Aku Mencintai Istrimu

Aku Mencintai Istrimu
Part 66


__ADS_3

Rian terduduk di lantai setelah Maira pergi, apa yang di katakan oleh wanita itu memang benar adanya karena sebagai seorang pria dia tidak cukup berani untuk menghadapi kenyataan. Namun kali ini Rian tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk mendapatkan hati Maira kembali sehingga dia akan melakukan apapun agar hati wanita itu kembali luluh dan menerima dirinya.


Rian kemudian langsung bergegas mencari keberadaan Maira yang ternyata sedang berada di balkon kamarnya. Tampak wanita itu sedang berdiri dengan tatapan kosong sehingga Rian langsung menghampiri Maira dan memeluknya dari belakang dengan sangat erat.


"Maaf". Bisik Rian dengan penuh penekanan menunjukkan jika pria benar-benar sangat menyesali perbuatannya selama ini.


Maira sama sekali tidak menjawab ucapan Rian, dia hanya memejamkan matanya dan melepas rasa rindu yang memuncak di dadanya kepada pria yang sangat dia cintai itu. Maira sangat ingin memberontak dan lari sejauh mungkin dari pria itu namun dia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri yang sangat menginginkan pria itu.


Pelukan itu berlangsung cukup lama karena keduanya seolah tak ingin melepaskan satu sama lain sampai akhirnya Rian kembali membuka suara. "Maafkan aku dan menikahlah denganku sayang". Ujarnya lembut.


Maira masih belum mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya, wanita itu masih bingung harus menjawab apa karena apa yang terjadi kepada dirinya seolah-olah seperti mimpi. Rian membalikkan tubuh Maira dan menatap lekat wajah cantik itu. Meraih kedua tangan Maira dan hendak mencium tangan wanita itu namun aksinya itu langsung dia hentikan saat melihat tangan Maira yang polos tanpa cincin tunangan mereka lagi.


"Dimana cincinnya?". Tanya Rian tegas.


"Aku sudah membuangnya". Jawab Maira ketus, wanita itu kesal kepada Rian karena baru saja mereka akan berbaikan namun Rian seolah selalu saja mengajaknya berdebat.


"Sayang jangan pancing emosiku lagi".


"Aku tidak peduli". Maira menarik tangannya dan pergi meninggalkan Rian begitu saja.


"Maira". Sentak Rian namun wanita itu tetap tidak mengindahkan panggilan Rian.


Rian mengejar Maira dan menarik lengan Maira. "Maira tidakkah cincin itu penting bagimu?, kenapa kamu tega melepaskannya begitu saja hah, apa karena kamu baru saja pria itu?". Tanya Rian bertubi-tubi.


Maira menghela napas kasar. "Tunangan ku pergi meninggalkan ku entah kemana lalu mengapa aku harus tetap menggunakan cincin itu dan tentang mas Dewa, dia bukan baru saja ada di sini tapi dia sudah dia minggu berada di Swiss dan itu bukan untukku tapi-".


"Dua minggu?, jadi kalian sudah berhubungan selama itu dan aku baru mengetahuinya, apa saja yang telah kalian lakukan?". Rian langsung memotong ucapan Maira dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting.


"Menurutmu apa saja yang sudah aku lakukan bersama dengan mas Dewa hah?". Maira balik bertanya.


"Mas, mas dan mas aku muak mendengar kamu memanggilnya dengan sebutan itu, kamu punya panggilan sayang untuknya tapi tidak untuk ku?".

__ADS_1


"Oh ya ampun, aku malas berdebat denganmu, lepaskan aku mau tidur dan segera keluar dari kamarku". Sentak Maira.


"Aku tidak akan pergi sebelum aku mendapatkan jawaban atas semua pertanyaanku tadi Maira". Jawab Rian tak kalah tegas.


Maira memijat pelipisnya yang mulai berdenyut akibat menghadapi tingkah posesif Rian namun dia juga sadar jika Rian tidak mendapatkan apa yang dia inginkan maka pria itu tidak akan pernah berhenti mengganggunya.


"Bisakah kita berdebat setelah kita menikmati secangkir teh, jujur aku sudah lelah". Tanya Maira mencoba mencairkan suasana.


