
"Kau sengaja memamerkan dia agar aku cemburu?". Tanya seorang wanita kepada seorang pria tampan di hadapannya.
"Itu sama sekali bukan urusanmu, lepaskan aku karena dia sedang menungguku". Jawab pria itu dingin.
"Wanita itu sama sekali tidak ada apa-apanya di bandingkan diriku, kau bisa bersama wanita manapun tapi kau tidak akan bisa melupakan aku sayang". Ujar wanita itu kemudian langsung menyerang bibir sang pria.
Wanita itu tidak terima ketika pria yang selalu mengumumkan kata cinta kepadanya justru saat ini bersama dengan wanita lain, dengan lihainya dia menggunakan titik kelemahan pria tersebut untuk mendapatkannya kembali dan bodohnya pria itu sangat gampang tergoda.
Dan terjadi selanjutnya adalah pria tersebut lagi dan lagi terjebak dalam arus yang menghanyutkan dari wanita cantik yang sangat di cintainya itu padahal selama ini dia sudah bersusah payah melupakan wanita itu bahkan dia sampai memutuskan mencari pasangan lain. Mereka berbagi kenikmatan dan ******* tanpa peduli dengan dunia luar dan tempat, yang mereka tahu ada kenikmatan yang harus mereka dapatkan di depan sana.
...----------------...
Sementara itu masih di taman, sepeninggalan Rian, Maira menggerutu kesal atas tingkah cerobohnya yang mengakibatkan baju mahalnya menjadi kotor, apalagi jika sampai suaminya nanti melihat kondisi baju yang dia kenakan,Maira takut jika Dewa akan memarahinya dan tidak akan pernah mengajaknya kemanapun lagi karena malu dengan tingkah Maira, padahal Maira sangat suka jika di ajak ke tempat yang di penuhi dengan berbagai macam makanan enak seperti ini.
Maka sebelum dia mencari suaminya yang sejak tadi menghilang entah kemana, Maira segera menuju toilet untuk membersihkan dress nya terlebih dahulu tentu saja dengan langkah cepat karena dia takut jika Dewa mencari dirinya.
Kondisi toilet yang sangat sepi membuat Maira leluasa membersihkan dress nya namun saat dia sedang asik dengan aktivitasnya itu telinganya menangkap suara yang sangat aneh, dia mendengarkan ada keributan yang membuat pikirannya berkelana entah kemana, namun secepatnya dia menepis pikirannya itu karena dia hanya ingin fokus pada bajunya yang kotor.
__ADS_1
"Ahhhhgr". ******* yang cukup kuat yang mengusik indera pendengaran Maira itu membuat Maira sangat penasaran sebenarnya siapa wanita yang berada di dalam toilet tersebut dan sedang apa wanita itu karena memang suara tersebut jelas sekali adalah suara seorang wanita dan dia juga berada di dalam toilet wanita.
Sambil membersihkan bajunya di depan cermin toilet Maira sibuk memikirkan keributan apa yang sedang terjadi di dalam hingga dia teringat akan sesuatu yang membuat matanya membulat dan tangannya menutup mulutnya rapat-rapat.
Ya, pikiran jahat melintas di pikirannya karena membayangkan jika yang terjadi adalah adegan dewasa seperti yang dia lihat di drama-drama luar negeri favoritnya. Dan ketika pintu toilet itu bergerak seperti hendak di buka entah kenapa Maira justru bergegas bersembunyi di balik salah satu toilet, entah karena rasa penasarannya atau karena rasa malunya karena sudah berpikir terlalu jauh.
Dari balik pintu yang tidak di tutup rapat Maira melihat jika yang keluar dari dalam toilet adalah wanita yang sangat familiar di matanya yaitu Ayuna, ya wanita itu keluar dari toilet sambil membenarkan bentuk rambut dan dress yang di kenakan.
