
"Apa terjadi sesuatu yang serius pada istriku dokter?". Tanya Rian penasaran akan sesuatu yang mungkin sedang terjadi kepada istrinya itu.
"Tidak perlu khawatir tuan, nona Maira baik-baik saja tapi untuk seorang wanita hamil tidak baik jika terlalu kelelahan apalagi sampai stress berlebihan". Jawab dokter.
"Baiklah dokter. Hamil?, apa maksud anda dengan hamil?". Tanya Rian tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Ya tuan, nona Maira sedang mengandung, apa anda tidak mengetahuinya?". Tanya dokter.
"Ti-tidak, apa anda tidak salah diagnosa?". Rian benar-benar masih tidak percaya dengan penjelasan dokter itu.
"Saya yakin tuan tapi jika anda belum yakin saya sudah berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan untuk pemeriksaan dan diagnosa lebih lanjut lagi". Jawab dokter serius.
Deg.....
Kaki Rian lemas seketika ketika mendengar penjelasan dokter barusan karena dia tidak menyangka jika Maira bisa hamil secara normal bahkan tanpa bantuan atau obat-obatan yang selama ini di konsumsi oleh istrinya. Rian juga merasa sangat bersalah dan mengutuk sikapnya selama ini kepada sang istri. Bagaimana dia bisa membiarkan Maira melewati masa-masa awal kehamilan dengan sikap dingin dari dirinya dan juga papa mereka.
Rian teringat mungkin Maira hamil ketika rutin memasak makanan sehat untuk Shinta dan menjalani hidup sehat tempo hari karena walaupun dia memfokuskan makanan itu untuk Shinta tapi Maira juga ikut mengkonsumsinya apalagi waktu itu hubungan Maira dan Rian juga sangat harmonis.
"Berapa minggu sudah usia kehamilan istriku dokter?". Tanya Rian penasaran.
"Menurut perkiraan saya usianya sudah sepuluh minggu tapi untuk lebih pasti anda bisa menanyakan langsung kepada dokter spesialis kandungan nanti". Ujar dokter lagi.
Setelah mendengar penjelasan dokter Rian langsung meluncurkan ke dalam ruang pemeriksaan sang istri tanpa menunggu persetujuan dokter karena baginya saat ini yang terpenting adalah dia harus memastikan jika kondisi Maira baik-baik saja.
"Sayang, bagaimana keadaan mu, apa kamu baik-baik saja?". Tanya Rian lembut sambil menggenggam tangan Maira yang terlihat masih sangat lemas itu.
"Mas, kenapa kenapa aku bisa ada disini?". Tanya Maira balik.
"Kamu pingsan tadi, katakan apa yang kamu rasakan?".
"Badanku terasa lemas mas, kepalaku juga sedikit pusing mungkin karena aku kelelahan saja".
"Mulai sekarang kamu tidak boleh kelelahan lagi, apa ku mengerti?". Tanya Rian serius dan Maira hanya mengangguk tanpa bisa berkata-kata melihat perhatian sangat suami yang sudah kembali seperti semula bahkan tanpa terasa air mata wanita itu jatuh dari sudut matanya.
"Hei kenapa menangis, apa kamu kesakitan sayang, dimana yang sakit hemh?". Tanya Rian panik.
"Tidak mas, aku baik-baik saja". Jawab Maira.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu menangis?".
"Aku hanya terharu saja karena kamu sudah mau bicara denganku lagi bahkan kamu sudah perhatian seperti dulu lagi kepadaku".
Mendengar perkataan Maira, Rian langsung mendekatkan wajah ke wajah sang istri dengan wajah penuh penyesalan. "Maafkan aku, maafkan kebodohan ku sayang aku tidak seharusnya bersikap seperti itu". Ujar Rian lirih.
"Aku yang salah mas bukan kamu jadi kamu tidak perlu minta maaf kepadaku".
"Tidak, tidak aku yang salah tidak seharusnya aku menghukum mu seberat ini sayang, aku mencintaimu harusnya aku memaafkan semua kesalahan mu".
