
Empat hari sudah Maira berada di Korea dan selama empat hari sudah Dewa sama sekali tidak pernah menelponnya secara langsung untuk sekedar menanyakan tentang keadaannya,hanya Tini saja yang selalu setia berbagi kabar dengan Maira setiap harinya, hal itu tentu membuat Maira merasa kecewa dan sedih, Maira semakin yakin jika dia sama sekali tidak ada di hati Dewa.
Kesedihan dan kekecewaan Maira semakin bertambah karena selama empat hari berada di korea dia merasa benar-benar sendirian karena Rian seolah menghindari dirinya, ada yang aneh dengan sikap Rian, pria itu sama sekali tidak menyapa dan bersikap sangat dingin kepada wanita itu seolah Maira tidak penting baginya. Ingin Maira bertanya namun dia sadar jika dia bukanlah siapa-siapa bagi atasannya itu.
Namun bukan Rian namanya jika dia tidak bersikap aneh, jika empat hari sebelumnya sikapnya sangat dingin namun berbeda dengan malam ini meskipun Rian tidak pernah menatap Maira dan berbicara dengan nada datar kepadanya, pria itu mengajak Maira menghabiskan malam terakhir mereka berada di Korea karena besok rencananya Rian dan Maira akan kembali ke indonesia.
Maira sangat kegirangan saat Rian mengajaknya makan di luar dan berjalan-jalan berkeliling di kota yang sangat indah menurutnya itu, sebenarnya Maira ingin membelikan beberapa pernak pernik untuk di bawa pulang sebagai oleh-oleh untuk pelayan setianya Tini yang sangat menyukai aktor-aktor dan penyanyi Korea namun Maira tidak punya mata uang Korea untuk berbelanja di sana karena selama ini Rian yang memenuhi semua kebutuhannya.
Setelah menyelesaikan makan malamnya mereka berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, benar saja di sana menjual berbagai macam pernak pernik yang unik yang sangat di minati oleh para pecinta K-Pop. Mata Maira berbinar meskipun dia tidak menyukai aktor-aktor dan penyanyi Korea namun melihat berbagai macam benda-benda unik tersebut matanya seperti terhipnotis dan tanpa sengaja Rian melihat ekspresi wajah wanita itu.
"Ternyata kamu ini sama saja dengan wanita-wanita lainnya yang menggilai mereka". Ujar Rian.
"Tidak tuan, saya bukan penggemar mereka tapi melihat benda-benda lucu itu saya jadi suka tapi teman baik saya yang sangat menyukai mereka". Jawab Maira.
"Kalau begitu belikan dia oleh-oleh dari Korea agar dia bahagia".
Maira langsung menatap kearah Rian dengan wajah sumringah. "Benarkah tuan?". Tanya Maira penuh harap dan Rian hanya menganggukkan kepalanya.
Tanpa aba-aba Maira langsung memilah dan memilih semua pernak pernik dan juga baju-baju yang bergambarkan foto-foto idola sejuta kaum wanita itu tanpa memikirkan berapa harganya karena dia tahu jika atasannya itu sangat kaya raya.
Puas berbelanja dan menyerahkan semua barang belanjaan mereka kepada para pengawal, Rian dan Maira menghabiskan malam dengan berjalan kaki mengelilingi kota, para pengawal juga sudah di perintahkan oleh Rian untuk kembali ke hotel terlebih dulu karena entah mengapa Rian ingin menghabiskan malam ini hanya bersama Maira tanpa orang lain di antara mereka.
__ADS_1
Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah club malam yang cukup megah, Maira menghentikan langkahnya sementara Rian sudah berjalan mendahuluinya tanpa tahu jika wanita itu sedang berdiri tepat di pintu masuk club tersebut sampai akhirnya dia menyadari jika dia berjalan sendirian.
Rian langsung panik mencari keberadaan Maira di tengah keramaian kota yang di penuhi oleh para wisatawan tersebut. Dari kejauhan Rian melihat sekilas Maira masuk kedalam club malam itu namun untuk menghentikan langkah Maira sudah tidak bisa lagi dilakukannya kecuali dia menyusul Maira ke dalam sana.