"Sebenarnya apa yang wanita itu lakukan". Batin Maira sambil bergidik ngeri membayangkan hal-hal yang meracuni pikiran polosnya. "Orang kaya memang tingkahnya aneh-aneh". Batin Maira lagi dan hendak keluar setelah dia merasa aman dan Ayuna telah pergi dari sana.
"Mas Dewa". Gumamnya lemah sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Air mata menggenangi matanya begitu saja, dia tidak percaya dengan penglihatannya sendiri sampai dia mencubit pipinya beberapa kalinya. Dewa sama halnya dengan Ayuna keluar dalam keadaan membenahi ikat pinggang dan rambutnya sambil berkaca dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Senyum yang sama sekali tidak pernah Dewa tampakkan sekalipun di hadapan sangat istri Maira.
Setelah merasa penampilannya sudah rapi kembali Dewa kemudian keluar dengan senyum kepuasaan yang sangat mendominasi di wajahnya. Sepeninggalan Dewa Maira langsung ambruk di lantai dengan tangisan yang tidak dapat dia tahan lagi, beruntung tidak ada satupun orang yang berada di toilet tersebut.
Maira merasakan sesak yang luar biasa di dadanya sehingga dia kesulitan bernapas. Semua ucapan ibunya dan juga mama mertuanya terus terngiang-ngiang di telinga Maira, bagaimana mereka selalu memuji seorang Dewantara yang sangat baik dan tidak pernah dekat dengan seorang wanita apalagi bergonta-ganti wanita layaknya pria kaya raya lainnya.
__ADS_1
"Bu, ma, Maira tidak sanggup jika harus mengahadapi badai rumah tangga yang sebesar ini". Batin Maira sambil terisak.
Kaki Maira tidak lagi dapat menopang berat tubuhnya sendiri sehingga Maira terduduk begitu saja di lantai. Ingin sekali gadis itu berteriak sekeras-kerasnya namun lidah dan mulutnya kelu seperti ada yang membelenggu di sana.
Maira masih bisa menerima jika Dewa belum bisa menerima kehadirannya sebagai istrinya karena mereka belum saling mengenal apalagi saling mencintai namun yang membuatnya sangat tidak terima adalah ketika Dewa mencari dan mendapatkan kenikmatan di luar sana dengan mudahnya, bukankah wajar jika dia merasa di khianati sebagai seorang istri.
Setelah sekian lama dia mencoba berdamai dengan keadaan di sekitarnya, Maira mencoba bangkit dan berdiri, Maira melangkah keluar dimana tempat acara pesta tadi sudah terlihat sepi, dia menuju parkiran dan melihat sudah tidak ada lagi mobil Dewa di sana, hal itu membuatnya lega karena dia tidak sudi menatap wajah Dewa apalagi harus satu mobil dengan suaminya itu.
Maira terus berjalan tanpa arah dengan pikiran kosong, yang pasti malam ini Maira sama sekali tidak mau kembali ke rumah Dewa karena meskipun tanpa sengaja dia pasti akan melihat wajah Dewa di sana sehingga Maira memutuskan untuk menuju rumahnya sendiri, rumah dimana penuh dengan kenangan indah antara dirinya dan ibunya.
Maira tersenyum melihat setiap figura yang terpajang di dinding dimana dia dan ibunya tersenyum dan tertawa lepas tanpa beban namun sayangnya itu semua sekarang hanyalah tinggal kenangan saja.
"Bu, Maira pulang". Ujarnya sambil mengusap foto sang ibu.
Tanpa di sadari Maira tertidur di ruang tamu sambil memeluk foto ibunya, bagaimana tidak gadis itu berjalan cukup jauh untuk menuju rumahnya itu bahkan dia tiba di sana hampir tengah malam namun anehnya dia tidak merasakan sakit di kakinya atau lelah akibat berjalan yang ada hanya penyesalan mengapa dia harus mengenal bahkan menikah dengan pria bernama Dewantara.
...----------------...
__ADS_1