"Mas aku bisa mengerti jika kamu marah karena kesalahan ku memang sudah-"
"Huust, jangan lagi membahas masalah ini aku tidak mau mengingat hal itu lagi mulai sekarang kamu harus bahagia dan tidak boleh melakukan apapun yang akan membuat kondisi kesalahan mu menurun, kamu mengerti?." Rian langsung memotong perkataan sang istri kemudian dia langsung berbaring di samping Maira dan menghujani istrinya dengan pelukan dan ciuman yang tiada henti bahkan dia tidak sadar jika mereka sedang berada di rumah sakit.
"Mas, ingat ini rumah sakit, bagaimana jika tiba-tiba ada yang masuk". Imbuh Maira namun tidak juga menghentikan aksi sang suami.
"Aku sangat merindukanmu". Jawab Rian singkat.
Benar saja seperti yang di katakan oleh Maira tiba-tiba saja pintu ruangan tersebut terbuka tanpa di. ketika terlebih dulu dan yang lebih memalukan lagi bagi Maira adalah karena yang masuk dari balik pintu adalah sang papa tuan Dhika sedangkan kancing-kancing kemeja Maira sudah terbuka sebagian besar.
Hal itu tentu membuat Maira sangat terkejut dan menarik rambut suaminya agar wajah Rian menjauh dari area dadanya, berbeda dengan Rian pria itu justru tidak terkejut sama sekali bahkan tetap melanjutkan aksinya itu tanpa rasa malu sedikitpun.
"Aws, sakit pa, aku sangat menyesal menghubungi papa seharusnya aku tidak melakukannya tadi". Kesal Rian kemudian menjauh dari Maira karena tuan Dhika langsung mendominasi Maira.
"Bagaimana keadaan mu sayang?". Tanya tuan Dhika tanpa mempedulikan Rian sama sekali.
"Aku baik-baik saja pa, hanya kelelahan saja jadi dokter menyuruhku banyak istirahat". Jawab Maira tak kalah terharunya karena papanya juga sudah kembali mengkhawatirkan dan perhatian kepada dirinya.
"Apa kamu mendengarkan itu, jangan pernah membuat putriku kelelahan lagi". Sentak tuan Dhika kepada Rian.
Rupanya pria paruh baya itu juga sudah tahu tentang kabar kehamilan Maira karena tadi Rian langsung menghubungi papanya ketika dokter mengatakan jika Maira sedang mengandung dan saat ini berada di rumah sakit.
Tuan Dhika seharusnya ingin langsung menuju ke rumah sakit sejak tadi namun karena dia harus mengumpulkan kekuatan terlebih dulu sama seperti Rian tadi yang lemas dan merasa bersalah karena mengabaikan putrinya selama ini makanya tuan Dhika baru tiba di rumah sakit sekarang dang langsung di suguhkan dengan pemandangan yang merusak matanya itu.
"Ya, ya terserah papa saja". Jawab Rian ketus.
"Maafkan papa sayang karena selama ini mengabaikan mu, papa benar-benar menyesali perbuatan papa seharusnya papa merangkul putri papa ketika dia melakukan kesalahan bukan malah-".
__ADS_1
"Pa, sudah jangan di teruskan lagi karena disini Maira lah yang bersalah bukan papa apalagi mas Rian". Imbuh Maira memotong perkataan tuan Dhika.
Saat tuan Dhika sedang asik mengobrol dengan Maira tiba-tiba terdengar ketukan pintu dimana seseorang kembali muncul di balik pintu tersebut dan Maira sangat tidak asing dengan sosok yang saat ini tersenyum ramah kearahnya.
"Selamat sore nona Maira, senang bertemu kembali dengan anda dalam keadaan yang berbeda pula". Ujar sangat dokter ramah.
Maira membalas sapaan wanita yang berprofesi sebagai dokter itu dengan anggukkan kepala saja karena dia tidak mengerti mengapa dokter kandungan langganan itu berada di ruang perawatan saat ini.
Maira merasa canggung saat dokter ingin memeriksa dirinya padahal dia sudah sangat terbiasa dengan hal tersebut namun rasa kecewa yang di rasakan setiap bertemu dengan dokter langganan itu membuat Maira merasakan trauma tersendiri.