"Maira, untuk apa kamu masuk ke sini?". Gumam Rian tak percaya jika Maira yang sederhana menyukai tempat seperti itu.
Rian lagi-lagi panik mencari dimana Maira berada sampai akhirnya dia melihat Maira sedang memasukan sebuah gelas berisi air yang tentu saja dapat memabukkan siapa saja yang meminumnya itu ke dalam mulutnya dan Rian terlambat untuk mencegahnya.
"Maira, apa yang kamu lakukan?". Sentak Rian.
"Tuan, aku ingin mencobanya saja karena kata orang-orang jika kita meminum ini pikiran kita akan tenang dan semua masalah yang sedang kita hadapi akan hilang begitu saja". Ujar Maira polos.
Rian menepuk jidatnya dan mengutuk pemikiran konyol Maira tersebut. "Jika kamu punya masalah, jalan satu satunya untuk keluar dari masalah itu hanyalah menyelesaikannya Maira, bukan dengan minum minuman terlarang ini".
"Ayo pergi dari sini kamu mulai tidak waras". Jawab Rian sambil menarik lengan Maira.
"Tidak tuan, aku tidak mau, aku mau ingin menikmati hidupku malam ini dan melakukan apa saja yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya di hidupku". Jawab Maira sambil menarik lengannya dan kembali meneguk minumannya.
Rian mulai tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Maira, mungkin saja ini adalah cara agar dia tahu lebih banyak lagi tentang wanita yang sedang berada di hadapannya itu. "Baiklah jika itu yang ingin kamu lakukan, aku akan menemanimu di sini".
"Oh ya ampun anda sangat manis sekali tian, bahkan suamiku saja tidak pernah berkata semanis ini".
__ADS_1
"Benarkah?".
"Iya, dia tidak mencintaiku".
Deg...
Rian terkejut mendengar ucapan Maira tersebut, ternyata wanita itu menikah bukan atas dasar cinta dengan Dewa,rian memang tidak heran jika Dewa tidak mencintai istrinya itu namun dia tidak menyangka jika Maira mengetahui akan hal itu dan masih mempertahankan pernikahannya dengan Dewa.
"Anda tahu tidak, saya sangat merasa sakit ketika dia mengacuhkan saya dan pergi berhari-hari tanpa mengabari saya sama sekali, sungguh menyedihkan bukan?".
" Lalu untuk apa bertahan jika kamu tidak bahagia dengannya?".
"Hahaha, wanita miskin dan sebatang kara seperti ku bisa apa tuan, aku harus pergi kemana jika mas Dewa meninggalkanku. Apa anda tahu saya adalah anak yang di buang di panti asuhan oleh orang tua saya sendiri tepat dihari saya di lahir kan ke dunia ini, jika orang tua saya saja tega membuang saya lalu haruskah saya meninggalkan mas Dewa dan keluarganya yang sudah sudi menerima saya?". Ujar Maira lagi dengan nada bicara khas orang mabuk itu.
Rian menatap iba kepada Maira apalagi wanita itu mulai menitikkan air matanya. Dia tidak menyangka jika hidup yang di hadapi Maira sangatlah berat. Maira kemudian mendekati Rian dan duduk tepat di sampingnya dengan gaya ingin membisikkan sesuatu di telinga Rian.
"Dan apakah anda tahu, mas Dewa bahkan tidak pernah menyentuh dan menginginkan saya sebagai seorang istri dalam arti yang sesungguhnya, dia mungkin jijik kepada saya tuan". Ucap Maira sambil berbisik.
Deg....
Inilah keterkejutan yang tidak pernah terduga yang akan di dengar langsung oleh Rian dari mulut Maira.
__ADS_1
"Berarti Maira tidak berbohong jika dia belum pernah berciuman sebelumnya". Batin Rian dengan menatap bibir Maira dengan tatapan yang sulit di artikan karena mendapatkan kenyataan jika dialah pria pertama yang menyentuh bibir mungil tersebut.
...----------------...