"Baiklah, tunggu di sini aku akan menyuruh pelayan membawakan teh untuk kita". Ujar Rian.


Mereka duduk berdua di balkon kamar Maira mencari kenyamanan agar beban d pundak mereka sedikit berkurang terutama bagi Maira karena hal itu tidak berlaku untuk Rian yang tidak sabaran menunggu jawaban dari Maira.


"Apa kamu sudah tenang sayang?". Ujar Rian dan Maira tahu jika pertanyaan itu menandakan jika pria itu sangat tidak sabaran menunggu jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya tadi.


"Apa kamu ingin mendengarkan semuanya?". Tanya Maira jengah dan Rian langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Kenapa aku memanggil mas Dewa dengan sebutan mas karena dia pernah menjadi suamiku-".


"Terserah kamu saja, dan kenapa mas Dewa berada di sini itu karena dia sedang melakukan perjalanan bisnis dan di sini dia bertemu dengan Anna sehingga dia memutuskan untuk tetap berada di sini selama Anna berada di sini".


"Anna, Annabelle?".


"Ya".


"Dia ada di sini? Lalu ada hubungan apa mereka berdua kenapa Anna menjadi alasan pria itu tetap berada di sini tapi justru dia makan malam denganmu?".


"Rian Mahendra, tadi aku tidak sedang makan malam berduaan dengan mas Dewa kami bertiga bersama Anna juga".


"A-apa?, tapi dimana dia tadi kenapa aku tidak melihatnya?".


"Kamu bukan tidak melihatnya tapi amarahmu itu menutup mata mu itu dan yang tampak hanyalah kesalahan orang lain saja".

__ADS_1


"I-itu karena aku sangat takut jika pria itu merayu mu dan kalian akan-".


"Mas Dewa tidak tertarik lagi padaku karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah".


"Ayah?". Tanya Rian bingung.


"Ya, karena Anna sedang mengandung bayi mas Dewa".


"Ba-bagaimana bisa?". Tanya Rian tak percaya.


Maira akhirnya memutuskan untuk menceritakan segalanya kepada Rian agar pria itu berhenti mengganggu dirinya. Rian berdecak tak percaya dengan semua yang dia dengar tentang Dewantara dan Annabelle dia benar-benar tak menyangka jika dia kembali di kalahkan oleh Dewantara.


"Ah aku sangat merasa bersalah kepada Anna karena tidak menyapanya tadi, kalau begitu ayo besok kita menjenguknya". Ujar Rian sambil menggaruk tekuk nya yang tidak gatal, rupanya pri itu merasa malu atas kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan Dewantara tadi bahkan sampai membuat keributan di depan umum.


"Ya, ya, sekalian kamu harus minta maaf kepada mas Dewa". Jawab Maira ketus.


"Jangan selalu membahas pria itu lagipula anggap saja jika pukulan ku tadi untuk kesalahannya di masa lalu karena aku belum memberinya pelajaran atas kesalahannya kepadamu".


"Begitulah dirimu yang tidak pernah mau mengaku salah". Maira ingin bangkit dan meninggalkan Rian karena dia sudah jenuh menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan dari pria itu.


"Mau kemana heem?". Tanya Rian sambil menarik Maira dalam pelukannya. "Ada pertanyaanku yang belum kamu jawab". Sambungnya lagi.


"Cincin?, ini lihatlah ini". Jawab Maira sambil menunjukkan sebuah cincin yang dia jadikan mainan di kalung yang di kenakan.


Cincin itu adalah cincin yang Rian berikan saat pria itu mengajak Maira menikah dulu. Rian merasa semakin bersalah kepada Maira karena apa yang di curigai semuanya salah bahkan Maira menjaga dengan sangat baik cincin yang dia berikan.


"Sayang ada satu lagi pertanyaanku". Ujar Rian lagi.


"Aku tidak akan menikah dengan mu". Jawab Maira, amarah pria itu langsung memuncak mendengar jawaban Maira sehingga pria itu langsung menggendong tubuh Maira untuk dia bawanya ke atas ranjang dan kemudian pria itu langsung menindih nya.


"Kali ini jika dengan ajakan lembut kamu tidak mau menikah denganku maka aku akan memaksamu dengan caraku". Ancam Rian sambil membuka satu persatu kancing kemejanya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2