"Dokter kepalaku yang terasa pusing kenapa harus melakukan pemeriksaan di bagian perutku". Ujar Maira yang paham betul ketika seorang asisten mengoles jelly di atas perutnya.
"Tenang saja nona Maira, saya hanya ingin memastikan jika kondisi anda baik sepenuhnya". Jawab dokter lembut agar Maira merasa tenang.
Dokter memeriksa kondisi rahim Maira dengan sangat teliti dan senyum kepuasan tergambar jelas di wajah wanita yang berprofesi sebagai dokter itu. "Ini dia". Ujar sang dokter antusias sehingga membuat Rian dan tuan Dhika langsung mendekat ke monitor untuk melihat apa yang di maksud oleh dokter.
"Apa yang itu dokter?". Tanya tuan Dhika kagum.
"Iya tuan, bukan hanya satu tapi ada dua janin di sana". Timpal dokter lagi, tentu saja senyum kebahagiaan tampak jelas di wajah Rian dan tuan Dhika namun Maira masih belum bisa mencerna situasi yang sedang terjadi saat ini.
"Du-dua janin?, apa maksudnya ini semua doketr?". Tanya Maira penasaran.
"Selamat nona Maira, anda sedang mengandung dan bayi anda kembar, usia kehamilan anda sudah memasuki sepuluh minggu dan-".
"A-apa anda sedang bercanda dokter?". Tanya Maira tidak percaya, pipi wanita itu sudah di basahi dengan air mata.
"Ini benar nona, lihatlah kesana". Dokter menunjuk ke arah monitor dan dengan ragu-ragu Maira menoleh kesana. "Ini dua kantong janin dan mari kita dengarkan denyut jantung mereka agar anda lebih yakin". Bujuk dokter kemudian Maira dengan sangat jelas bisa mendengarkan sendiri denyut jantung janin-janinnya itu.
Betapa bahagianya wanita itu ketika menyadari jika dirinya sedang mengandung bahkan beberapa kali dia kaitkan dengan tubuhnya yang akhir-akhir ini sering terasa lemas namun Maira masih sulit untuk percaya jika dia akhirnya bisa mengandung anaknya di rahimnya sendiri sehingga dia merasa semakin bersalah kepada Shinta karena ketidaksabaran membuat persahabatannya dengan Shinta merenggang.
Beberapa kali Maira juga mengira jika dia sedang bermimpi bahkan dia sangat takut untuk memejamkan matanya karena dia takut jika semuanya akan hilang ketika dia beristirahat namun kehadiran Rian dan tuan Dhika yang terus menenangkannya membuat Maira akhirnya bisa beristirahat juga. Tuan Dhika juga memutuskan agar Maira tetap berada di rumah sakit sampai kondisinya stabil karena dia tidak mau jika sampai terjadi sesuatu kepada putri dan calon cucunya.
Begitulah akhirnya kehidupan Maira yang di penuhi dengan kebahagiaan apalagi selama masa kehamilannya dia mendapatkan seluruh cinta dan perhatian dari suami dan juga papanya namun hanya satu hal yang mengganjal dalam hatinya yaitu hubungannya dengan Shinta, Maira sangat ingin segera memperbaiki semuanya namun tian melarang Maira untuk menemui Maira sekarang karena selain Shinta belum berada di indonesia karena perjalanan ke luar negerinya rian juga khawatir jika hal tersebut akan membuat Maira stress dan berpengaruh pada kehamilannya.
"Kita akan menemui Shinta tapi bukan sekarang sayang, aku janji hubungan kalian akan kembali seperti dulu lagi, sekarang kita fokus pada bayi-bayi saja dulu karena mereka sangat membutuhkan ibunya". Ujar Rian.
"Apa dia akan memaafkan ku mas?". Tanya Maira.
__ADS_1
"Tentu saja, dia juga sudah hidup bahagia sekarang jadi tidak perlu lagi membahas masa lalu bukan". Timpal Rian lagi menenangkan sang istri.
...----------------...