu wanita hebat ku". Ujar Dewantara sambil menatap lekat wajah Anna.
Kata-kata Dewantara itu seketika menjadi semangat tersendiri bagi Anna sehingga dia yakin jika dia kana bisa melewati semua ini dengan mudah. Dewantara juga membuktikan jika dia tidak takut, panik atau bahkan jijik saat menemani Anna melahirkan, pria itu justru terus memuji dan menyemangati Anna agar kuat menghadapi persalinan itu dan tidak lama terdengar lah suara tangisan bayi yang menggema di seluruh ruang bersalin itu.
"Ooeek". Suara lantang bayi laki-laki Anna dan Dewantara telah lahir dan semua yang menunggu di laut ruangan tersenyum bahagia dan saling berpelukan sambil saling mengucapkan selamat.
Di dalam ruang bersalin juga tercipta momen yang tak kalah harus dimana Dewantara bahkan sampai menangis saat melihat perjuangan Anna melahirkan anaknya. Dalam hatinya pria itu benar-benar mengutuk perbuatannya di masa lalu yang sering menyakiti wanita.
__ADS_1
"Sayang terimakasih atas perjuangan mu, kamu wanita paling hebat dan aku sangat mencintaimu. Maafkan aku karena pernah melakukan kesalahan besar kepada mu". Bisik Dewantara lirih.
...----------------...